RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 69. Menyesal


__ADS_3

Yansen dan Grace sama-sama terdiam di ruang tamu. Jerome sudah memandang ke arah adik-kakak tersebut.


"Coba kalau Kakak gak bersikap seperti ini, mungkin aku masih berhubungan baik dengan Sasa juga keluarganya," tutur Yansen. "Aku juga tahu aku tidak akan pernah bisa bersatu dengan Sasa, tapi ijinkanlah aku bersamanya untuk sebentar saya. Selepas itu aku akan pergi meninggalkannya."


Hanya raut penuh penyesalan yang terlihat di wajah Grace. Pipinya nampak lebih tirus karena pikiran yang begitu kuat.


"Nasi sudah menjadi bubur, Sen. Semuanya tidak akan pernah bisa kembali lagi." Yansen mengangguk.


"Kakak tahu gak? Ayahnya Sasa sudah membayar uang kuliah aku hingga aku lulus. Walaupun Kakak sudah tidak bekerja, kuliah aku masih aman, Kak."


Grace terkejut mendengarnya. Dia menatap ke arah Yansen yang sudah berkaca-kaca.


"Psikiater dan juga pengacara yang mendampingi Kakak ... Itu dari ayahnya Sasa. Beliau rela menyewa semuanya agar tuntutan dari keluarganya tidak terlalu memberatkan."


Ada rasa tidak percaya yang ada di hati Grace. Namun, itu benar adanya. Yansen pun nampak menangis.


"Mereka sangat baik, Kak. Kenapa kita jahat kepada mereka?" Yansen pun menangis tersedu. Dia merasa sudah banyak dosa kepada keluarga Aleesa. Padahal keluarga itu sudah sangat baik kepadanya juga kakaknya.


"Kamu bercanda 'kan?" Yansen menggeleng. Dia pun menunjukkan pesan yang dikirim Radit kepadanya. Tubuh Grace menegang dan air matanya sudah tak tertahan.


"Walaupun kita sudah jahat, tapi Beliau masih tetap baik kepada kita, Kak. Sekarang kita haru bagaimana?"


Jerome pun terkejut. Dia tidak menyangka bahwa masih ada orang yang sebaik Raditya Addhitama di dunia ini. Manusia yang berhati malaikat.


"Minta maaflah padanya," ujar Jerome. "Minta ampunan kepadanya atas semua kesalahan yang sudah kalian lakukan kepadanya." Jerome sudah angkat bicara.


Yansen dan Grace sudah saling tatap. Mereka ingin melakukan itu, tapi mereka masih ragu. Mereka takut jika nanti Raditya Addhitama menolak permintaan maaf mereka.


"Tuhan aja maha pengampun, masa beliau tidak."


Radit dihubungin oleh salah seorang pekerja di rumahnya perihal ada tiga orang yang datang ke rumahnya. Dahi Radit mengkerut dan dia tengah menebak siapa yang datang.


"Ya sudah saya pulang sekarang."


Jawaban Radit membuat keluarga Rindra menatap.ke arahnya. Begitu juga dengan Echa.


"Ada tamu di rumah," ujar Radit.


"Siapa?" tanya mereka kompak. Namun, Radit menggeleng. Dia juga tidak tahu.

__ADS_1


"Penting?" tanya Echa.


"Kayaknya."


Echa tahu apa yang akan dilakukan suaminya. Dia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Raditya Addhitama. Mereka berdua pulang meninggalkan sang putri.


"Titip Sasa dulu, Bang." Rindra mengangguk.


Radit menggenggam tangan sanga istri menuju parkiran. Bohong jika Radit tidak tahu siapa orangnya. Echa pun menaruh curiga.


"Ay, kamu tahu 'kan siapa orangnya?" selidik Echa. Radit hanya mengangguk.


"Siapa?"


"Nanti juga kamu tahu."


Jika, Radit memiliki hati kejam seperti Aksa, dia tidak akan pernah mau menemui orang tersebut. Namun, inilah Radit. Logika dan hatinya seiring sejalan. Tibanya di rumah, tubuh Echa menegang ketika melihat tiga orang yang dia kenal ada di hadapannya.


Ada rasa kecewa yang mendalam dari sorot mata seorang ibu berikan, yakni sorot mata Echa. Yansen sudah menunduk begitu juga dengan Grace.


"Ya Tuhan, kenapa mereka bisa sejahat itu kepada putriku?" Rintihan hati seorang ibu. Echa sangat terpukul ketika pertama kali mengetahui siapa pelaku peneroran terhadap Aleesa.


Dia kecewa, dia sedih sampai tidak mau makan. Grace sudah dia anggap seperti anaknya sendiri, tapi dia begitu tega kepada Aleesa. Dia marah, tapi tak bisa dia ungkapkan. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.


Radit hanya bisa mengusap lembut pundak sang istri dan terus menjawab dengan perkataan yang amat lembut dan menyejukkan.


"Tan-te!"


Suara Grace bergetar. Echa yang tengah mengingat kekecewaannya menatap wajah perempuan seusia adiknya dengan nanar. Grace berlari dan bersujud di kaki Echa membuat air mata Echa menetes begitu saja.


"Maafkan aku, Tante. Maafkan aku." Segala rasa berkecamuk di dada. Air mata begitu lancar menetes.


"Aku sudah jahat kepada Aleesa. Aku sudah berbuat hal bodoh."


Rasa sesak yang dirasakan Echa tak ayal membuat wanita yang masih cantik itu berkeras hati. Dia menurunkan tubuhnya dan memegang pundak Grace.


"Berdirilah, Grace." Echa mencoba untuk tenang. Walaupun hatinya pun masih sakit. Dia mencoba untuk tersenyum ke arah kakak dari Yansen tersebut.


"Kamu tidak perlu melakukan itu."

__ADS_1


Grace semakin terisak mendengar ucapan dari Echa. Tangisnya semakin keras dan kepalanya semakin menunduk dalam. Dia salah menjahati orang.


Tidak tega melihat Grace, Echa pun mengesampingkan emosinya. Dia memeluk tubuh Grace. Bagaimanapun Grace sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Dia juga tahu beban yang ditanggung Grace membuatnya seperti ini.


"Maafkan aku, Tante. Maafkan aku." Echa hanya mengangguk dan mengusap lembut punggung Grace.


"Tuhan, rasanya aku ingin marah kepada anak ini, tapi aku tidak tega. Dia tidak memiliki siapa-siapa. Jika, aku memarahinya dia akan mengadu kepada siapa? Siapa yang akan menenangkannya? Aku tahu, pundaknya banyak memukul beban."


Usapan lembut di pundak membuat Echa menoleh. Tatapan hangat membuatnya merasa nyaman. Apalagi senyuman yang begitu tulus yang suaminya berikan. Sorot mata Radit seperti mengatakan, 'maafkan.'


"Aku menyesal, Tante." Echa pun menarik napas panjang. Perlahan dia mengurai pelukannya dan menatap intens Grace.


"Tidak ada penyesalan yang datang di awal. Semuanya datang di akhir." Grace hanya menunduk. Echa mengusap lembut rambut Grace hingga perempuan itu mulai menegakkan kepalanya. Menatap ke arah ibu dari Aleesa.


"Tante memaafkan kamu, tapi untuk proses hukum yang sudah berjalan ... Tante tidak bisa membantu. Itu bukan wewenang Tante." Grace mengangguk.


"Gak apa-apa, Tante," jawab Grace. "Tante udah memaafkan aku aja aku udah senang banget." Mata Grace berkaca-kaca lagi. Echa tidak tega dan memeluknya kembali.


"Aku sudah ikhlas perihal dibui. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah menantang orang yang salah." Echa setuju dengan ucapan dari Grace tersebut. Semua keputusan Aksa tidak akan pernah bisa diganggu gugat oleh siapapun.


Yansen masih menunduk dalam. Dia menatap ke arah Radit dengan penuh rasa takut. Radit pun mendekat dan memeluk tubuh sahabat putrinya.


"Jangan buat saya kecewa lagi." Yansen menangis di dalam pelukan ayah dari Aleesa.


"Maafkan aku, Om. Rasa cemburu yang membuat aku lupa akan segalanya." Radit hanya tersenyum mendengarnya. Sedangkan Jerome merasa sangat salut kepada kedua orang tua Aleesa.


"Ya Tuhan, masih ada orang yang sangat baik di dunia ini."


"Tan, aku boleh bertemu dengan Aleesa? Aku ingin meminta maaf kepadanya." Echa menoleh kepada sang suami. Dia takut salah bicara.


"Aku juga, Om." Yansen menambahi.


"Dia sedang tidak ada di rumah." Radit menjeda ucapannya. Sedangkan Grace dan Yansen masih menyimak.


"Dia sedang menemani calon suaminya."


Ada hati yang hancur dan remuk berkeping-keping. Ada sakit yang tak berdarah. Ada sedih yang dibalut senyum palsu.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ..


Oh iya, kalau ada bab yang isinya sama jangan dibaca dulu, ya. Pasti kalian tahu ritual akhir bulan aku 🤭 Aku 'kan author gak jelas julukan dari salah satu readers.


__ADS_2