
Aleeya yang berada di meja makan hanya dapat terdiam melihat ayah dari Kalfa yang bicara tanpa disaring. Pria paruh baya itu berkata dengan sangat kejam. Dia menatap ke arah Aleena yang sudah berubah air mukanya.
Aleeya menebak jika kedatangan opa Satria ingin ingin membuat Aleesa down begitu juga dengan Aleena. Tatapannya terus tertuju pada Aleesa, tapi perkataannya dia lontarkan untuk Aleena. Dua saudaranya itu tidak seperti dirinya. Mereka memiliki sisi lemah.
"Mau Om apa?" Radit sudah geram. Akan tetapi, dia membalutnya dengan tenang. Sang istri pun sudah sedari tadi menahan emosi. Dia tahu kedatangan Satria pasti akan menimbulkan kegaduhan. Echa sedari tadi sekuat tenaga menahan amarahnya.
"Kenapa masih mengganggu anak-anak Radit?"
"Om tidak mengganggu, tapi Om sedang berbicara perihal kenyataan yang ada." Cara bicaranya seperti manusia yang paling benar. Wajahnya pun seperti manusia tak berdosa. Radit sudah menghembuskan napas kasar dan menatap ke arah Satria dengan menggelengkan kepala.
"Kamu dan Rindra memang manusia yang tak mau rugi. Mempertahankan si brandal karena ternyata penerus satu-satunya Zenth Corporation supaya harta dan perusahaan kalian tidak ke mana-mana. Serta akan lebih menguntungkan kalian berdua." Sebuah pemikiran yang sangat dangkal dari pria yang lebih tua dari Radit yang seharusnya sudah kenyang makan asam garam menjalankan perusahaan.
__ADS_1
Radit tersenyum mendengarnya. Dia juga menggelengkan kepala karena tidak habis pikir dengan pola pikir sang paman. Ingin rasanya dia memaki adik dari ayahnya itu.
"Restu Ranendra sekaligus menantu Radit tidak pernah mau menerima harta dari ibunya. Namun, semuanya sudah anak buah almarhumah Zenith Andrea atur sehingga Restu kini menjabat sebagai CEO di sana. Jika, menantu Radit itu serakah, semuanya akan dia ambil alih termasuk perusahaan yang Bang Rindra beri." Jika, bukan Radit yang berbicara pasti sudah adu jotos. Hanya Radit yang memiliki kesabaran yang sangat tebal.
"Satu hal lagi," tegas Radit. "Dia sudah memberikan perusahaan yang Papih berikan kepada Om. Apa masih kurang? Sehingga Om masih berani mengganggu ketentraman dia dan istrinya juga keluarga Radit?" Satria berdecih dan menatap sinis ke arah Radit.
"Mentang-mentang punya menantu preman, berani mengancam," ujar Satria.
"Cukup ya, Opa!" Aleesa sudah membentak pria bau tanah itu.
"Tanpa saya menjelekkan kamu, kamu memang sudah punya sejarah buruk, ALEESA." Satria berucap dengan tatapan tajam. Bukan hanya kepada Aleesa, tatapan itu diberikan kepada Aleena
__ADS_1
"Kamu dan kakak kamu itu adalah wanita murahan!" Satria berkata teramat kejam. Aleesa dan Aleena terhenyak atas perkataan Satria. Begitu juga dengan yang lain. Aleeya, dia langsung melihat ke arah dua saudaranya.
"Sudah jelas memiliki kekasih, tapi malah asyik bermesraan dengan lelaki lain. Apa itu bukan murahan namanya?" Mata Echa melebar mendengar ucapan dari paman sang suami. Sungguh mulutnya benar-benar tidak bisa dijaga. Ingin dia membuka suara, tapi tangannya Radit genggam dengan begitu erat.
"Apalagi hingga menyebabkan mantan pacar kamu meninggal. Itu sudah sangat fatal."
Satria tahu jika membahas perihal mantan kekasihnya akan sedikit banyak megganggu mental Aleesa. Kini, Aleena yang menenangkan Aleesa. Dia menggenggam erat tangan Aleesa menandakan dia akan baik-baik saja. Satria tersenyum tipis ketika melihat Aleesa sudah menarik napas dan wajahnya sedikit berubah.
Suara tepuk tangan terdengar dengan begitu jelas. Semua orang menoleh termasuk Satria. Mata Satria hampir lepas dari tempatnya.
"Sepertinya Anda ingin segera menyusul mantan kekasih dari istri saya."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...