
Yansen meminta untuk pulang kepada sang kakak. Dia tidak ingin membebani kakaknya apalagi sekarang kakaknya sudah tidak bekerja.
"Tapi, kondisi kamu--"
"Enggak apa-apa, Kak. Aku udah bisa jalan kok walaupun sedikit-sedikit. Semakin lama aku di sini semakin banyak tagihan yang akan Kakak peroleh."
Meskipun Grace sering berbicara kasar kepada Yansen, tapi Yansen selalu baik dan berkata lembut kepada kakaknya. Dia selalu mengingat pesan dari ayah Aleesa bahwasannya kakaknya dipaksa dewasa oleh keadaan. Psikisnya sebenarnya terguncang.
Jalan masih tertatih dan tangan pun masih ditopang dengan menggunakan arm Sling, tapi Yansen selalu bersyukur. Dia masih menyunggingkan senyum walaupun hatinya tengah patah sepatah-patahnya.
"Tuhan, aku tahu ini teguran untuk keluargaku. Perkuatlah imanku agar
aku selalu menjadi manusia yang selalu bersyukur atas berkat yang Engkau berikan."
Grace dan Yansen pulang bersama Jerome. Di dalam mobil tidak ada yang membuka suara. Yansen hanya tengah sibuk menatap jalanan ibukota di malam hari melalui kaca jendela samping mobil.
🎶
Terbayang saat bersama
Lewati masa terindah
Saat kau memelukku
Tuturkan cinta
Seketika mata Yansen berembun dan bibirnya menyunggingkan senyum kepedihan mendengarkan lagu yang diputar di dalam mobil Jerome.
"Apa aku bisa melepaskanmu, Sa? Aku sangat mencintaimu."
Sesampainya di rumah, Yansen tidak ingin dibantu. Dia malah meminta Jerome untuk membantu kakaknya. Banyak beban yang kakaknya tanggung sekarang. Apalagi kakaknya melakukan kesalahan yang fatal, yakni menantang Aksara. Itulah yang tengah Yansen pikirkan.
Melawan Aksara itu sangat tidak mungkin. Dia memiliki kekuatan super dengan bekingan orang-orang berkompeten. Siapa dia? Keluarga Nathalie pun tidak akan mampu melawan Aksara.
Melihat Grace bagai mayat hidup membuat hati Yansen sangat sakit. Dia tengah berandai-andai. Andai jika dia tidak bertemu dengan Aleesa dan tidak jatuh cinta kepada Aleesa, ini semua tidak akan terjadi kepada keluarganya. Yansen tidak menyalahkan keluarga Aleesa karena dia tahu keluarga Aleesa tidak akan bertindak keji jika tidak ada yang memulai.
Awalnya dia tidak percaya ketika Iyan menjelaskan semuanya perihal kelakuan kakaknya kepada Aleesa. Jujur, dia pun marah. Namun, dia tidak bisa marah sepenuhnya kepada sang kakak. Dia juga menyadari kesalahan yang dia perbuat hingga menyebabkan kakaknya seperti itu.
Yansen tidak bisa tidur. Dia banyak sekali mengirim pesan kepada Aleesa. Tak satu pun pesan dari Yansen dibalas oleh Aleesa. Pikiran jelek sudah berkelana.
"Apa kamu marah sama aku?" Yansen berkata seperti itu karena status Aleesa tengah online, tapi dia sama sekali tidak membuka pesan darinya.
Jarum jam terus bergerak. Sekarang sudah menuju ke angka sebelas. Ada beban di pikirannya yang harus dia selesaikan sekarang juga. Yansen meraih jaketnya dan keluar dari kamar. Walaupun kakinya masih sakit dan langkahnya terbatas, tapi tidak membuat Yansen mengendurkan niatannya. Untungnya saja keadaan rumah sudah sepi.
__ADS_1
Dia memesan ojek online untuk diantarkan ke sebuah rumah besar. Tibanya di sana dia menghela napas kasar. Dia tahu konsekuensinya datang ke rumah ini apa.
Pihak keamanan mulai menginterogasi Yansen, ketika pihak keamanan melihat foto Yansen tengah bersama majikannya akhirnya dia mengijinkan.
Langkah yang tertatih tak membuat Yansen meringis. Dia tetap berjalan walaupun terasa sakit dan ngilu. Tangannya sudah menekan bel yang ada di samping pintu. Dia berharap sang penghuni rumah belum terlelap walaupun sudah tengah malam.
Seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk Yansen. Dahi asisten itu mengkerut.
"Mau cari siapa malam-malam?" Asisten itu tidak pernah melihat Yansen sebelumnya.
"Om Aksara ada?".
"Tuan sudah tidur."
"Boleh tidak, tolong bangunkan. Saya ingin berbicara penting kepada Om Aksara." Asisten itu menolak. Namun, Yansen masih memaksa dengan wajah yang teramat memelas. Apalagi melihat kaki dan tangannya yang seperti tidak normal.
"Tolong, Mbak. Ini menyangkut hidup dan mati saya."
Iba pun menghampiri asisten rumah Aksa. Walaupun takut, dia tetap menuju kamar Aksa. Mengetuknya dengan begitu pelan. Namun, yang keluar bukan majikan pria melainkan sang Nyonya.
"Ada apa, Mbak?" Riana terlihat baru bangun tidur karena matanya memerah.
"Ada yang mencari Tuan, Nyonya." Dahi Riana mengkerut mendengarnya. Dia melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Enggak tahu, Nyonya. Tapi, masih muda, tangannya memakai penyanggah gitu seperti habis patah tangan." Riana berpikir sejenak.
"Ya udah, nanti saya bilang ke Daddy-nya Empin. Mbak tidur aja." Asisten rumah tangga itupun mengangguk.
Riana pergi ke ruang kerja sang suami. Jam segini Aksa masih berada di ruang kerja pribadi di rumah besar miliknya. Tangan Riana pun sudah mengetuk pintu ruang kerja.
"Masuk!"
Aksa mengerutkan dahi ketika melihat istrinya lah yang datang. Biasanya Gavin yang akan masuk ke ruang kerja di tengah malam begini.
"Ada apa, Sayang?" Aksa beranjak dari duduknya dan menghampiri Riana. Dia menarik tangan Riana ke dalam pelukannya.
"Ada yang nyari Daddy katanya." Kini Aksa yang nampak bingung.
"Siapa?" Riana menggeleng.
"Mommy takut." Wajah cemas Riana terlihat amat jelas.
"Orang di depan tidak akan membiarkan sembarangan orang masuk ke rumah ini," jelas Aksa.
__ADS_1
"Kata Mbak, masih muda dan pakai arm sling gitu." Aksa malah tersenyum.
"Kok senyum? Daddy tahu?" Aksa mengangguk. "Siapa?"
"Yansen." Lagi-lagi Riana terkejut dan bingung. Ada apa Yansen tengah malam begini ingin menemui Aksa.
"Apa yang sudah Daddy lakukan?" Curiga, itulah yang Riana rasakan. "Gak akan Yansen datang ke sini apalagi tengah malam jika gak ada hal genting." Aksa hanya tertawa.
"Jangan suudzon, Sayang." Aksa mengecup lembut bibir Riana sekilas.
"Bukannya suudzon. Kenyataannya Daddy mah emang kejam." Riana malah memarahi Aksa. Lagi-lagi Aksa hanya tertawa.
"Daddy temui anak itu dulu, ya." Aksa mengusap lembut pipi Riana. "Daddy janji dia tidak akan Daddy apa-apain." Riana hanya menghembuskan napas kasar.
"Kamu 'kan habis dipijat, istirahatlah."
Aksa turun menemui Tansen yang berada di teras rumah. Deheman Aksa membuat Yansen menoleh. Dia langsung berdiri dan tak Aksa sangka anak itu bersujud di kakinya.
"Om, jangan ladeni laporan Kakak aku. Kak Grace hanya tengah tertekan. Aku janji, aku akan menyuruh Kak Grace mencabut laporan ke pihak kepolisian." Yansen berkata dengan penuh permohonan dan begitu tulus.
Aksa meraih pundak Yansen yang tengah bersujud di kakinya. Dia masih memiliki hati karena dia mengenal Yansen sedari kecil.
"Aku mohon, Om." Tatapan mata Yansen membuat Aksa tidak tega. Dia tahu Yansen anak baik, Echa dan Radit pun menyayanginya.
"Saya tidak memiliki masalah sama kami, tapi kakak kamulah yang membuat masalah dengan saya." Tegas dan menyeramkan perkataan yang terlontar dari mulut Aksa.
"Maafkan Kakak aku, Om. Kak Grace emang salah," sesal Yansen. "Jangan apa-apakan dia karena hanya dia yang aku miliki di dunia ini."
Aksa menepuk pundak Yansen. Anak ini benar-benar berjiwa besar dan mau mengakui kesalahan kakaknya dan juga meminta maaf kepadanya.
"Masalah saya hanya dengan kakak kamu. Tidak akan membawa-bawa kamu," tukas Aksa.
"Tetap saja, Om. Ini akan berdampak ke aku," sahut Yansen lemah.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Aksa. Yansen menggeleng pelan. "Biaya kuliah?" lanjut Aksa. Kali ini Yansen hanya terdiam.
"Studi S1 kamu di kampus di mana kamu menimba ilmu sekarang sudah Bang Radit lunasi hingga nanti kamu dinyatakan lulus." Yansen terkejut mendengarnya.
"Kamu aman, Sen. Biarkanlah kakak kamu menerima karmanya."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1