
Mematikan ponsel, itulah yang Aleesa lakukan sekarang. Dia memilih untuk pergi ke kantor sang paman. Kantor pusat A&R bakery yang sekarang dikelola oleh Iyan.
Dia datang dengan wajah yang sembab dan langsung menuju lantai di mana sang paman berada. Aleesa melewati banyak orang dan tak dia pedulikan ucapan dari asisten Iyan yang mengatakan bahwa Iyan sedang ada tamu.
Iyan dan dua rekan bisnisnya menoleh ketika pintu terbuka dan mata Iyan seketika melebar ketika melihat keponakannya begitu hancur. Dia segera berdiri dan memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat.
"Kenapa, Sa?" Aleesa pun tak bisa menjawab. Asisten dari Iyan masuk ke dalam, dan hanya dengan melihat sorot mata Iyan dia mengerti.
Sang asisten menghampiri rekan bisnis Iyan dan mengatakan jadwal pertemuan akan diubah. Iyan adalah tipe laki-laki yang mengutamakan keluarga.
"Kalau begitu saya tunggu reschedule-nya." Iyan hanya mengangguk tanpa melepaskan pelukannya pada Aleesa.
"Batalkan semua perjanjian saya hari ini." Asisten Iyan pun mengangguk mengerti.
Iyan membawa Aleesa menuju sofa. Dia duduk bersama sang keponakan. Dia mengusap lembut ujung kepala Aleesa dan tangan Aleesa masih melingkar di pinggang Iyan.
"Yansen?" Aleesa mengangguk.
"Sasa disuruh melupakan." Iyan membalas erat pelukan Aleesa. Memberikan ketenangan kepadanya.
"Siapa yang bilang?"
"Kak Grace."
Iyan menghela napas kasar. Ternyata biang keroknya adalah kakak Yansen sendiri. Sedari awal Iyan sudah tidak suka dengan sikap Grace uang terlalu mengatur hidup Yansen.
"Sasa tahu Sasa dan Sensen beda, tapi jangan paksa Sasa kayak gini. Harusnya biarkan rasa yang Sasa miliki hilang dengan sendirinya." Iyan sangat mengerti akan perasaan Aleesa.
"Sasa juga tahu hubungan Sasa dan Sensen akan berakhir nantinya, tapi kalau kayak gini sangat sakit, Om."
"Sabar ya, Sa. Om yakin, sebentar lagi kebahagiaan akan datang kepada kamu."
Dipeluk oleh Iyan membuat Aleesa merasa nyaman dan dia pun terlelap dengan begitu damainya. Iyan menghela napas lega. Dia meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang.
"Kamu belum berangkat 'kan?" Iyan sudah tersambung dengan seseorang.
"Ke kantor saya sekarang." Iyan mengakhiri sambungan teleponnya dan mengambil gambar Aleesa yang tengah terlelap dan mengirimkannya kepada orang itu.
Tak sampai lima belas menit orang itu datang. Iyan menepuk pundak laki-laki itu dan berkata, "saya hanya satu sampai dua jam rapat bulanan. Kamu jaga dia dan jangan sampai dia terbangun." Laki-laki itupun mengangguk.
"Satu lagi, jangan macam-macam. CCTV di ruangan ini terambung ke ponsel saya." Anggukan patuh laki-laki itu berikan.
__ADS_1
Selepas Iyan keluar dari ruangannya, laki-laki itu mendekat ke arah Aleesa. Dia terduduk di bawah sofa di mana Aleesa terlelap. Tangannya terus mengusap lembut rambut Aleesa dan senyumnya terus melengkung indah.
.
Aleesa mengerjapkan matanya ketika jam menunjukkan pukul empat sore. Dia melihat ke arah sekitar ternyata sang om sedang fokus pada laptopnya.
"Om," panggil Aleesa.
"Udah bangun?" Aleesa mengangguk.
"Sasa mau pulang."
"Biar sopir Om yang antar, ya." Aleesa dengan cepat menggeleng.
"Bubu--"
"Om tadi sudah bilang ke bubu kamu kalau kamu Om ajak makan siang."
"Beneran?" Iyan mengangguk seraya tersenyum. Padahal Iyan menceritakan semuanya tanpa terkecuali kepada sang kakak. Ibunya harus tahu perihal kondisi Aleesa.
Iyan mengantar Aleesa hingga ke depan kantor di mana dia sudah dijemput oleh mobil milik Iyan yang dibawa oleh sopir kantor. Aleesa tak memperhatikan sopir sang paman. Dia langsung duduk di kursi penumpang belakang. Menghidupkan ponselnya kembali.
"Dia pun tak menghubungiku," gumam Aleesa. Sang sopir melirik ke arah Aleesa yang masih berwajah sendu. Aleesa mulai memakai headset di telinganya.
Menyanyikan lagu Seamin Tak Seiman dari Mahen dengan mata terpejam dengan kepala bersandar di jok mobil. Sang sopir hanya menyunggingkan senyum tipis di balik masker yang dia gunakan.
Mobil sudah berbelok ke arah rumah Raditya Addhitama. Aleesa pun turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Belum waktunya."
.
Echa mengetuk pintu kamar sang putri. Biasanya sang perawan sudah rapi dan keluar kamar. Namun, kali ini Aleesa belum menampakkan diri. Wajah bantal yang Aleesa tunjukkan kepada sang ibu.
"Gak kuliah?" Aleesa menggeleng.
"Gak enak badan." Echa pun tersenyum dan menyuruh Aleesa untuk mencuci wajah dan turun ke lantai bawah.
"Tapi, Bu--"
"Dipanggil Uncle Papih dan Aunty Mamih." Mendengar nama om dan tantenya Aleesa pun tidak bisa menolak.
__ADS_1
Akhirnya dia turun dengan memakai piyama hot pants yang menjadi andalannya. Di menemui om dan tantenya yang sedang bersama sang ayah. Aleesa memcium tangan Rindra dan Nesha. Kemudian, dia malah bergelayut manja di lengan sang ayah.
"Gak enak badan?" Radit sudah membelai rambut sang putri kedua. Aleesa pun mengangguk.
"Bersiaplah, Sa."
Aleesa yang baru melingkarkan tangannya di pinggang sang ayah menoleh ke arah sang om.
"Malam nanti kita bertolak ke Swiss untuk dua minggu ke dapan."
Terkejut sekali Aleesa mendengar apa yang dikatakan oleh sang paman. Kini, Aleesa menatap ke arah Radit yang sudah tersenyum dan mengangguk.
"Sekalian kita cek kesehatan kamu di sana." Aleesa tidak bisa berkata. Apa ini semua hanya mimpi.
"Bubu juga mau ngecek A&R bakery." Sang ibu menimpali.
"Rio juga nanti akan menyusul kita ke sana." Nesha menambahi.
Aleesa masih terpaku. Dia tak mengerti harus berkata apa. Dia hanya bisa memeluk tubuh ayahnya.
"Baba sudah urus cuti kuliah kamu selama dua Minggu ke depan. Kita fokus pemeriksaan kondisi kamu di sana, ya." Aleesa pun mengangguk.
Ada rasa bahagia di hatinya. Ada harapan untuknya bertemu dengan Restu. Terlebih, sang paman yang tak lain adalah orang tua angkat Restu pun ikut jua.
.
Di dalam pesawat, seorang pria terus melengkungkan senyum. Tinggal beberapa jam lagi dia akan tiba di negara tujuan. Negara yang nantinya akan memiliki cerita yang baru setelah kesendirian yang harus dia jalani beberapa tahun ini.
Dia teringat akan sikap seorang perempuan yang sudah seminggu ini bermanja dengan dia. Perempuan itu memeluk erat tubuhnya. Membenamkan wajahnya di dada bidang miliknya.
"Jangan pergi. Tetaplah di sini. Temani aku."
Kalimat yang membuat senyuman tak pernah pudar di wajahnya. Semakin tak bertemu, perempuan itu semakin cantik dan lebih dewasa. Perkataannya semakin lembut juga beban di hatinya semakin berat.
"Aku akan menghapus sedihmu."
Dia menatap ke arah leher di mana menggantung sebuah kalung panjang dengan berliontinkan dua cincin. Bibirnya pun tersenyum lebar.
"Aku tunggu kamu di sana," ucapnya dengan memegang cincin itu dengan begitu erat dan senyum tak pernah pudar.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ....