RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 37. Mata-mata


__ADS_3

Hati laki-laki mana yang tidak sakit melihat perempuan yang dia cintai bersama pria lain. Yansen meraih ponsel Nathalie dan memperbesar foto yang tunangannya itu tunjukkan.


Dahi Yansen mengkerut ketika melihat wajah pria yang menyamping. Dia merasa tidak asing, tapi apa mungkin. Pria itu sepertinya lebih kurus dari semula. Juga potongan rambutnya yang sangat berbeda.


"Apa benar itu Kak Restu?" gumamnya dalam hati.


"Banyak yang sudah mereka lakukan di belakang kamu, Kak. Dia pergi ternyata sengaja untuk liburan berdua, menduakan kamu." Nathalie bagai kompor yang akan membuat Yansen kepanasan.


"Enggak mungkin, Sasa gak akan melakukan itu. Apalagi dua pamannya mengatakan bahwa Aleesa memang tengah menjalani pengobatan di sana. Sama halnya dengan Sasa yang berkata seperti itu juga."


Yansen tidak percaya Begitu saja. Dia masih ragu terhadap pria itu. Apakah itu sahabat dari sepupu Rio atau bukan? Tiga tahun tak berjumpa membuatnya sedikit lupa. Juga wajah pria itu yang cukup berbeda.


"Masih mau memperjuangkan cinta Kakak kepadanya?" sergah Nathalie. "Dia itu wanita gak bener Kak!"


"Cukup Nathalie!" bentak Yansen. Wajahnya sudah dipenuhi amarah yang luar biasa. Dia tidak terima Aleesa dikatakan seperti itu. Dia sangat tahu Aleesa.


"Dia bersama pria lain karena aku juga dijebak oleh kalian hingga aku terjebak akan pertunangan si alan ini!" Suara Yansen menggema. Orang yang terlihat diam jika sudah marah pasti akan seperti orang kesetanan. Inilah yang terjadi pada Yansen.


"Jangan pernah kamu menjelekkan Sasa di depanku. Atau akan aku robek mulutmu." Yansen benar-benar geram. Urat kemarahannya pun terlihat jelas. Nathalie syok, dan dia hanya membeku.


.

__ADS_1


Radit tersenyum ketika Michael Hartanto menyuruh orang untuk mengawasi gerak-gerik Restu dan juga putrinya. Mengambil gambar secara sembunyi-sembunyi yang nantinya akan diserahkan kepada Nathalie.


"Dia kira gua orang be go. Dia kira juga Restu gak sadar akan kehadiran orang-orang yang sedang mengawasinya. Mau coba-coba rupanya." Senyum licik terukir di wajah Radit.


Manusia yang cenderung kalem, terlihat polos, tapi memiliki mulut sangat berbisa. Dia juga memiliki orang-orang khusus di belakangnya. Siapa saja yang berani mendekat, pasti akan dipaksa mundur dengan segera. Dia jarang menggunakan kekerasan, tapi dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Menyuruh lawan kalah dengan cara manis yang tidak akan pernah diduga oleh mereka.


"Caranya malah membawa keuntungan untuk kita." Radit tersenyum dengan kepala mengangguk pelan. Dia setuju dengan ucapan sang kakak.


"Gak perlu misahin Aleesa dengan Yansen. Ketika Yansen membenci Aleesa semuanya selesai. Tinggal Pangeran berkuda yang datang mengisi hari-hari pilu Aleesa."


Lagi-lagi Radit tersenyum. Sedari melihat Restu masuk ke keluarganya, Radit merasakan aura berbeda dari anak yang dizolimi oleh ayah kandungnya sendiri. Dia meyakini bahwa Restu akan menjadi orang besar nantinya. Di balik kenakalannya, ada sisi positif yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dari kaca mata seorang Raditya Addhitama sosok Restu bagai pengeran yang sedang menyamar menjadi pengawal.


"Lovely, kita surfing, yuk." Aleesa terkejut dengan ajakan sang pria di sampingnya.


"Aku gak bawa baju ganti."


"Nanti beli. Sekalian baju surfingnya." Restu sudah menarik tangan Aleesa. Mau tak mau Aleesa pun mengikuti langkahnya.


"Aku gak bisa surfing, Kak." Restu mengehntikan langkahnya dan dia menatap ke arah Aleesa.


"Akan aku ajarin." Restu tersenyum ke arah Aleesa. Membenarkan rambut perempuan yang dia cinta karena terkena angin pantai. "Aku yakin kamu akan bahagia."

__ADS_1


Setelah berganti pakaian, mereka berdua menuju bibir pantai di mana banyak orang-orang pun yang melakukan surfing di sana.


"Kak, aku takut." Restu membantu Aleesa naik ke papan selancar. Perlahan Restu mendorong papan selancar yang dinaiki Aleesa ke arah tengah. Belum juga sampai, ombak sudah datang dan membalikkan papan selancar Aleesa hingga dia masuk ke dalam air. Restu ikut tenggelam dan dia menggenggam tangan Aleesa agar muncul ke permukaan.


Bukannya takut Aleesa malah tertawa dengan tangan yang melingkar di leher Restu. Juga tangan Restu yang sudah membenarkan rambut depan Aleesa. Kejadian itu membuat mata-mata memotretnya dan langsung mengirimkan kepada tuan Michael. Senyum pun tersungging di bibir pria yang sudah tidak muda itu.


Tuan Michael meneruskannya kembali kepada sang putri. Dengan kejadian ini dia sangat yakin bahwa Yansen akan membenci Aleesa dan perlahan membuka hati untuk Nathalie. Benar dugaan tuan Michael. Nathalie bersorak gembira ketika mendapat foto tersebut.


"Gila, ini sih romantis banget," ucap Nathalie. "Kenapa nih anak selalu dikelilingi pria tampan sih?" Natahlie kesal sendiri. Dia akui, pria yang tengah bersama Aleesa sekarang lebih tampan dari Yansen.


Nathalie masih berada di rumah sakit. Bukan hanya dirinya yang menemani Yansen, ada Grace dan juga Jerome di sana. Ini juga kesempatan bagus untuknya menunjukkan foto ini kepada kakak dari Yansen.


"Coba lihat deh." Nathalie sudah menunjukkan gambar di ponselnya.



"Romantis banget 'kan."


...***To Be Continue***...


Komen dong ... Kangen komen banyak

__ADS_1


__ADS_2