RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 144. Peluk Aku Hingga Pagi Datang


__ADS_3

Restu mengerang kesal ketika dia harus lembur lagi Padahal dia sudah membuat janji dengan Aleesa.


"Definisi kerja bagai kuda banget ini mah," gerutunya.


"Kaya enggak lu, ya," ejek salah satu pria yang memiliki jabatan lebih tinggi.


"Namanya juga anak magang."


Ingin sekali Restu menimpuk mulut dua pria yang pada waktu itu menyebut Aleesa sebagai calon istri mereka. Restu masih mencoba untuk sabar padahal hatinya sudah menahan amarah yang berlebihan.


Aleesa hanya dapat mengerti dan mengerti sang tunangan. Tidak ada jalan lain lagi selain itu. Mencoba untuk menyibukkan diri, tapi tetap tidak bisa. Bagaimana tidak sudah, hampir seminggu dia tidak bertemu dengan sang pujaan hati.


"Kenapa kangen banget begini?" keluh Aleesa.


Mereka berdua berada di kota yang sama, di langit yang sama. Namun, waktu untuk bertemu seperti mereka terhalang jarak yang begitu jauh.

__ADS_1


Saking lelah dan kesalnya menunggu kabar, Aleesa pun terlelap. Dia memeluk guling dengan begitu erat. Jam sebelas malam, pintu balkon terbuka. Seorang pria dengan dasi yang sudah dikendurkan masuk ke kamar Aleesa. Lampu kamar masih menyala, dia kira Aleesa masih terjaga. Pada nyatanya tidak. Dia menatap nanar ke arah seorang wanita yang sedang memeluk guling dengan membelakanginya.


Pria itu memutari tempat tidur agar bisa melihat wajah Aleesa. Pelan-pelan dia naik ke atas ranjang, dia menyingkap anak rambut yang menutup wajah Aleesa. Tangannya sudah mulai menarik guling yang tengah Aleesa peluk. Pria itu mulai membaringkan tubuhnya dan meletakkan tangan Aleesa di pinggangnya.


"Maafkan aku, Lovely."


Sebuah kecupan diberikan di kening Aleesa dengan sangat dalam. Hingga perempuan itu membuka matanya perlahan. Matanya memicing karena cahaya lampu yang terang. Seulas senyum diberikan oleh pria tampan itu sehingga membuat Aleesa semakin membenamkan wajahnya di dada tersebut.


"Jangan lepaskan pelukan kamu hingga aku bangun nanti." Suara parau dan lemah, tapi mampu membuat Restu tersenyum bahagia.


"Aku akan terus memeluk kamu, Lovely."


Jam tujuh pagi, dua insan manusia yang sedari semalam terus berpelukan akhirnya membuka mata mereka secara perlahan. Aleesa, dia yang mengerjapkan mata lebih awal. Dia tersenyum ketika melihat sang tunangan ada di sampingnya dan masih terlelap. Tangannya sudah mengusap lembut wajah Restu yang sangat tampan ketika pagi hari.


"Love you so much." Sebuah kecupan singkat Aleesa berikan di bibir Restu hingga sang empunya bibir mulai membuka mata.

__ADS_1


Sungguh pemandangan yang begitu indah ketika dia disambut oleh senyuman manis Aleesa di pagi hari, tepat ketika dia membuka mata. Bukannya bangun, Restu malah semakin erat memeluk tubuh Aleesa.


Hingga deheman seseorang membuat Aleesa dan Restu saling pandang. Perlahan pelukan itu mengendur dan tanpa mereka duga dua pria dewasa dan pria seusia Restu sudah ada di dalam kamar Aleesa. Begitu juga dengan dua wanita dewasa yang sudah melipat kedua tangan mereka di atas dada.


"Nyenyak banget kayaknya," sindir Rio.


"Alibi lembur ternyata melipir ke sini." Ucapan Nesha tak kalah pedas.


Sepasang tunangan itu kini sudah duduk di tepian tempat tidur dengan kepala yang menunduk dalam. Mereka tak sanggup melihat tatapan tajam dari orang tua mereka.


"O-ow! Kamu ketahuan!" Lagi-lagi Rio membuka suara.


"Kalian harus seceepatnya dinikahkan."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong, yang banyak atuh komennya biar UP lagi ...


Di planet F udah terbit bab baru juga, ya ...


__ADS_2