
Di usia kandungan 5 bulan Aleesa memiliki kebiasaan aneh. Di mana dia selalu ingin berkumpul dengan para sepupunya yang tampan. Setiap akhir pekan mereka diwajibkan datang ke rumah Raditya tanpa alasan yang jelas.
“Mau ngapain sih?”
Agha, dia yang selalu protes jika Aleesa meminta sesuatu kepadanya. Dia terlalu kritis dan juga termasuk kaum rebahan yang tidak suka dengan keramaian. Apalagi disuruh berkumpul tanpa adanya acara yang jelas.
“Ada acara apa?”
Dakla, dia bertanya kepada Agha. Namun, anak itu hanya menggelengkan kepala dia juga tidak tahu kenapa dia diundang datang ke rumah Sang Baba, tetapi adiknya yang perempuan tidak mendapat undangan.
“Kenapa harus ke sini emangnya ada apa?”
Pertanyaan yang sama datang dari Ahlam atau biasa disebut bang Iam. Dia bertanya kepada kakaknya dan juga Kakak sepupunya. Mereka berdua pun tidak tahu dan hanya menggedikkan bahu.
Apang, dia yang notabene adalah asisten dari Restu pun tidak tahu menahu perihal hal ini. Kakak sepupunya itu tidak memberitahukan apa-apa.
“Bohong!”
Agha, Dalla dan juga Ahlam tidak percaya begitu saja mendengar jawaban dari apang. Mereka tahu jika Apang sangat dekat dengan Restu. Anak itu menggeleng dengan cepat, menandakan dia juga tidak tahu.
“Terus ngapain ke sini?”
Ketika mereka tengah ribut, sang tuan rumah keluar dari kamar. Senyum menyebalkan mereka lihat di wajah Aleesa. Senyum Aleesa padahal sangat tulus dan penuh kebahagiaan. Di mata para sepupu ga malah senyum yang menjengkelkan.
“Perasaan Mas udah gak enak nih.”
Seketika Dalla dan Ahlam menoleh ke arah remaja tampan nan berkharisma. Biasanya apa yang dikatakan oleh Agha benar. Mendadak mereka pun takut dan merasakan hal yang sama.
“Sasa bawa apa?”
Apang sudah bertanya. Anak itu masih terlihat santai. Dia melihat Aleesa sudah membawa baju yang disampirkan di lengannya.
Dahi ketiga sepupu Aleesa yang lain pun mulai melihat ke arah lengan Aleesa. Terlihat baju warna biru, krem, putih dan abu yang Aleesa bawa.
Mereka bertiga saling pandang. Dada mereka mulai bergemuruh tak karuhan. pasti akan ada hal aneh yang akan Aleesa lakukan kepada mereka Jika, menolak permintaan ibu hamil yang satu itupun tidak akan bisa. Mereka akan diteror oleh teman-teman Aleesa yang tak terlihat.
“Hai! Semua!”
Senyum mengembang di wajah Aleesa. Namun, keempat adik sepupunya hanya diam saja dan memasang wajah datar. tatapan Mereka pun begitu tajam ke arah Aleessa saat akan mereka tengah bermusuhan.
"Kalian kenapa?" Aleesa bingung dengan sikap keempat sepupunya.
“Jangan macam-macam, Sa.”
Agha mulai mengancam. Trauma dia ketika kecil kembali hadir. Cukup istri dari sang uncle yang mengerjainya ketika hamil si kuartet. Dia tidak mau dikerjai lagi.
“Macam-macam gimana?” sergah Aleesa. “Gua mau dandanin kalian biar makin kece.”
"Hah?" Kompak sekali mereka berempat.
“Alamat ini mah, alamat.”
Ahlam sudah mengeluh. Ini memang baru pertama kali dia berhadapan dengan ibu hamil, tapi Ahlam sering menonton bagaimana keanehan ibu hamil yang tengah ngidam. Ada yang ingin naik ojol, tapi yang bawa motornya si ibu hamil itu. Ada yang ingin beli rujak bangkok, tapi belinya ke Bangkok langsung. Ada yang ingin makan bubur tanpa bubur. Sungguh banyak sekali keanehan yang ibu hamil tunjukkan. Dia sudah dapat menebak mau dijadikan apa dirinya.
“Tara!”
Empat jas Aleesa bawa dengan baju turtle neck dan juga kaos oblong. Wajah Aleesa sudah sangat bahagia dan dia menyuruh keempat keponakannya untuk duduk di sofa.
“Gua gak akan jahat sama kalian. Gua hanya ingin mendandani kalian aja." Jurus Aleesa mulai keluar di mana Tangannya sudah mengusap lembut perut Aleesa yang sedikit membukit dan terlihat jika mengenakan kaos.
Penghuni rumah yang memang ada di dalam hanya mengulum senyum memperhatikan Aleesa yang sedang bersama sepupu-sepupu tampannya yang terlihat sedikit tertekan.
“Jangan khawatir juga ini baju gua beli mahal bukan baju bekas.”
Bagi empat sepupu Aleesa masa bodo perihal harga baju. Mau mahal atau murah jika tujuannya untuk mengerjai mereka sama saja menyebalkan. Apalagi warna bajunya itu yang sangat menyilaukan.
"Sasa, ini Sasa berani bayar berapa? Nyuruh Iam ini gak gratis loh.”
Ahlam sudah membuka suara. Dia menatap ke arah Aleesa dengan sangat serius. Aleesa tidak akan kaget jika Ahlam bicara seperti itu. Dia sudah khatam bagaimana watak Ahlam jika sudah menyangkut uang. Padahal itu alasan Ahlam untuk terbebas dari rencana Aleesa.
“Lebih parah dari si mas Agha,” cibir Aleesa.
“Jangan samain Mas sama nih anak.” Agha menoyor kepala Ahlam hingga anak itu mengaduh. “Nih anak jiwanya jiwa miskin. Apapun dia duitin.” Bukannya marah, Ahlam malah tertawa.
“Kan Iam berguru pada suhu Mas Agha.”
“Mohon maaf, Mas hanya menerima uang dollaran bukan dua ribuan." Apang, Dalla dan Aleesa terbahak mendengar perdebatan dua anak remaja itu.
__ADS_1
Walaupun mereka sering adu mulut, sebenarnya mereka itu sling menyayangi satu sama lain. Mereka akan selalu ada untuk para saudara mereka yang membutuhkan pertolongan. Contohnya, sekarang ini. Semalas-malasnya mereka kepada Alesa mereka tetap meluangkan waktu untuk datang ke rumah sang baba.
Aleesa mulai mendandani satu per satu dari keempat sepupunya. Anak yang pertama dia dandani adalah Apang. Apang menerima kaos oblong hitam dan juga jas berwarna abu.
Mau tidak mau, suka tidak suka dia harus memakainya begitu juga dengan yang lainnya. Setelah selesai Aleesa malah bertepuk tangan gembira ketika melihat betapa tampannya mereka.
“Wait, wait, wait.”
Alisa mengambil ponsel terlebih dahulu. Dia ingin mengabadikan momen penting ini.
“Satu, dua, tiga."
Senyum begitu merekah di wajah Aleesa. Beda halnya dengan objek yang dia foto tengah memasang wajah datar bak papan bangunan.
“Kenapa jatuhnya kayak ayam-ayaman SD sih.”
Gavin Agha Wiguna sudah sangat kesal dengan hal ini. Dia melihat penampilannya jijik sendiri. Sungguh dia tidak suka dengan warna terang malah dikasih warna yang benar-benar gonjreng.
“Ini kenapa kayak PNS?”
Dalla si anak yang jarang berbijara sudah membuka suara. Dia merasa jasnya ini bagai pakaian seorang PNS.
Beda halnya dengan Apang, dia malah terlihat sangat keren dengan apa yang dia gunakan. Kaos oblong berwarna hitam dan jasa berwarna abu membuat penampilannya sangat menawan dan gagah.
“Kalau Apang mah keren.”
Anak itu memuji dirinya sendiri dan mendapatkan cebikan dari yang lainnya. Apang malah sangat percaya diri dan malah mengambil gambarnya terus menerus.
Di minggu berikutnya, ALeesa merengek ingin ikut nongkrong bersama Mas Agha. Ingin rasanya Agha memarahi sepupunya itu, tapi dia tidak tega karena Aleesa tengah hamil.
“Atuhlah, Ahjussi.”
Agha sudah melaporkan ke suami Aleesa. Restu tak berkata apapun. Dia hanya tertawa saja.
“Biarin aja atuh. Sekali-kali ajak Sasa.”
“Idih, malas amat.”
Restu malah terbahak. Anak remaja itu sudah menghubungi Restu melalui sambungan video. Tidak biasanya dia seperti itu.
Agha malah berdecih kesal. Dia menatap tajam ke arah suami sang sepupu.
“Apaan? Orang Mas mau nongkrong sama Reksa.”
“Ya udah, bating sama Reksa doang kan. Siapa tahu nanti anak Ahjussi kayak kamu dan Reksa.”
“Dih, itu mah maunya Ahjussi.” Agha sudah menimpali dan disambut tawa oleh Restu.
“Ya kali bapaknya begini anaknya lembek.”
“Bapaknya parah. Ngajarin yang enggak bener.”
Mereka berdua malah berbincang santai dan nampak akrab. Padahal, mereka terbilang jarang berbicara. Beda halnya dengan Apang.
“Kirim nomor rekening lu. Entar Ahjussi kirim uang jajan buat nongkrong sama Sasa dan juga Reksa.”
“Ih, apaan?” sergah Agha. “Mas bukan orang kere. Jadi, nggak perlu dapat donasi.”
Kesombongan yang nyata dari Gavin Agha Wiguna. Uangnya yang ada di kartu debit miliknya adalah hasil memalak sang paman. Sedangkan di kartu yang satunya adalah uang jajan dari ayah dan ibunya. Belum lagi uang tabungan yang sang mimo dan pipo berikan.
Malam minggu harusnya Agha berangkat sendiri ke sebuah kafe, tapi dia harus menggandeng ibu hamil yang masih terlihat sangat cantik. Tubuhnya pun tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hanya pipinya saja yang terlihat lebih chubby.
Aleesa tak segan menggandeng tangan Agha. Untung saja Agha senang memaki masker jadi tak masalah untuknya. Dia sebenarnya ingin menolak, tapi dia merasa kasihan karena suami dari Aleesa sedang ke Kalimantan untuk tugas. Aleesa yang diminta ikut tidak mau. Akhirnya, Agha tidak tega dan membawa sepupunya ngopi santai bersama dirinya dan juga Reksa.
Reksa tak henti tertawa mendengar penuturan dari Agha. Namun, dia juga mengucungkan dua jempolnya karena Agha mau berbesar hati membawa ibu hamil.
“Kak Sasa beneran hamil?” Reksa malah tidak percaya. Biasanya ibu hamil itu akan terlihat gendut dan lain sebagainya. Beda halnya dengan Aleesa yang masih seperti Abg.
“Baru menginjak lima bulan.” Tangannya tak segan mengusap lembut perutnya yang sudah sedikit membukit.
Baik Agha, Reksa dan juga Aleesa mereka nampak bahagia dan tertawa bersama. Aleesa yang Agha anggap kudet dan tua ternyata tidak. mereka nampak nyambung dan Satu frekuensi.
Namun, setelah acar ngopi tersebut ada kabar yang menghebohkan di sekolah Agha sehari setelahnya.
Anak populer di sekolah jalan dengan wanita hamil. Disinyalir dia yang sudah menghamili wanita tersebut.
__ADS_1
Sontak semua warga sekolah terkejut. Begitu juga dengan para sepupu Agha. Walaupun mereka masih duduk di bangku SMP, tapi mereka berada di lengkungan sekolah yang sama.
“Berita apaan ini?”
Adik dan juga empat sepupu Agha sudah mendatangi kelas Agha. Si manusia itu malah masih santai dan bermain game. Padahal mereka semua sudah sangat panik.
“Mas!”
Agha menoleh dan teryata adiknya sudah di sana dengan wajah yang memerah. Agha hanya tersenyum tipis.
“Biarin aja, kalau udah capek mah mereka diam.”
Sangat santai sekali jawaban dari kakaknya Ghea itu. Sedangkan Ghea sudah naik darah.
“Diamnya Mas itu nanti akan disalah artikan oleh mereka.” Ahlam sudah membuka suara.
“Iya yah, Mas.” Dalla menimpali.
“Tidak perlu menjelaskan apapun kepada mereka semua. Jika, kita sudah dicap jelek di mata mereka sebanyak apapun kebagusan yang kita miliki tetap sja tak pernah mereka lihat."
Bijak sekali ucapan dari Agha. Dia tidak kejam seperti ayahnya yang langsung mengambil tindakan. Namun, dia mencoba untuk membiarkan terlebih dahulu barulah bertindak.
“Mas harap kabar ini jangan sampai tembus ke keluarga, ya.”
Sayangnya, berita ini semakin besar dan besar hingga ayah dari Agha yang mendapat kabar ini langsung naik darah. Aksa datang ke sekolah sang putra dan menemui pihak sekolah degan wajah yang sudah merah.
“Siapa yang menyebar berita ini?”
Bukan hanya Aksa yang sudah mendengar, sang istri pun kini sudah banyak yang meneror karena pernah jalan bareng dengan Agha.
“Dasar bocil.”
Akas disuruh untuk tenang oleh pihak sekolah. Namun, Aksa bukan manusi seperti itu. Dia masih emosi dan berbicara dengan sangat tegas dan tajam.
“Jangan sembunyikan apapun dari saya.”
Kalimat itu penuh dengan penekanan. Aksa tahu siapa pelakunya. Pihak sekolah tidak akan diam sja jika bukan orang dalam sendiri yang membiarkan berita ini naik ke media. Hanya saja, sebelum berita ini naik Aksa sudah menghentikan terlebih dahulu.
“Apa perlu saya seret orangnya?”
Agha yang diberitahu bahwa ayahnya ada di ruamh guru segera berlari menghampiri sang daddy. Dilihatnya Aksa sudah berkacak pinggang.
“Pih.”
Aksa menoleh dan sang putra sudah mulai mendekat. Wajah sang putra nampak sangat tenang.
“Mas diam bukan karena Mas tidak tahu, Mas tahu siapa orangnya.”
Semua guru yang ad di sana terdiam.
"Mas masih malas membahas ini. Tapi, jika berita ini semakin menjadi, semua data sekolah juga kebusukan para pengajar di sini akan Mas bongkar tanpa ampun.
Diamnya Agha bukan dia tidak peduli, melainkan dia sudah memiliki kartu AS yang kapan saja bisa dia keluarkan. Semua guru pun hanya mengatupkan mulut mereka.
.
Pulang sekolah Ghea dikejutkan dengan kehadiran Reksa yang memakai topi di depan mobi yang biasa menjemputnya dan juga sang kakak. Tatapan Ghea begitu tajam sedangkan Reksa hanya terdiam seakan tidak mempedulikan.
“Ngapain lu di sini?” Ghea akan bersikap judes kepada siapapun yang dia tidak suka.
“Ngapain kek, udah gede ini.”
Ghea geram mendengar jawaban dari Reksa dan berniat untuk mengambil topi Reksa, tapi dia malah tidak sampai dan malah terjatuh. Reksa pun berdecak sekalian menyukuri Ghea yang tengah kesakitan.
“Makanya jangan petakilan.” Reksa membantu Ghea dan terlihat lututnya berdarah. Terdengar ringisan dari mulut Ghea. Dia membantu Ghea berdiri dan masuk ke dalam mobil. Memeriksa luka Ghea dengan hati-hati dan pelan.
“Tahan.”
Reksa mulai mengobati luka Ghea dengan sesekali meniup luka di lutut putih Ghea Setiap kali Ghea meringis, Reksa selalu menghentikan gerakannya. Meniupnya pelan dan barulah melanjutkannya lagi. Namun, di ringisan yang terdengar sedikit lebih keras, Reksa menghentikan pengobatannya. Kemudian, dia menatap ke arah Ghea.
Tak sengaja mata mereka saling bertemu dan memandang. Reksa malah membuka topinya dan menutup wajah Ghea dengan topi bermerk yang Reksa gunakan.
“Jangan liatin gua. Entar lu jatuh cinta sama gua.”
“NAJIS!”
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...