RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 239. Pembawa Perubahan Dan Kebahagiaan


__ADS_3

Tinggal di rumah ibu mertua tidak menyeramkan untuk Aleesa karena mertuanya adalah Om dan tantenya sendiri. Mereka berdua memperlakukan mereka berdua seperti baba dan Bubu Aleesa.


Selama tiga hari tinggal di rumah Rindra dan Nesha, Aleesa mengalami morning sickness. Di mana setiap jam lima subuh Aleesa akan berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Restu akan menjadi suami siaga. Selalu memijat tengkuk leher sang istri tercinta hingga perut Aleesa terasa membaik.


"Udah?" Aleesa mengangguk.


Setiap sehabis muntah seperti ini, Restu akan memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat. Restu ingin meminta maaf, tapi tidak secara verbal melainkan tindakan.


Aleesa pasti akan meminta dipijat karena di kehamilan keduanya ini terasa sangat berbeda. Tubuhnya terlalu lemah dan makanan yang masuk ke dalam perutnya pun hanya sedikit dan itu akan dia keluarkan kembali.


Waktu tidur dan istirahat Restu sangat kurang demi menjaga istri dan putranya. Namun, itu tak membuat dia lelah. Dia malah merasa bahagia karena kehadirannya sangatlah dinanti oleh Aleesa dan juga Abang Er.


"Abang Er biar sama Mamih dulu, ya. Hari ini Mami istirahat dulu."


Ini adalah mobok terparah yang pernah Aleesa alami di kehamilan ini. Tanpa Aleesa tahu, dia meminta kepada sang ayah mertua untuk mendatangkan dokter obgyn terbaik untuk memberikan penanganan yang terbaik.


"Siang baru bisa, Res."


"Iya gak apa, Ba. Nanti siang aku langsung ke rumah Mamih."


Rasa kasihan selalu bersarang di hati Restu. Namun, dia juga sangat bersyukur karena Aleesa tidak pernah mengeluh tentang kehamilannya. Dia juga sudah mau menerima kehamilannya yang tidak dia sangka karena mereka memang menjalani program keluarga berencana. Namun, rencana manusia tidak lebih baik dari rencana Tuhan.


"Udah dapat dokter obgyn-nya?" Restu pun mengangguk.


"Jagain istri aku ya, Mih. Biarkan Abang Er dekat dengan Maminya, tapi jangan lama-lama."


Rindra sangat bangga kepada putra pertamanya itu. Ketakutan Rindra kini hilang sudah. Anak yang sangat menyukai anak kecil malah sebaliknya. Dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika melihat Erzan Akhtar Ranendra, putra pertamanya.


Bayi berusia enam bulan itu seperti mengerti bahwa ibunya itu tengah tidak baik-baik saja. Anak yang biasanya aktif dan banyak mengoceh kini malah sebaliknya. Abang Er tiduran di samping sang mami tanpa ada drama jahil atau bercanda bersama sang ibu. Biasanya, bayi tampan itu selalu mengajak Aleesa bercanda hingga dia tertawa terbahak-bahak.


"Maafin Mami ya, Bang."


Aleesa mengusap lembut pipi merah sang putra. Abang Er pun membalas dengan balik mengusap pipi sang ibu.


"M-m-mi."


Nesha terkejut mendengarnya. Begitu juga dengan Aleesa. Mata Aleesa seketika mengembun mendengar kata pertama yang keluar dari mulut sang putra.


"Kenapa kamu begitu pandai, Nak."


Aleesa mencium penuh cinta pipi sang putra. Abang Er hanya diam saja. Dia malah menatap lembut ke arah sang ibu. Kemudian, dia tersenyum dan memeluk leher Aleesa.


Nesha tersenyum bangga kepada cucu pertamanya itu. Sungguh manis sekali Abang Er. Nesha meyakini besar nanti putra dari Restu Ranendra itu akan seperti sang ayah.


"Abang Er, bobo dulu, yuk. Biarkan Mami istirahat."


"Enggak apa-apa, Mih. Biarkan Abang Er di sini. Sasa ingin memeluk tubuh putra Sasa."


Sebenarnya Nesha dilarang oleh Restu, tapi melihat Aleesa maupun Abang Er yang tak mau melepaskan membuatnya tidak tega. Bagaimanapun Abang Er sudah lama tidak mendapat pelukan dari seorang ibu. Dia pasti sangat merindukan hangatnya pelukan Aleesa yang berbeda dari pelukan yang lain.


"Mamih tunggu di sini boleh?"


"Tentu, Mih."


Sedang enak istirahat, Nesha dikejutkan akan kehadiran Radit dan juga seorang dokter. Namun, Radit melarang sang kakak ipar untuk membangunkan Aleesa dan juga Abang Er.


"Aku mau tunggu Restu dulu."


Radit berkata dengan sangat pelan agar tak membuat gaduh kamar Aleesa. Kamar itu tak kalah luas dari kamar Aleesa yang ada di rumahnya.


Sepuluh menit berselang, Restu tuba di kamar dan dia terkejut ketika melihat sang putra dan istrinya tertidur pulas. Seketika Restu menoleh ke arah sang ibu.


"Maafkan, Mamih," sesal Nesha,


Restu merangkul lembut pundak sang ibu. Dia menggeleng pelan seraya melirik ke arah Nesha.


"Aku malah sangat berterima kasih karena mamih sudah menjaga istri dan putra aku."


Abang Er terpaksa Restu gendong dengan pelan. Dia tidak ingiin putranya terganggu ketika dokter memeriksa kandungan istrinya.

__ADS_1


"Maaf, ya."


Aleesa yang baru saja terbangun hanya tersenyum. Terlebih di sana ada sang ayah yang ikut menemaninya memeriksakan kandungan. Dokter mendengarkan semua keluhan Aleesa hingga sang dokter memberikan sebuah resep yang harus Restu rebus di salah satu apotek.


"Ini harganya cukup menguras dompet."


Dokter itu sengaja mengatakan itu agar Restu tidak kaget ketika menyebutkan nominal total harga.


"Berapapun akan saya bayar. Apapun akan saya lakukan supaya istri saya tidak tersiksa seperti ini."


Mendengar ucapan Restu membuat Aleesa menatap dalam wajah sang suami yang terlihat sangat serius mengatakan semuanya.


"Papi akan mengorbankan apapun termasuk nyawa Papi jika itu diperlukan."


Kalimat itu terdengar sangat serius dan tulus. Aleesa Aleesa hanya tersenyum dengan aor mata yang sudah menganak.


.


Kehamilan Aleesa kali ini sangat merepotkan para sepupunya. Jangan ditanya bagaimana repotnya Rio karena setiap hari ada saja yang Aleesa inginkan.


"Jangan ngadi-ngadi!"


Rio membentak Aleesa dan seketika air mata Aleesa menetes begitu saja. Sontak Nesha memukul pundak Rio dengan kencang.


"ATuh, Mih," rengek Rio. "Masa iya nyuruh Iyo ke kebun binatang cuma buat foto sama monyet si bokong merah, Gak lucu pan."


Nesha menahan tawa mendengarnya, Menantunya ini benar-benar merepotkan dan berhasil membuat Rio darah tinggi.


"Ijinkan Kak Iyo istirahat sehari aja," pinta Rio dengan wajah memelas.


"Cuma ke ragunan, Kak. Enggak ke Singapore Zoo."


"Kalau ngidam kamu sampe begitu, mending Kak Iyo dikirim ke pelosok deh."


Nesha akhirnya terbahak mendengar ucapan dari putra kandungnya. Sungguh perkataan Rio membuat perutnya sakit.


Walaupun dengan mengomel, Rio tetap pergi dengan wajah yang ditekuk. Jangan salah, jika seperti ini Rio akan selalu meminta bayaran mahal kepada Restu. Tanpa berpikir panjang pun Restu akan menuruti permintaan sang adik.


"Udah atuh, Sasa."


Aleesa menyuruh Agha untuk mengasuh sang putra dengan membiarkan rambutnya dijambak oleh Abang Er. Setiap kali Abang Er menjambak rambut Agha dia akan tertawa dengan begitu lebar.


"Sakit, Sasa. Nanti rambut Mas rontok"


Abang Er terus tertawa karena terus menjambak rambut Agha degan cukup keras. Bukan hanya Abang Er yang tertawa, ibu dari bayi itupun ikut tertawa.


"Sesakit apapun rambut Mas dijambak oleh Abang Er, tidak terasa sakit ketika melihat senyum Sasa yang begitu lebar."


.


Usia kandungan sudah memasuki usia empat bulan. Dalam keadaan hamil dia masih mengikuti mata kuliah seperti biasa. Namun, Restu akan mengirim satu pengawal yang akan menjaga sang istri.


Abang Er, dia sudah berusia sepuluh bulan. Dia sudah sangat aktif dan merangkak ke sana ke sini dengan cepat. Akan tetapi, Abang Er akan menjadi anak yang kalem jika bersama ibunya. Dia sangat mengerti kondisi ibunya bagaimana.


"Ya ampun, Abang!"


Sang nenek sudah berteriak karena cucunya sudah seperti mochi. Bedak bayi yang baru saja dibuka sudah habis tak tersisa. Bayi itu malah tertawa ketika melihat dirinya di kaca. Dia menunjuk ke arah kiri dan itu membuat Echa mengerutkan dahi. Di sana ada si kerdil yang wajahnya hampir sama seperti dirinya. Abang Er malah tertawa ketika si kerdil mengerungkan matanya.


"Kamu ketawa sama siapa, Bang?" Abang Er masih menunjuk-nunjuk ke arah kirinya.


Bayi berusia sepuluh bulan ini sangatlah aktif. Sehingga membuat Echa kewalahan mengasuhnya. Echa mengajak Bang Er mandi, tapi sang cucu malah asyik bermain air dan tidak mau berhenti.


"Batre kamu ada berapa sih, Bang Er?"


"Abang Er!"


Suara yang karang sekali Abang Er dengar muncul. Balita itu memiliki jiwa penasaran yang sangat luar biasa hingga. Dia meminta sang nenek mengangkat tubuhnya padahal dia belum memakai sabun dan shampo.


"Ya Allah!"

__ADS_1


Echa yang merawat tiga anak pun kewalahan dengan tingkah sang cucu yang sangat luar biasa ini. Ketika mereka keluar kamar mandi, Abang Er terdiam sejenak. Senyum yang begitu tulus wanita itu tunjukkan.


"Anteu Na, datang."


Aleena sangat bahagia berbicara kepada sang keponakan. Sedangkan Abang Er belum terlalu mengingat sang Tante.


"Kebiasaan deh kalau pulang gak ngasih kabar terus yang dicari Abang Er." Echa mengomeli putrinya yang hanya tersenyum manis.


Sang putri sudah mulai seing pulang hanya karena kangen dengan sang keponakan. Terlihat juga Aleena sudah mulai sedikit nyaman berada di Jakarta.


"M-m-mi."


"Eh, udah bisa ngomong kamu," ujar Aleena. Dia mengecup gemas pipi Abang Er dan direspon dengan kerungan khasnya.


"Pake baju dulu gih. Nanti main sama Anteu Na."


Abang Er adalah balita yang akan memperhatikan orang yang mencoba untuk dekat dengannya. Tatapannya sangat mirip dengan Restu jika belum mengenal seseorang.


"Kenapa plek ketiplek bapaknya banget sih."


"Ya kali kalau mirip kamu, emaknya juga bukan kamu."


"Ish, Bubu mah."


Echa pun tertawa. Dia teramat bersyukur karena kehadiran Abang Er membawa kebahagiaan dan perubahan yang besar untuknya juga keluarganya. Apalagi Aleena yang sudah kembali seperti dulu, dan malah lebih hangat dari Aleena sebelumnya.


"Udah ganteng."


Aleena sangat bahagia karena bisa mendandani sang keponakan. Apalagi baju yang dimiliki oleh Abang Er bukan merk sembarangan.


"Bu, Sasa mana?"


Aleena sedari tadi tak melihat sang adik. Echa yang sibuk membereskan peralatan sang cucu menjawabnya dengan pelan.


"Zoom meeting sama dosennya."


Aleena tersenyum mendengar jawaban dari sang ibu. Adiknya tidak melupakan pendidikannya walaupun sekarang tengah memiliki anak dan juga hamil anak kedua. Dia sangat salut pda kegigihan Aleesa.


"Jangan diporsir, Bu. Kasihan janinnya."


"Baba juga sering mengingatkan, tapi Aleesa kekeh ingin lulus di usia kandungannya menginjak delapan bulan."


Aleesa memang anak yang pantang menyerah. Aleena tahu akan hal itu. Apa yang belum dia gapai pasti akan selalu dia kejar.


Abang Er dibawa oleh Aleena. Setelah ditunjukkannya video kebersamaan mereka akhirnya balita itu mau digendong dan bermain bersama sang Tante.


"Jangan jauh-jauh."


"Kakak Na mau ke rumah Om Aska doang. Mau nyuruh Apang buat beli jajanan."


Kebahagiaan dari seorang ibu itu ketika melihat anak-anaknya bahagia tanpa dibuat-buat. Itu terjadi pada Aleena sekarang.


"Apa semua ini karena Khairan?" gumam Echa dengan senyum yang mengembang.


Aleena menggendong balita itu ke rumah sang paman yang berada di samping rumah orang tuanya. Tentu saja dengan pengawalan yang sangat ketat dari ayah keponakannya itu. Walaupun hanya berjalan lima langkah dari rumah, tetap harus dengan pengawalan. Peraturan yang tak bisa terbantahkan.


Senyum Aleesa terus mengembang ketika melihat wajah tampan sang keponakan. Hingga langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang keluar dari rumah sang paman. Laki-laki yang terlihat semakin dewasa dan berkharisma. Bukan hanya dirinya yang membeku, laki-laki itupun bagai patung bernapas yang tak berkedip.


"Kak Rangga, ayo!"


Ghea yang awalnya ingin mengajak Rangga pergi malah berlari ke arah Abang Er dan Aleena. Dia menggoda balita tampan itu hingga Abang Er tertawa sangat renyah.


Penghuni rumah yang mendengar suara balita yang menjadi rebutan itu keluar. Jingga mengambil alih Abang Er dari tangan Aleena. Mereka tidak menyapa Aleena, melainkan Abang Er.


Alees menyudahi keterkejutannya, dia melangkahkan kaki mengikuti sang tante. Ketika dia hendak melewati Rangg, tangannya Rangga cekal dengan cukup kencang.


"Sekuat apapun kamu mendorong paksa aku untuk melupakan aku, aku akan tetap pada pendirianku, menunggu kamu hingga kamu mau menarik aku kembali ke dalam hidup kamu."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2