
Aleesa yang sedang dibawa oleh sang paman menghentikan langkahnya membuat Aksa pun ikut berhenti.
"Kenapa?" Aksa menatap bingung kepada keponakannya itu.
"Kita kembali ke kamar perawatan itu lagi, Uncle," ujar Aleesa.
"Tapi--"
"Firasat Sasa gak enak." Perempuan yang masih terlihat pucat itu segera membalikan tubuhnya tanpa meminta persetujuan dari sang paman. Dia sedikit berlari menuju kamar perawatan Restu dan Aksa hanya bisa menghela napas kasar. Akhirnya, dia mengikuti Aleesa dari belakang.
Langkah Aleesa terhenti ketika melihat dokter Kaira dibawa oleh dua pengawal yang mengarahkan senjata api ke arah dokter itu di dalam ruang perawatan Restu tadi. Tatapan Aleesa mendapat anggukan dari kedua pengawal itu.
"Mau dibawa ke mana?" Aksa lah yang membuka suara.
"Tempat penyekapan. Perintah dari Mr. Gemke." Aksa mengangguk. Aksa malah tersenyum menyebalkan ke arah dokter Kaira. Dibalas dengan tatapan tajam oleh dokter gila tersebut.
"Ketemu deh lu sama pria menyebalkan di sana."
Aksa berkata di dalam hati dengan menahan tawa. "Stres stres dah lu," gumamnya.
Aleesa melanjutkan langkahnya menuju ruang perawatan sang kekasih. Hatinya sangat tidak enak. Ketika dia membuka pintu, tubuhnya menegang ketika melihat sang kekasih sudah hampir menarik semua pelatuk pistol yang diarahkan kepada madam Zenith.
"Jangan, Bie!" pekikan suara Aleesa membuat Restu menoleh. Aleesa sudah menggelengkan kepala. Madam Zenith pun ikut menoleh.
Kekasih Restu itupun memberanikan diri untuk mendekat ke arah sang kekasih. Wajahnya yang begitu pucat membuat Restu semakin cemas. Apalagi terlihat tubuh Aleesa yang limbung membuat Restu segera melepaskan madam Zenith dengan kasar dan meraih tubuh Aleesa. Gemke segera mendekat ke arah Zenith Andrea agar dia tidak bertindak gila untuk kedua kalinya. Senjata api pun sudah dia amankan.
"Bawa dia menjauh dariku. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi. Mau kau bunuh pun aku tidak peduli." Perkataan yang sangat tegas dan penuh amarah yang keluar dari mulut Restu sembari menggendong tubuh Aleesa.
"Raje--"
Ketika dia melihat Zenith Andrea masih ada di sana dia pun sedikit berteriak kepada Gemke. "Bawa pergi! Cepat!!"
Restu sudah sangat tidak ingin melihat wajah wanita itu. Dia segera meletakkan tubuh Aleesa di ranjang pesakitannya dan menyuruh dokter Rocki untuk memeriksa Aleesa.
__ADS_1
"Obati saja Restu," titah Aksa. "Biarkan Aleesa ditangani oleh dokternya.
"Tapi, Om--"
"Saya tahu luka kamu itu pasti sangat sakit. Makasih sudah menyelamatkan keponakan saya." Restu menggelengkan kepalanya.
"Itu sudah jadi tugas aku, Om. Aku tidak akan membiarkan Aleesa dalam bahaya." Aksa pun tersenyum. Tidak salah dia memberikan restu pada pria di depannya ini. Bukan hanya tampan, tapi penuh tanggung jawab yang tidak banyak pria miliki.
"Om, boleh aku minta sesuatu?" Aksa menatap Restu dengan tatapan bingung. Namun, pada akhirnya dia mengangguk.
"Jika, Aleesa harus diopname, tempatkan dia di ruang perawatan ini. Aku tidak tenang jika dia jauh dariku." Dokter Rocki menggelengkan kepala. Modusnya seorang Restu bisa saja. Aksa pun hanya tertawa.
"Ya."
Punggung Restu yang tengah diobati oleh dokter Rocki tak membuat pria itu mengerang kesakitan. Padahal luka itu sudah cukup parah. Dia masih menatap ke arah Aleesa yang tengah diperiksa oleh dokter khusus.
"Bagaimana dengan aritmianya?" Itulah yang Aksa khawatirkan.
"Aman. Jika, dia sadar langsung suruh makan, ya." Aksa pun mengangguk dan dapat bernapas lega.
"Sakit gak?" Dokter Rocki sudah membuka suara.
"Lebih sakit melihat kekasihku terbaring lemah." Tangan dokter Rocki yang sedang mengobati luka Restu berhenti tanpa disuruh. Begitu juga dengan Aksa yang sudah menatap ke arah Restu yang berwajah sendu dengan terus menatap ke arah Aleesa yang terbaring tak berdaya.
"Dia tidak apa-apa," balas Aksa.
"Aku yang kenapa-kenapa melihatnya seperti itu." Dokter Rocki dan Aksa pun tertawa. Ternyata sangat besar cinta Restu kepada Aleesa.
"Restu si hati beku sudah mencair," ejek dokter Rocki. Restu tak menjawab. Dia hanya menghela napas kasar.
"Kenapa harus ada kejadian ini?" erangnya dengan cukup kencang. Dia menarik rambutnya dengan cukup keras.
"Kenapa aku terlahir dari rahim wanita iblis itu?" Rasa marah, kecewa, masih bersarang di hatinya. "Dan kenapa dia harus hadir lagi dan mengusik ketenangan dan kebahagiaanku?"
__ADS_1
Aksa, Gemke, dan dokter Rocki hanya terdiam mendengar ucapan Restu. Mereka melihat betapa Restu marah dengan keadaan ini.
"Ini sudah jalan-Nya," ujar dokter Rocki. "Selama ini kamu menganggap ibumu sudah meninggal, tapi nyatanya dia masih hidup."
"Itu tidak penting dan aku tidak peduli." Restu menjawab dengan penuh penekanan. "Sedari umur dua tahun aku sudah menganggap ibuku sudah meninggal dan ketika aku umur tujuh tahun aku memiliki ibu baru, yakni Mamih Nesha. Jadi, aku sudah mengubur kenangan bersama ibuku karena memang kenangan itu hanya sedikit." Semua orang yang berada di sana pun terdiam. Aksa dan dokter Rocki tahu bagaimana kehidupan Restu sesungguhnya.
"Jangan banyak bergerak. Lukanya cukup parah." Dokter Rocki sudah memperingatkan Restu dan mengakhiri obrolan sedih mereka. Pria itupun hanya mengangguk. "Tidur pun dalam posisi duduk dulu, ya." Lagi-lagi dia mengangguk. Mereka tidak ingin Restu melanjutkan ucapannya akan kesedihan yang dia rasakan karena itu membuat hati mereka ikut sedih.
Iyan tersadar, dan dia menghela napas kasar. Aksa menghampiri adik iparnya itu.
"Kok bisa dia masuk?" Iyan menggeleng.
"Mayatnya masih ada di kamar jenazah." Mata Aksa melebar mendengarnya. "Sengaja dilakukan oleh Kaira agar tidak ada orang yang curiga. Di data rumah sakit Kiara hanya anak jalanan yang tidak memiliki keluarga. Kaira sudah merencanakan pembunuhan Kiara sedari di Jakarta. Dia membawa Kiara ke Zurich dengan alasan berobat ke dokter yang bagus, tapi dia malah dibuang dan ditinggalkan di tempat yang terpencil." Aksa menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Sekejam itu?" Iyan mengangguk.
"Kaira takut jejak Kiara bisa diretas oleh Bang Rindra. Ditambah Kiara itu tidak sepemikiran dengan Kaira. Maka dari itu, Kaira tak segan membunuh adiknya. Apalagi, sebelum dibuang Kiara mengatakan apa yang dia tahu tentang rencana Kaira. Di situlah psikopat Kaira muncul."
"Parah," ucap Aksa. "Terus gimana?" tanya Aksa kepada Iyan.
Om kecil yang sudah dewasa menoleh ke arah sampingnya di mana Kiara masih ada seakan meminta keputusan.
"Bisa makamkan aku dengan layak? Dan tolong jebloskan Kak Kaira ke dalam penjara. Semua bukti ada di dalam tas yang sering Kak Kaira bawa. Begitu juga obat yang akan digunakan untuk melumpuhkan syaraf Restu. Hukum di negeri ini sangat tajam." Kiara berbicara dengan senyum. "Makasih udah mau bantu aku."
Iyan pun menyampaikan apa yang dikatakan oleh Kiara dan Aksa menghembuskan napas kasar. Dia memijat keningnya yang pusing.
"Keluarganya siapa gua yang harus tanggung jawab." Keluhan seorang Aksara yang selalu dihadapkan hal-hal tak terduga dan juga banyak menguras isi kantongnya.
"Amal, Bang," ucap Iyan sambil menepuk pundak sang kakak.
"Amal gua udah gak kecatet sama malaikat saking banyaknya."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen lagi atuh ....