
Zurich.
Seorang wanita paruh baya sudah terbaring di atas ranjang pesakitan. Dia masih dalam pengawasan polisi karena tindakan kejahatan yang sudah dia lakukan. Wajah cantiknya kini memudar. Dia bagai bunga layu yang hendak mati menandakan dia sangatlah depresi. Tatapan matanya pun sangat kosong.
"Raje." Nama itulah yang selalu dia panggil.
Gemke yang memang ditugaskan untuk menjaga Zenith Andrea menatapnya penuh iba. Nama sang putra lah yang selalu keluar dari mulutnya. Putra yang sekarang menjauh karena perbuatannya sendiri. Putra semata wayang yang lebih memilih untuk tinggal bersama kedua orang tua angkatnya dibandingkan dirinya. Sebuah kesalahan yang seharusnya bisa dia tebus, malah dia perparah dengan tindakan nekatnya.
Sudah tiga hari ini Zenith Andrea tak terjaga sama sekali. Dia hanya menatap ke langit-langit. Kemudian, memanggil nama sang putra. Dia seperti orang setengah waras.
"Raje, Mamih ingin memeluk kamu."
Gemke sebenarnya tidak tega. Namun, dia ingat akan perkataan mantan dari atasannya tersebut. Mr. R tidak ingin mendengar apapun tentang ibu kandungnya. Rasa sakit juga kecewanya terlalu dalam dan tidak bisa disembuhkan oleh apapun. Mr. R juga pernah berpesan sekalipun Zenith Andrea meninggal jangan pernah menghubunginya.
.
Di sebuah kamar Restu segera mematikan acara televisi yang sedang Aleesa tonton. Seketika Aleesa menoleh ke arah Restu dengan mata yang berkaca-kaca. Raut tidak suka Restu tunjukkan. Mendengar penuturan Yansen membuat dadanya mulai panas. Aliran darahnya mulai bergerak lebih cepat.
"Aku pulang." Restu sudah berdiri, tapi Aleesa segera menarik tangannya hingga dia terduduk kembali. Perempuan itu menggeleng dengan pelan dan Tangis Aleesa pun pecah.
"Apa kamu menyesal akan menikah dengan aku?" Aleesa menggeleng dengan cepat. Wajahnya yang basah sudah menatap ke arah Restu. Sorot mata penuh cinta Aleesa tunjukkan kepada Restu.
"Kalimat terakhir Sensen tadi ... cahaya wajahnya ...." Aleesa tak bisa melanjutkan. Dahi Restu pun mengkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aleesa.
"Aku takut ... jika apa yang dikatakan Sensen benar terjadi, dan mimpi aku jadi kenyataan." Aleesa memeluk tubuh Restu dengan begitu erat. Air matanya terus mengalir deras.
"Mimpi?" Aleesa mengangguk.
"Bendera kuning dan air mata. Aku takut, Bie."
Restu terdiam sejenak mendengar penuturan dari Aleesa. Dia tidak bisa menganggap remeh penglihatan Aleesa karena calon istrinya adalah anak pilihan.
Restu membelai lembut rambut Aleesa. Tangannya mulai membalas pelukan sang calon istri. Tidak ada obrolan dari mereka berdua. Hingga Restu membopong tubuh Aleesa menuju tempat tidur.
"Kamu sudah lelah. Jangan tambah kelelahan kamu dengan menangisi hal yang belum tentu terjadi." Restu mengusap lembut ujung kepala Aleesa dan itu mampu membuat Aleesa nyaman.
"Tidur, ya." Aleesa pun mengangguk.
"Jangan pergi sebelum aku terlelap." Manjanya Aleesa membuat Restu bahagia.
Keesokan malamnya Restu dan Aleesa sudah harus bertolak ke Zurich. Mereka berdua memakai pesawat pribadi keluarga Wiguna untuk meminimalisir kejadian yang tak diinginkan. Restu sangat overprotektif karena pilot dan kru pesawat pribadi sangatlah tampan. Dia takut Aleesa berpaling walaupun itu sangat tidak mungkin.
Aleesa pun tidak ingin jauh dari Restu. Tangannya terus merangkul lengan Restu dengan begitu manja.
"Kenapa sih pakai celana pendek begini?" Restu pun mengomel. Dia membuka jaketnya dan menutupi kaki putih milik Aleesa.
"Kamu gak boleh pakai celana haram ini jika keluar rumah. Cukup di dalam rumah dan ketika bersama aku saja kami memakai ini." Aleesa malah mencebikkan bibirnya. Namun, Restu malah mencium bibir Aleesa cukup lama di depan kru pesawat.
__ADS_1
"Bie," rengek Aleesa dan dia membenamkan wajahnya di dada bidang Restu yang tertawa. Aleesa Malu karena beberapa kru pesawat melihat kelakuan Restu kepadanya.
Tibanya di Zurich, Restu dan Aleesa masih saling bergandengan tangan. Mereka berdua bagai truk gandeng.
"Makan dulu, ya." Restu seakan mengukur waktu. Aleesa hanya bisa menurutinya saja. Dia harus menjadi air ketika Restu menjadi api.
Di sebuah restoran cepat saji Aleesa melihat Restu sedang menghubungi seseorang. Aleesa masih memperhatikan dan itu membuat Restu segera merangkul pundak Aleesa dan mencium ujung kepalanya.
"Jangan cemburu, aku menghubungi Gemke." Aleesa hanya mengangguk. Restu melanjutkan menyuapi Aleesa karena sedari tadi calon istrinya ini sangatlah manja. Satu setengah jam mereka pergunakan untuk makan siang, dan akhirnya Restu membawa Aleesa ke suatu tempat. Bukan rumah mewah milik Zenith melainkan rumah sakit.
"Siapa yang sakit?" Aleesa nampak bingung.
"Siapa lagi." Enggan sekali Restu menyebut namanya. Benar saja Gemke sudah menunggu mereka di lobi rumah sakit dan membawa Restu serta Aleesa ke ruang perawatan Zenith Andrea. Ada beberapa polisi yang berjaga di depan ruangan Zenith Andrea karena mereka tidak ingin kecolongan.
"Saya sangat senang Anda bisa ke sini, Mr." Gemke berkata dengan penuh kebahagiaan. Restu menjawabnya dengan sebuah anggukan. Tangannya tak pernah terlepas dari Aleesa.
"Sudah tiga hari ini Madam selalu memanggil nama Anda. Beliau bagai orang depresi." Lagi-lagi Restu hanya diam tak menimpali sedikit pun. Sedangkan Aleesa nampak terkejut.
Gemke sudah membuka pintu kamar perawatan dan memang benar madam Zenith sangat berubah dan terbaring lemah. Aleesa menatap sang calon suami. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya.
"Madam, lihatlah siapa yang datang!" Gemke sudah membuka suara. Perlahan Zenith Andrea menolehkan kepalanya dan dia terkejut melihat putra yang dia rindukan hadir di depannya.
"Raje!"
Mata madam Zenith sudah berkaca-kaca. Beda halnya dengan wajah Restu yang sangat datar dan tak bersahabat. Madam Zenith mencoba untuk duduk. Dia ingin turun dari tempat tidur karena ingin memeluk tubuh Restu. Namun, Gemke melarangnya dan Restu pun menolak dengan bahasa sedikit kasar.
"Kedatangan saya ke sini karena paksaan dari calon istri saya." Kalimat yang penuh dengan penekanan. "Jika, bukan karena wanita berhati malaikat di samping saya, saya tidak sudi menginjakkan kaki saya ke negara ini lagi. Apalagi bertemu dengan Anda." Dari segi bicara Restu masih terselip dendam.
"Bie."
Aleena sudah menatap Restu. Dia menggelengkan kepala menandakan jika Restu tidak boleh berkata seperti itu. Itu sangat tidak sopan. Namun, Restu malah semakin menunjukkan wajah tidak sukanya kepada sang ibu.
"Kedatangan aku ke sini sama Kak Restu cuma mau ngasih tahu ke Madam bahwa kita akan menikah." Aleesa berkata dengan begitu sopan dan lembut. Walaupun Zenith Andrea sudah bersikap jahat kepadanya, tapi Aleesa sudah memaafkannya. Dia ingin menjalin hubungan baik dengan sang calon mertua.
Perkataan Aleesa membuat ibu dari Restu terkejut. Bukan hanya Zenith Andrea, Gemke pun ikut terkejut.
"Are you serious?"Gemke melihat ke arah Restu dan sebuah anggukan Restu berikan.
Melihat calon mertuanya yang masih terdiam membuat Aleesa kembali bicara. "Sekalipun Madam tidak merestui kami berdua, kami akan tetap menikah." Madam Zenith tercengang. Apalagi Aleesa sudah menatap ke arah Restu seraya tersenyum mani dan dibalas tatapan hangat penuh cinta oleh Restu Ranendra.
Restu tak ingin berlama-lama dan dia ingin segera keluar dari ruangan tersebut. Dia sudah menggenggam tangan Aleesa, dan menariknya.
"Ayo, kita pulang!"
Perempuan cantik itu terkejut, tapi dia mampu menghentikan kaki Restu yang hampir melangkah dengan perkataannya.
"Kita baru datang, Bie. Masa udah harus pulang?" Restu menoleh ke arah Aleesa.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu sampaikan sudah terlaksana .'kan. Menyampaikan perihal pernikahan kita." Ucapan Restu memang benar. Akan tetapi, pantaskah mereka berdua yang baru saja datang langsung pulang?
"Iya, tapi apa kamu tidak rindu dengan ibu kamu?" Perkataan Aleesa membuat Restu tertawa.
"Rindu?" ulang Restu seraya mengejek, dan madam.Zenith hanya bisa terdiam.
"Bie, kamu lahir dari rahim ibumu dan surga ada di telapak kaki ibu." Aleesa masih sabar menghadapi sikap keras kepala Restu.
"Aku tidak meminta dilahirkan dari rahimnya," jawab Restu. "Surga memang ada di telapak kaki ibu, tapi ibu yang mana dulu. Masihkah ada surga di telapak kaki seorang ibu berhati iblis?"
Setiap ucapan yang keluar dari mulut Restu sangat menusuk hati Zenith Andrea. Perkataan sang putra sangat menyentil. Aleesa pun tidak bisa berkata. Apalagi Restu sudah menggenggam tangan Aleesa begitu erat dan sorot matanya tak bisa untuk dibantah.
"Kita pulang." Kalimat yang begitu dingin.
Gemke berharap Restu bisa lebih lama di kamar perawatan itu. Setidaknya madam Zenith bisa memandang putranya lebih lama. Baru hendak melangkah, suara madam Zenith terdengar.
"Bolehkan saya mengajukan permintaan terakhir kepada kalian? Saya janji saya tidak akan menampakkan diri lagi di depan kalian." Aleesa menatap ke arah Restu yang memasang wajah datar.
"Saya ingin memeluk kalian berdua." Suara itu begitu berat dan lirih. Itu membuat Aleesa tidak tega.
"Bie--" Restu menatap tajam ke arah Aleesa menandakan bahwa dia tidak mau.
"Terakhir." Aleesa memperlihatkan jari yang membentuk huruf v. Dia juga memasang wajah melas agar Restu mau' menuruti permintaannya.
"Bie--"Terdengar Restu menghela napas kasar dan kepalanya mengangguk pelan. Aleesa pun langsung tersenyum sumringah.
"Makasih, My hubbie sayang." Aleesa tak malu mencium pipi Restu walaupun di sana ada Gemke dan madam Zenith.
Ada rasa haru, bahagia, sedih, dan rindu yang bercampur menjadi satu ketika Aleesa dan Restu dapat dia peluk. Itu menandakan bahwa madam Zenith merestui hubungan mereka berdua.
"Berbahagialah kalian!" Aleesa tersenyum mendengarnya. Beda halnya dengan Restu yang sama sekali tak membalas pelukan Zenith Andrea.
"Jaga Raje ku," pinta madam Zenith kepada Aleesa.
"Tentu."
Akhirnya, Restu dan Aleesa pun sudah keluar dari kamar perawatan Zenith Andrea. Aleesa nampak bahagia, tidak dengan Restu. Aleesa terkejut ketika Restu mendorong tubuh Aleesa hingga menempel ke dinding. Kedua tangannya mengunci tubuh Aleesa. Tatapan tajam Restu membuat Aleesa sedikit merasa takut.
"Ke-kenapa, Bie?"
"Semua ini tidak gratis, Lovely." Dahi Aleesa pun mengkerut.
"Kamu harus membayarnya dengan bibir manis ini." Restu sudah menyentuh bibir Aleesa. Respon Aleesa biasa saja karena sudah biasa.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bisa mengambil napas karena aku akan mencium kamu dengan ganas hingga mentari terbit nanti."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen atuh, sepi ih sedikit banget komennya