
"Tuan Restu Ranendra. Beliau adalah pemilik Zenth Corporation yang juga akan menjadi direktur utama di perusahaan kita mulai hari ini."
Tubuh Andi membeku ketika mendengar ucapan dari Rindra. Sedangkan Restu sudah menatap sang ayah dengan tatapan tidak suka.
"Hadiah pernikahan sebelum kata sah." Rindra berucap dengan senyum yang mengembang.
"Pih--"
Para perwakilan divisi saling pandang ketika mendengar rengekan Restu kepada Rindra. Panggilannya kepada Rindra sama seperti panggilan Rio kepada ayahnya.
"Sudah waktunya, Res." Kini, Rifal menimpali.
"Tapi, Om--"
"Tidak ada penolakan." Tegas. Rindra berkata dengan sangat tegas.
Melihat situasi yang berbeda dengan penuh tanya dari para karyawan membuat Rindra membuka suara lagi.
"Restu Ranendra adalah kakak dari Rio."
Penjelasan dari Rindra mengundang desas-desus lagi. Sedangkan Restu sudah menggeleng pelan. Namun, sang ayah tetap melanjutkan ucapannya.
"Beliau memang bukan anak kandung saya, tapi sedari umur delapan tahun sudah saya adopsi dengan legal." Rindra tidak ingin ada kabar miring setelah ini. Sudah pasti banyak pihak yang ingin menjatuhkannya dengan mengangkat kabar ini. Apalagi kerja sama perusahaan Rindra saat ini tidak main-main, menggandeng perusahaan terbesar di Kota Zurich, Swiss.
"Jika, ada berita aneh di luaran sana perihal putra pertama saya ini ... saya akan mencari penyebar berita hingga ke lubang semut sekalipun." Perkataan Rindra bagai ancaman yang mematikan.
Berita tentang Restu yang kini menjadi direktur utama sudah sampai ke telinga para karyawan yang selalu meremehkannya. Nyali mereka pun ciut.
Restu berjalan beriringan dengan Rio menuju ruangan sang ayah dan melewati meja di mana dia bekerja lebih dari sebulan itu. Para karyawan yang lain pun menunduk dan menyapanya dengan sopan.
"Lu bisa pecat siapa aja yang udah rendahin lu." Rio sudah berceletuk.
"Tanpa lu ajarkan akan gua lakuin." Mereka semua lun ketar-ketir. Apalagi senyum kecil penuh kekejaman sudah Restu tunjukkan.
.
Sesuai janjinya kepada Aleesa, setelah pulang kerja Restu langsung ke rumah Aleesa untuk pergi ke sebuah butik. Acara fitting baju mereka harus tertunda. Aleesa mengerutkan dahi ketika Restu masih mengenakan baju yang sama.
__ADS_1
"Gak pulang dulu?"
"Nanti keburu tutup." Restu melihat ke arah jam tangan yang dia kenakan.
Mereka berdua menuju butik tempat di mana sang Mimo selalu mempercayakan baju untuk acara penting di sana. Wajah lelah Restu sangat kentara hingga membuat Aleesa meraih tangan sang calon suami dan menggenggamnya dengan begitu erat. Restu menoleh dan senyum menyejukkan Aleesa tunjukkan.
Bukan hanya satu baju yang akan mereka kenakan. Ada empat baju yang akan mereka gunakan. Padahal hanya akad nikah. Setiap foto bersama keluarga besar mengenakan baju yang berbeda.
"Sungguh kalian memiliki tubuh ideal," puji pemilik butik. Restu dan Aleesa hanya tersenyum. Sebelum kembali ke rumah Aleesa, Restu mengajak Aleesa untuk makan malam.
"Capek banget, ya."
Restu sudah membuka jasnya sembari mengangguk. Aleesa meraih jas yang baru saja Restu buka.
"Besok juga aku masih ke kantor karena masih banyak berkas yang harus aku tanda tangani." Dahi Aleesa mengkerut mendengarnya. Restu kini menatap lekat wajah Aleesa dengan rasa bersalah.
"Papih mengangkat aku jadi direktur utama hari ini." Wajah Restu pun terlihat sendu.
"Loh, harusnya kamu senang, Bie."
Restu menghembuskan napas kasar. Dia meletakkan kepalanya di pundak Aleesa. Tangannya pun menggenggam tangan Aleesa.
"Ya gak apa-apalah, Bie. Papih melakukan itu pasti ada alasannya. Gak akan Papih melepaskan kamu sendirian untuk mengelola perusahaan madam Zenith tanpa ilmu mempuni. Papih akan mengajari kamu dan pastinya akan membuat perusahaan itu lebih maju lagi." Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Restu.
"Aku pasti akan lebih sibuk." Itulah yang Restu tidak mau.
"Sibuknya kamu 'kan buat cari duit, Bie. Ingat, biaya makan kita tidak ditanggung pemerintah." Restu malah tertawa mendengarnya.
"Satu hal lagi, harga skincare aku mahal. Jadi, kamu harus kerja keras untuk aku. Bahagianya istri 'kan bahagianya suami juga." Lagi-lagi Restu tertawa. Aleesa sudah terkena virus para istri zaman Now.
"Baru skincare Korea mah gak ada apa-apanya." Mode sombong Restu muncul. "Kamu mau perawatan wajah setiap Minggu ke Korea pun aku gak masalah." Aleesa malah memukul lengan sang calon suami.
"Gak begitu juga, Bie. Itu mah pemborosan."
Restu tak mengerti dengan cara berpikir sang calon istri. Dia sendiri yang mengatakan jika skincare yang digunakan mahal. Disuruh perawatan ke Korea malah bilang mahal. Sungguh wanita sulit dimengerti.
Mereka menikmati makan malam yang begitu banyak. Aleesa maupun Restu adalah pecinta makan.
__ADS_1
"Jatah bulanan mau berapa?" Aleesa tersedak ketika mendengar ucapan dari Restu. Air minum sudah Restu berikan kepada Aleesa.
"Jangan diomongin di sinilah, Bie." Aleesa takut jika banyak orang yang mendengar.
Restu mengeluarkan ponselnya. Mengetikkan sembilan digit angka dan menunjukkannya kepada sang calon istri. Mata Aleesa melebar.
"Kurang?" Aleesa menggeleng dengan cepat.
"Ini hanya untuk biaya bulanan. Jatah kamu belanja dan me time beda lagi." Aleesa menggeleng tak percaya. Nominal itupun sudah sangat banyak dan masih banyak sisa, bisa untuk Aleesa shopping manja.
"Besok akan aku suruh asisten aku untuk urus beberapa kartu pribadi untuk kamu. Kartu belanja bulanan, kartu untuk shoping dan kartu untuk jajan kamu."
What?
Sebanyak apa yang dari calon suami Aleesa itu? Kartu pemberian dari Restu pun belum dia gunakan sama sekali. Sekarang, tiga kartu akan Restu buatkan untuk dirinya. Sungguh tidak pernah Aleesa bayangkan jika dia akan mendapat perlakuan manis seperti ini dari Restu, si brandal kesayangan.
Setelah makan selesai, Aleesa mulai memberanikan diri untuk berbicara. "Bie, boleh gak aku undang Kemala dan Raina di acara pernikahan kita?" Restu menoleh dan menatap dalam wajah wanita tercintanya.
"Kalau gak boleh juga gak apa-apa." Restu malah mengusap lembut pipi Aleesa seraya tersenyum.
"Aku gak akan pernah melarang kamu, Lovely." Senyum pun mengembang di wajah Aleesa.
"Aku mau beliin mereka baju bridesmaid boleh?" Restu mengangguk. Tak segan Aleesa memeluk tubuh Restu dan mengecup pipinya.
"Kalau Sensen?"
Satu nama yang membuat Restu terdiam. Senyumnya pun menguar. Dia membeku dengan sorot matanya sulit diartikan.
"Sensen 'kan sahabat aku, Bie. Dari kecil aku sudah mengenal dia dan aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan Sensen. Aku gak mau ada kecanggungan lagi." Aleesa berterus terang. Momen ini adalah momen yang tepat untuk memperbaiki semuanya. Ditambah status Aleesa akan berubah menjadi istri Restu Ranendra. Sudah pasti keadaannya akan berubah.
Tak merespon, Aleesa pun tersenyum. Dia mengusap lembut punggung Restu.
"Aku gak akan melakukannya tanpa ijin dari kamu. Ridhonya suami adalah berkahnya istri." Restu segera memeluk tubuh Aleesa. Kalimat yang sangat menyentil.
"Kamu boleh undang dia, tapi aku harus nemenin kamu ngasih undangannya."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen atuh ...
Oh iya yang belum ke planet F aku tunggu, ya. Temani aku di sana ...