
Restu menghentikan langkahnya ketika melihat sang istri menangis di depan cermin. Dia segera berhambur memeluk tubuh Aleesa yang sudah bergetar hebat.
"Lovely."
Aleesa membalas pelukan Restu dengan begitu erat. Menumpahkan air matanya di dada bidang yang tak tertutup sehelai benang pun. Aroma mint yang menyeruak sedikit membuat hatinya tenang. Walaupun air matanya tak surut.
"Kenapa?" Restu mengusap lembut rambut Aleesa.
"Sensen datang--"
Deg.
Restu sudah mencari tahu tentang Yansen kepada Rangga juga pihak yang terkait dalam pencarian para korban pesawat nahas tersebut. Dia pun mendengar sendiri ucapan dari Rangga sama percis dengan tim ucapan para tim penyelamat.
"Kecil kemungkinan mereka selamat."
Pada saat menerima pernyataan itu tubuh Restu menegang. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia juga menanyakan perihal pakaian dan juga kalung salib yang bernamakan Yansen Geremy.
"Baju yang digunakan para penumpang bisa saja masih utuh atau sobek. Tadi aku sudah melihat langsung baju yang sama dengan para groomsmen. Merk-nya pun sama dengan apa yang aku dan Agha pakai."
Tubuh Restu semakin lemas mendengar ucapan Rangga. Dia memikirkan perihal istrinya. Sudah pasti istrinya akan semakin sedih. Dia juga sudah mengirimkan orang untuk terus memantau kondisi si sana. Setiap jam pasti ditemukan bagian tubuh atau barang milik korban yang sudah diangkut ke daratan.
"Bapak ke tempat pengumpulan barangnya aja, siapa tahu ada barang milik kerabat Bapak."
Restu sudah menerima foto barang-barang pada korban. Namun, dia belum memberikannya kepada Aleesa. Dia ingin menghabiskan malam pertama mereka dengan menjadi obat penawar untuk Aleesa. Meskipun sesaat, tapi lambat laun bisa menyembuhkan kesedihannya.
Membalut sebuah kebingungan dengan rasa tenang itu amatlah sulit. Itulah mengapa semalam dia memberikan sentuhan lembut nan hangat yang seharusnya tidak dia lakukan karena masih ada peria lain di pikiran sang istri. Akan tetapi, dia yang dipercayai untuk menjadi penawar kesedihan Aleesa harus memberikan sebuah hiburan. Ternyata hiburan kecil itu membuat Aleesa melupakan kesedihannya dan terus memanggil-manggil namanya dengan tangan yang memeluk erat tubuhnya.
"Setelah makan siang kita ke posko." Ucapan Restu membuat Aleesa mendongak dengan wajah yang basah.
"Beneran?" Restu mengangguk. Ada rasa tidak enak yang Aleesa tunjukkan. Dia pasti sudah mengecewakan Restu.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah membuat awal oenimhaan kita--"
"Ini sudah menjadi takdir kita, Lovely." Restu membalai rambut sang istri yang masih basah.
"Tuhan memberikan cobaan di awal supaya ke depannya kita tidak kaget dengan cobaan yang tak terduga yang akan Tuhan berikan kepada kita." Restu berkata dengan begitu tenang.
"Aku tahu kamu pasti sedih," lirih Aleesa.
"Siapa yang gak sedih jika kamu malah memikirkan orang lain di hari pernikahan kita." Restu bicara apa adanya. Aleesa pun membisu.
"Tapi, aku haru berdamai dengan rasa sedih, kecewa, dan marah karena aku tahu ... kamu dengan dia itu sudah sahabatan lama. Hanya rasa sayang dan sedih sebagai sahabat yang kamu rasakan. Aku tahu kamu itu hanya mencintai aku. Di hati kamu hanya ada aku. Setiap aku memeluk kamu, pasti kamu tenang dan nyaman. Itu membuktikan bahwa aku akan menjadi penawar sedih dan sakit. Bukan hanya penawar, aku juga akan mengubah sedih dan sakit kamu menjadi kebahagiaan yang tak pernah kamu bayangkan."
Kalimat yang penuh keseriusan membuat Aleesa melengkungkan senyum yang begitu indah. Dia menatap dalam wajah sang suami yang memang tak berdusta dengan apa yang dia katakan.
Aleesa berjinjit dan mencium mesra bibir Restu. Sungguh membuat Restu bahagia ketika di pagi diberi sebuah ciuman tanpa dia minta. Cukup lama, hingga Aleesa mulai menarik wajahnya ke belakang. Restu tersnyum dan mengusap lembut bibir Aleesa yang basah.
"Jangan nangis lagi, ya." Restu mulai membujuk sang istri bagai anak kecil hingga untuk kesekian kalinya sebuah senyum melengkung indah di wajah sendu Aleesa.
"Love you too, Papih."
Sebuah panggilan mesra yang membuat hati Restu maupun Aleesa tegelitik. Rasanya aneh dipanggil seperti itu, tapi ada kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan.
Masih menggunakan pakaian santai dan turun ke lantai bawah dengan rambut mereka yang basah. Restu pun menggunakan celana pendek begitu juga dengan Aleesa. Tanpa mereka duga ternyata keluarga besar sudah kumpul di sana.
"Aciye," goda Rio sambil terbetuk-batuk.
"Kak Iyo keselek biji salak?" Suara Apang membuat semua orang tertawa. Begitu juga dengan pengantin baru yang masih saling menggenggam. Bukan tanpa alasan, Apang melihat Rio tengah asyik memakan buah salak.
Ada dua kursi yang sudah dikosongkan. Itu untuk Aleesa dan juga Restu. Kedua orang tua Aleesa masih dapat melihat raut sendu dari mata sang putri. Ditambah mata bengkak Aleesa tak bisa dibantahkan. Nesha menatap sedih ke arah putranya, tapi Restu tersenyum dan menggeleng pelan.
"Berapa ronde semalam?" Pertanyaa Rio membuat semua orang tergelak dan suasana ruang makan berubah. Beda halnya dengan empat anak Askara.
__ADS_1
"Emang semalam ada yang main tinju?" Wajah-wjaah polos nan menyebalkan ditunjukkan oleh Ahlam. Tawa pun tak bisa dihindarkan.
Sedangkan Restu menatap ke arah Rio dengan tatapan sinis. Beda halnya dengan wajah Aleesa yang bersemu karena malu.
"Suaranya Ampe kedengeran keluar loh." Rio masih menggoda dan membuat Restu murka dan melempar garpu ke Tubun adiknya itu.
Tom dan Jerry sudah beraksi kembali. Pertikaian mereka berdua mengundang gelak tawa. Aleesa yang tadi merasa malu pun malah tertawa lepas melihat pertengkaran antara suami dan adiknya.
"Udah berapa banyak susu kental manis yang kamu titipkan?" Pertanyaan sang paman, Askara membuat Restu dan Aleesa melebarkan mata. Tenyata paman Aleesa yang satu ini tidak waras juga.
"Satu liter, Om," jawab Restu asal.
"Itu susu kental manis apa susu cair? Ampe segitu banyaknya." Apa yang dikatakan Rio pasti akan membawa gelak tawa tak terkira. Aleesa akan tertawa ketika melihat suaminya murka kepada Rio. Lucu dan sangat menggemaskan wajahnya.
Ghea menelisik tajam keadaan Aleesa. Dia penasaran dengan apa yang ada di leher Aleesa yang tertutup rambutnya yang tergerai. Anak yang selalu penasaran dengan apa yang dia lihat pun mulai mendekat. Aleesa terkejut ketika tangan Ghea sudah menyingkap rambut Aleesa.
"Leher Sasa kenapa?"
Semua orang dewasa pun mengulum senyum mendengar pertanyaan dari Ghea. Sedangkan Aleesa terdiam dan menatap ke arah sang suami yang juga terlihat bingung.
"Leher Sasa digigit?"
Empat anak Aska penasaran dan mereka pun malah ikut melihat di jarak lebih dekat.
"Ih, tanda ini mah kayak yang sering ada di leher Bunda," ujar Balqis.
"Iya." Ahlam membenarkan.
"Kata Ayah ... leher Bunda digigit sama ular kadut. Piaraan Ayah yang bandel."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...