RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 90. Keegoisan


__ADS_3

Ketika Restu menangis, hati Aleesa teriris. Dia yang baru saja tiba di rumah segera mendudukkan tubuhnya di sofa. Bayang wajah sang kekasih yang tengah berputar di kepala. Tangannya menyentuh liontin kalung yang Restu berikan. Samar terlihat Restu tengah menangis.


"Bie," lirihnya. Aleesa pun menangis dengan tersedu. Dia seperti merasakan apa yang tengah Restu rasakan.


"Apa yang tengah terjadi dengan kamu, Bie?" Air mata itu tidak berhenti. Pikirannya seperti terkoneksi pada sang tunangan.


.


Rindra menatap jendela ruangan kerjanya yang ada di kantor. Dia menatap awan yang tiba-tiba gelap dan turunlah hujan deras tanpa gerimis terlebih dahulu. Sama seperti hatinya yang tengah teriris sembilu. Dia baru saja membaca pesan dari anak buah dokter Rocki jikalau Restu sudah tahu jika madam Zenith adalah ibu kandungnya.


"Papih masih berharap jika kamu kembali kepada Papih dan Mamih. Papih berharap kamu tidak akan pergi dari kami." Rindra memejamkan matanya sejenak. Tanpa dia sadari air matanya menetes begitu saja.


"A-aku bo-leh minta sesuatu?" tanya Rajendra ketika dia hendak diadopsi oleh Rindra.


"Boleh."


"A-ku ti-dak i-ngin me-ma-kai nama ini. Nama ini hanya membawa si-al untukku." Air mata Rajendra menetes setelah mengatakan itu. Rindra dan Addhitama saling tatap. Sedangkan sang istri sudah memeluk tubuh Rajendra yang baru saja sebulan tinggal bersama Addhitama.


"Kamu mau nama apa?" tanya Rindra. Dia tidak keberatan atas permintaan anak yang masih menyimpan trauma mendalam tersebut.


"Ter-serah. Aku yakin, nama dari Kakek pasti akan menjadi doa yang baik untukku." Rajendra sudah menatap ke arah Addhitama dan ayah dari Rindra itu terkejut.


"Beri nama putra pertama Abang, Pih." Rindra sudah meminta tolong kepada sang ayah. Perkataan Rindra pun diangguki oleh Nesha.


"Restu Ranendra." Ucapan spontan yang keluar dari mulut Addhitama. Namun, membuat Rajendra melengkungkan senyum yang begitu indah. Senyum yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Kamu suka, Nak?" Rajendra mengangguk.

__ADS_1


Bibir Rindra melengkungkan senyum jika mengingat momen itu. Banyak perjuangan yang dia lakukan untuk Restu. Namun, dia sama sekali tidak meminta Restu untuk membalas perjuangannya.


"Apapun yang kamu pilih, Papih akan ikut bahagia, Nak."


Berat rasanya berpisah dengan anak laki-laki yang sudah delapan belas tahun dia jaga dan rawat. Namun, dia juga sadar jika dia tidak bisa memiliki Restu. Restu bukan miliknya.


"Semoga kamu bahagia, Nak."


.


"Bang sat!" Restu benar-benar geram. Dia membuka pintu kamarnya dan ternyata di sana ada dua pengawal yang berjaga.


"Anda tidak boleh keluar." Tidak ada jawaban dari Restu, tapi matanya begitu tajam menatap dua bawahannya itu.


Hanya dengan satu kali pukulan mereka berdua pun tersungkur. Langkah lebar membawanya menuju ruangan sang madam. Madam Zenith terkejut dengan suara pintu kamarnya yang dibuka dengan kasar. Terlihat ada kibaran api di sana dan itu adalah foto juga paspor milik Restu.


Madam Zenith terkejut mendengar umpatan Restu. Dia tidak menyangka jika Restu akan berkata kasar seperti itu kepada dirinya.


"Kenapa ucapanmu begitu tidak sopan, Nak? Mamih ini ibumu." Madam Zenith berbicara dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan pernah menyebut diri Anda sebagai seorang ibu jika Anda sendiri tidak pernah tahu bagaimana membahagiakan anak Anda sendiri." Kalimat yang penuh dengan penekanan dan kemurkaan.


Dada Restu sudah turun-naik dan kakinya sudah mematikan api yang membakar foto keluarganya juga paspor dan visa miliknya.


"Wanita biadab!"


Plak!

__ADS_1


Pipi Restu terasa panas mendapat tamparan dari wanita yang mengaku ibu kandungnya. Senyum tipis terukir di wajah Restu. Madam Zenith sendiri terkejut dengan apa yang dia lakukan kepada Restu. Dia refleks karena mendengar ucapan Restu yang sangat kasar kepada dirinya.


"Ma-maafkan--"


"Ibu kandung?" sindir Restu dengan senyum meremehkan. "Ibu kandung rasa ibu tiri sedangkan ibu angkat rasa ibu kandung."


"Jangan samakan Mamih dengan ibu angkat kamu itu!" Restu hanya menjawabnya dengan sebuah decihan meremehkan.


"Anda jelas berbeda dengan Mamih saya. Anda hanya wanita berhati iblis yang mengaku ibu kandung saya. Sejatinya, ibu kandung itu tidak akan pernah bersikap kasar kepada anaknya. Apalagi, meninggalkan anaknya selama dua puluh tiga tahun dengan sebuah kebohongan besar." Hanya sorot penuh kemarahan yang Restu berikan.


"Apa Anda tahu bagaimana saya selama dua puluh tiga tahun ini? Apa Anda peduli dengan saya? Apa Anda berusaha mencari tahu keberadaan saya?" Suara Restu sudah meninggi.


"Tidak ada angin, tidak ada hujan Anda meyerahkan surat hasil Tes DNA dan Anda mengaku jikalau Anda adalah ini kandung saya. Apa semudah itu Anda berucap? Apakah Anda tidak malu mengatakan itu kepada saya? Anak yang Anda tinggalkan begitu saja karena keegoisan Anda yang katanya ingin menenangkan diri. Apakah Anda lupa akan hal itu?"


Tidak ada yang bisa madam Zenith katakan sekarang. Dia benar-benar sudah kalah telak oleh putranya sendiri.


"Jangan harap saya mau tinggal bersama Anda."


Restu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan madam Zenith yang membeku. Dia akan mencari cara untuk bisa kembali ke Indonesia. Baru saja tangannya hendak menekan gagang pintu, suara tembakan terdengar dan tubuh Restu pun menegang seketika. Peluru mengenai punggung Restu tepat di mana luka tembakan terdahulu.


Bayang wajah Aleesa yang tengah tersenyum yang ada di kepalanya. Aleesa mendekat dan memeluk tubuhnya.


"Aku tunggu kamu kembali, Bie."


Di tengah rasa sakitnya yang sudah tak terkira, Restu masih bisa berucap pelan. "Aku akan tetap hidup untuk kamu." Tubuhnya pun akhirnya tersungkur.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong. ....


__ADS_2