
Aleesa menggeleng ketika Restu mengatakan hal yang begitu kejam. Air matanya masih menetes. Sedangkan Grace langsung mematikan panggilannya. Dia benar-benar takut karena suara Restu teramat mengerikan.
"Perempuan dajaall!" umpatnya kesal. Dia segera memeluk tubuh Aleesa yang masih menangis.
"Kenapa masih aku yang disalahkan? Bukankah harusnya dia senang." Suara Aleesa masih bergetar.
Dada Restu masih turun-naik karena dia sangat emosi mendengar ucapan dari Grace yang menyebutnya sebagai seorang pembunuh. Terlalu sakit jika dia harus mengingat pada kejadian itu. Namun, dia teringat akan perkataan ayah angkatnya, yakni Rindra.
"Biarkan kamu dikenal sebagai pembunuh. Jangan jelaskan apapun kepada mereka. Cukup Papih dan keluarga Papih yang tahu kebenarannya. Jangan takut, Papih dan keluarga Papih akan berada di garda terdepan untuk melindungi kamu."
Restu membawa Aleesa menuju tempat tidur. Masih memeluknya tanpa sepatah katapun.
"Apa aku wanita murahan?" Pertanyaan Aleesa membuat Restu mengendurkan pelukannya. Menatap Aleesa lamat-lamat.
"Apa aku salah menetap pada satu pria yang sudah membuat aku nyaman, dan menjadi sandaran setiap sedihku? Apa memang aku harus terus tenggelam dalam rasa sakit yang mereka buat? Apa aku tidak berhak untuk bahagia?"
Restu mengusap lembut air mata yang sudah membasahi wajah Aleesa. "Akan aku beri pelajaran orang yang sudah membuat kamu menangis dan sakit hati."
"Jangan!" larang Aleesa. "Jangan jadi pembunuh. Aku gak mau kehilangan kamu."
Perkataan yang membuat hati Restu mencelos. Dia tidak menyangka jika Aleesa akan berkata seperti itu.
"Aku yang memang terlalu cengeng." Mata Aleesa masih berembun. "Peluk aku lagi."
__ADS_1
Restu pun memeluk erat tubuh Aleesa. Ada rasa sakit ketika kakak dari Yansen mengungkit masa lalunya. Namun, ada juga rasa bahagia ketika Aleesa mengatakan jika dia tidak ingin kehilangan dirinya. Ya, Aleesa memang sudah jatuh cinta padanya.
"Aku ijinkan kamu menangis malam ini." Aleesa mengangguk. "Itupun menangis di dalam dekapan aku."
Aleesa semakin erat memeluk tubuh Restu. Nyaman, itulah yang selalu dia dapatkan ketika bersama Restu. Cinta tanpa rasa nyaman, terkadang risih karena perlakuan terlalu manis itulah yang Aleesa rasakan ketika bersama Yansen.
Ketika Aleesa sudah terlelap, Restu membuka ponselnya dan sudah banyak pesan masuk. Restu membaca satu per satu pesan dari anak buahnya. Dia berdecak meremehkan.
"Grace Jessica." Dia tersenyum ketika melihat gambar kakak dari Yansen tersebut.
Restu melihat ke arah Aleesa yang sudah terlelap dengan begitu damainya. Dia berniat untuk keluar. Dia ingin menemui orang suruhan Michael Hartanto.
"Aku keluar sebentar, ya." Restu mengusap lembut rambut Aleesa yang tengah tertidur. Tak lupa dia juga mengecup kening Aleesa.
"Argo!"
Suara yang penuh dengan kemurkaan. Apalagi derap langkah kaki yang terdengar sangat nyaring. Si empunya nama pun menoleh dan dia melebarkan mata ketika Restu mulai mendekat.
Bughh!!
Sebuah kepalan tangan mendarat dengan sangat mulus di wajah Argo. Dia tahu siapa Argo. Mata-mata yang cukup terkenal di negara ini. Namun, bagi Restu Argo hanyalah seekor semut rang-rang.
"Dibayar berapa lu sama si Michael?" Argo pun terkejut. Tahu dari mana Mr. R perihal atasannya.
__ADS_1
"Lu lihat ini!" Restu sudah menunjukkan video di mana basecamp yang anak buah Argo tempati dilahap oleh si jago merah. Juga, pos di mana anak buahnya berjaga di kediaman Michael Hartanto hangus terbakar.
"Jangan pernah main-main sama gua, Argo. Lu bukan lawan gua."
Restu menunjukkan foto anak dan istrinya yang tengah dibawa oleh anak buah Restu. Mereka berdua menangis karena dibawa oleh mobil sport dengan kecepatan sangat tinggi.
"A-ara!" Restu malah tertawa.
Ponsel Restu berdering dan itu panggilan masuk dari anak buahnya.
"Udah beres Mr." Panggilan telepon pun diubah menjadi panggilan video. Restu tertawa sangat puas ketika melihat seorang wanita menangis di tengah jalan melihat mobilnya yang terbakar
"Bos, baca headline terbaru," bisik anak buahnya yang ikut bersama Restu.
Setelah sambungan video berkahir, Restu membuka berita online Indonesia. Dia tersenyum ketika membaca judul berita tersebut.
PT. MH mengalami kebakaran luar
biasa. 22 pemadam kebakaran sudah dikerahkan, tetapi belum mampu memadamkan api yang berkobar. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan miliar.
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1