RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 83. Takut


__ADS_3

Ada rasa takut di hati Aleesa ketika melihat wajah Restu yang tegang. Aleesa melihat ke arah tubuhnya yang memakai jaket sedangkan kekasihnya tidak memakainya.


"Bie," panggil Aleesa. "Kenapa hanya aku yang--"


"Aku tidak akan membuat kamu terluka, Lovely. Aku akan menjaga kamu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya." Aleesa terkejut mendengarnya.


"Jangan buat aku takut, Bie." Aleesa tidak suka dengan ucapan dari Restu tersebut. Mobil pun berhenti. Restu menatap ke arah Aleesa yang tengah memandangnya dengan sorot mata berbeda.


Restu menggenggam tangan Aleesa. Dia menatap dalam wajah cantik yang tengah ketakutan itu. "Ada aku di sini." Tangan Restu pun terus bertaut hingga mereka tiba di apartment. Sengaja Restu membawa Aleesa ke apartment dan tidak mengembalikan Aleesa ke rumah.


Pelukan hangat Restu membuat Aleesa semakin bingung. Tidak ada ucapan sama sekali yang keluar dari mulutnya. Namun, pelukan Restu ini menandakan dia juga takut. Takut kehilangan Aleesa.


"Boleh aku minta penjelasan?" ujar Aleesa setelah Restu mengurai pelukannya.


Restu duduk di sofa seraya memangku Aleesa. Tangan Aleesa pun merangkul manja leher Restu. Matanya sudah ingin tahu dengan jawaban yang akan Restu berikan.


"Selama Kakek pergi, tidak ada yang mengunjungi makam Kakek selain aku. Kamu juga tadi melihat seperti apa 'kan pusara sang kakek?" Aleesa mengangguk.


"Aku takut, jika Jordan lah yang sengaja datang karena tahu aku akan datang. Aku takut, dia akan melukai kamu. Aku takut itu," paparnya. Mata Aleesa berembun mendengarnya.


"Kenapa kamu hanya menakutkan diriku? Kenapa tidak kamu jaga diri kamu juga?"

__ADS_1


"Aku rela mengorbankan nyawaku untuk kamu. Aku real terluka demi kamu." Namun, Aleesa menggeleng.


"Aku yang gak rela, Bie. Jangan hanya melindungi aku, diri kamu juga jangan sampai terluka. Itu akan membuat aku sakit dan sedih." Restu tersenyum dan mengusap lembut wajah Aleesa.


"Maaf, jika aku selalu membahayakan diri kamu." Aleesa pun menggeleng. Dia menatap Restu dengan penuh cinta.


"Jangan bicara seperti itu. Aku gak suka." Restu tersenyum dan memeluk erat tubuh Aleesa.


.


Madam Zenith sudah menunggu Rindra di sebuah restoran mewah nan private. Dia hanya ditemani oleh Gemke. Pengawalnya itupun disuruh tutup mulut agar Restu tidak tahu akan pertemuannya dengan ayah dari Restu tersebut..


Sepuluh menit berselang, Rindra dan Nesha datang dan disambut senyuman hangat oleh Madam Zenith.


"Suatu kebanggaan bisa bertemu dengan Anda, Nyonya." Jawaban balasan dari seorang Rindra Addhitama.


Madam Zenith terlihat terpesona kepada kecantikan Nesha. Istri dari Rindra itu cantik natural dan begitu ramah. Membuat madam Zenith merasa tidak canggung.


Mereka berdua berbincang santai sambil menikmati makanan yang sudah madam Zenith pesan. Hingga sebuah pertanyaan membuat Rindra tersenyum.


"Tuan Rindra, kenapa Anda mengijinkan putra Anda untuk bekerja sebagai pengawal yang jelas-jelas sangat membahayakan dirinya. Padahal, Anda sendiri bukan orang sembarangan." Nesha masih bersikap santai karena dia tahu apa yang akan suaminya jawab.

__ADS_1


"Kenapa saya harus melarang?" Sebuah jawaban yang mengandung pertanyaan. "Putra saya berhak memilih jalan hidupnya. Selama dia suka dan mau bertanggung jawab akan apa yang ingin dia kerjakan, saya tidak masalah." Bijak, itulah yang dapat madam Zenith nilai dari sikap Rindra Addhitama.


"Walaupun membahayakan dirinya?" Lagi-lagi Rindra tersenyum.


"Bahaya adalah temannya. Jadi, saya tidak khawatir karena saya tahu putra saya itu bisa selamat dari berbagai macam bahaya yang mengintainya. Dia sudah terlatih, dan sebelum dia memutuskan untuk bekerja seperti ini dia sudah memiliki ilmu dasar yang mempuni."


"Saya tambahkan juga ya, Madam." Nesha mulai bicara. Perihal putra pertamanya itu dia pasti memiliki penilaian sendiri.


"Saya percaya akan kekuatan doa, setiap langkahnya ada doa yang selalu saya panjatkan untuk putra saya tersebut. Bukan hanya dari saya, dari papihnya dan juga keluarga besar juga pastinya mendoakan Restu. Itulah yang membuat saya sangat yakin jikalau Restu pasti akan selamat dari marabahaya yang mengintainya. Ridho orang tua pasti akan memberikan keberkahan untuknya. Saya sangat percaya itu." Mata Nesha berkaca-kaca ketika menjelaskan itu semua. Rindra sudah mengusap lembut pundak sang istri. Jika, membahas Restu pasti akan ada air mata. Itulah alasan mereka untuk terus memberikan yang terbaik untuk Restu.


"Saya merinding mendengarnya," ujar madam Zenith. Dia sudah mengusap kedua tangannya. Dia sangat merasakan betapa tulusnya kasih sayang dari kedua orang tua Restu ini.


"Ternyata dia memang bukan Rajendra. Tidak akan ada orang tua angkat yang menyayangi anaknya setulus ini."


"Kenapa Anda bertanya perihal putra saya?" Rindra mulai menyelidik.


"Saya bangga kepada putra Anda, Tuan. Ada rasa penasaran di hati saya tentang orang tuanya karena anak itu selalu tertutup jika ditanya tentang Anda dan Nyonya Nesha. Ternyata, kalian adalah orang tua yang sangat hebat."


Rindra dan Nesha tersnyum mendengarnya. Namun, ada rasa takut yang bersarang di hati Nesha.


"Apa Mamih bisa ikhlas ketika kamu kembali ke tempat di mana harusnya kamu berada, Nak?"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2