
Restu tidak berani melihat ke bawah ketika istrinya mulai membuang napas dengan sedikit cepat. Dia memandangi wajah Aleesa yang sudah sangat pucat dengan menahan sakit yang luar biasa.
Restu tak henti mencium kening Aleesa dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Dia berharap itu menjadi kekuatan untuk Aleesa. Tangannya pun terus menggenggam tangan sang istri hingga tangisan si buah hati terdengar. Bulir bening menetes dari pelupuk mata Restu. Dia menatap lekat wajah sang istri yang terlihat sangat kelelahan. Tangannya membelai lembut rambut Aleesa.
"Maka--"
Wajah Aleesa sudah berubah kembali. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Restu.
"Mi--"
"Masih ada satu lagi."
Sontak Restu terkejut. Wajah Aleesa pun sama seperti tadi dan itu semakin membuat Restu tak karuhan.
"Dorong terus, Nyonya."
Restu kembali membisikkan sesuatu. Terus berada di samping istrinya. Mengecup kening Aleesa tiada henti hingga suara tangisan kembali hadir.
"Makasih, Lovely. Makasih."
Bulir bening membasahi ujung mata Aleesa. Dia tidak menyangka jika ada dua nyawa yang ada di perutnya. Restu pun tak bisa membendung derai air matanya.
"Selamat, Tuan, Nyonya. Anak kalian kembar tak identik."
__ADS_1
Restu dan Aleesa saling pandang. Mereka tersenyum bahagia. Apalagi ketika dua anak manusia itu berada di dadanya. Sungguh bahagia tak terkira. Mereka berdua tersenyum bahagia.
Kabar perihal anak yang dilahirkan oleh Aleesa berjumlah dua membuat Rindra dan Nesha senang bukan main. Mereka berpelukan dan tak hentinya mengucap syukur.
"Akhirnya, gak rebutan cucu." Begitulah kata Rindra. Aska hanya menggelengkan kepala.
"Gak nyangka ya, di usia Aleesa yang baru mau menginjak dua puluh tiga tahun udah punya anak tiga," ujar Aska.
"Yang penting banyak duit, Kak," balas Rio yang masih fokus pada game yang sedang dia mainkan.
"Aleesa bisa tetap kayak anak gadis kok karena suaminya juga banyak duitnya."
Apa yang dikatakan oleh Rio memang benar. The power of duit itu akan merubah semuanya.
Melihat kelucuan dua bayi kembar tak identik membuat Nesha dan Jingga ingin terus menggendong dua bayi lucu itu.
"Kamu gak perlu pakai jasa baby sitter. Biar Mamih aja yang jaga mereka."
"Iya, Kak Jing-jing juga mau ngasuh mereka."
Restu dan Aleesa hanya tersenyum mendengarnya. Mereka merasakan betapa tulusnya kasih sayang dari keluarga mereka tersebut. Namun, Aleesa memutuskan untuk tidak memakai jasa baby sitter. Dia ingin mengurus ketiga anaknya sendiri.
"Yakin kamu bisa, Sa?" Kekhawatiran terlihat jelas di wajah sang ibu mertua.
__ADS_1
"Insha Allah, Mih."
Suara tangis sang putra pertama terdengar. Restu yang berada di samping Aleesa segera menghampiri Abang Er. Ternyata Aska tengah menggoda Abang Er hingga dia menangis.
"Sukurin, entar gak disayang lagi sama Mami Papinya."
"Huwa!"
Restu menggelengkan kepala. Menatap sang paman dengan begitu tajam. Bukan Aska namanya jika dia takut pada si brandal itu.
"Abang Er tetap nomor satu. Percaya sama Papi." Tangis anak itupun reda ketika Restu menggendongnya.
"Lu sih bikin anaknya gencar banget," omel Rio. "Anak lu aja belum ada satu tahun malah udah bikin bini lu bunting lagi. Ampun ja gua mah."
Rio menggelengkan kepala. Restu malah menatap tajam ke arah adiknya itu.
"Harusnya lu puas-puasin dulu bikinnya, tapi si cairan penuh embrio buang di luar. Nanti kalau anak lu udah dua tahun Baru deh tuh benih lu tanam."
"Mubazir buang-buang benih premium mah."
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1