RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 62. Jangan Ganggu Dulu


__ADS_3

Yansen, dia bak kehilangan arah. Dia berjalan tanpa tujuan. Ucapan dari ayah Aleesa membuatnya sangat terpuruk. Kata-kata dari orang yang tak banyak bicara lebih menyakitkan ketika berucap. Apalagi orang itu selalu memasang badan untuk membelanya. Sampai seorang Raditya Addhitama marah pun dia tidak pernah mengungkit kebaikannya yang telah dia berikan kepada Yansen.


"Kenapa aku bodoh? Kenapa aku harus lakukan itu?" Yansen benar-benar frustasi. Di trotoar jalan dia berteriak. Dia menjambak rambutnya dan pada akhirnya dia berjongkok dengan kepala yang menunduk dalam.


"Harusnya aku ikhlas, tapi kenapa begitu sulit."


Tak dia hiraukan banyak pasang mata yang melihat ke arahnya. Bukan hanya pengguna jalan, mereka yang berkendara pun menatap aneh ke arahnya.


"Stress kali, ya."


Bukan satu-dua orang yang berkata seperti itu. Banyak yang berucap sama dan mampu Yansen dengar. Namun, Yansen tak pernah menggubrisnya.


Nathalie, dia mendapat kabar jikalau Aleesa sudah kembali. Dia bergegas menuju rumah Yansen, dan benar saja Yansen tidak ada di rumah.


"Pasti dia ke bandara atau ke rumah Aleesa." Wanita itu menuju bandara, tapi dia tak menemukan orang yang dia cari. Sudah satu jam berkeliling, dia tidak melihat Yansen ataupun Aleesa.


Rasa nekat kini menghampiri dirinya. Dia melajukan mobil dengan menggunakan kecepatan cukup tinggi menuju rumah Aleesa. Berbekal alamat dari ayahnya, Nathalie sangat nekat. Dia ingin bertemu langsung dengan Aleesa dan mengatakan bahwa Yansen adalan calon suaminya.


Namun, sangat disayangkan. Penjagaan ketat terjadi di depan rumah Aleesa. Awalnya keadaan nampak biasa saja, tetapi ketika mobil sudah hendak berbelok masuk ke rumah Aleesa, dua orang memakai jas hitam dengan kemeja putih menghampirinya. Tatapannya begitu menyeramkan. Mereka meminta Nathalie membuka kaca jendela mobil. Benar saja, pengawal itu langsung mengusir tanpa kata lembut.


"You're have been blacklisted."


Bahasa yang pengawal itu gunakan bukan bahasa Indonesia, melainkan bahas Inggris. Wajah mereka pun bukan seperti orang pribumi. Nathalie mulai pusing dan bingung sendiri.


"Apa seketat ini?" batinnya. "Sespesial apa sih tuh si Aleesa," lanjutnya membatin.


Mau tidak mau Nathalie pergi dari sana dengan gerutuan juga umpatan yang luar biasa sadisnya. Dia sangat yakin jika Yansen ada di sana.


"Awas aja," ancamnya.


.


"Kita akan ke Indonesia. Bersiaplah!"


Mr. R terkejut mendengarnya. Dia menatap madam Zenith dengan tatapan bingung. Dia mencoba meminta untuk diulang ucapan dari madam Zenith tersebut. Dia merasa salah mendengar.


"Kita ke Indonesia," ulangnya. "Ada sesuatu hal yang harus saya kerjakan di sana sekalian saya ingin mendatangi makam ayah saya." Barulah Mr. R mengangguk. Ada rasa bahagia yang tak terkira yang bersarang di hati Restu Ranendra.


Madam Zenith melihat wajah Mr. R yang berubah sekarang. Keputusannya sekarang ini memang tepat. Dia ikut bahagia melihat wajah muram dari bodyguardnya tersebut berubah berbinar.


"Apa kamu senang?" Mr. R nampak terkejut mendengarnya. Tatapan teduh itu terus mengingatkannya pada sosok yang hanya sebentar bisa dia peluk.


"Kamu tengah mengkhawatirkan calon istri kamu 'kan." Mr. R hanya terdiam. Mulutnya seakan kelu. Dari mana madam Zenith tahu. "Sebentar lagi kamu bisa melihatnya, bahkan memeluknya." Madam Zenith tersenyum ke arah Mr. R dan dibalas oleh bodyguard tampan nan muda yang menjaganya itu.


"Makasih, Madam." Wanita paruh baya itupun mengangguk.


"Tapi, ini tidak gratis." Mr. R menukikkan kedua alisnya. "Sebagai bayarannya, apa saya boleh memeluk tubuh kamu?"


Mr. R terdiam, dia melihat raut wajah yang mulai berubah pada madam Zenith. "Melihat kamu saya seperti tengah melihat putra saya, Raje."


Ucapan madam Zenith semakin melembutkan hati Mr. R. Dia pun mengangguk dan sudah merentangkan tangannya. Sungguh madam Zenith bahagia. Ketika tangannya memeluk tubuh Mr. R, ada rasa yang tak bisa dia ungkapkan. Ada rasa kerinduan yang mendalam.


"Raje, apakah ini kamu? Nama kamu dan pengawal Mamih ini hampir sama."


Ada lelehan air mata yang membasahi wajah madam Zenith. Sama halnya dengan Mr. R yang memejamkan mata. Dia merasa pelukan ini sangat hangat. Penuh kasih sayang seperti yang biasa sang bunda berikan kepadanya setiap pagi dan sebelum tidur. Walaupun dia menerima pelukan itu hanya sebentar, tapi dia mampu mengingatnya dengan sangat baik.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mih. Aku baru merindukan Mamih."


Saling berpelukan dengan rasa nyaman dan penuh kehangatan, membuat mereka enggan saling melepaskan. Mereka seakan tengah melepas rindu. Hingga suara ponsel berdering dan membuat Mr. R segera melepaskan pelukannya tersebut.


Lovely.


"Iya, Lovely."


Mr. R melupakan bahwa di belakangnya ada madam Zenith yang tengah tersenyum mendengarkan percakapannya.


"Hug me."


Terlihat wajah Aleesa yang sembab dan wajah yang nampak tak bercahaya.


"I don't like you cry."


Bukannya membaik, tangis Aleesa semakin pecah. Dia menunduk dalam.


"Tunggu aku. Aku akan memelukmu sepanjang malam tanpa kamu tahu."


"Now." Restu menggeleng. "I need you now, Bie. I need you, NOW"


Andai Zurich-Indonesia bagai Jakarta-Bogor, sudah pasti dia akan pergi sekarang juga walaupun sudah tengah malam.


"Aku akan datang tanpa kamu duga. Tetap tunggu aku, ya." Aleesa menggeleng.


"Kamu gak sayang sama aku, Bie. Kamu gak sayang 'kan." Mode manja calon istrinya mulai muncul. Awalnya sedih, sekarang malah lucu.


"Sayang dong sama kamu. Masa gak sayang."


"Calon suami kamu beneran sayang kok sama kamu. Tante melihat bagaimana calon suami kamu sangat mengkhawatirkan kamu."


Refleks mata Aleesa melebar mendengar ucapan dari seorang wanita tersebut. Restu pun sedikit terkejut. Apalagi madam Zenith sudah mengambil ponsel Restu dan mengarahkan wajahnya pada Aleesa.


"Ma-dam." Suara Aleesa terbata.


"Panggil saya Tante saja," pinta madam Zenith. "Percayalah pada calon suami kamu ini. Dia memang sayang dan cinta kepada kamu. Saya bisa melihat dan merasakan ketulusan yang Mr. R miliki untuk kamu." Senyum tulus dia berikan kepada Aleesa.


"I-iya, Tante."


"Tante merestui hubungan kalian." Madam Zenith pun menyerahkan ponsel Mr. R. Dia tersenyum ke arah Mr. R dan lalu pergi.


"Kok rasanya aku eperti merestui hubungan anak aku sendiri." Gumaman yang diakhiri dengan senyuman..


.


Pagi yang cerah, tapi tak secerah hati Aleesa. Sudah semalam dibuat malu karena adanya madam Zenith dan sekarang kekasihnya tidak bisa dihubungi. Sebelum ponsel Restu mati, sebuah pesan nomor itu kirimkan kepada Aleesa.


"Jangan hubungi aku. Aku lagi ada tugas penting."


Perempuan mana yang tidak emosi ketika bangun tidur membaca pesan tersebut. Dalam kurun waktu dua jam ada lima puluh pesan yang sudah Aleesa kirimkan kepada Restu. Namun, semua pesannya hanya centang satu.


Wajah ditekuk, dengan muka bantal dan rambut acak-acakan. Aleesa turun dari kamar menuju ruang makan. Sudah ada Echa dan Radit di sana yang senagaja memperlambat sarapan mereka.


"Anak Baba kenapa?" Aleesa segera memeluk tubuh Radit dari belakang. Echa hanya menggelengkan kepala melihat Aleesa yang selalu menjelma menjadi anak kecil jika bersama sang ayah.

__ADS_1


"Calon menantu Baba." Radit malah tertawa. Begitu juga dengan Echa.


"Sini!" Radit menarik tangan Aleesa agar duduk di pangkuannya. Dia menatap dalam manik anak keduanya.


"Kenapa? Dia nyakitin kamu?" Aleesa menggeleng dengan cepat. Apalagi sang ayah sudah menatapnya dengan serius. Sedangkan Echa tersenyum seraya menggelengkan kepala.


"Terus? Kenapa?" tanya Radit "Kalau dia nyakitin kamu atau buat kamu menangis, Baba akan coret dari daftar calon menantu Baba."


"Enggak gitu, Ba." Radit meminta penjelasan lebih lagi kepada putrinya itu. "Masa dia ngirim pesan Sasa gak boleh ganggu dulu. Ada tugas penting katanya." Wajah Aleesa nampak kesal. Radit dan Echa malah tertawa.


"Kamu tuh, Sa. Mulai bucin deh," ejek sang ibu. Wajah Aleesa semakin ditekuk


"Kalau Baba boleh tahu, kenapa kamu menerima cinta seorang anak yang dulunya kamu benci banget karena kenakalannya yang luar biasa itu." Radit ingin mengorek sedikit demi sedikit apa yang Aleesa rasakan. Echa pun telah siap mendengarkan.


"Sasa juga gak ngerti, Ba. Semakin dewasa dia memang.semakin nakal, tapi anehnya Sasa merasa selalu dilindungi jika tengah bersama dia. Ucapannya emang ganas, tapi Sasa merasa dia itu sebenarnya baik." Echa sudah menopang dagu mendengarkan kejujuran dari putrinya. Ini adalah hal langka. Ketiga anaknya semakin dewasa semakin tertutup kepada mereka berdua, Radit dan Echa.


"Puncak di mana Sasa merasa salut kepada Kak Restu ketika dia dipukuli oleh seseorang, tapi dia manggil orang itu dengan sebutan Papih." Radit dan Echa cukup terkejut.


"Kapan itu terjadi?" Radit sudah bertanya serius.


"Ketika pernikahan Om Iyan." Radit dan Echa saling pandang. "Sebrandal-brandalnya Kak Restu, tapi dia sama sekali tidak melawan. Baba dan Bubu tau kenapa?" Kedua orang tua Aleesa terdiam. Mereka menunggu kelanjutan ucapan dari Aleesa.


"Dia bilang, kepada orang tua kandung sendiri tidak boleh ngelawan. Kakek Addhitama selaku bicara seperti itu."


Hati kedua orang tua Aleesa terenyuh mendengarnya. Aleesa mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dari situ Sasa yakin kalau Kak Restu memang memiliki hati yang baik. Hanya luarannya saja seperti itu."


Radit dan Echa tersenyum bahagia mendengar ucapan dari Aleesa. Mereka akan menjadi pendengar yang baik ketika anak-anak mereka bercerita. Sudah menjadi hal langka sekarang, dan kini mereka berdua merasa sangat bahagia. Apalagi ini adalah anjuran dokter jantung. Pada dasarnya kesembuhan Aleesa bisa terwujud dari orang-orang terdekatnya. Buatlah Aleesa melepaskan beban pikirannya dan buatlah dia terus bahagia.


"Dengar Baba baik-baik ya, Sa." Radit sudah berbicara sangat serius. "Baba terus memperhatikan kamu, mengawasi kamu. Satu hal yang membuat Baba memberikan restu kepada Restu, kamu selalu terlihat bahagia jika bersama dia. Beda halnya dengan sahabat kamu itu."


Seketika Aleesa terdiam. Ketika sang ayah tidak memanggil nama kepada seseorang menandakan, dia sudah malas kepada orang itu.


"Sensen memberikan cinta kepada Sasa, tapi Sasa mendapatkan kenyamanan dari Kak Restu. Itulah yang membuat Sasa semakin jatuh ke dalam sebuah rasa yang dinamakan sayang." Aleesa mulai berkata jujur.


"Lalu, bagaimana hubungan kamu terdahulu?" Radit dan Echa berharap jika Aleesa mengakhiri hubungannya dengan Yansen. Mereka juga tidak akan melarang jika Aleesa dan Yansen kembali bersahabat.


"Dia sudah bertunangan dengan wanita lain. BOHONG jika Baba dan Bubu tidak tahu." Mata Aleesa mulai berair. "Itulah yang membuat Sasa berani membalas rasa yang Kak Restu miliki. Terlalu sakit dikhianati, Ba." Radit memeluk tubuh putri keduanya. Echa pun mengusap lembut punggung Aleesa.


"Apa hubungan kalian sudah berakhir?" Aleesa mengangguk.


"Sasa meminta sahabatan aja. Sasa gak sanggup jika menjalani hubungan tanpa restu Baba dan Bubu. Sasa merasa berdosa besar ketika Sasa bersama dia."


Radit dan Echa tersenyum lega. Mereka berdua masih bisa bersabar ketika Grace mulai meneror Aleesa. Namun, ketika Yansen mulai macam-macam kepada Aleesa, kesabaran mereka berdua sudah habis. Namun, mereka tidak pernah mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Hanya kalimat sederhana, tapi langsung menusuk ke ulu hati.


.


Selama mengemudikan mobil, rona bahagia terus terpampang nyata di wajah seseorang yang megenakan pakaian dinas.


"Aku akan memeluk kamu sepanjang malam, Lovely."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2