
Suara tembakan kedua pun terdengar. Kini, Gemke lah yang menembak orang yang sudah menembak Mr. R.
"Nyawa dibayar nyawa." Itulah yang dia katakan.
Dia bergegas menuju Mr. R yang sudah tersungkur. Darah mengucur di punggungnya. Gemke menahan darah tersebut dengan kedua telapak tangannya.
"Bertahanlah Mr. R." Gemke tidak ingin kehilangan rekannya lagi. Cukup Philip yang pergi meninggalkannya juga Mr. R.
Madam Zenith sudah berteriak, dan dia menghampiri Mr. R. Air matanya sudah menetes begitu saja. Hatinya teramat sakit.
"Mr. R," panggil madam Zenith. Dia hanya tersenyum.
"Aleesa," ucapnya begitu lemah.
.
Belum lama Aleesa berteriak histeris, Rio datang dan memanggil-manggil Aleesa. Dia terkejut ketika melihat kaki Aleesa yang berdarah. Echa tengah membersihkan luka di kaki Aleesa, sedangkan air mata Aleesa terus menetes. Terlebih sang kekasih tak kunjung menjawab panggilan darinya.
"Sa," panggil Rio dengan begitu lembut. Aleesa menatap ke arah Rio dengan wajah yang basah.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Deg.
Jantung Aleesa seperti berhenti berdegup. Dia menatap ke arah Rio dengan penuh tanda tanya. Walaupun dia juga sangat tahu siapa yang ada di rumah sakit.
"Ada apa, Yo?"
"Restu kena tembak, Aunty." Rio berkata dengan lemah. Echa sangat terkejut. Sedangkan Aleesa masih menangis.
"Kita ke sana sekarang. Papih dan Mamih sudah menuju rumah sakit." Aleesa pun mengangguk. Tak dia pedulikan kakinya yang masih perih dan darah yang masih keluar.
"Jaga ritme jantung kamu ya. Aku yakin Restu kuat. Kamu juga harus kuat." Aleesa pun mengangguk.
__ADS_1
Sebelumnya ...
Ketika Restu tengah berpamitan kepada sang ibu membuat hati Aleesa tak tenang. Apalagi ketika dia menggenggam tangan Aleesa. Ada suara seperti tembakan yang terdengar jelas di telinga Aleesa. Samar terlihat wajah Restu tersenyum, tapi ada luka di bagian tubuhnya. Ternyata benar ini terjadi.
Rio menggenggam tangan Aleesa dan membuat Aleesa menoleh ke arah sepupunya tersebut. Rio teringat ketika Restu menghubunginya.
"Genggam tangan Aleesa dan katakan padanya, gua akan berjuang untuk tetap hidup demi dia."
Air mata Aleesa mengalir begitu saja mendengar pesan dari Restu untuknya. Rio semakin erat menggenggam erat tangan sepupunya tersebut.
"Dia manusia kuat. Percaya sama Kak Iyo." Aleesa mengangguk dengan air mata yang tak juga berhenti.
Mobil terus melaju keluar dari Jakarta hingga tiba di salah satu rumah sakit yang dekat dengan pemakaman elit di mana opa dan engkong Aleesa dimakamkan.
Rio masih menggenggam tangan Aleesa. Dia tidak ingin sakit Aleesa kambuh lagi. "Dia kuat, Sa." Kalimat itu lagi yang keluar dari mulut Rio.
Rindra dan Nesha sudah berada di depan ruang operasi. Baru saja Rindra menandatangi surat untuk dilakukannya tindakan. Suara langkah kaki membuat Rindra dan Nesha menoleh. Aleesa berlari menuju sang paman dan memeluk tubuh Rindra.
"Restu anak yang kuat, Sa. Aunty sangat yakin itu." Tidak ada jawaban sama sekali dari mulut Aleesa. Hanya air mata yang tak pernah berhenti membasahi wajahnya.
"Surat wasiat itu mengatakan, jika keturunan Wiratama sudah tiada semua barulah semua aset yang Wiratama miliki akan diwariskan pada menantunya, Jordan Ganea."
Urat-urat kemarahan muncul di wajah Rindra. Hatinya sangat sakit mendengarnya. Ada orang tua seperti itu. Lebih mementingkan harta dibandingkan darah dagingnya. Padahal, Restu tidak menginginkan apapun. Perihal surat wasiat pun dia sudah tidak peduli. Semenjak keluar dari rumah Wiratama, dia sudah tidak bersedia menerima harta apapun dari keluarga itu.
"Papih akan membuat perhitungan kepadanya."
Itulah janji Rindra yang dia ungkapkan dalam hati. Lima belas tahun merawat seorang Restu membuatnya semakin sayang kepada anak dari Jordan tersebut. Restu yang memiliki jiwa ksatria, hati yang tulus dan juga pekerja keras membuatnya seperti memiliki putra yang dia inginkan. Bukannya dia tidak sayang kepada Rio. Rio adalah putra kandungnya yang sikapnya sangat mirip dengan Nesha.
Gemke sedari tadi memperhatikan keluarga dari Mr. R. Dia juga melihat wanita yang pernah dibawa Mr. R sangat sedih. Air matanya terus mengalir.
"Sungguh bahagianya jadi dirimu, Mr. R. Banyak yang menyayangimu dengan tulus," batin Gemke.
Madam Zenith terus melantunkan doa. Dia masih berada di rumah sakit yang sama. Hanya saja telah Gemke amankan. Dia tidak ingin nyawa Madam Zenith menjadi incaran musuh. Dalam kondisi seperti ini Gemke harus bekerja keras.
__ADS_1
"Tuhan, sebenarnya siapa laki-laki itu? Kenapa ketika suara tembakan terdengar, dadaku ikut merasakan sakit yang luar biasa?" Madam Zenith tengah bergumam dengan mata yang nanar.
"Pih, apa Raje masih hidup? Jika, dia sudah meninggal, kenapa Papih menyembunyikan makam Raje? Zen rindu putra Zen, Pih." Air mata membasahi wajah Madam Zenith. Seorang wanita yang setiap hari merasakan kesepian yang mendalam. Puluhan tahun hidup di negara orang sendirian, ditinggalkan oleh orang yang dia sayang membuatnya hanya menghabiskan waktu di perusahaan dengan tujuan memajukan setiap usaha yang tengah dia jalankan.
Namun, setelah bertemu dengan Restu. Dia merasa hidupnya tidak kesepian. Setiap kali bersama bodyguard tampannya itu, dia merasa dekat dengan seseorang. Apalagi perhatiannya yang luar biasa membuat hatinya semakin menghangat.
"Saya akan mengusut siapa yang hendak mencelakai kamu. Saya pastikan dia juga akan mengalami apa yang telah terjadi pada kamu."
Banyak yang memasang badan untuk Restu. Begitu juga dengan seorang Aksara yang baru saja diberitahu perihal penembakan pada Restu. Urat-urat kemarahannya sudah hadir dengan begitu jelas. Dia merasa marah karena sudah ada yang berani mencelakai calon keponakannya yang satu circle dengannya.
"Nyoba bermain-main dia," ujar Aksa dengan penuh kemarahan.
Kembali ke rumah sakit. Sudah satu jam berlalu, belum ada yang keluar dari ruang tindakan membuat rasa cemas dan khawatir semakin membuncah. Aleesa hanya bisa memeluk tubuh sang paman tanpa ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
Pintu ruang tindakan terbuka. Dokter dan beberapa perawat sudah mengeluarkan bed. Semua orang yang ada di depan ruang tindakan menoleh. Seorang Restu yang berada di atas bed tersebut.
"Bie!" Aleesa mendekat ke arah Restu yang masih lemah. Dia tersenyum dan mencoba mengusap lembut wajah Aleesa. Namun, rasa sakit menghampirinya hingga tangannya diturunkan kembali.
"Tangan kanan Bapak jangan banyak digerakkan," ucap seorang perawat.
Aleesa menatap sedih ke arah Restu, wajahnya sangat sembab. Dia tidak tega melihat kekasihnya terbaring lemah seperti ini.
"Aku akan terus berusaha untuk tetap hidup demi kamu." Restu hanya bisa menggenggam tangan Aleesa.
Rindra dan Nesha saling pandang. Gemke hanya terus memperhatikan karena dia tidak mengerti dengan bahasa yang diucapkan oleh leadernya tersebut.
Genggaman tangan itu tidak Restu lepaskan hingga dia masuk ruang perawatan dan membuat Rio jengah melihatnya.
"Set dah, dalam kondisi sakit aje masih mesra-mesraan. Lu anggap kite ape, Restu? Nyamuk aides aigaptek," omel Rio.
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1