
Meminta bantuan Gemke, itulah yang dilakukan oleh madam Zenith. Restu bukan orang bodoh. Dia sudah mencium aroma kecurangan, tapi dia masih diam. Dia ingin mencari tahu lebih dalam lagi.
Sepanjang mengudara, Restu memejamkan mata. Dia tidak tidur, dia memasang telinganya lebar-lebar. Mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Gemke dan juga madam Zenith.
Dia teringat akan pesan sang papih ketika dia baru masuk ke dalam pesawat. Papihnya jarang sekali mengirim pesan. Biasanya Rindra selalu telepon kepada sang putra. Namun, kali ini Restu merasakan ada hal yang berbeda.
"Nak, Papih yakin kamu tahu ke mana harus kembali. Rumah mana yang harus kamu tuju. Satu hal yang harus selalu ingat, pintu rumah Papih selalu terbuka lebar untuk kamu. Papih sayang kamu."
Hampir air mata Restu menetes membaca pesan dari sang ayah. Ada makna yang terkandung di dalam pesan tersebut. Restu merasakan ada sesuatu hal yang akan terjadi pada dirinya. Biasanya instingnya itu selalu benar.
Sang kekasih pun mengirimkan pesan yang tak kalah menyentuh. Restu tiba-tiba dibuat melow oleh orang-orang yang menyayanginya.
"Bie, aku tunggu kamu di sini. Aku tunggu kamu mencium bibirku lagi. Kembalilah bagaimanapun keadaan kamu. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintai kamu."
Restu hanya bisa menghela napas kasar. Ingin rasanya dia resign sekarang juga. Dia benar-benar tidak ingin jauh dari keluarganya juga kekasihnya.
.
Madam Zenith sudah tidak sabar ingin cepat sampai negara di mana dia menetap. Dia ingin segera mengetahui fakta mengenai bodyguardnya itu.
"Kamu adalah Raje. Mamih sangat yakin itu."
Setelah dia bertemu dengan Rindra dan juga Nesha, dia tidak langsung pulang. Dia mencoba menenangkan hatinya di sebuah kafe. Gemke tidak ikut masuk. Dia hanya menunggu di luar.
Dari kejauhan dia melihat ada seorang wanita yang mendekat ke arah madam. Ingin Gemke mendekat, tapi wanita itu sudah pergi. Ada rasa curiga di hati Gemke. Namun, dia tepis ketika tidak ada perubahan pada wajah madam. Malah, wajahnya nampak lebih berseri sekarang.
Di tengah perjalanan, suara madam Zenith terdengar. Gemke terkejut dengan apa yang diperintahkan oleh madam Zenith.
"Saya minta rambut Mr. R untuk melakukan tes DNA."
Gemke seperti manusia yang kekurangan oksigen. Apakah benar leadernya itu adalah anak dari orang yang harus dia jaga? Sepertinya mustahil. Begitulah yang dikatakan hati Gemke. Bukan tanpa alasan, dia melihat sendiri betapa Keluarga dari leadernya itu sangat menyayanginya.
Gemke menghela napas kasar ketika mengingat kejadian tadi. Mereka seharusnya kembali ke Zurich esok sore. Namun, antusiasme madam Zenith mengalahkan semuanya.
Di Jakarta.
__ADS_1
Aleesa tidak dapat terlelap karena sebuah mimpi yang membuat dadanya sesak. Dia melihat penyiksaan yang sangat keji. Namun, orang yang disiksa itu memakai jubah hitam dengan ditutup kain hitam wajahnya. Jadi, dia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Ya Tuhan, bertanda apa ini?"
Bukan hanya Aleesa yang tak bisa tidur. Rindra Addhitama sudah menghabiskan satu bungkus rokok dan tiga kaleng minuman beralkohol rendah. Dia bagai manusia frustasi sekarang ini. Dua kakinya kini hanya tersisa satu, yakni Rio. Ya, dia tahu perihal madam Zenith yang ingin melakukan test DNA kepada Restu.
Anak yang sudah dia rawat selama delapan belas tahun itu akan pergi, dan kemungkinan akan menjauh untuk selamanya dari dia dan keluarga. Rasanya dia sangat tidak rela.
"Kenapa aku tidak rela, Tuhan? Dia putraku." Air mata Rindra menetes begitu saja. Kehadiran Restu membuatnya tahu bagaimana harus mendidik anak. Kehadiran Restu membawa perubahan pada keluarga kecilnya.
Ikhlas, dia akan berusaha melakukan itu. Dia tidak ingin mengekang sang putra. Restu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan, ketika Tuhan mau mengambilnya lagi pun dia harus rela.
Jam dua pagi Rindra masuk ke kamar. Dia terkejut ketika sang istri tengah terduduk di tepian tempat tidur.
"Kenapa belum tidur, Mih?" Nesha menoleh dan matanya sudah berair.
"Mamih mimpi ... Restu bahagia bersama dengan orang lain." Rindra segera memeluk tubuh Nesha. Ikatan batin seorang ibu memanglah kuat. Walaupun Restu bukan darah dagingnya, keikhlasan membawanya menjadi seorang yang peka terhadap Restu.
"Jika, itu memang benar terjadi ... kita harus ikhlaskan."
"Dia bukan putra kita, Mih. Dia hanya anak titipan yang Tuhan berikan." Suara Rindra begitu berat. Nesha pun menangis di pelukan sang suami.
Kasih sayang yang dua orang ini miliki begitu tulus kepada Restu. Mereka seakan tidak mau kehilangan anak yang sudah mereka urus hampir dua puluh tahun. Menyembuhkan luka anak itu hingga anak itu menjadi laki-laki tampan penuh tanggung jawab.
.
Wajah Aleesa nampak layu di pagi ini. Kedua alis Echa menukik tajam. "Kamu kenapa?"
"Sasa gak bisa tidur, Bu." Suara lemah Aleesa yang mampu Echa dengar. Dia kini merangkul lengan ayahnya yang masih duduk di ruang keluarga.
"Kangen Restu?"
"Itu mah jangan ditanya." Aleesa merebahkan kepalanya di pangkuan sang ayah sehingga ayahnya tertawa. Usapan tangan sang ayah membuatnya merasa sangat nyaman.
"Jaga kesehatan kamu, Sa." Sang ibu sudah duduk di samping sang ayah.
__ADS_1
"Iya, Bu."
Aleesa malah tertidur dan membuat kedua orang tuanya tergelak. Radit dan Echa melihat Aleesa dan Restu seperti hubungan mereka dahulu. LDR-an hingga kuliah di negara yang sama dan akhirnya menikah.
.
Setelah lima belas jam mengudara akhirnya madam Zenith dan juga dua bodyguard-nya tiba di Bandara Zurich. Mereka segera kembali ke rumah madam. Beristirahat seharian dan barulah keesokan harinya melakukan aktifitas seperti biasanya. Namun, ada yang berbeda ketika mereka datang. Ada dokter khusus yang datang ke rumah besar. Restu menatap ke arah Gemke. Namun, dia menggedikkan bahu menandakan tidak tahu.
"Kalian beristirahatlah." Perintah dari madam Zenith. Restu masih menaruh curiga dengan sikap madam Zenith dan juga Gemke.
Ketika kedua pengawalnya sudah pergi, madam Zenith membawa dokter ke tempat pribadinya. Dokter itu mengikuti dari belakang.
"Tolong cek ini." Dokter yang nasi saja duduk terkejut. "Saya ingin memastikan apakah dia putra saya atau bukan."
"Bukankah putra Anda sudah--"
"Saya yakin dia masih hidup."
Madam Zenith menatap foto Restu yang sedang diobati lukanya. Di punggung bagian belakang ada tanda lahir berwarna merah dan itu sama percis dengan tanda lahir Rajendra, putranya.
"Mamih akan menebus kesalahan Mamih dan kita akan hidup bahagia berdua."
.
Radit menghela napas kasar ketika sang kakak pertama terlihat murung. Tidak ada cahaya di wajahnya.
"Apa Abang gak akan berbuat curang?" Rindra menggeleng.
"Abang bisa melakukan itu. Sama seperti Abang menyusun skenario perihal Radit sebagai anak angkat Papih." Skenario itu Rindra susun atas persetujuan semuanya. Itu semua dia lakukan untuk melindungi Restu.
"Abang tidak mau egois, Dit. Restu berhak tahu dan berhak bahagia."
...***To Be Continue***...
Komen atuh .. makin sedikit banget komennya.
__ADS_1