RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 266. Duo Bangor


__ADS_3

"Berangkat sekolah bareng Papi."


Abang Er yang tengah menikmati sarapan pun mengangguk. Kedua adiknya pun akan anteng ketika ada sang ayah. Mereka takut kepada Restu. Padahal dia jarang bicara, tapi si kembar seakan menjaga jarak. Lain halnya dengan Abang Er yang nempel sekali kepada sang ayah.


Abang Er mencium tangan sang ibu. Kemudian menatap tajam ke arah kedua adiknya. Kepala Reyn dan Rayyan pun menunduk dalam. Anak itu mengusap kepala kedua adiknya. Restu yang melihat ketiga anaknya hanya tersenyum. Sang putra pertama sama percis seperti dirinya. Tak banyak bicara, tapi memiliki kharisma juga aura yang luar biasa dan membuat adiknya menurut.


Di sekolah, setiap kali Abang Er datang, anak perempuan mulai mendekat. Ada yang memberinya cokelat, Chiki, lolipop, juga susu. Namun, tak satupun yang Abang Er terima..


"Gigi aku entar rusak makan coklat." Ketus dan tak ada basa-basi.


"Aku gak terlalu suka Chiki. Kebanyakan micin buat otak kecil." Terlalu pandai Abang Er menolak pemberian dari teman perempuannya itu.


"Aku gak suka lolipop, dan susu itu bukan susu yang biasa aku minum."


Abang Er berlalu begitu saja tanpa ada kata maaf ataupun basa-basi. Calon lelaki judes itulah dia.


Ketika di rumah sang ibu akan mengajak bicara putra pertamanya itu. Abang Er yang memang suka menggambar menjawab pertanyaan sang ibu dengan tangan dan mata yang fokus pada crayon dan buku gambar..


"Kata ibu guru Abang, di sekolah banyak cewek yang deketin Abang, ya." Sang ibu mulai menggoda.


"Bikin Abang risih." Tetap saja jawabannya singkat, jelas dan padat.

__ADS_1


"Loh? Kenapa?"


"Abang pengen sekolah yang cowok semua. Ribet kalo ada cewek mah."


Aleesa tertawa mendengar jawaban jujur dari putranya. Sama percis seperti sang ayah yang tak ada manis-manisnya ke perempuan, kecuali kepada dirinya.


"Abang kan punya adik cewek. Berarti Reyn ribet dong."


"Bukan cuma Reyn, Yayan juga ngeselin. Pengen Abang Karungin terus kirim ke dasar laut biar hidup sama Spongebob."


Aleesa terbahak ketika mendengar sang putra sudah kesal. Si kembar memang memiliki sifat yang berbeda dengan Erzan. Mereka sangat aktif dan berisik. Itulah yang membuat Abang Er tidak suka.


"Kalau Mami dan Papi ingin ngasih adik lagi buat Abang gimana?"


"Abang mau tinggal sama O-pap dan Onty Mam aja. Punya dua adik aja kuping sakit, apalagi tiga."


Aleesa tak bisa menahan tawanya. Sang putra memang sangat tegas dalam setiap kalimat yang dia ucapkan. Ketika dia bilang tidak, ya tidak. Suara bel terdengar. Helaan napas kasar keluar dari mulut Abang Er.


"Duo bangor datang," keluhnya.


Benar saja, anak perempuan berusia hampir tiga tahun berlari ke arahnya. "Aban!"

__ADS_1


Abang Er memundurkan kepalanya ketika sang adik perempuan ingin menciumnya.


"Jangan cium Abang!"


Semakin sang Abang melarang, Reyn akan semakin menjadi dan itu membuat Abang Er tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa marah kepada Reyn. Beda halnya jika kepada Rayyan.


"Aban!" Dia mengikuti Reyn berlari ke arah Erzan dan ingin mencium sang Abang juga. Namun, dahi Rayyan sang Abang tahan hingga tak bisa menciumnya.


"Ih!"


Rayyan kesal. Wajahnya merengut dan kedua tangannya dia lipat di atas dada.


"Empok Le boleh cium Aban." Si bungsu mulai protes kepada sang Abang.


"Kakak bukan Empok!" Reyn yang menyahuti ucapan sang adik.


"No-no-no. Em-Pok." Rayyan membalasnya seraya mengejek.


"Aban El, Empok Le. Ti-tik."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2