RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 149. Bukan Perihal Mewah, Tapi Sah


__ADS_3

Restu sudah meminta ijin kepada kedua orang tua angkatnya perihal dia dan Aleesa yang akan terbang ke Zurich esok malam. Awalnya Rindra melarang, tapi Nesha meyakinkan kepada sang suami jika memang seharusnya Restu meminta ijin kepada ibu kandungnya.


"Tanpa madam Zenith kita tidak bisa mengurus Restu, Pih."


Jika, mendengar kalimat yang begitu lembut dari bibir Aleesa membuat Rindra tidak bisa menolak. Pria itupun menghela napas kasar.


"Kamu tetap Papih kawal. Bagaimana pun dia tetap iblis. Tidak mungkin berubah menjadi malaikat."


Restu hanya mengangguk karena dia menghubungi sang ayah melalui sambungan video. Dia dan Aleesa masih berada di apartment.


.


Kabar pernikahan Aleesa dan Restu sudah sampai ke telinga si kembar, Aksa dan Aska. Sontak mereka terkejut karena sangat terburu-buru.


"Bang, Aleesa gak hamil duluan 'kan?"


Kekhawatiran Aska tunjukkan. Namun, kekhawatiran itu mendapat pukulan keras dari Echa.


"Sembarangan kalau ngomong." Kakak perempuan Aksa sudah mengomel.


"Mendadak banget loh." Aksa menambahkan ucapan dari Askara.


"Mereka sudah sangat dekat. Ada rasa was-was juga sebagai orang tua. Jadi, ini jalan terbaik." Radit menjelaskan kepada kedua adiknya.


"Lu minta mahar berapa?" Aksa sudah menyahuti ucapan dari Radit. Hanya decakan kesal yang Radit berikan.


"Gua bukan Ayah." Aska pun tertawa. Dia masih teringat ketika mendiang Rion Juanda meminta mahar dengan nominal uang di luar nalar ketika sang Abang hendak meminang Riana. Sedangkan Aksa malah berdecak kesal.


"Harus ada lah penerus Ayah," jawab Aksa sengit. "Lu punya anak cewek berarti harus dibeli dengan nilai tinggi. Secara anak-anak lu bukan turunan dari orang biasa. Perpaduan tiga keluarga yang luar biasa."


Aksa mencoba untuk mengompori. Namun, Radit hanya tersenyum dan dia pun menggeleng.


"Pernikahan itu bukan dinilai dari mahar, tapi letak tanggung jawab yang menjadi suami. Harta bisa dicari, tapi cinta yang tulus susah untuk didapati."


"Udah, Bang. Ucapan lu gak akan mempan buat si Bandit mah. Dia mah pendiriannya kuat." Aska mulai menyuruh sang kembaran untuk menyerah.


"Kalau lu gak mau nanya, gua yang akan nanya ke si Restu." Sungguh si kepala batu dan manusia tak punya hati.


"Jangan bikin nyalinya menciut." Radit melarang Aksa.


"Kalau dia ciut, cuma gede badan doang berarti." Jika, Aksa sudah berbicara sudah pasti akan menusuk sanubari.


Baru saja hendak menghubungi Restu, laki-laki yang sedang dia obrolkan datang bersama Aleesa. Tatapan Aksa begitu tajam kepada Restu. Akan tetapi, laki-laki itu tak merasa takut sedikit pun.


"Alasan lu nikahin ponakan gua dadakan begini apaan? Apa udah lu test Drive dulu?" Perkataan Aksa membuat Aleesa berdecak kesal dan menatap tajam ke arah sang paman yang bukan hanya kejam, tapi bermulut pedas.


"Tuh mulut lemes banget." Aleesa mulai mengoceh.


"Bukannya lemes, wajar lah seorang Om nanyain begitu ke calon keponakan." Aksa tak mau kalah.


"Emang boleh ya di test Drive dulu?" Aska malah menggeplak kepala Restu. Bahaya jika berbicara hal sensitif dengan si brandal ini. Mainnya terlalu jauh.

__ADS_1


"Gak ngotak kalau nanya." Aska sudah memarahi Restu. Namun, tetap saja Restu bersikap biasa.


"Ya, siapa tahu aja boleh." Masih sempatnya Restu menjawab perkataan Aska.


Radit selaku kakak ipar dan juga calon mertua dari Restu hanya menggelengkan kepala melihat tiga pria itu.


"Lu mau ngasih mahar berapa?" Aksa sudah menatapnya tajam.


"Gak banyak kalau mahar mah."


"Dih, apa-apaan lu?" sergah Aksa. "Yang mau lu nikahin itu cucu dari keluarga Wiguna, Addhitama, dan Juanda."


"Lalu?"


"Udah, udah," lerai Echa. Dia tahu bagaimana sikap Restu dan juga adiknya.


Aleesa mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya kepada Aksara. Aksa mulai membacanya dan matanya melebar ketika melihat angka yang ada di sana.


"Sepuluh juta?" Aksa menatap ke arah Restu. Sang calon keponakan pun mengangguk.


"Itu gak termasuk apartment yang udah aku kasih ke Aleesa."


Bukan hanya Aksa yang terkejut. Orang dewasa yang lain pun ikut terkejut mendengarnya. Surat itu kini sudah berpindah tangan kepada yang lain. Ternyata apa yang dikatakan oleh Aksa benar.


"Lu boleh ngerampok di mana?" Respon Aska malah lucu. "Gua aja yang kerja bagai kuda gak punya duit sebanyak ini." Mode curhat Aska hadir. Semua orang pun tertawa.


"Intinya, aku dan Aleesa sudah sepakat untuk memakai mahar pada umumnya aja. Ini adalah bukti bahwa aku benar-benar mencintai Aleesa. Apa yang aku miliki aku berikan semua kepada Aleesa."


"Gua bangga sama lu." Restu hanya tersenyum.


"Mau pakai hotel mana? Uncle Aksa yang akan tanggung semuanya." Aksa pun berdecak kesal ketika mendengar ucapan sang adik. Sungguh adik laknat.


"Sasa dan Kak Restu ingin mengadakan akad dulu saja." Mumpung banyak orang Aleesa bisa berterus terang..


"Loh? Kenapa?" tanya Echa tak mengerti.


Aleesa menatap ke arah Restu. Laki-laki yang menjadi tunangannya itupun mendekat dan merengkuh pinggang Aleesa.


"Aleesa tidak ingin bahagia sendiri. Dia ingin resepsinya nanti disatukan dengan resepsi Aleena dan Aleeya." Restu mulai menjelaskan.


Namun, Radit menangkap hal yang berbeda. Dia tahu apa yang putri keduanya itu rasakan.


"Ya udah, mau nikahnya di hotel mana?" Aksa sudah menawarkan.


"Cukup di rumah aja, Uncle. Undang teman-teman dan keluarga inti aja." Aksa sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan Aleesa.


"Kamu serius?" Aleesa pun mengangguk.


"Pernikahan tidak perlu mewah, yang penting sah." Restu menambahkan.


"Itu sih maunya lu!" Aska menimpali dengan sengit.

__ADS_1


.


Yansen masih aktif menjadi penyanyi kafe. Sekarang dia semakin terkenal dan sudah banyak yang meng-upload penampilannya ke u-tube.


"Puji Tuhan." Begitulah gumamnya setelah dia menonton videonya tersebut. Dia banyak diundang ke acara-acara dan ke berbagai kafe. Dia sangat menikmati pekerjaannya saat ini.


Seperti malam ini dia diundang ke acara salah satu stasiun televisi karena videonya yang buram menyanyikan ulang sebuah lagu yang berjudul cinta segitiga.


Raina dan Kemala yang tahu akan hal ini menghubungi Aleesa yang tengah bersama Restu di kamarnya.


"Siapa?" tanya Restu setelah Aleesa mematikan sambungan telepon tersebut.


"Kemala," jawab Aleesa.


"Mau ngapain?"


"Yansen masuk tv katanya. Aku disuruh nonton." Sorot mata Aleesa sudah meminta ijin kepada Restu.


"Ya udah." Terlihat wajah Restu pun biasa.


"Boleh?" Restu pun mengangguk..


Kebetulan sekali Yansen tengah diwawncara oleh seorang pembawa acara cukup terkenal. Aleesa tersenyum melihat Yansen sekarang. Wajah Yansen lebih tampan dari biasanya.


"Calon suami kamu ada di samping kamu loh." Wajah Restu sudah mulai tak bersahabat dan itu membuat Aleesa tertawa.


"Iya,.Bie." Aleesa mengecup pipi Restu agar aayi besarnya tak marah.


Mereka berdua menonton Yansen hingga sebuah pertanyaan membuat Aleesa menegang.


"Apa lagu cinta segitiga itu kisah cinta kamu? Sepertinya kamu sangat menghayati dan masuk ke dalam lagu tersebut."


Terlihat Yansen tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu.


"Lagu itu adalah soundtrack kisah cinta saya dengan seorang wanita. Sebuah kisah yang dipaksakan dan pada akhirnya kita dipaksa untuk saling melupakan."


Mata Aleesa berembun mendengar ucapan dari Yansen tersebut. Ada rasa sakit yang Yansen pendam. Setiap kata yang keluar dari mulut Yansen membuat hari Aleesa perih.


"Jika, wanita itu menonton acara ini apa yang akan kami sampaikan."


"Kamu akan menjadi cinta pertama dan terakhir untuk aku."


Sebuah kalimat yang membuat pembawa acara itu bingung. Cinta terakhir? Maksudnya? Itulah yang ada di pikirannya sekarang..


"Saya paham ketika kamu mengatakan dia adalah cinta pertama kamu, tapi saya tidak paham ketika kamu mengatakan dia juga cinta terakhir kamu. Apa kamu tidak akan pernah menikah?"


Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban. Senyum yang banyak mengandung arti.


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2