
Restu dan Aleesa sudah hendak bertolak ke Zurich. Restu benar-benar membawa tim-nya. Ada tim dokter untuk anak dan istrinya. Juga pengawal yang dia bawa tidak sedikit. Juga perwakilan keluarga yang ikut serta.
Rangga mewakili sang ayah yang tak bisa ikut. Sedangkan Aleena bertugas menjadi baby sitter sang putra dikarenakan Echa dan Nesha tak bisa ikut. Sedangkan Rindra dan Radit akan terus mengawal anak mereka.
Mereka bertolak ke Zurich dengan menggunakan pesawat komersil kelas bisnis. Awak pesawat tersenyum hangat kepada Rangga yang tak lain adalah rekan mereka. Kebetulan Aleena ada di belakangnya.
"Calon?" celetuk pramugara yang ada di sana.
Rangga menghentikan langkahnya hingga Aleena pun ikut menghentikan langkah. Rangga menoleh ke arah Aleena yang juga menatapnya.
"Bukan."
Jawaban itu sedikit menyakiti hati Aleena. Namun, Aleena mencoba untuk pura-pura tuli. Aleena duduk di samping sang ayah.
Restu dan Aleesa merasa sedikit takut karena ini adalah penerbangan pertama putra mereka. Ditambah penerbangan kali ini memakan waktu yang cukup lama. Mereka takut Abang Er bosan dan menangis.
Aleena sesekali memeriksa sang keponakan yang tengah asyik menonton acara favoritnya di tablet yang dibawa oleh kakak iparnya.
"Ya Allah, anteng banget."
.
Seorang pramugara menghampiri Rangga yang duduk bersama Rindra. Aleena terpesona dengan senyum yang melengkung indah di wajah Rangga. Senyum yang sangat dia rindukan lebih dari satu tahun ini.
Mereka nampak asyik berbincang. Dari belakang Aleena terus memperhatikan. Hingga seorang pramugari menyapa Rangga dan mendapat senyuman manis dari Rangga. Anak angkat dari sang paman terlihat berbeda dan sangat ceria di hadapan para rekan kerjanya.
Aleena memilih untuk duduk kembali di samping sang ayah. Dia memilih mendengarkan lagu seraya menutup matanya. Rangga menoleh ke arah Aleena yang terlihat sendu.
__ADS_1
.
Restu menjadi ayah siaga untuk Abang Er. Ketika sang putra haus dan lapar, dia akan mengambilkan susu. Juga Aleesa yang akan menyuapi sang putra. Mereka sangat kompak. Restu juga selalu memperhatikan kenyamanan sang istri.
Ketika Abang Er tertidur, Aleesa melingkarkan tangannya di pinggang Restu dan disambut hangat oleh senyuman manis Restu.
"Kenapa?"
Aleesa memegang rambut sang suami dan membuat Restu melengkungkan senyum yang begitu lebar.
"Pi, tiba di sana rambut Papi potong, ya." Dahi Restu mengkerut mendengarnya. Tiba-tiba istrinya menyuruhnya memotong rambut. Padahal rambutnya masih pendek.
"Biar Papi kelihatan makin ganteng." Mata Aleesa berbinar ketika mengatakannya hingga membuat Restu tak bisa menolak.
"Apa ini permintaan anak kita?" Tangan Restu sudah mengusap lembut perut Aleesa dan hanya dijawab dengan senyuman yang begitu manis.
Tibanya di Zurich, Gemke sudah menjemput rombongan Restu. Dia tersenyum ketika melihat Erzan yang digendong oleh Restu. Begitu tampan dan lucu. Di mata Gemke Erzan sudah memiliki kharisma dan pesona yang luar biasa.
Aleena yang notabene adalah kakak ipar Restu malah terbalik memanggil Restu dengan sebutan kakak. Harusnya Restu lah yang memanggilnya Kakak. Namun, Aleena sudah terbiasa dengan sebutan itu.
Restu menyerahkan Abang Er kepada Aleena karena Abang Er ingin digendong oleh sang Tante. Restu langsung menggenggam erat tangan sang istri. Gemke banyak menceritakan kejadian di Zenth Corporation kepada Restu.
"Sudah kamu siapkan semuanya?" Gemke pun mengangguk.
Setelah makan malam di rumah besar. Aleesa terus merengek agar suaminya memotong rambut. Tidak biasanya dia seperti ini.
"Ayo, Pi."
Restu pun mengalah. Padahal, dia ingin sekali beristirahat. Demi sang istri apapun akan dia lakukan. Aleesa dan Restu dapat melengkungkan senyum lega ketika Abang Er sudah terlelap. Jadi, mereka bisa pergi dengan aman.
__ADS_1
Mereka tidak hanya berdua. Ada Gemke dan pengawal yang lain di mobil belakang mereka. Wajah penuh kebahagiaan terukir di wajah wanita cantik itu.
"Bahagia banget kayaknya."
Aleesa menoleh dan tersenyum ke arah Restu seraya merangkul lengan sang suami. Hal kecil padahal, tapi mampu membuat Aleesa sebahagia ini.
Mereka tiba di barbershop langganan Restu selama di Zurich. Tangan Restu terus menggenggam tangan sang istri yang semakin hari semakin cantik.
"Mau dicukur seperti apa?"
Baru saja Restu hendak membuka suara, Aleesa lebih dulu menunjukkan ponselnya. Seketika Restu terkejut.
"Kali ini ikuti kata Mami, ya."
Senyum yang begitu lebar membuat Restu tak bisa menolak. Dia pasrah saja asal istrinya senang.
"Ibu hamil itu kadang suka aneh."
Itu perkataan dari ketiga paman Aleesa. Sekarang, dia baru merasakan keanehan sang istri di kehamilan keduanya. Namun, dia tidak masalah.
"Selesai."
Tukang cukur itupun terlihat amat puas dengan kerjanya. Terlebih Aleesa yang teramat bahagia ketika potongan rambut sang suami sesuai dengan ekspektasinya.
"Lihat, Pi."
"Ganteng 'kan."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...