
Air mata Aleesa menetes dengan sangat deras ketika membaca surat dari Yansen. Restu memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat.
"Restu untukmu Aleesa," ucap pelan Aleesa.
"Restunya itu bukan hanya sekedar Restu, tapi pria yang bernama Restu yang direstuinya untuk menjaga wanita yang dia sayang."
Aleesa mendongakkan kepalanya menatap ke arah Restu yang sudah tersenyum ke arahnya. Restu tak segan mencium bibir Aleesa dengan begitu mesra di bawah bulan purnama yang bersinar sangat terang.
Sedih Aleesa pun menghilang seketika karena sesapan yang begitu lembut. Tangan Aleesa semakin erat memeluk tubuh Restu dan tanpa terasa surat dari Yansen terlepas begitu saja karena sangat menikmati apa yang Restu berikan pada bibir Aleesa.
Surat berwarna biru itupun terbawa ombak menandakan Aleesa sudah harus melupakan orang yang menulis surat tersebut karena sudah ada pria yang kini bersamanya dan memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh cinta. Surat itu kembali ke sang pemiliknya yang berada di dasar laut lepas.
"Love you, Mi."
Tangan Restu sudah mengusap lembut bibir Aleesa yang sangat basah karena ulahnya.
"Love you too, Pi."
.
Manjanya Aleesa kepada Restu membuat semua orang yang masih berada di resort dekat pantai menggelengkan kepala. Restu yang sangat protektif kepada Aleesa pun membuat mereka menggelengkan kepala. Namun, mereka merasa sangat bahagia karena Aleesa dan Restu terlihat sangat kompak dan sangat menyayangi satu sama lain.
__ADS_1
Restu terus mengusap lembut perut Aleesa yang sudah membesar sambil memperhatikan putranya bermain pasir bersama sepupu-sepupu sang istri.
"Kira-kira anak kita ini jenis kelaminnya apa, ya?" Restu bertanya kepada sang istri yang sedang merebahkan kepalanya di bahu lebar miliknya.
"Apa ajalah, Pi. Cuma ini rasanya lebih berat dan sesak." Aleesa mulai mengeluh kepada sang suami.
Sudah lebih dari lima kali USG hasilnya janin yang tumbuh di dalam perut Aleesa hanya ada satu. Namun, tidak menunjukkan jenis kelaminnya sama seperti Abang Er sewaktu di dalam kandungan.
"Kalau gak sanggup normal, langsung SC aja ya." Aleesa menggeleng dengan cepat dan itu membuat Restu mengerang kesal.
"Cukup bagian bawah Mami aja yang sudah rusak, Pi. Jangan sampai dirusak semua."
Restu tahu apa yang dimaksud oleh istrinya. Dia mencium ujung kepala Aleesa dengan sangat lembut. Walaupun sudah rusak, tapi tetap nikmat.
"Tentu, Mami. Papi akan selalu ada di samping Mami."
Jawaban yang membuat Aleesa melengkungkan senyum yang begitu lebar. Restu pun ikut tersenyum dan mengecup singkat bibir Aleesa.
.
Pulang berlibur, Abang Er malah demam dan itu membuat Aleesa juga Restu panik. Apalagi panas Abang Er sampai empat puluh derajat hingga menyebabkan kejang.
__ADS_1
Aleesa sudah menangis dan Restu sudah menggendong anak putra sambil memanggil ayah mertuanya. Radit terkejut ketika melihat cucunya seperti itu. Dia langsung memeriksa Abang Er dan Restu terus menenangkan sang istri dengan mata yang tak terlepas dari sang putra.
"Sudah Baba beri obat," ujar Radit. "Tetap harus kita bawa ke rumah sakit."
Sebagai seorang ibu hati Aleesa sama sekali tidak tenang. Dia takut putranya kembali kejang.
"Mi, tidur, ya. Kasihan Adek."
Aleesa menggeleng pelan. Matanya tak terlepas pada sang putra yang tengah terlelap. Putranya yang sangat tampan, kini terbaring di atas ranjang pesakitan.
"Biar Papi yang jagain Abang Er."
"Enggak, Pi. Mami juga gak tenang."
Restu dapat mengerti itu. Dia menggenggam tangan istrinya dan mereka berdua terus mendampingi Abang Er tanpa memejamkan mata. Orang tua Aleesa juga Restu sangat bangga kepada kedua anak mereka tersebut. Saling bekerja sama dalam menjaga Erzan.
Jam tiga pagi, Aleesa sedikit meringis dan itu membuat Restu menoleh.
"Mami, kenapa?" Restu melihat wajah Aleesa yang sudah meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...