
Ketiga anak Addhitama terus memperhatikan layar putih yang disorot proyektor. Mereka menatap layar tersebut dengan penuh teliti. Kompak kepala mereka pun menggeleng melihat bukti demi bukti yang ditunjukkan oleh Restu.
"Parah sih ini mah," ujar Rifal. Dia yang tidak pernah ingin ikut campur sampai membuka suara. Terlihat ada kegeraman yang wajahnya tunjukkan.
Rindra sudah menghembuskan napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya dengan napas sangat cepat. Dia benar-benar tengah menahan amarah. Dia merasa sudah dibohongi oleh orang yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri.
"Bukti yang tidak pernah terkuak dan bisa dibilang ditutup dengan rapat." Radit menimpali ucapan sang kakak. "Sekarang mulia naik ke permukaan."
Mereka pun terdiam. Sedangkan keluarga Wiguna hanya dapat saling pandang. Aksa yang biasa lebih dulu mengetahui hal ini, dia malah ketinggalan informasi. Dia tidak bisa membuka suara karena ini bukan ranahnya. Jika, dia jadi salah satu anak Addhitama sudah dipastikan dia akan langsung melaporkan Satria. Tidak akan ada kata damai.
"Kenapa perusahaan ini yang diserang?" Restu yang tengah menjelaskan di depan media mulai membeberkan.
"Perusahaan ini memiliki laba yang tidak sedikit. Perusahaan ini juga yang memiliki harga tinggi dibandingkan dengan yang lain. Maka dari itu, dia dengan sengaja melakukan ini agar perusahaan yang lain ikut goyang. Bisa dikatakan perusahaan ini adalah pusat dari semua perusahaan yang Tuan Addhitama miliki." Semua media terdiam dan mendengarkan dengan seksama.
"Perusahaan yang Pak Satria kelola selalu jauh di bawah perusahaan almarhum Pak Addhitama. Dia ingin menumbangkan perusahaan kakaknya agar kakaknya meminta bantuan kepadanya dan mau bekerja sama dengan perusahaan miliknya."
Wajah sendu ketiga anak Addhitama terlihat sangat jelas. Apa yang dikatakan oleh Restu memang benar. Demi menyelamatkan perusahaan kecil milik sang papih yang didirikan dengan penuh keringat dan air mata hingga sekarang menghasilkan perusahaan besar, dia rela menjual perusahaan yang lain kepada Radit untuk menutupi kerugian perusahaan agar terus bisa berjalan dan tidak gulung tikar.
"Perusahaan yang Papih dirikan dari nol mengalami kerugian yang bukan main besarnya hingga Papih menawarkan perusahaan lain kepada Radit." Anak ketiga Addhitama membeberkan dengan nada lirih.
"Di antara banyaknya perusahaan Papih, perusahaan ini yang memiliki banyak kenangan indah, terutama dengan Mamih. Begitulah yang selalu Papih jelasakan kepada Radit dan kedua Abang Radit. Alasan Papih untuk mempertahankan perusahaan itu karena hanya itu yang mampu membuat Papih tidak sendiri. Setiap datang ke perusahaan itu, Papih selalu merasa Mamih ada di sana." Kedua anak Addhitama yang lain menunduk dalam. Cukup lama tidak ada suara di sana.
"Tikus gotnya ternyata adik Papih sendiri." Rindra sudah menegakkan kepalanya dan mulai membuka suara dengan nada geram.
"Tua Bangka itu sudah berani merusak kabahagiaan Papih dengan sengaja dan menyebabkan dada Papih semakin sesak." Rindra masih bersuara dan kini dengan nada lebih tinggi.
"Kami semua tidak tahu karena Papih gak pernah sedikit pun membicarakan kejelekan adiknya kepada kami bertiga." Rifal pun masih menahan amarah.
__ADS_1
Sebuah rekaman video Restu tunjukkan. Para media yang datang semakin serius menatap layar putih di depannya.
"Jika, kak Tama meninggal ... sudah pasti perusahaan besar yang akan dia berikan kepadaku. Dia 'kan rasa bodoh. Selalu percaya dengan apa yang aku katakan."
Prang!
Sungguh Rindra sudah tidak tahan. Semua orang terkejut ketika tangan Rindra mampu memecahkan meja kaca yang ada di depannya. Tak dia pedulikan tangannya berdarah-darah.
"Bang!"
Kedua adiknya berteriak karena melihat kucuran darah yang begitu deras. Namun, Rindra masih terlihat menahan emosi tak terkira.
"Pria serakah itu harus menerima ganjarannya."
Rindra menjauhi kedua saudaranya juga keluarga Wiguna. Darahnya sudah menetes ke lantai dan membuat Radit maupun Rifal mengejarnya.
"Jangan pernah halangin gua!" Rindra membentak kedua adiknya ketika mereka berhasil menahan Rindra.
Awalnya Rindra menolak, Tapi Radit dan rifal terus memaksa dan pada akhirnya dia mau menuruti ucapan dari kedua adiknya tersebut untuk mengobati lukanya barulah memberi perhitungan kepada pamannya.
.
Satria yang menyepelekan Restu akhirnya mati kutu ketika peluru yang dia miliki tak memiliki fungsi apapun sekarang. Dia yang sudah siap siaga malah hancur tak tersisa. Semua keboborokannya malah Restu bongkar. Bukti yang sudah dia buang malah ada di tangan Restu sekarang. Termasuk alasan demi alasan yang disampaikan Restu sama percis dengan alasannya ketika melakukan hal itu. Tidak ada yang ditambah maupun dikurang.
"Siyal!"
Bangkai yang sudah dia kubur dalam-dalam malah terendus oleh musuhnya sendiri. Dokter yang sudah dia siapkan tidak ada gunanya. Dia kira Restu akan mengeluarkan senjatanya, yakni Ratu. Ternyata dia salah. Ratu tidak Restu naikkan, melainkan fakta tak terduga, yaitu dalang dari hampir gulung tikarnya perusahaan pertama Addhitama hingga menyebabkan Addhitama sesak nafas dan selang beberapa hari meninggal.
__ADS_1
Bukannya Addhitama tidak tahu, dia sudah berbicara kepada Satria. Namun, Satria tetap mengelak dan menyalahkan orang lain atas hampir gulung tikarnya perusahaan kesayangan Addhitama.
Pengacara Satria pun terdiam. Mereka merasa dibohongi oleh Satria. Sang klien awalnya mengadu jika dia merasa difitnah dan melihat bukti ini mereka menggelengkan kepala.
"Jelaskan, Pak Satria." Salah satu dari lima pengacara itu kini membuka suara. Satria hanya bisa terdiam.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya pengacara yang lain.
Satria benar-benar mati kutu sekarang. Otaknya mendadak buntu. Apalagi tatapan lima pengacaranya sangat mengintimidasi.
Suara pintu terbuka dengan sangat keras terdengar. Terlihat seorang pria dengan tangan yang dibalut perban datang dengan wajah garang. Matanya sudah memerah seperti kemasukan setan. Mata Satria melebar melihat kedatangan sang keponakan. Belum sempat berdiri wajah Satria sudah Rindra hajar dengan sangat keras hingga dia tersungkur.
Tidak ada yang membantunya sama sekali. Lima pengacaranya pun hanya menatap Satria dengan tatapan datar. Ditambah mereka melihat Christian CS yang baru masuk ke rumah Satria membuat nyali kelima pengacara ternama itu menunduk sopan. Christian adalah putra dari pengacara Christo yang menjadi senior mereka. Kekuatan Christian pun hampir sama dengan sang ayah. Hanya saja dia memilih menjadi lawyer di negeri Singa. Hanya orang yang memiliki dana besar yang mampu memakai jasanya.
"Dasar manusia tidak tahu diri!" Rindra masih memukul wajah Satria yang sudah bersimbah darah. "Sudah Papih tolong, tapi masih ngegigit!"
Kalfa yang baru pulang dari makam hanya terdiam melihat sang ayah dipukuli. Hati yang terlanjur sakit membuatnya mulai kehilangan rasa simpati kepada ayah angkatnya. Walaupun dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia sangat melihat kejujuran yang wanita bernama Ratu itu perlihatkan.
Dia mulai mendekat ke arah Satria. Satria menatap nanar ke arah sang putra dan berharap dia dibantu oleh Kalfa.
"Nak--"
"Apa itu sakit, Pih?"
Satria tercengang mendengar ucapan dari sang putra. Apalagi wajahnya begitu datar.
"Itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang tengah aku rasakan."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...