
Satria semakin menunduk dalam ketika Kalfa bersujud di kakinya. Apalagi kini suaranya terdengar bergetar. Satria ikut menangis tanpa suara.
“Pih, jawab pertanyaan aku, Pih. Aku mohon.”
Hanya sebuah kebenaran yang diinginkan oleh Kalfa. Dia hanya seorang anak yang tidak tahu akan kebenaran tentang dirinya sesungguhnya. Dia termakan berita yang sudah beredar hingga menyebabkan rasa percayanya mulai berkurang kepada sang ayah. Apalagi banyak orang baru yang tidak dia kenali, tapi mengenal dirinya.
Masih membeku dan membisu. Satria tidak tahu apa yang harus dia jawab. Mau mengelak pun bukti konkret sudah Restu bawa. Menantu dari keponakannya itu melakukan taktik tak banyak bicara, tapi langsung menembak tepat pada sasaran.
“Diamnya Papih aku artikan jika ini semua memang benar. Aku anak kandung Papih yang Papih bilang kepada semua orang jika aku anak angkat Papih karena Papih malu memiliki anak haram seperti aku."
Kepala Satria mulai menegak. Dia menatap Kalfa yang mulai berdiri. Putranya nampak sangat kacau. Hatinya sangat sakit melihat putra kebanggaannya bersedih seperti itu.
“Fa—“
“Makasih atas kebohongan Papih selama ini.” Tanpa menatap ke arah sang ayah Kalfa pergi begitu saja. Hatinya sangat hancur. Rasa kecewanya sangatlah besar dan sekarang dia ingin menenangkan diri. Ternyata selama ini dia berada di dalam keluarga penuh drama kebohongan.
“Jika, Papih jujur dari awal aku tidak akan sesakit dan sekecewa ini.”
Aleesa dan Rio yang berada di dalam mobil menukikkan kedua alisnya ketika melihat Kalfa keluar menggunakan motor. Aleesa dan Rio saling pandang.
__ADS_1
“Apa semuanya sudah Kalfa ketahui?” Aleesa membuka suara tanpa menoleh ke arah sang sepupu.
“Bisa jadi.”
.
Satria terus memanggil nama Kalfa, tapi sang putra tetap berjalan dan tak mengindahkan panggilannya. Sekarang tatapan Satria tertuju pada empat orang yang ada di depannya.
“Apa kalian sudah puas?”
Satria berkata dengan sedikit berteriak. Dia terlihat sangat kacau. Rambutnya sudah tak karuhan karena sedari tadi dia terus menjambak rambut kepalanya setiap kali berteriak memanggil nama Kalfa.
Restu mendengar perkataan Satria yang seperti orang teraniaya hanya berdecih kesal. Dia mulai mendekat ke arah tua bangka itu.
“Tidak akan ada kata MENGUSIK jika Anda tidak lebih dulu mengusik hidup saya.” Kalimat yang penuh dengan penekanan. Restu sudah menatap Satria dengan tatapan tajam.
“Satu hal lagi, saya hanya membeberkan fakta yang ada. Saya mempertemukan ibu dan anak yang tak pernah bertemu selama dua puluh tahun.”
“RESTU RANENDRA!!!!”
__ADS_1
Tangan Satria sudah mulai terangkat, tapi Restu mampu menghadangnya. Dia menatap paman dari papihnya dengan sangat tak bersahabat dan penuh dengan kebencian.
“Beraninya Anda menyentuh saya, sudah saya pastikan Anda tidak akan hidup dengan tenang.”
Ancaman yang tak main-main. Restu adalah manusia kejam dan tidak memiliki toleransi. Dia akan membuat perhitungan kepada orang-orang yang sudah mengusik hidupnya dan juga keluarganya.
“Anda sudah membangunkan jiwa asli saya. Jadi, jangan salahkan saya jika saya berbuat kejam kepada Anda.” Seringai kejam terukir di wajahnya.
Ratu dan Raja menggelengkan kepala melihat sikap Satria. Harusnya dia sadar akan perbuatannya bukan malah terus menyalahkan orang lain atas karma yang dia terima sekarang.
“Sungguh manusia egois.” Raja berkata dengan penuh kebencian. Ingin rasanya dia menghajar dan membalaskan dendam kepada Satria atas apa yang telah dia lakukan kepada dirinya dan adiknya, tapi gerak-geriknya mengatakan jangan.
“Jika, negara ini bukan negara hukum sudah aku bakar hidup-hidup kamu sekarang ini, SATRIA.” Raja berkata dengan emosi yang meletup.
“Baru satu peluru yang saya keluarkan, tunggu peluru selanjutnya.”
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1