RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
bab 76. Cinta Segitiga


__ADS_3

Restu mengesampingkan egonya. Dia melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan Aleesa bersama Yansen. Madam Zenith sangat bahagia ketika melihat Restu sudah bekerja kembali untuknya. Dia seperti bertemu dengan seseorang yang spesial ketika Gemke turun dari mobil bersama Restu.


"Sudah antar kekasih kamunya?" Restu meminta ijin untuk mengantar Aleesa ketika jam makan siang tiba. Dia pun mengangguk. Dia dan Gemke melanjutkan perjalanan sesuai jadwal. Banyak yang hari ini harus madam Zenith temui. Namun, Restu tak Gemke ijinkan untuk mengemudi. Dia tahu leadernya itu belum seratus persen sembuh.


Tiba di sebuah mall besar, madam Zenith bertemu dengan pemilik mall tersebut. Restu dan Gemke mengikutinya dari belakang. Banyak mata yang memandang ke arah dua pengawal madam Zenith tersebut.


"Wanita Indonesia cantik-cantik." Gemke berbisik kepada Restu. Restu hanya tersenyum tipis. Di matanya yang paling hanyalah Aleesa.


Restu tahu bahwa ada yang mengikutinya dari belakang dan mengincar lukanya yang ada di punggung sebelah kanan. Tangannya meraih ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana. Lima belas menit kemudian, dia yang berada di lantai tiga tersenyum melihat dua orang diringkus oleh pihak kepolisian.


"Jangan main-main, Jordan! Gak sabar ingin bertemu dengan tua Bangka Dajjal." Seringai jahat terukir di wajah Restu.


Dendam, itulah yang Restu miliki kepada Jordan. Petuah dari kakek Addhitama kini tidak mempan untuknya. Jordan sudah sangat keterlaluan dan kesabaran Restu pun sudah habis.


"Maafkan aku, Kek. Jika, nantinya aku akan membunuh ayah ku sendiri." Sebuah gumaman di dalam hati yang hanya dapat Restu dan Tuhan dengar.


Dua jam sudah mereka berada di mall tersebut. Sekarang, mereka pun harus pindah lagi ke restoran yang terletak di dalam sebuah hotel. Ada pertemuan dengan rekan bisnis madam Zenith. Restu dan Gemke terus mengawal madam Zenith. Sudah biasa mereka mejadi patung bernapas di belakang madam Zenith yang tengah rapat dengan para koleganya. Mereka tidak akan mengambil risiko. Mereka tidak akan pernah meninggalkan madam Zenith.


Ada seorang sekretaris cantik dan seksi terus memandangi Restu. Namun, Restu mengacuhkan. Bukannya dia tidak sadar, dia tahu akan hal itu. Dia sama sekali tidak tertarik. Hingga meeting selesai pun mata wanita itu masih tertuju pada Restu. Madam Zenith sudah bersalaman dengan koleganya dan sekretaris itu mulai berani bertanya kepada madam Zenith.


"Pengawalnya sangat tampan," tunjuknya pada Restu. Gemke sudah mengulum senyum sedangkan Restu terlihat kesal. Gemke tahu tipe wanita Restu itu seperti apa. Banyak wanita seksi dan cantik di Zurich yang mengejarnya, tapi tak dia gubris sama sekali.


"Ya, dia memang sangat tampan. Sayangnya, dia sudah memiliki istri." Madam Zenith menimpali ucapan sekretaris koleganya tersebut. Restu tertawa keras di dalam hati. "Istrinya juga seorang pengawal berdarah dingin. Jadi, hati-hati jika mau mendekati dia. Saya hanya takut nanti kamu dibunuh tanpa jejak oleh istrinya."


Rasanya tawa Gemke hampir pecah. Sungguh akting dari madam Zenith sangat bagus sekali. Wajah Restu pun seakan membenarkan dan membuat nyali sekretaris itupun menciut.


"Bagaimana akting saya?" Madam Zenith bertanya ketika di dalam mobil.


"Luar biasa, Madam." Madam Zenith pun tertawa..


"Saya tahu kamu risih dan salah juga tahu wanita itu tipe-tipe wanita yang kurang ajar. Jadi, saya bicara seperti itu."


"Makasih, Madam."


Hati madam Zenith terharu mendengarnya. Ingin rasanya dia memeluk tubuh Restu. Dia merasa ada magnet yang menariknya untuk memeluk Restu. Namun, dia tidak bisa.


Pemakaman elite itulah tujuan ketiga mereka. Restu tetap bersikap tenang walaupun dia merasakan kerinduan yang mendalam kepada sang kakek. Jalanan begitu lancar membuat perjalanan merek lebih cepat.


Restu yang hendak ikut masuk mendapat panggilan telepon dari Aleesa dan mengurungkan niatannya. Dia memilih menunggu di mobil saja. Dia melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan. Ternyata sudah empat jam berlalu.


"Iya, Lovely."


"Bie, kapan pulang?" Terdengar suara Aleesa yang begitu serak.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kamu habis nangis?" Aleesa tidak menjawab.


"Aku ingin peluk kamu, Bie." Restu hanya menghela napas kasar. Sepertinya ada yang tidak beres.


"Aku sedang berada di pemakaman tempat ayahnya madam di kebumikan. Setelah ini kembali ke hotel di mana Madam bermalam dan lanjut ke rumah Om Aksa."


"Aku tunggu kamu pulang, Bie."


"Iya, Lovely. Udah ya, jangan nangis." Restu mencoba untuk setenang mungkin walaupun dia penasaran dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya itu.


Setelah sambungan telepon berakhir, Restu melihat semua video yang dikirimkan oleh anak buahnya. Dia mendengarkan setiap kata demi kata yang terucap dari mereka berdua.


"Sa, aku masih mencintai kamu. Aku menyayangi kamu, dan aku pun sudah tidak memakai cincin pertunangan aku." Wajah Yansen sudah sangat kacau. "Biarkanlah aku tetap menjadi pacar kamu. Tak masalah jika aku menjadi selingkuhan kamu sekarang ini. Aku ingin seperti Kak Restu, cuma selingkuhan, tapi dicintai sungguhan."


Urat-urat kemarahan muncul di wajah Restu ketika mendengar ucapan dari Yansen. Sungguh hatinya emosi.


"Kenapa masih ngeyel sih?" Dia mulai geram.


"Maaf, Sen." Aleesa sudah menurunkan rangkulan Yansen di lengannya. Itu membuat Yansen menatap Aleesa bingung.


"Kak Restu awalnya memang selingkuhan aku, tapi sekarang dia sudah menjadi tunangan aku. Kenapa? Karena aku tidak menyadari akan rasa yang aku miliki kepadanya. Rasa yang ternyata rasa cinta dan sayang."


Ada bibir yang melengkung di sana. Ada hati yang berbunga mendengarnya.


"Maaf, bukannya membandingkan. Namun, itulah kenyataannya." Yansen masih diam dengan segala rasa sakit yang bersarang di dada.


"Kamu tahu tidak, selama dua tahun kita menjalin hubungan selama itu rasa bersalah menghantui diriku. Setiap kali kita jalan berdua Aku merasa seperti anak yang durhaka kepada kedua orang tuaku. Aku sudah menghianati mereka." Alyssa berkata dengan jujur. "Itu beban yang selama dua tahun aku pikul dan pendam sendirian karena aku yakin hubungan kita ke depannya akan menemukan titik terang. Pada nyatanya, tidak seperti itu. Satu per satu cobaan datang. Orang terdekat dari kita mulai mengatakan ketidaksetujuannya kepada hubungan kita. Lalu, jika sudah begitu kita bisa apa?" Yansen tidak menjawab Dia pun merasakan hal yang sama.


"Jika, masalahnya terletak pada harta, kita masih bisa mencari solusinya. Namun, ini sebuah agama. Agama yang berbeda yang kita yakini. Pondasi awal dalam sebuah hubungan." Aleesa bicara apa adanya.


Yansen pun terdiam. Apa yang dikatakan oleh Aleesa memang benar. Dia tidak akan meninggalkan keyakinannya, begitu juga dengan Aleesa. Jika, nekat pun pasti akan sulit untuk ke depannya.


"Kita dipertemukan bukan untuk dipersatukan. Kita saling menyayangi bukan untuk saling memiliki. hanya sebatas saling mengasihi Antara teman dan teman. Itulah yang sudah Tuhan takdirkan."


Yansen tidak bisa menyanggah apapun. Mulutnya terasa kelu. Semua yang dikatakan oleh Aleesa memang benar adanya. Faktanya memang seperti itu. Dia tidak mungkin melawan takdir dia hanya akan menjalankan apa yang sudah Tuhan tuliskan.


"Sekarang, kamu sudah dengan wanita pilihan keluarga kamu yang seiman dengan kamu. Juga aku, dengan seseorang yang aku pilih dan aku yakin bisa menjadi imamku," papar Aleesa.


Suasana mendadak hening. Yansen dan Aleesa hanya menatap lurus ke depan. sudah tidak ada lagi ungkapan yang ingin Aleesa katakan. Semuanya sudah dia ungkapkan.


"Kita berada di cinta segitiga." Yansen menatap bingung ke arah Aleesa. Cinta segitiga? Apa maksudnya? Dia hanya bertanya di dalam hati.


"Cinta yang pelakonnya adalah aku, kamu dan juga sang maha pencipta. Kita berada dalam iman yang berbeda, tapi dengan amin yang sama." Hati sempurna Yansen pun melemah seketika mendengarnya.

__ADS_1


"Jangan pernah memaksa apa yang tidak Tuhan berikan. Biarlah hubungan kita menjadi sebuah pelajaran untuk terus saling menyayangi walaupun tidak bisa memiliki." Mereka berdua pun saling pandang.


"Apakah bisa seorang mantan kembali menjadi teman?" Kini, Yansen menatap ke arah Aleesa, dan manik mereka berdua pun terkunci. Aleesa yang hendak menjawab dipotong oleh seseorang.


"Kenapa kamu masih bersikukuh memperjuangkan wanita yang jelas-jelas sudah bermain di belakang kamu?" Suara pun menggema. Seisi kafe tersebut kini melihat ke arah meja Yansen dan Aleesa di mana seorang pria berjalan ke arah tempat mereka.


"Padahal, jelas-jelas ada seorang perempuan yang selalu setia menunggu kamu dan mencintai kamu. Perempuan yang seiman dengan kamu. Kenapa masih mengharapakan kasih tak sampai kamu itu?"


Aleesa menghela napas kasar. Ternyata penerorannya belum berakhir. Kini, datang lagi seorang pria yang tidak dia kenal.


"Anak baik seperti kamu, pasti berjodoh dengan anak baik juga, seperti putri saya." Aleesa baru mengerti, ternyata pria itu adalah ayah dari Nathalie.


"Seorang peselingkuh macam perempuan yang kami cintai itu sudah pasti akan mendapat jodoh yang sepadan untuknya, yakni seorang PEMBUNUH."


Mata Aleesa melebar mendengarnya. Dia yang sedari tadi santai kini mulai menatap ke arah pria yang sudah berada di samping Yansen. Dia tidak pernah merasa menyenggol seseorang, tetapi kenapa orang lain senang sekali menyenggol dirinya. Untuk kali ini dia tidak akan tinggal diam.


"Maaf, Tuan. Saya yakin Anda memiliki pendidikan yang tinggi, tapi kenapa cara bicara Anda seperti orang yang tidak pernah memakan bangku sekolahan?" Sindiran keras yang Aleesa berikan kepada ayah dari Nathalie tersebut. tatapan Aleesa pun terlihat sangat tajam.


"Jaga cara bicara kamu anak kecil!" Michael Hartanto sudah mulai murka. "Bukankah memang benar apa yang saya katakan? Kekasih kamu hanyalah anak pungut dan hanya orang bodoh yang mau memungut seorang pembunuh."


Ya Tuhan, ingin rasanya Aleesa mencekik pria tua itu. Aleesa sudah menahan amarahnya. Begitu juga dengan Restu yang sudah mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih mendengar ucapan dari Michael Hartanto.


"Cari mati," geram Restu.


"Terima kasih atas hinaan yang Anda berikan kepada keluarga saya. Orang pandai tidak akan pernah memaksakan kehendaknya dan merebut kebahagiaan orang lain." Pandai sekali Aleesa membalas perkataan dari Michael Hartanto.


Yansen melihat Aleesa kini sudah banyak berubah. Dia mampu menimpali apa yang dikatakan oleh Michael Hartanto. Biasanya Alisa hanya akan diam dan tidak akan pernah menjawab sekalipun dia kesal.


"Aku rasa cukup ya, Sen. Hubungan kita sampai di sini saja dan semoga kamu bahagia dengan wanita pilihan keluarga kamu." Yansen tidak bisa menjawab, tapi Alisa masih bisa tersenyum ke arahnya. dia pun meninggalkan Jansen dan juga seorang pria tua di sana. Namun, perkataan tajam Michael Hartanto membuat Aleesa menghentikan langkahnya


"Sepertinya jika hubungan kamu dan si pembunuh itu di UP ke media pasti akan booming dan akan menghancurkan saham AdT. corp." Aleesa segera berbalik arah menatap tajam kembali Michael Hartanto yang tengah tersenyum mengejek kepadanya.


Aleesa yang hendak marah pun terhenti ketika ayah dari Nathalie menunjukkan saham keluarga ayahnya yang anjlok. Aleesa segera mencari ponselnya dan menghubungi sang ayah. Sedangkan Michael Hartanto sudah tertawa terbahak-bahak.


"Kamu di mana? Pulang sekarang, ya." Begitulah yang dikatakan Radit.


Keterkejutan pun bukan hanya dirasakan oleh Aleesa. Restu pun sangat shock. Dia segera menghubungi sang papih.


"Jangan khawatir. Kamu fokus saja pada pekerjaan kamu. Pulanglah tanpa terluka."


Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia sangat yakin jika ini yang membuat Aleesa menangis. pikiran jelek sudah bersarang di kepala Restu. Menghubungi Rio pun tidak bisa dia lakukan. Begitu juga dengan sang mamih.


"Jangan bangunkan harimau yang sedang tidur."

__ADS_1


__ADS_2