
Nesha nampak cemas dengan sang putra. Sedangkan suaminya terlihat biasa saja. Tidak ada tindakan seperti biasanya. Sekarang, Rindra malah asyik bersantai dengan ditemani rokok dan juga bir.
"Pih."
Suara Nesha membuat Rindra menggerus puntung rokok yang masih menyala dan juga panjang. Baru saja sedikit dia menghisap rokok tersebut.
"Ada apa, Mih?" Kecemasan Nesha nampak terlihat dengan sangat jelas.
"Bagaimana dengan Restu?" Nada khawatir terdengar. "Kenapa Papih diam saja?"
Rindra menatap lamat sang istri. Dia menggenggam tangan istrinya agar tenang.
"Restu bukan orang bodoh." Kalimat itu yang keluar dari mulut Rindra.
"Lalu, kenapa tidak mengambil tindakan?" sergah Nesha. "Ini sudah masuk ke berita internasional, Pih.". Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban dari Rindra.
"Pih," rengek Nesha.
"Papih juga gak tahu apa yang sedang Restu rencanakan. Namun, Papih yakin jika rencana dia pasti akan berhasil."
Kalimat dari Rindra sama sekali tak membuat tenang hati Nesha. Dia malah semakin mengkhawatirkan sang putra. Sudah pasti anak dan menantunya merasa terganggu. Berkali-kali Nesha menghubungi Restu, tapi sama sekali tak Restu jawab.
Bukan hanya Nesha yang cemas, Riana pun merasakan hal yang sama. Ditambah sang kakak seakan tidak membuka suara perihal masalah ini. Riana ingin bertanya, tapi dia tidak berani.
"Dad, bagaimana dengan kasus Restu?" Riana sudah duduk di pangkuan sang suami yang sedang duduk di kursi kerja.
"Masih seperti itu," jelasnya.
Aksa tak banyak menjawab karena Restu tak menghubunginya sama sekali untuk meminta bantuannya.
"Apa Daddy akan diam saja?" Aksa menatap lekat wajah Riana. Lalu, senyum pun mengembang.
"Maunya sih enggak, tapi tuh anak kayaknya punya ide brilliant makanya gak hubungi Daddy."
Di kediaman Raditya Addhitama pun masih sangat tenang walaupun di luar banyak paparazi yang mengintai. Baik Radit maupun Echa tak membahas apapun ketika berada di meja makan. Khairan sudah ingin membuka suara, tapi dilirik dengan kode oleh Aleena hingga dia membungkam mulutnya.
Aleeya yang ditugaskan menjadi mata-mata sedikit kebingungan ketika tidak ada obrolan apapun. Dia sesekali menatap Restu yang masih terlihat santai. Tanpa Aleeya sadari Restu memperhatikan gerak-gerik Aleeya.
Sedangkan Aleesa, dia sama sekali tidak nafsu makan. Restu mencoba untuk menyuapinya pun tak berhasil.
"Aku gak lapar."
Kalimat itu membuat semua orang menatap sedih ke arah Aleesa. Mereka takut jika sakit Aleesa kambuh lagi. Aleeya pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, dia terus ditanya oleh Kalfa tentang reaksi Restu dan juga Aleesa hingga dia mengatakan yang sejujurnya.
__ADS_1
.
Setelah makan malam, Aleena berdiri di depan jendela kamar. Dia melihat banyak paparazi yang masih bertahan di sana. Dia mulai membuka berita online lagi dan dia hanya menghela napas kasar karena berita semakin menjadi.
"Inilah yang membuatku malas untuk datang ke Jakarta," keluhnya.
Aleena tidak banyak bicara. Banyak hal yang ditanyakan Khairan, tapi tak pernah Aleena jawab secara gamblang. Kini, dia berdiri dan keluar dari kamar menuju kamar Aleesa.
Diketuknya pintu kamar pengantin baru itu hingga Restu membuka pintu kamar tersebut. Aleena tersenyum dengan terpaksa.
"Aku ingin bertemu Sasa, Kak." Restu membuka lebar pintu kamarnya.
Aleena melihat Aleesa sedang terduduk di atas tempat tidur dengan bersandar di kepala ranjang.
"Kakak Na." Aleena tersenyum.
"Kalau begitu aku tinggal, ya." Restu berucap kepada Aleesa, tapi Aleena menggelengkan kepala.
"Kakak di sini saja. Aku juga mau bicara sama Kak Restu."
Dahi Restu mengkerut mendengarta. Dia menatap ke.adag sang istri yang menggelengkan kepala pelan.
"Maafkan aku, ya."
"Karena aku, kamu dan Kak Restu seperti ini," tuturnya.
"Ini bukan salah kamu, Aleena." Tegas dan jelas ucapan dari Restu. "Mereka saja yang senang mencari masalah."
Aleena tidak menyangka jika Restu akan berkata sebijak itu. Sikap yang Aleena tidak tahu dan pantas saja adiknya jatuh cinta kepada sosok mantan bodyguard tersebut.
"Kakak jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku dan Kak Restu tidak menyalahkan Kakak Na perihal ini semua." Aleesa berkata dengan sangat tulus.
"Apa Kak Restu akan diam saja?" Pertanyaan yang sama seperti Aleesa lontarkan. Restu hanya tersenyum sebagai jawabannya.
"Pokoknya kalian jangan khawatir."
Keesokan paginya, berita sudah banyak yang ditambahkan. Masa lalu Restu sudah diungkit lagi. Rindra sudah naik pitam. Dia hendak ke rumah sang putra pun mengurungkan niatnya karena pasti dijegat oleh paparazi.
"Iya, Pih."
Akhirnya, Restu menjawab telepon dari Rindra.
"Kamu sudah melihat berita terbaru?" Restu menatap ke arah sang istri yang kini berada di pelukannya.
__ADS_1
"Iya."
"Kamu akan diam saja?" Suara Rindra sudah meninggi.
"Aku, Aleesa dan Rio siang ini akan bertolak ke Zurich." Syok sekali Rindra mendengarnya.
"Kamu mau kabur?" Restu hanya tertawa.
"Papih jangan khawatir dan kalian semua jangan khawatir." Sebuah jawaban yang sama sekali tak membuat Rindra tenang.
Banyak sekali pesan yang masuk ke ponsel Restu. Radit pun sebagai mertuanya tidak tahu perihal rencana Restu. Radit tahu Restu sedang menjaga rahasia karena memang di dalam rumah itu ada mata-mata. Berbicara kepada Aleeya di saat seperti ini seperti berbicara dengan tembok.
Ketika sarapan, Restu mengungkapkan jika dia dan Aleesa akan pergi ke Zurich siang ini. Sontak mereka terkejut begitu juga dengan Aleeya.
"Kalian mau menghindar?" Aleeya yang pertama kali membuka suara.
Restu tersenyum mendengar keterkejutan Aleeya. Mulutnya sudah gatal ingin menimpali ucapan dari adik iparnya itu. Namun, masih bisa dia tahan.
"Aleeya!" bentak sang ayah. Ucapan Aleeya seakan merendahkan Restu. Aleesa pun hanya menatapnya tajam.
"Yaya hanya bertanya, Ba."
"Laporkan saja kepada orang yang menyuruh kamu untuk jadi mata-mata." Sindiran keras yang keluar dari mulut Restu. Aleeya membeku.
"Kapan ya keluarga kita kompak lagi? Memasang badan satu sama lain, bukan malah jadi duri dalam daging begini." Kini, Aleesa yang sudah membuka suara.
"Lama-lama begini mah mending kita tinggal di negara orang, Bie." Aleesa suda menatap Restu. Terlihat wajahnya yang lelah.
"Kita sepemikiran, Sa," sahut Aleena. "Tinggal di rumah sendiri sekarang ini terasa tidak nyaman."
Aleena yang biasa diam kini membuka suara. Dia sudah berada di titik terlelahnya hingga dia membuka suara seperti itu.
"Jangan begitu," lirih sang ibu. Matanya sudah nanar. "Bubu tidak ingin ditinggalakan kalian."
Aleesa dan Aleena segera memeluk tubuh Echa. Beda halnya dengan Aleeya yang hanya diam saja. Khai menendang kaki Aleeya dari bawah meja agar Aleeya mengikuti dua saudaranya.
Restu mengecek ponselnya ketika Aleeya lengah. Dia pun tersenyum mendapat laporan dari sana-sini.
"Kalian boleh tertawa sekarang, tapi tidak untuk beberapa jam ke depan."
...***To.be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1