
Sudah dua puluh empat jam Aleesa tidak mendapat kabar dari sang kekasih. Dia menggerutu sendiri dan juga kesal sendiri.
"Kalau kamu telepon gak akan pernah aku angkat," omelnya. Aleesa membalikkan ponselnya dan meletakkannya di samping bantal.
Rasa rindu kalah dengan rasa kantuk. Itulah yang dirasakan oleh Aleesa. Dia terlelap dengan begitu damainya sambil memeluk guling. Tidurnya malam ini terasa sangat nyenyak. Dia merasa dipeluk dan dikecup manja oleh kekasihnya. Namun, dia tahu itu hanya mimpi belaka. Ketika dia bangun pagi pun tidak ada siapa-siapa di sana. Aleesa segera meraih ponselnya, tetap masih sepi seperti sedia kala.
Aleesa langsung mengecek pesan singkat. Tidak ada perubahan. Wajahnya langsung ditekuk. Gerutuan pun terlontar.
"Tugas ke mana sih? Ke kutub Utara apa Pluto?" Aleesa benar-benar geram dibuatnya.
"Awas aja kalau telepon. Gak akan gua angkat." Dia mengomeli foto Restu yang ada di galeri ponselnya.
Aleesa bergegas mandi karena hari ini dia sudah mulai masuk kuliah. Padahal rasa rindunya sudah tak terkira, tapi yang dirindukan malah tak ada kabar sama sekali.
"Apa kamu baik-baik saja?" Aleesa bertanya kepada dirinya sendiri di depan cermin. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aleesa.
Kedua orang tua Aleesa terkejut ketika anaknya sudah rapi. Sudah membawa tas pula.
"Bukannya baru besok masuknya?" Sang ibu sudah angkat bicara.
"Kemala dan Raina memaksa Sasa untuk masuk hari ini. Katanya ada seminar akbar di kampus." Radit dan Echa hanya mengangguk.
Sebenarnya Aleesa sedikit ragu untuk ke kampus. Dia belum siap bertemu Yansen. Namun, dia harus menghadapi itu semua. Dia juga tidak ingin bermusuhan dengan Yansen. Dia sangat yakin jika Yansen hanya tengah emosi. Maka dari itu, dia melakukan hal yang tidak pantas kemarin. Perihal Aritmia yang kambuh, memang kondisi Aleesa sendiri belum pulih.
"Baba kasih satu pengawalan, ya."
"Buat apa sih, Ba? Sasa cuma ke kampus doang. Suruh jemput aja nanti pas Sasa pulang.'
"Beneran gak apa-apa?" Aleesa mengangguk.
"Ya udah."
Aleesa memang tidak ingin diperlakukan seperti itu. Dia hanya ingin menjadi anak pada umumnya. Tidak mendapat fasilitas berlebihan.
.
Tibanya di kampus, Aleesa disambut hangat oleh Kemala dan juga Raina. Mereka berpelukan bak teletubbies.
__ADS_1
"Kebiasaan! Kalau pergi gak bilang." Aleesa hanya tertawa.
"Oleh-olehnya mana?" Raina sudah memalak Aleesa.
"Gua traktir di kantin aja, ya." Kedua sahabat Aleesa pun hanya berdecih. Namun, mereka tidak menolak rejeki.
Tibanya di kantin, langkah Aleesa terhenti ketika melihat Yansen tengah bersama Nathalie. Kemala dan Raina saling tatap.
"Sa, inilah yang mau gua kasih tahu sama lu," ujar Kemala dengan nada yang tidak tega.
"Gua udah tahu." Kemala dan Raina saling pandang lagu. Mereka berdua pun kompak menoleh kepada Aleesa.
"Lu baik-baik aja 'kan?" Raina mulai khawatir.
"Gua gak apa-apa kok. Makasih udah care sama gua." Aleesa merasa terharu.
"Itulah tugas sebagi sahabat." Aleesa tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
Nathalie yang melihat Aleesa semakin memanas-manasi Aleesa. Dia bermanja dengan Yansen dan Aleesa hanya tersenyum tipis. Kekuatannya kini terletak pada cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Bie, aku rindu. Aku sedang tidak baik-baik saja."
"Udahlah, Sa. Jangan dilihatin mereka mah. Cuma manas-manasin hati, yang ada entar lu kena penyakit kuning." Candaan receh Raina yang membuat Aleesa dan Kemala tertawa. Mendengar suara yang tak asing, Yansen pun menoleh dan seketika pandangan mereka berdua bertemu.
Aleesa melihat jelas betapa menyedihkannya wajah Yansen. Dia kasihan, tapi dia juga harus tegas pada perasaannya. Aleesa hanya tersenyum kecil, dan kembali berbincang dengan dua sahabatnya.
"Kenapa harus ada rasa jika pada akhirnya tak bisa bersama."
Yansen masih menatap Aleesa walaupun sedari tadi Nathalie melarangnya. Namun, hati Yansen sakit ketika melihat cincin putih yang terpasang di jari manis Aleesa. Ingin rasanya dia mencopot cincin tersebut dan melemparnya jauh ke Pluto.
Tengah asyik berbincang, tiba-tiba ada kegaduhan di area dalam kampus. Semua mahasiswi berkerumun bagai semut. Aleesa yang memang tidak suka kerumunan dan keramaian asyik saja duduk di kantin. Beda halnya dengan Kemala dan Raina.
"Ya Tuhan, bodyguard-nya kenapa ganteng banget."
"Mau dong Eneng dikawal Abang."
Aleesa hanya menggelengkan kepala ketika mendengar ucapan-ucapan lenjeh para mahasiswi. Hingga Kemala dan Raina menghampiri Aleesa dan menarik tangannya. Mereka menunjukkan seorang bodyguard tampan dengan wajah bule kepada Aleesa.
__ADS_1
"Ganteng gak, Sa?" Kemala sudah seperti cacing kepanasan. Sedangkan mata Aleesa sudah memicing dan mengingat-ingat wajah pengawal itu
"Apa mungkin?" batinnya.
Aleesa segera mencari ponselnya. Tetap saja pesannya hanya ceklis satu. Dia segera mengirim pesan kepada Rio. Dia sangat yakin bahwa pengawal itu pernah dia lihat ketika di Zurich.
"Dia gak ngasih kabar apapun ke Kak Iyo."
Membaca pesan tersebut membuat Aleesa menghembuskan napas kasar. Apa memang dia salah lihat.
Seminar akbar pun dimulai. Aleesa, Kemala, Raina duduk bersebelahan. Sedangkan Yansen dan Nathalie duduk tak jauh dari tiga wanita itu. Aleesa tahu Yansen sedari tadi memperhatikannya. Namun, dia selalu acuh.
Hingga pembicara sesungguhnya di seminar akbar hadir dan semua orang bertepuk tangan ketika wanita yang masih terlihat muda dan anggun mulai menyapa. Sedangkan Aleesa tercengang dibuatnya. Matanya kini mulai mencari-cari seseorang.
"Lu kenapa?" tanya Kemala. Aleesa menggeleng, dan dia memutuskan untuk keluar dari ruang seminar dengan alasan hendak ke toilet.
Lagi dan lagi Aleesa mengecek ponselnya. Namun, tidak ada pesan dari siapapun. Pesan yang dia kirimkan kepada Restu pun masih centang satu.
"Gak mungkin cuma dikawal satu orang." Aleesa berpapasan dengan pengawal si pengisi seminar dan mereka saling pandang. Ingin rasanya dia bertanya kepada pengawal tersebut, tapi mulutnya kelu.
Aleesa memutuskan untuk mencarinya lagi di luar. Namun, dia tidak menemukan siapapun. Hingga pada akhirnya menghentikan langkahnya di parkiran yang cukup sepi. Dia menghela napas kasar.
Tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang dan membuat Aleesa sangat terkejut. Pembekap itupun membawa tubuh Aleesa masuk ke dalam mobil. Sekuat tenaga Aleesa ingin berteriak, tetapi tak bisa. Ketika tubuhnya terhempas ke atas jok mobil bagian penumpang, seseorang memakai topi hitam, berjaket hitam juga menggunakan masker ikut masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu mobil. Tubuh Aleesa sudah bergetar. Namun, ketika masker itu dibuka ...
Tatapan penuh rindu yang pria itu tunjukkan. Namun, Aleesa malah memukul dada pria itu dengan tak terkendali. Pria itu masih terdiam membiarkan wanita di depannya memukulnya dengan puas.
"Kamu ja--"
Sebuah sergapan di bibir membuat Aleesa terkejut. Awalanya matanya melebar, tapi beberapa detik kemudian dia memejamkan mata dan menikmati sesapan penuh kerinduan yang Restu berikan.
"Aku sangat merindukan kamu, Lovely."
Restu berkata setelah melepaskan pagutan tersebut. Namun, kini dia kembali menyesap bibir yang menjadi candu untuknya lebih dalam lagi.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...