RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
227. Es Krim


__ADS_3

Ketika pagi menjelang, dia memegang sebuah benda mirip thermometer. Dia terdiam dengan pikiran berkelana ke sana ke mari.


"Apa iya?"


Dia teringat akan ucapan sang mamih mertua dengan wajah sumringah.


"Mamih harap itu benar."


Aleesa menghela napas kasar. Dia mencuci wajahnya terlebih dahulu, barulah menampung urinnya untuk dites benar atau tidak.


Suara ponsel berdering membuat Aleesa yang baru selesai mencuci wajah segera keluar. Dia tersenyum ketika melihat sang suami menghubunginya.


"Semalam ke mana?"


Wajah Restu terlihat sedikit marah, dan Aleesa mencoba untuk tersenyum disela wajahnya yang pucat.


"Udah tidur, Bie."


"Jangan bohongi aku, Lovely." Nada bicara Restu sudah terdengar sangat geram.


"Beneran."


Restu menghela napas kasar. Dia menatap dalam wajah sang istri.


"Aku gak bisa tidur karena terus memikirkan kamu," papar Restu. Tidak ada kebohongan yang Restu berikan.


"Maaf, Bie."


Jawaban yang penuh. dengan sesal. Cukup lama mereka saling pandang hingga Aleesa mulai membuka suara.


"Bie, semalam aku bertemu dengan Yansen." Suara Aleesa terdengar lirih. Dia menahan laju air matanya.


"Menangislah, jika itu membuat hati kamu lebih tenang."


Restu menatap istrinya dengan begitu pilu. Dia merasa bersalah karena tidak bisa memeluk tubuh Aleesa ketika Aleesa sedih seperti ini.


"Aku bertemu dia di pantai. Dia tersenyum ... wajahnya begitu cerah."


Aleesa mencoba untuk tersenyum, padahal hatinya sedih tak terkira. Bulir bening pun sudah tak kuasa dia tahan.


Mimpi ....


Di pinggir pantai, Aleesa tengah berjalan seorang diri. Dia menyusuri pantai mengenakan dress berwarna baby pink. Menikmati kakinya diterjang ombak kecil hingga dia mendengar ada suara yang memanggilnya. Ketika dia menoleh seorang pria jangkung melambaikan tangan kepadanya dengan senyum yang begitu lebar hingga matanya menyipit tak terlihat.


"My Sasa!"


Dia berteriak dan berlari menuju ke arah Aleesa yang tengah mematung. Memeluk tubuh Aleesa yang hanya membeku di sana.


"Aku sangat merindukan kamu."


Tes.


Aleesa sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Yansen. Dia masih sadar jika Yansen sudah tidak ada. Dia sangat mengingat itu.


Dua bulan lebih dia berharap untuk bisa bertemu dengan arwah Yansen. Barulah sekarang dia dipertemukan dengan mantan kekasihnya itu.


"Harusnya aku yang mengatakan itu. Aku sangat merindukan kamu."


"Aku sangat bahagia karena kamu sudah bahagia dengan pria yang mampu membahagiakan kamu. Aku ikut senang ketika tawa terus mengembang di wajah kamu. Aku sangat bahagia, Sa."


Tulus dan ikhlas perkataan dari Yansen untuk Aleesa hingga pria itu mengendurkan pelukannya dan menatap Aleesa begitu dalam. Tanganya mulai mengusap air mata yang sudah membasahi wajah Aleesa.


"Jangan menangis. Aku tidak suka kamu seperti ini."


Aleesa mencoba untuk tersenyum dan mengangguk pelan, tapi air mata tetap tak bisa tertahan.


"Maaf, jika aku lancang memeluk istri orang." Aleesa malah tertawa dan tawa itu membuat Yansen terdiam untuk sesaat.


"Tawa kamu tidak berubah. Tetap sama seperti tawa My Sasa yang aku kenal."


Aleesa seperti tengah melepas rindu. Dia menatap dalam wajah Yansen yang sangat tampan. Wajahnya begitu bersinar.


"Kenapa kamu baru datang?" Aleesa sudah membuka suara. Yansen yang melihat ke arah ombak di tepi pantai hanya tersenyum kecil.


"Karena ini adalah waktu yang tepat." Jawaban yang membuat Aleesa mendengkus kesal.


"Sen--"


Yansen menatap ke arah Aleesa. Dia meraih tangan Aleesa dan memberikan sesuatu ke telapak tangannya.


"Jaga ini."


Aleesa melihat ke arah telapak tangannya. Sebuah kerang yang Yansen berikan. Dia tidak mengerti.


"Jaga kerang ini baik-baik. Aku sangat yakin, kerang ini akan membuat hidup kamu lebih bahagia. Bukan hanya kamu, tapi keluarga besar kamu dan suami kamu akan bahagia."


Aleesa masih belum bisa mengerti. Dia masih menatap ke arah Yansen dengan penuh tanya.


"Aku berhutang banyak Budi kepada keluarga kamu, Sa. Semoga pemberianku ini bisa membuat mereka bahagia."


Yansen sudah mulai bangkit. Dia masih melengkungkan senyum. Menatap wajah Aleesa sejenak dan dia pamit pergi.


"Kamu memang cinta pertama dan terakhir aku. Kamu adalah wanita yang aku sayang hingga akhir hayat aku. Aku masih mencintai kamu, My Sasa. Akan selalu mencintai kamu walaupun kamu sudah tak memiliki cinta untuk aku."


"Sen--"


"Aku pergi, ya. Jaga diri kamu baik-baik dan jaga pemberian aku dengan penuh cinta. Bahagia selalu, Sa."


Yansen berjalan menuju air pantai dan tubuh Aleesa seketika tak bisa digerakkan. Dia melihat Yansen terus berjalan mengarungi air laut hingga tubuhnya tenggelam dan tak terlihat.

__ADS_1


"Sensen!"


Mimpi Off.


Tangis Aleesa pecah dan Restu hanya bisa menghela napas kasar. Semenjak kepergian Yansen, Restu sadar jika posisi Yansen tidak akan bisa tergantikan. Yansen memiliki tempat tersendiri di hati Aleesa.


"Aku yakin Yansen memberikan sesuatu yang baik kepada kita."


Aleesa sedikit terkejut ketika mendengar Restu menyebut nama Yansen. Biasanya suaminya itu anti sekali menyebut nama mantan kekasih Aleesa.


"Bie, kamu enggak marah?"


Restu menggeleng. Dia malah menunjukkan senyum yang begitu manis dan juga tulus.


"Kenapa harus marah? Orangnya juga udah gak ada."


Aleesa pun tersenyum. Dia menatap dalam wajah suaminya.


"Aku beruntung memiliki suami kamu. Aku sangat beruntung dipersunting oleh kamu, lelaki yang penuh tanggung jawab dan juga pengertian."


"Jangan buat aku gak betah di sini, Lovely." Aleesa Malah tertawa keras.


"Cepat pulang, Bie. Aku pengen dipeluk kamu."


Restu malah mengerang kesal dan itu membuat Aleesa tertawa kencang untuk kedua kalinya.


"Jangan buat aku frustasi, Lovely."


Aleesa senang sekali mengganggu sang suami. Jika, suaminya merajuk itu bagai hiburan untuknya.


"Jangan frustasi, Bie. Selesaikan pekerjaan kamu di sana, terus kembali dengan selamat dan bisa peluk aku."


Restu malah menatap manik mata indah Aleesa. Dia tersenyum dan mengangguk pelan.


"Aku janji aku akan pulang dengan selamat dan akan memeluk kamu."


"Aku tunggu, Bie." Restu pun mengangguk.


Hari ini Aleesa dilarang oleh sang ibu untuk kuliah. Echa tidak ingin Aleesa tumbang di kampus lagi. Ditambah kondisi Aleesa masih sama seperti kemarin.


""Pokoknya nurut sama Bubu."


"Iya, Bu."


Baik Echa maupun Radit melupakan sesuatu yang mereka berikan semalam kepada Aleesa. Sama halnya dengan Aleesa yang sama sekali tidak ingat dengan benda itu.


Kepalanya yang berat dan perutnya yang tidak bersahabaT membuat Aleesa sama sekali tidak beranjak dari tempat tidur. Jika, ada sang ibu dia akan pura-pura membaik karena dia tidak ingin membuat orang yang ada di rumah itu khawatir.


"Mau makan apa?" tanya Echa yang sudah memeriksa sang putri dengan menempelkan punggung tangannya ke kening Aleesa.


"Sasa ingin makan buah aja, Bu."


"Makan dulu, Sa. Perut kamu jangan sampai kosong banget."


Aleesa menggeleng. Dia terus memohon kepada sang ibu hingga akhirnya Echa menuruti keinginan sang putri.


.


Restu yang tak sengaja membuka status pesan singkat sang ibu sedikit menukikkan kedua alisnya ketika membaca statusnya.


Semoga menjadi kabar baik untuk keluarga besar dan rumah ini tidak sepi lagi.


Anak angkat Rindra itu sedikit bingung. Pasalnya sang ibu berbicara itu jika bersama dia. Nesha selalu meminta dibuatkan cucu sebanyak mungkin agar rumah yang dia huni tidak sepi seperti kuburan.


Restu ingin membalas pesan dari sang ibu, tapi rapat penting sudah harus dia lakukan. Dia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Setelah rapat Restu mendapat kabar dari Apang. Dahinya mengkerut ketika membaca pesan yang anak ABG itu kirim.


"Ahjussi, Sasa pengen es krim lagi. Boleh gak?"


"Kemarin Apang beliin es krim yang Sasa mau, eh dia malah sakit perut karena ngabisin lebih dari lima macam es krim."


Restu berpikir keras. Dia merasa ada yang aneh dari sang istri. ALeesa memang suka es krim, tapi tidak serakus itu. Jari Restu pun mengetikkan sesuatu.


"Beliin aja, tapi jangan banyak-banyak."


Restu juga mengetikkan sesuatu lagi.


"Kalau kenapa-kenapa dengan istri Ahjussi langsung kabarin."


Apang menjawab dengan iya. Restu menghela napas kasar. Dia cemas takut terjadi sesuatu kepada Aleesa ketika dia tidak ada di sampingnya.


.


"Tapi, jangan banyak-banyak, ya." Apang mengingatkan.


"Kayak kemarin." Apang menggeleng. Jari telunjuk pun dia goyangkan.


"No, no, no."


Aleesa malah memanyunkan bibirnya dan mulai mengancam Apang. Namun, Apang tak gentar.


"Kata Ahjussi boleh, tapi jangan banyak-banyak." Sebagai bukti dia memperlihatkan isi chatnya dengan suami sang kakak sepupu.


"Ih! Kenapa ngadu sih." Aleesa mulai kesal.


"Bukannya Apang pengaduan, tapi 'kan Sasa lagi Apang jagain. Jadi, Apang berhak memberitahu Ahjussi karena bos Apang Ahjussi bukan Sasa,"


Apang adalah anak yang sangat pandai. Dia mampu menimpali ucapan dari sang sepupu.

__ADS_1


"Kalau Sasa mau es krim sini Apang beliin, tapi sedikit aja. Kalau gak mau Apang mau pulang." Anak itupun sudah pandai mengancam hingga membuat Aleesa mati kutu.


"Ya udah beliin es krim yang di cup gede dua."


Apang malah berdecak kesal. Dia menatap dalam kakak sepupunya. Dia sudah melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sama aja atuh kalau begitu mah." Apang mulai mengomeli Aleesa.


"Kalau mau beli di cup besar cukup satu." Ketegasan mulai terlihat di wajah san tutur kata Apang. Walaupun anak itu terkadang meneyebalkan, tapi dia bisa diandalkan.


"Ya udah, iya." Aleesa mulai pasrah. Apang pun mulai tersenyum.


Setelah Apang pergi, ALeesa malah menghubungi adik sepupunya yang lain. Gavin Agha Wiguna mendengkus kesal ketika mendapat perintah yang tidak penting.


"Beli aja sendiri."


Agha tidak pernah bersikap manis pada manusia manja, kecuali sang adik. Bukan Aleesa jika dia tidak bisa mengambil hati sang sepupu. Akhirnya, Agha mau.


"Entar gua ganti lima kali lipat."


"Gak perlu," jawab Agha sangat ketus. "Mas gak sekere itu."


Aleesa hanya mencebikkan bibirnya mendengar kesombongan seorang Gavin Agha Wiguna. Bukan hanya Agha yang dia hubungi. Ghea, Dalla, Ahlam dan juga BAlqis dia hubungi untuk membelikannya es krim.


Istri dari Restu malah tertawa setelah menghubungi semua adikm sepupunya. Dia juga tidak mengerti kenapa sekarang ini dia seperti ini.


Ketika Apang datang, tak lama yang lain pun datang membawa es krim. Bagaiman mereka tidk nurut kepada Aleesa. Mereka diiming-imingi pengembalian modal lima kali lipat. Siapa yang tidak mau?


"Apa-apaaam ini, Sasa?" Apang sedikit meninggikan suaranya.


Plastik yang dibawa oleh para sepupunya dia rampas dan yidak boleh diberikan kepada Aleesa. Kening semua sepupunya mengkerut.


"Kenapa?" tanya Balqis, sang adik.


"Ahjussi gak ngebolehin Sasa makan banyak es krim. Takut pilek."


Agha malah tertawa. Alasan yang hany \=a mempan untuk anak bayi.


"Ih, Sasa bandel." Balqis sudah membuka suara. ''Kalau Ahjussi pulang Aqis aduin ke Ahjussi ini biar digigit lagi sama Ahjussi."


Aleesa terdiam mendengar ucapan dari Balqis. Ingin menimpali, tapi anak dari Aska itu masih kecil, yang ada nanti dia dipukul oleh ayah anak itu karena sudh menjelaskan hal yang unfaedah.


"Jangan bandel, Sa." Agha sudah duduk di sofa panjang kamar Aleesa. "Suami Sasa itu turunan iblis jahat, nanti dimakan loh sama dia."


Kapan lagi bisa mengejek Restu? Begitulah batin Agha. Mumpung sang kakak sepupu tidak ada. REstu pun tertawa di dalam hati.


"Sembarangan kalau ngomong." Aleesa membela sang suami.


"Dia akan berubah menjadi iblis kalau sama orang yang udah jahat sama dia. Kalau orangnya baik gak akan dia kayak iblis."


Agha malah tertawa. Lucu melihat Aleesa memebla suaminya yang dia katakan seperti iblis. Sedang dibicarakan, orang yang disebut iblis menghubungi Apang. Apang mengarahkan kameranya ke arah saudara juga sepupunya.


"Ahjussi!"


Si bawel Balqis sudah memanggil Restu. Mulutnya yang tipis dengan lancar mengadu kepada Restu perihal Aleesa yang ingin memakan es krim banyak-banyak.


Aleesa terdiam dengan menunduk dalam. Sepupu Aleesa malah tertawa. Wajah Aleesa sangat lucu seperti wajah mereka jika dimarahi oleh kedua orang tua mereka.


"Kalau kamu ingin aku pulang, nurut sama aku." Restu sudah marah dan itu membuat Aleesa semakin menunduk.


"Kamu bukan anak kecil lagi." Restu masih dengan nada geram. Aleesa tidak menjawab sepatah katapun.


.


Es krim yang Apang beli dan juga sepupu-sepupunya beli tidak sama sekali Aleesa makan. Dia letakkan di atas nakas. Tak dia pedulikan es krim itu sudah mencair. Panggilan dari Restu pun tak dia hiraukan. Aleesa masih marah kepada sang suami.


Jam sembilan malam Restu tiba di Jakarta. Istrinya sama sekali tidak menjawba panggilan darinya yang sudag lebih dari sepuluh kali dia lakukan. Restu hanya menghela napas kasar.


"Istri saya ada di rumah?" REstu bertanya kepada anak buahnya yang sudah menejmputnya.


"Ada, Tuan. Nyonya tidak ke mana-mana. Keluar kamar pun tidak." Restu menganguk.


Sampainya di rumah, dia disambut oleh Echa yang kebetulan masih ada di dapur.


"Iatri aku di mana, Bu?"


"Di kamar, tadi Bubu nhabis mengantarkan melon yang dia minta."


"Aleesa tidak apa-apa 'kan?" Restu masih terlihat cemas.


"Enggak. Hanya saja dia sma sekali tidak mau makan nasi. Sedari pagi hanya ingin jus dan buah. Tolong bujuk untuk makan, ya. Bubu takut dia kena magh."


Restu naik ke lantai atas. Dia memnuka pintu kamar denagn pelan. Kamar masih terang. Sedangkan sang istri sudah berada di bawah selimut.


"Lovely."


Aleesa mendengar suara Restu, tapi dia pura-pura terus tertidur. Dia masih marah kepada Restu. Dia masih kesal.


"Suami pulang kok malah dicuekin. Putra-pura tidur lagi." Restu sudah mengudap lembut rambut Aleesa. Wajah Aleesa nampak lebih tirus.


Tak ada jawaban dari Aleesa membuat Restu menghela napas berat.


"Ya udah deh. Mending aku ke apartment. Di sini juga aku dicuekin sama istri sendiri."


Aleesa mash bergeming. Dia tahu Restu tidak akan pergi. Ternayat dia salah. Resutu bangkit dari duduknya dan mulai menjauhi Aleesa. Terdengar suara pintu kamar terbuka membuat Aleesa buru-buru buka mata.


"Bie, jangan pergi!"


Aleesa sudah berdiri di samping tempat tidur ketika Restu membuka pintu. Restu tersenyum ke arah istrinya yang terlihat nampak kurus. Ketika Restub hendak mendekat, tubuh Aleesa luruh ke lantai dan itu membuat Restu berteriak.

__ADS_1


"Lovely!"


__ADS_2