RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
236. Nama Sang Putra


__ADS_3

Acara aqiqahan pun dimulai. Restu junior sangat tampan ketika memakai baju koko bayi yang senada dengan kedua orang tuanya. Aleeya dan Aleena tak hentinya mengambil gambar sang keponakan yang begitu comel. Ingin rasanya mereka berdua menculik bayi tampan berpipi merah itu.


“Kak, kayaknya Nana ingin cepat punya baby.”


Rangga merespon ucapan sang adik dengan senyuman datar. Lebih dari enam bulan ini dia mencoba untuk melupakan perempuan yang begitu dia sayangi. Wanita yang menjadi cinta pertamanya. Dia juga berharap jika Aleena akan menjadi cinta terakhirnya.


Sedari tadi Rangga terus memperhatikan perempuan yang masih sangat dia sayangi itu. Namun, sayang seribu sayang perempuan itu tidak bisa untuk dimiliki. Hatinya sudah mengeras bagai batu.


Ketika dia menemukan di mana Aleena berada, tanpa pikir panjang Rangga segera ke negara tersebut. Akan tetapi, dia malah diberikan jawaban yang mematahkan semangatnya hanya karena dia tak sengaja bertemu dengan mantan kekasih Aleena. Sebuah dendam yang melekat di hati sang mantan membuat laki-laki itu memukulinya membabi-buta. Aleena takut jika laki-laki itu akan melukai dia lagi jika terus bersamanya. Masih ada trauma di hati Aleena. Masih ada ketakutan yang belum sepenuhnya hilang dan masih ada kesedihan yang belum hilang sepenuhnya. Hampir satu tahun Aleena mencoba untuk kembali menjadi Aleena yang dulu. Menanggalkan serta mengubur perasaan yang menimbulkan kesedihan juga kesakitan.


Bukannya Rangga menyerah, tapi ijinkan dia untuk istirahat sejenak. Bisakah dia melupakan perempuan itu di dalam hati dan pikirannya. Ternyata, sudah setengah tahun berlalu bayang wajah Aleena masih memenuhi hati dan pikirannya.


Tak sengaja mata Aleena dan Rangga bertemu, tapi Rangga memilih untuk memalingkan tatapannya. Dia sudah berjanji jika dia tidak akan mengganggu Aleena lagi. Dia juga sudah menggantungkan keinginannya untuk mengudara bersama Aleena. Aleena bagai bayang di oasis, jelas, tapi ternyata tak nyata dan sulit untuk digapai.


Rangga dan Aleena memilih khusyuk di acara aqiqahan putra pertama dari Restu dan Aleesa. Mereka memang saling berhadapan, tapi keduanya seakan saling acuh satu sama lain.


Tiba sudah Restu mengumumkan nama untuk putra tampannya yang sedari tadi tertidur.


“Maaf, sudah membuat keluarga besar penasaran dengan nama putra kami. Hari ini saya akan menyebutkan siapa nama anak tampan ini. Semua orang yang ada di sanapun terdiam.


“Erzan Akhtar Ranendra, itulah nama putra pertama kami.”


Akhirnya Restu resmi mengumumkan nama sang putra dengan begitu lantang. Semua keluarga juga para anak yatim tersenyum mendengarnya. Nama yang sangat bagus.


“Makna dari nama itu adalah lelaki pemberani yang beruntung. Kelak, dewasa nanti kami berharap Ananda Erzan akan menjadi anak yang pemberani yang selalu dilimpahkan keberuntungan.”


Semua orang mengamini. Nama anak Restu dan Aleesa sangat bagus sekali. Arti dari nama itupun sangat luar biasa. Rio sudah tidak kaget jika kakak angkatnya itu memilih nama yang memiliki arti pemberani. Banyak asa dan harap yang digantungkan pada Erzan dari seorang Restu Ranendra. Pemberani, sama seperti ayahnya yang tidak takut akan apapun.


Setelah pengumuman nama tersebut pun acara aqiqahan selesai. Para anak yatim yang sudah diberikan santunan pulang kembali ke rumah masing-masing. Kini, tersisa keluarga besar saja yang sibuk memainkan baby Erzan.


“Aqis manggilnya Bang Enjan aja.”


“Iya tuh, lucu.” Ghea menimpali.


Sudah Aleesa duga, pasti ada saja nama panggilan yang aneh yang sudah para sepupunya siapkan. Namun, dia tidak mempermasalahkan.


Aleesa membiarkan putranya bersama keluarga besarnya dan dia beserta dua saudaranya mulai sedikit menjauh dari halaman samping. Mereka bertiga tersenyum hangat dan menganggukkan kepala. Aleena sudah membawa kue yang bertuliskan happy anniversary. Aleeya sedang menghidupkan lilin yang ada di atasnya.


“Happy anniversary, Bubu dan Baba.”


Echa dan Radit pun menoleh. Dia sedikit terkejut.


“Selamat ulang tahun pernikahan, Kak, Bang.”


Aksa, Aska, Iyan sudah membawa buket bunga untuk sang kakak yang masih membeku. Mata Echa nanar dan tidak menyangka.


“Tiup lilinnya, Bu.”


Echa dan juga Restu mulai berdiri. Mereka sudah ada di depan kue yang dibawa Aleena. Meniupnya setelah make a wish di hari ulang tahun pernikahan yang hampir seperempat abad.


Semua orang bertepuk tangan ketika Radit dan Echa meniup lilin di atas kue. Radit mencium mesra kening sang istri.


“Makasih, masih setia bersama aku sampai saat ini.”


Echa tak bisa menjawab, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dengan mata berair.


“Kok bisa sih Bang lu lupa acara ini?”


Sang adik sudah bertanya, yakni Aska. Semua orang pun penasaran. Biasanya Radit akan menjadi manusia perfect dalam segala hal.


“Mungkin gua terlalu bahagia akan kehadiran Erzan. Makanya, bisa lupa akan hal ini.”


Echa mengangguk setuju dengan ucapan Sang suami. Semenjak adanya Erzan semua pikiran dan perhatian hanya untuk cucu pertama mereka.

__ADS_1


“Baby Erzan adalah hadiah terindah di hari ulang tahun pernikahan ini.”


Aleesa dan Restu saling pandang dan tersenyum bahagia. Kini, mereka berdua menatap ke arah Aleesa dan Restu.


“Apa ini alasan kalian menyiapkan acara aqiqah tanpa bilang kepada kami?”


“Sasa dan Kak Restu, juga Kakak Na dan Yaya ingin memberikan kenangan yang tak terlupakan untuk Bubu dan Baba bersamaan dengan diumumkannya nama baby Erzan.”


“Apa Bubu dan Baba bahagia?”


Sang menantu sudah bertanya dan menatap begitu tulus ke arah kedua mertuanya.


“Tentu saja. Kami sangat bahagia apalagi kita berkumpul semua di sini.”


Mata Echa sudah tak bisa menahan bulir bening. Ketiga anaknya sudah memeluk tubuh Echa dan Radit.


“Maaf, jika kami selalu sibuk dengan urusan kami dan jarang memiliki banyak waktu untuk kalian.”


Sebuah kalimat yang sangat tulus keluar dari mulut Aleena yang sedang memeluk tubuhnya.


“Maafkan Adek kalau Adek selalu jadi anak pembangkang.”


“Kalian adalah anak-anak baik. Seburuk apapun kalian di mata orang lain, kalian adalah anak Bubu dan Baba. Kembalilah ke rumah ini ketika kalian lelah dengan segalanya karena kami akan memeluk kalian tanpa kalian minta.”


Bukan hanya ketiga anak Echa yang menangis mendengar ucapan dari sang ibunda. Riana, Jingga, Beeya, juga Nesha mengusap ujung mata mereka. Perkataan itu sangat menusuk dan menyayat hati.


“Bang, ambil laptop gua di ruang kerja.”


Radit menyuruh Aksa untuk mengambil laptop miliknya. Sang adik mengambilkannya dan mulai menyerahkannya kepada sang Abang.


Masih ada proyektor di sana dan Radit mulai membuka sesuatu di laptopnya. Hingga sebuah video terputar di layar putih sana. Foto baru lahirnya mereka yang disambut hangat oleh keluarga besar dengan anggota yang sangat lengkap. Di sana ada Rion Juanda, Giondra, Ayanda, Addhitama dan Kakek Genta.


Nak, bila suatu saat kau dengarkan lagu ini


Kau akan mengerti


Mengapa begitu menyebalkannya ku di matamu


Si triplets yang sudah dewasa menatap layar putih dengan mata yang berkaca. Backsound dan foto yang terus berganti, dan terkadang video mereka bertiga yang tengah bersama kedua orang tua mereka membuat air mata mereka tak mampu dibendung.


"Nak, jika saat nanti kau telah hidup sendiri, Dan dunia ternyata tak seperti harapanmu. Ku ada di sini. Menjadi rumah yang s'lalu menanti kepulanganmu. Kelak kau 'kan jadi orang tua seperti aku. Yang ingin anakmu bahagia dengan hidupnya."


Mendengar kalimat demi kalimat itu membuat mereka menatap dalam ke arah sang ayah sang sudah tersenyum ke arah mereka. Terlalu sakit hari mereka bertiga ketika mendengar lirik yang menyentuh itu. Sang ayah menggeleng pelan dan membuat mereka berhambur memeluk tubuh Radit.


"Bila bentakan kecilku patahkan hatimu. Lebih keras dari itu, dunia 'kan menghakimimu. Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini. Kau harus kuat, kau harus hebat. Permata hatiku"


Tangis si triplets semakin menjadi. Tangan mereka tak melepaskan tubuh Radit. La gu ini sungguh menggambarkan perasaan ayahnya yang tak pernah mereka ketahui. Foto dan video terus berganti dan sound pun masih berputar.


"Aku adalah jemari dan ibumu penanya. Dan kaulah puisi terindah yang pernah tercipta. Semoga belaian kasihku lembutkan hatimu. Kau harus megah, kau harus indah. Kau harus kuat, kau harus hebat. Permata hatiku."


Echa menatap ke arah Radit yang sudah tersenyum dan mengangguk menandakan dirinya harus bergabung dengannya dan juga ketiga anaknya. Keharuan pun tercipta dan membuat semua mata yang melihat mereka menyeka ujung mata.


"Makasih udah menyatukan mereka lagi."


Restu menoleh dan sang paman sudah berada di sampingnya dengan senyum yang begitu tulus.


"Sudah lama rumah ini terasa dingin, semenjak adanya kamu kehangatan di rumah ini sedikit terasa dan sekarang semakin terasa."


"Apa yang dikatakan Abang benar, Res. Aku juga merindukan senyum manis Kak Echa bukan senyum yang menutupi kesedihan." Iyan menyambung ucapan Aksa.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Ini semua berkat baby Erzan. Kehadirannya mampu membuat kedua aunty-nya membuka mata dan hati dan mengesampingkan ego."


.

__ADS_1


Tak terasa baby Erzan sudah berumur satu bulan. Sang ayah pun sudah masuk kantor. Namun, sebelum berangkat ke kantor Restu akan meluangkan waktu untuk menggendong atau mengajak Erzan berbincang.


"Jangan nakal kalau gak ada Papi. Harus kasihan ke Mami. Boleh nakal, tapi pas ada Papi aja, ya."


"Gak boleh ngomong gitu dong, Pi. Mau ada Papi atau enggak baby Erzan harus tetap jadi anak Soleh."


Restu tersenyum mendengarnya. Dia mencium gemas pipi sang istri.


"Bajunya udah aku siapin."


Restu menyerahkan baby Erzan kepada Aleesa yang memang sudah mandi. Mereka akan bergantian untuk menjaga Sang putra selama mereka berdua membersihkan tubuh.


Aleesa mendekat ke arah Restu ketika sang suami sudah keluar dari kamar mandi. Kebiasaan Restu adalah mencium pipi putranya hingga baby Erzan mengernyit kedinginan.


"Ih, Papi!" Restu malah tertawa.


Ayah dan ibunya sudah cantik, sekarang giliran baby Erzan yang membersihkan tubuh. Restu akan berada di belakang sang istri dan memeluknya selama Aleesa memandikan sang putra.


"Berasa kayak punya dua bayi."


.


Sudah tiga malam sang suami pulang larut. Aleesa akan terus terjaga hingga suaminya masuk kamar. Walaupun dia harus menahan kantuk.


Berkali-kali Aleesa menutup mulutnya dengan telapak tangan karena menunggu Restu pulang. Padahal, Restu sudah mengatakan jika dirinya pulang malam jangan menunggunya. Akan tetapi, Aleesa tidak bisa seperti itu.


Baby Erzan tidur dengan nyenyak di boks bayi di samping tempat tidur kedua orang tuanya. Jika, malam dia akan tidur di kamar Aleesa. Ketika siang dia akan tidur di kamarnya sendiri.


Jam sebelas malam Restu baru tiba di rumah. Nampak wajah lelah sangat kentara. Dia membuka pintu kamar yang masih terang, dan terlihat sang istri tertidur di sofa panjang dalam keadaan duduk.


"Ya ampun, Lovely."


Restu menghampiri istrinya dan mengusap lembut rambut Aleesa. Perlahan matanya pun membuka.


"Udah pulang?"


Tatapan sendu Restu tunjukkan. Dia duduk bersimpuh di depan Aleesa dengan meraih tangan Aleesa untuk dia genggam.


"Jangan menunggu aku kalau aku pulang larut. Aku tidak ingin kamu sakit karena kurang tidur. Belum lagi putra kita yang sering minta main di tengah malam. Belum lagi kalau dia pengen susu. Pasti kamu sudah sangat lelah. Istirahatlah!"


Istri mana yang tidak akan terharu mendengar ucapan yang begitu tulus dari seorang kepala keluarga. Apalagi Restu sudah membawa tangan Aleesa ke bibirnya.


"Apa-apa aku biasa sendiri kok. Jadi, kamu jangan khawatir." Senyum mengembang di wajah Restu. Aleesa malah terdiam dengan mata berair.


"Jangan nangis." Restu pun mengusap pipi Aleesa yang sudah basah.


Hal kecil seperti ini yang membuat Restu semakin menutup matanya untuk wanita lain. Tidak dipungkiri dia sering bertemu klien di sebuah club ataupun hotel private di mana banyak wanita penghibur di dalamnya. Namun, dia sama sekali tak tergoda. Dia selalu bekerja profesional dan sekretaris dia pun berpakaian sopan dan memiliki attitude yang baik. Tidak menjadi sekretaris penggoda seperti di film atau drama.


Restu membersihkan tubuhnya. Kemudian, dia naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya yang sudah terpejam. Baru beberapa menit berselang, rengekan kecil sang putra terdengar dan membuat dia terjaga. Sudah biasa baby Erzan seperti ini.


Ayah yang siaga, begitulah Restu Ranendra. Dia mengangkat sang putra yang sudah terjaga. Tidak ada kata lelah di wajahnya ketika mata baby Erzan terbuka. Walaupun masih berusia satu bulan bayi itu senang jika diajak berbicara.


Restu tak mempermasalahkan perihal istrinya yang malah tidur dengan nyenyak. Sudah pasti seharian ini Aleesa sangat lelah. Baby Erzan mulai sedikit nakal. Jika, ingin tidur harus ada drama menangis dulu. Itu semua Restu ketahui karena dia sering Sekali mengecek cctv kamar sang putra dan kamarnya.


"Jangan nakal dong. Kasihan Mami."


Bayi ajaib itu malah tersenyum dan tangannya mulai bergerak-gerak. Itu membuat Restu sangat bahagia. Dia yang awalnya tidak menyukai anak kecil, semenjak bertemu dengan sepupu Aleesa yang menyebalkan dan menggemaskan akhirnya bisa bersahabat dengan mereka. Sekarang, dia sudah memiliki putra yang tampan dengan pipi yang merah. Sudah dipastikan akan ada darah kebrandalan yang mengalir di tubuh putra pertama Restu Ranendra dan juga Aleesa Addhitama . Apalagi, ini adalah anak laki-laki.


"Laki-laki itu wajar nakal, tapi nakallah di jalan yang benar."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2