
Mengiringi dua jenazah sekaligus membuat hati tiga anak yang kini berstatus yatim piatu sangat pilu. Memang sudah tidak ada air mata, tapi ada kesakitan yang luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.
Remon, sudah menunggu mereka semua di depan rumah sakit. Dia tidak sanggup melihat kesedihan dari anak-anak atasan sekaligus sahabatnya itu. Remon menganggukkan kepala kepada Aksa yang berjalan lebih dulu dari adik dan kakaknya. Mereka kompak menutupi kesedihannya dengan kaca mata hitam.
"Kita akan di mobil paling depan menuju tempat di mana Tuan Gio dan Nyonya Ayanda akan beristirahat dengan tenang." Aksa hanya mengangguk pelan. Sebelumnya dia berkoordinasi terlebih dahulu dengan kedua saudaranya.
Perjalanan cukup jauh, Aksa tak banyak bicara juga bertanya. Hatinya tengah berkecamuk. Sedihnya masih sangat terasa. Pura-pura itu rasanya sangatlah melelahkan. Mobil pun berhenti di sebuah area pemakaman yang begitu luas. Pemakaman yang sangat indah dengan pemandangan laut biru di depannya. Aksa terpana.
"Dua petak pemakaman sudah Tuan Gio beli semenjak Beliau harus memasang ring jantung yang tak sedikit. Beliau menyukai tempat ini karena menurut Beliau tempat ini bukan seperti pemakaman, tapi sebagai tempat untuk berekreasi karena pemandangan hamparan laut yang indah." Aksa tak merespon apapun. Pikirannya masih tertuju pada kedua orang tuanya yang sebentar lagi akan dipendam dengan tanah.
Mobil jenazah yang membawa dua jasad tampan dan cantik itupun sudah berhenti tak jauh dari mobil Remon terparkir. Mobil keluarganya pun ada di belakang.
Mereka semua dikejutkan dengan pemakaman yang sudah dipersiapkan oleh kedua orang tua juga kakek dan nenek mereka. Pemakaman yang begitu indah dan cantik. Suara deburan ombak terdengar begitu merdu. Mereka menatap ke arah Aksa yang hanya menyunggingkan senyum.
Jenazah diturunkan secara bersama ke dalam liang lahat yang berbeda. Ada tangis yang ingin pecah. Ada sakit yang bergejolak di dalam dada dan ada pedih yang tak boleh diungkapkan. Semuanya larut akan perasaan mereka masing-masing.
Suara adzan berkumandang bergantian. Begitu juga dengan iqomah. Ada rasa sedih yang ingin disampaikan. Ada rasa sakit yang tak akan pernah menemukan penawar. Hanya bisa berdiri memandang dari atas. Hingga tiba saatnya, timbunan tanah menutup tubuh dua orang yang mereka sayang. Tubuh yang tak akan pernah mereka lihat lagi. Tubuh yang tak akan pernah bisa mereka peluk lagi.
Aksa berdiri kokoh bagai pondasi untuk keluarga besar Giondra Aresta Wiguna dan Ayanda Rishani. Aksa memberikan senyum perpisahan yang berisikan kesedihan mendalam.
"Surga menantu kalian, Mom, Dad. Terima kasih sudah menjadi orang tua juga kakek dan nenek untuk kami semua. Terima kasih atas segala pengorbanan yang pengajaran kalian kepada kami hingga kami bisa berdiri seperti ini. Terima kasih--"
Aksa mengatur napasnya. Sesungguhnya dia sudah tidak tahan. Sesungguhnya dia ingin berlari menjauh.
"Benar kata Daddy dan Mommy. Tubuh kalian yang pergi, tidak untuk cinta kalian kepada kami. We love you. Tuhan sudah menyiapkan surga yang indah di atas sana."
__ADS_1
Bibir mereka kelu. Tak ada satupun orang di sana yang berbicara. Hanya bisa memandang dua pusara yang sudah berdampingan dengan sesekali mengusap ujung mata. Tegarnya Aksa bukan semata-mata karena dia kuat, tapi karena terpaksa. Dia sangat hancur, dia sangat sedih. Dia bagai anak yang kehilangan induknya. Dia memikul beban yang sangat berat. Sudah tidak ada lagi tempat mengadu dan berkeluh kesah. Sudah tidak ada lagi usapan lembut di rambutnya ketika dia lelah. Kini, dia harus berdiri tetap kokoh dan kuat sebagai pengganti ayahnya untuk dua saudaranya juga keluarga besarnya.
"Pipo memilih pemakaman ini agar kita semua tidak sedih." Semua orang menoleh. Ternyata Aleesa sudah duduk di atas rerumputan di depan pusara Gio Ayanda. Pandangannya lurus ke depan menatap laut biru yang begitu indah. Tubuhnya membelakangi dua makam yang masih basah.
"Setidaknya jika kita sedih melihat pusara mereka berdua, kita bisa menghilangkan kesedihan itu dengan menatap lautan luas dengan ombak yang menari di atasnya. Juga alunan suara merdu ombak yang menenangkan. Pipo ingin semuanya seimbang. Ada tangis dan ada pelipur lara. Di tempat inilah Pipo menemukan keselarasan itu."
Remon menunduk dalam mendengar ucapan dari Aleesa. Air matanya tak tertahan. Kalimat itu adalah kalimat yang pernah Gio katakan kepada Remon setelah dia membeli dua buah lahan tanah untuk dia beristirahat selamanya.
"Apa itu Anda, Tuan?" Suara Remon bergetar.
"Pipo dan Mimo akan selalu ada bersama kita semua. Walaupun tak terlihat, cinta mereka tetap mengalir begitu deras."
Semua orang menatap punggung Aleesa. Anak istimewa itu duduk manis melihat hamparan laut yang luas. Hingga mereka pun mengikuti Aleesa duduk memandangi lautan luas dengan air yang berwarna biru juga suara ombak yang syahdu. Mereka bergelut dengan pikiran mereka kembali.
"Kamu dan segala kenangan ... Mengukir indah waktu yang berjalan ... Dan aku kini sendirian menatap dirimu hanya bayangan ...."
#Flashback off.
Echa, Aksa dan Aska menatap ke arah dua pusara orang tua mereka. Senyum penuh kerinduan mengembang.
"Maafkan Echa ya, Mah. Echa belum bisa menjadi ibu yang baik. Echa masih sering merepotkan Mamah. Pasti kehadiran Aleena sangat merepotkan Mamah dan Papah."
Restu yang biasanya kuat menahan segala rasa sedih kali ini tidak bisa. Dari ketegaran semua orang yang dia lihat, ada kesedihan yang tengah mereka pendam tanpa mau menunjukkan. Banyak kesakitan yang tengah mereka rasakan tanpa mau mereka katakan.
"Mamah dan Papah pasti bangga sama Abang. Abang selalu berada di garda terdepan untuk membantu Echa dalam menghadapi cobaan hidup Echa yang belum usai. Echa merasa sosok Papah ada pada diri Abang. Sosok pahlawan luar biasa untuk Echa dan anak-anak Echa."
__ADS_1
Ketiga anak Echa sudah menunduk dalam. Restu merangkul pundak Aleesa dan mengusapnya dengan lembut.
Hanya suara deburan ombak yang terdengar. Tak ada yang berkata lagi hingga anak bungsu Aska membuka suara.
"Aqis terus menunggu Pipo kembali." Air mata yang sekuat tenaga mereka tahan akhirnya menetes. Balqis membuat suasana tambah sedih.
"Pipo dan Mimo tidak akan pernah kembali ke sisi kita. Namun, cintanya selalu ada di hati kita." Gavin Agha Wiguna sudah berkata dengan begitu tegas walaupun dia malah membelakangi pusara kakek dan neneknya. Dia memilih untuk menatap lautan luas.
"Pipo! Mimo! Kami rindu kalian!" Agha berteriak seperti orang kurang waras. Namun, teriakan itu membuat mereka menitikan air mata lagi.
"Maaf, Mom. Kami terlalu lemah tanpa kalian. Kami terlalu rapuh tanpa kalian. Kami belum bisa berdiri tegak ketika kalian tak ada bersama kami." Aska sudah membuka suara.
Aleesa mencoba untuk mengatur napas. Perlahan dia menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Genggaman tangan Restu membuatnya tersenyum. Dia pun menarik tangan Restu untuk mendekat ke arah pusara kakek dan neneknya
"Mimo, Pipo," ucap Aleesa. Ketiga anak Ayanda dan Gio pun menyingkir.
"Sasa udah gak mau sedih-sedihan lagi. Tinggal menghitung hari menuju hari bahagia Kakak Sa. Kakak Sa mau menikah, Mimo, Pipo." Aleesa bagai anak kecil yang tengah laporan kepada kedua orang tuanya.
"Pendamping Kakak Sa adalah Laki-laki yang kalian juga kenal. Laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat menjaga. Restui hubungan kami, ya. Kakak Sa berharap juga Mimo dan Pipo hadir menyaksikan pernikahan Kakak Sa. Kakak Sa akan menunggu kehadiran kalian berdua di sana. Dua orang yang sangat spesial dalam hidup Kakak Sa. Kakak Sa tunggu Mimo dan Pipo."
Bulir bening menetes di pelupuk mata mereka. Tak ada kata, tak ada suara. Hanya suara deburan ombak yang terdengar. Mereka semua kompak duduk di samping dan di depan pusara Gio dan Ayanda. Menatap hamparan laut yang begitu luas.
"Meskipun lautan itu begitu indah, tapi tak mampu mengobati rasa kehilangan kita semua."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen atuh ....