
Ketika cincin di pasang di jari manisnya, bulir bening menetes begitu saja. Dia merasa telah mengkhianati Aleesa dan dia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Aleesa nantinya.
Ingin dia melepaskan cincin itu, tapi tangan kanannya tak bisa dia gerakkan. Cincin di tangan Nathalie pun dipasangkan oleh Grace. Hati Yansen sangat sakit sekali. Tidak ada senyum sama sekali di wajahnya. Ingin rasanya dia kabur, tapi kaki bagian kanannya pun sulit untuk digerakkan. Yansen hanya dapat menitikan air mata kesedihan, bukan kebahagiaan.
Di lain tempat, Aleesa sudah terlelap dengan wajah yang terbenam di dada bidang Restu. Restu terus mengusap lembut rambut Aleesa dan sesekali mencium ujung kepala perempuan yang sudah tahu akan perasaannya.
"Aku janji, aku akan menghapus rasa sedih kamu. Juga, membuat kamu lupa akan laki-laki yang tak direstui oleh keluargamu."
Ketika pagi menjelang, Aleesa terbangun dan dia mencari sosok yang semalam menemaninya. Mencium bibirnya dengan lembut dan mengungkapkan isi hatinya. Seketika nama Yansen menghilang begitu saja. Dia bagai terhipnotis akan perkataan Restu.
Bibirnya tersenyum dan tangannya sudah memegang lembut bibirnya. Dia masih bisa merasakan sentuhan lembut bibir Restu semalam.
Ketukan pintu membuat Aleesa bangkit dari tempat tidur. Dia membukakan pintu dan sudah ada sang ibu dengan membawa sebuah kotak.
"Tadi Restu titip ini." Echa memberikan kotak tersebut kepada Aleesa.
"Apa ini?" Sang ibu pun menggeleng.
"Tadi pagi banget Restu datang dan dia sudah rapih dengan seragamnya. Dia juga hanya menitipkan ini," jelas sang ibu. "Bubu nyuruh dia ngasih sendiri, dianya gak mau. Dia gak mau ganggu kamu tidur." Aleesa mencoba bersikap biasa di hadapan sang ibu, tapi di dalam lubuk hatinya terdalam dia teramat bahagia.
Kotak itu Aleesa buka dan dua buah cokelat yang terkenal di negara itu yang ada di dalamnya. Ada sebuah tulisan tangan juga di sana.
...Aku akan pergi selama dua hari ke depan. Jangan nangis lagi, ya. Cukup aku yang kamu pikirkan sekarang. Gak boleh memikirkan laki-laki lain. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan segera menghubungi kamu. Love you, my lovely....
^^^-Calon Imammu-^^^
Senyum terukir dengan sempurna ketika membacanya. Brandal yang suka sekali bertengkar kini menjadi pria yang sangat manis. Restu benar-benar menjadi pelipur lara untuknya.
.
"Sen, lu gila?"
Kemala dan Raina yang mendapat kabar dari Nathalie bahwa Yansen dirawat di rumah sakit segera menjenguk pacar sahabatnya itu. Namun, mereka berdua dikejutkan oleh cincin yang melingkar di jari manis Yansen.
"Gimana perasaan Aleesa nantinya, Sen?" Raina sudah sangat emosi.
"Gua juga gak mau. Andai gua bisa melepaskan cincin ini akan gua lepaskan," lirih Yansen.
"Gua tahu lu sama Sasa terhalang restu, tapi kenapa gak lu obrolin baik-baik dengan Sasa. Bukan dengan cara begini. Ini lebih menyakitkan, Sen." Kemala pun ikut geram. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aleesa nantinya.
__ADS_1
"Gua juga gak mau nyakitin Sasa, Kem, Rai," ujar Yansen. "Gua dipaksa."
"Gua kecewa sama lu, Sen," ucap Raina. "Lima hari lagi Sasa balik. Gua yakin, dia akan syok berat."
Di lain tempat, ketiga paman Aleesa sudah mendapat kabar perihal Yansen yang sudah bertunangan dengan Nathalie. Mereka hanya memikirkan perihal Aleesa. Bagaimana jikalau Aleesa tahu dan akan memperburuk kondisinya ketika kembali ke Jakarta.
"Gimana ini, Bang?" Iyan sudah sedikit cemas.
Aksa terdiam sejenak, sesaat kemudian dia menghubungi seseorang.
"Kamu di mana?"
...
"Saya butuh kamu untuk jaga seseorang di Jakarta untuk satu bulan ke depan. Saya tidak ingin mendengar penolakan."
Iyan dan Aska saling tatap. Mereka tidak tahu Aksa menghubungi siapa. Namun, dari kalimatnya dia tengah menghubungi orang penting.
"Siapa?" Aska mulai penasaran.
"Lihat aja pas Aleesa ke Jakarta."
.
"Shiit!!"
Umpatan Restu mampu membuat tiga rekannya menoleh ke arah Restu. Mereka bingung dan terlihat wajah Restu yang sangat murka. Dia segera menghubungi Rio. Panggilannya tidak juga diangkat membuat Restu mengerang kesal dan mengumpat lebih kasar lagi.
"Ke mana lu, Setan!"
Zenith cukup terkejut dengan apa yang dia dengar. Mr. R ketika marah amatlah menyeramkan. Di panggilan kelima barulah Rio menjawabnya.
"Lu ke kamar Aleesa SEKARANG!"
Rio yang baru saja terbangun dari tidur siangnya menukikkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Restu.
"Cepetan, Yo! Cepetan!"
Tiga rekannya tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Restu, tapi dia sangat mengerti jikalau Restu tengah dilanda kecemasan yang luar biasa. Zenith, dia melihat Mr. R seperti mengkhawatirkan seseorang. Aleesa, nama itu yang mampu dia dengar.
__ADS_1
"Iya gua ke kamar Aleesa sekarang. Gua ubah ke video, ya."
Sangat terpaksa Rio beranjak dari kamarnya. Dia berpapasan dengan sang mamih dan Nesha mengatakan jika Aleesa belum keluar kamar sedari sarapan. Sedangkan kedua orang tuanya tengah pergi.
Rio menekan gagang pintu dengan sangat pelan. Matanya melebar ketika melihat Aleesa yang tengah menangis seraya menatap layar ponsel.
"Sa," panggil Rio. Aleesa menoleh dan tangisnya semakin pecah. Walaupun ponsel itu tidak menunjukkan wajah Aleesa, tapi Restu mampu mendengar isakan yang begitu lirih.
"Kamu kenapa, Sa?" tanya Rio.
Aleesa tidak menjawab, tapi pelukannya semakin erat kepada Rio membuat rasa penasaran membuncah. Dia melihat ke arah ponsel Aleesa yang masih nyala. Sebuah video masih terputar.
"Si alan!"
Umpatan Rio mampu Restu dengar dan membuat Restu memejamkan matanya sejenak. Menahan marah yang tak terkira. Harusnya dia senang, tapi Restu malah tidak suka karena laki-laki itu sudah membuat Aleesa menangis.
"Maafkan aku, Sa. Ketika kamu seperti ini harusnya aku di samping kamu." Restu menunduk dalam. Ada rasa bersalah di hatinya.
Ketika malam menjelang dan para pengawal sudah beristirahat, Restu malah asyik duduk di anak tangga depan teras tempat di mana madam Zenith beristirahat.
Wajah Aleesa yang bermandikan air mata memutari kepalanya sekarang. Lagi-lagi dia menunduk dalam. Dia ingin pulang, dia ingin memeluk tubuh Aleesa.
"Mr. R."
Suara madam Zenith membuat Restu menoleh. Wanita paruh baya itu sudah tersenyum ke arah Restu.
"Kenapa dengan kamu?" Madam Zenith bertanya dengan menggunakan bahasa Indonesia.
"Tidak apa-apa, Madam."
Tanpa Restu sangka, madam Zenith mengusap lembut pundak Restu. Ada desiran aneh yabg Restu rasakan. Begitu juga dengan madam Zenith.
"Maaf, kalau saya lancang. Siapa Aleesa? Kenapa kamu terlihat sangat mencemaskannya?" Restu terdiam. "Tadi saya sempat mendengar nama itu yang kamu sebut."
"Dia adalah wanita yang sedang saya perjuangkan." Madam Zenith tersenyum mendengar ucapan dari Restu yang begitu yakin. Tak biasanya seorang Restu Ranendra mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan kepada orang lain. Kepada Nesha pun sangat jarang.
"Pulanglah. Redakan kecemasan kamu dan kecemasannya. Peluklah dia, dan jangan pernah kamu lepaskan jika memang dia adalah wanita yang benar-benar ingin kamu perjuangkan hingga pelaminan."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen lagi dong ...