
Setelah pernyataan cinta juga lamaran sederhana di depan kedua orang tua Aleesa, Restu dan Aleesa sudah tidak canggung lagi menunjukkan kemesraan di depan keluarga Aleesa. Apalagi sedari tadi Restu yang terus menggenggam tangan Aleesa. Menuju bandara pun tangan itu tak pernah terlepas.
"Bucin banget sih." Hanya ada dia dan Aleesa di dalam mobil. Restu menoleh dan tersenyum ke arah sang kekasih
"Tandanya aku sayang." Aleesa merasa sangat bahagia.
"Ternyata begini rasanya sebuah hubungan direstui oleh orang tua dan keluarga."
Tibanya di Bandara, Restu lah yang menarik koper Aleesa. Sedangkan Aleesa merangkul manja lengan sang kekasih. Mereka harus menunggu dulu barang empat puluh lima menit. Di sana terlihat betapa Aleesa tidak ingin berpisah dengan Restu. Sedari tadi tanngannya terus melingkar di pinggang Restu dan memeluk tubuhnya.
Sang kekasih pun tak merasa risih walaupun dia tengah berbincang serius dengan Rindra, Radit dan Rio.
"Intinya, tebelin. Aku juga akan ngawasin." Itulah yang Restu katakan. Setelah selesai berbincang serius Restu sudah mengusap lembut punggung Aleesa. Sesekali dia mengecup ujung kepala Aleesa.
"Manja banget sih," omel Rio. Dia hendak menarik tubuh Aleesa, tetapi Restu hadang.
"Ih ampun. Pada bucin!" omel Rio kepada Restu dan Aleesa.
Aleesa yang tengah memeluk tubuh Restu melihat seorang laki-laki yang tak asing baginya. Aleesa memanggilnya dan membuat Restu menatapnya dengan begitu tajam.
"Rangga!"
Tatapan Restu membuat Aleesa tak merasa bersalah. Tangannya masih melingkar di pinggang Restu.
"Itu Rangga, Bie." Aleesa mencoba menjelaskan. Namun, wajah Restu masih datar.
"Bie," panggil Aleesa lagi.
__ADS_1
"Aku gak suka kamu panggil-panggil laki-laki lain di depan aku." Geram, itulah yang Restu rasakan.
"Kalau di belakang kamu boleh dong." Restu malah menutup wajah Aleesa yang menghadap ke arahnya dengan jas hitam yang dia gunakan.
"Kamu sudah pasti tidak akan selamat, Aleesa." Sang kekasih malah tertawa melihat Restu marah seperti ini.
Rangga sudah menghampiri Radit dan Echa. Dia mencium tangan kedua orang tua Aleesa. Juga mencium tangan kedua orang tua Rio.
"Ini Rangga yang anak angkat Aksa 'kan." Rangga pun mengangguk seraya tersenyum.
"Ya ampun. Makin ganteng aja," puji Rindra.
"Makasih, Om."
Radit dan Echa hanya tersenyum melihat anak panti asuhan yang menjadi anak asuh Aksa kini semakin sukses.
"ENGGAK! jawab Rangga. Semua orang pun tertawa. Restu sudah merengkuh pinggang Aleesa dengan begitu posesifnya menandakan bahwa Aleesa miliknya.
"Kerja apa sekarang?" tanya Rindra. Dia dapat melihat jikalau Rangga bukan orang biasa. Pandangannya itu sama seperti kepada Restu.
"Hanya sopir, Om." Rindra dan Nesha sedikit terkejut. Begitu juga dengan Restu dan Rio.
"Iya, sopir pesawat," sambung Aleesa. Keterkejutan keluarga Rio berganti dengan sebuah kekaguman. Sedangkan Rangga hanya tersenyum manis.
"Lagi terbang atau--"
"Aku lagi liburan di sini, Tan. Ini juga aku mau balik ke Indonesia. Lusa harus mengudara lagi," potong Rangga pada perkataan Echa.
__ADS_1
"Sendiri?" tanya Radit.
"Sama teman, tapi dia udah kembali kemarin." Radit hanya mengangguk. Dia sangat bangga terhadap Rangga.
"Mau dijadiin sama yang mana nih, Dit?" Rindra sudah menggoda. Radit dan Echa hanya tertawa.
"Satu udah di keep sama putra Mbak, Rangga buat siapa nih." Nesha malah ikut-ikutan.
"Biar Allah aja yang menjodohkan." Rangga malah mengelengkan kepala. mendengarnya.
Ponsel Aleesa bergetar. Restu ikut melihat ke arah layar ponsel. Aleesa segera menjawabnya.
"Udah terbang belum?" Wajah cantik seseorang memenuhi layar ponsel Aleesa.
"Masih nunggu. Bentar lagi masuk pesawat."
Rangga terdiam mendengar suara yang dia kenali. Ada rasa sakit juga rindu yang selama ini dia tahan.
"Aku punya sesuatu untuk Kakak." Aleesa segera mengubah kamera depan menjadi kamera belakang. "Tara!"
Laki-laki itu mencoba tersenyum kepada Aleena. Kakak dari Aleesa pun malah membeku.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
komen dong ...