
"Apanya yang sama?" Suara Aleesa terdengar. "Ada apa ini? Kenapa wajah kalian terlihat sedih?"
Semuanya pun terdiam. Mereka terkejut berjamaah ketika mendengar suara Aleesa. Mereka pun kompak menoleh ke Aleesa yang tengah bergelayut manja di lengan Restu.
"Loh kenapa?" Restu malah bingung
"Enggak apa-apa," sahut Radit. Ayah dari Aleesa pun melengkungkan senyum. Dia menyuruh sang putri dan menantunya untuk makan.
"Kalian pasti belum makan. Nikmati makanan dulu gih biar nanti kuat bikin adonan cucu buat Baba." Berkelakar dalam keadaan cemas itu tidak mudah. Namun, Radit harus melakukan itu. Dia tidak ingin putrinya mendengar kabar yang belum pasti.
"Iya, Sa. Makan dulu gih. Ajak suami kamu juga."
Aleesa pun menuruti apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Dia dan Restu menuju tempat di mana banyak makanan terhidang. Radit menghela napas kasar. Dia menatap istrinya yang juga menghela napas berat.
"Jangan beri tahu Aleesa dulu sebelum semuanya pasti." Mereka mengangguk setuju. Aleesa memiliki penyakit yang cukup membahayakan. Kedua orang tua Aleesa takut jika terjadi hal yang fatal.
"Kamu pantau terus ya, Ngga." Perintah Radit diangguki oleh Rangga.
Iyan, dia memilih menyendiri. Hatinya pedih dan sangat sakit. Teriakan para manusia yang harusnya sampai tujuan, ini malah memiliki tujuan yang berbeda.
Dia tidak bisa berkata. Dia hanya bisa memejamkan mata seraya menyandarkan tubuhnya di dinding. Berkata jujur ataupun dusta itu sama-sama menyakitkan.
"Aku bingung, aku juga takut," gumamnya di dalam hati. "Bukan hanya Aleesa yang akan sedih, suaminya pun akan merasa tersakiti."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia juga tidak tahu jika Rangga sudah memberikan kabar tidak enak ini kepada keluarga Aleesa. Sedari tadi dia selalu menghindar. Ketika kata sah terdengar pun Iyan menunduk dalam.
"Sah"
"Tuhan Yesus!"
Kalimat yang berbarengan yang Iyan dengar. Kalimat suka cita juga duka cita kompak terlontar. Langkah seseorang terhenti dan itu membuat Iyan menoleh. Sang kakak sekaligus ibu untuknya menatap penuh tanya. Wajah sendu yang dapat Iyan tunjukkan.
"Iyan gak tahu." Lemah, suaranya sangat lemah.
"Yan--"
"Iyan hanya melihat dia tersenyum dan melambaikan tangan sebelum--"
"Sebelum apa?" Echa penasaran dengan mata yang nanar.
"Semuanya hancur." Iyan menunduk dalam dan air mata Echa menetes begitu saja. Tak lama, sang suami menghampiri Echa yang sudah menitikan air mata.
"Ba, suruh psikiater dampingi Grace sekarang." Hanya dengan mendengar kalimat itu Radit sudah sangat mengerti maksud ucapan istrinya.
.
Hanya menyisakan coretan tinta di kala jiwa dan raga sudah tidak ada.
Adikmu, Yansen.
Grace mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti dengan apa yang ditulis adiknya ini.
"Di kala jiwa dan raga sudah tidak ada," ulangnya. "Maksudnya apa?"
Baru saja Grace bergelut dengan pikirannya sendiri, terdengar para petugas kepolisian berbincang mengenai pesawat yang hilang kontak.
"Tujuannya Jakarta-Samarinda."
Grace terkejut. Tubuhnya menegang. Matanya mulai berair.
"Yansen, apa itu pesawat yang ditumpangi Yansen?" Grace pun menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk menolak apa yang berada di pikirannya.
"Enggak, kamu pasti gak di sana."
__ADS_1
Bicara tidak, tapi air mata mengalir deras hingga salah seorang petugas mendekat. Menegur Grace yang sudah bermandikan air mata.
"A-apa benar ... pesawat menuju Samarinda kehilangan kontak?" Suara Grace bergetar hebat.
"Iya, kenapa emangnya?"
"Adik saya ... dia ... dia juga pergi ke Samarinda." Tangis Grace pun pecah. Petugas wanita itupun mengusap lembut punggung Grace.
"Semoga itu bukan penerbangan adik Anda, ya."
Grace masih menangis, dia menatap ke arah petugas dan meminjam pulpen. Lalu, menuliskan nama adiknya.
"Saya titip nama ini. Ini nama adik saya. Jika, ada namanya di antara penumpang itu tolong beri tahu saya." Mata yang berair, bibir yang bergetar, dan sedih yang tak bisa terbendung. Itulah kondisi Grace sekarang.
"Yansen Geremy," ucap petugas. Grace mengangguk.
"Saya mohon ... kabari saya karena ... dia satu-satunya saudara yang saya miliki di dunia ini." Grace menunduk dalam. Isakan tangis terdengar. Air matanya tak terelakan.
"Pasti."
Grace masuk ke dalam sel kembali. Dia memeluk erat goody bag yang Yansen berikan kepadanya. Aroma parfum Yansen membuat Grace semakin sedih.
"Sen, katakan pada Kakak kamu tidak ada di pesawat itu!" Suara lemah dan nyaris tak terdengar.
"Bagaimana dengan Kakak, Sen? Jangan tinggalkan Kakak. Jika, kamu pergi setidaknya kamu ajak Kakak. Jangan seperti ini. Kamu adalah alasan terbesar Kakak untuk terus bekerja keras. Kamu juga yang membuat Kakak masih terus ada di dunia ini. Jika, kamu pergi ... untuk apa Kakak masih hidup?"
Frustasi yang kini Grace rasakan. Tubuhnya yang tengah bersandar di dinding luruh ke lantai. Lagi-lagi air mata menetes dengan sangat deras. Tengah tenggelam dalam kesedihan, petugas memanggilnya untuk keluar. Hati Grace deg-degan tak karuhan.
Ketika dia memasuki ruangan khusus menerima tamu, dia dikejutkan dengan kehadiran psikiaternya terdahulu. Dia tercengang dan membeku.
"Saya disuruh Pak Radit."
Nama yang disebut oleh sang psikiater membuat air mata Grace tak tertahan. Dikondisi mereka yang tengah berbahagia masih memikirkan dirinya di sini yang tengah dirundung duka.
Grace tak percaya, tapi ini nyata. Manusia berhati malaikat itu ternyata ada. Disakiti seperti apapun, dua orang ini masih tetap bersikap baik padanya.
"Apa Om Radit sudah tahu?" Psikiater itu mengangguk.
"Pesawat yang hilang kontak dipastikan sama dengan nomor penerbangan adik kamu." Tubuh Grace lemas, tulangnya bagai tulang ayam lunak sekarang.
"Jangan bercanda," ucapnya lirih.
"Pak Radit mendapat informasi dari salah satu pilot, yang tak lain adalah keponakannya." Hancur, begitulah hati Grace sekarang.
"Masih ada harap, masih ada asa. Ini baru dinyatakan hilang."
"Bukankah setiap pesawat yang kehilangan kontak sudah pasti mengalami kecelakaan." Lemah sekali Ucapan dari Grace. Psikiater itu hanya terdiam.
"Bagaimana dengan Aleesa?" Tiba-tiba Grace menanyakan Aleesa. Ini hari bahagia Aleesa.
"Semuanya masih belum memberi tahu karena beritanya belum pasti. Semuanya tengah menjaga kesehatan Aleesa."
"Jika, hal buruk terjadi pada Yansen pasti kamu akan sangat terpukul. Kalian sudah sangat dekat, dan pasti kamu akan merasa sangat kehilangan."
.
Sedari tadi Aleesa tak bernafsu. Dia hanya terus menggenggam tangan Restu dan membuat Restu semakin bingung.
"Lovely--"
"Aku udah kenyang, Bie. Aku cuma mau kamu terus genggam aku dan peluk aku. Hanya itu yang membuat rasa sedih yang tak beralasan ini hilang." Restu menuruti apa yang dikatakan oleh Aleesa. Dia juga melihat jelas jika raut Aleesa akan berubah ketika dirinya peluk.
"Terus ada di samping aku, Bie. Agar rasa sedih ini hilang."
__ADS_1
Baru saja selesai bicara seperti itu, Rangga menghampiri Aleesa dan Restu. Begitu juga dengan Kemala dan Raina yang sudah menangis. Di belakang mereka sudah ada keluarga besar Aleesa termasuk Iyan.
"Ada apa?" Restu lagi-lagi dibuat bingung.
"Kem, Rai, kalian kenapa?" Aleesa sudah mulai bersuara.
Rangga menyerahkan sebuah iPad kepada Aleesa. Pengantin baru itu tidak mengerti dan menatap penuh tanya ke arah Rangga.
"Putarlah!"
Ipad itu sudah berpindah tangan, Restu yang sudah memegang dan memutar video tersebut.
Telah ditemukan potongan baju tak jauh dari titik di mana pesawat tujuan Samarinda hilang kontak.
Mata Aleesa melebar. Dia menoleh ke arah Rangga yang ada di sampingnya. Baju yang sama persis dengan Rangga gunakan. Mata Aleesa sudah berair. Restu sudah merangkul pundak sang istri.
"Enggak--" Aleesa menggelengkan kepala. "Ini bukan pesawat Sensen 'kan. Bukan 'kan." Dia berkata dengan suara bergetar.
"Sa--" Iyan sudah memanggilnya. Kini, air mata Aleesa jatuh dengan begitu lancar.
"Ini bohong 'kan, Om!" Iyan terdiam dengan wajah sendu.
"Jawab Sasa, Om!" bentak Aleesa. "Bayangan putih itu gak bawa Sensen 'kan. Enggak 'kan, Om!"
Iyan mendekat dan memeluk tubuh Aleesa. Radit menggelengkan kepala kepada Restu menyuruhnya untuk menjauh sejenak. Di sinilah pengertian dan kesabaran Restu diuji.
"Kita tunggu hasil dari tim SAR."
Aleesa masih memeluk tubuh Iyan. Radit sudah berbicara empat mata kepada sang menantu. Dia tidak ingin Restu berpikiran aneh-aneh.
"Iya, Ba." Begitulah jawaban dari Restu.
"Aleesa dan Yansen sudah bersahabat sedari kecil. Jadi, pasti ini pukulan berat untuknya." Restu pun mengangguk.
"Maaf ya, Nak." Restu menggeleng.
"Ini ujian di awal pernikahan." Radit mengehela napas kasar. "Ini sudah Tuhan tuliskan. Jadi, mau tidak mau harus kita jalankan. Aku percaya badai pasti berlalu."
Radit tersenyum mendengarnya. Tak segan dia memeluk tubuh sang menantu dan itu mampu menghangatkan hati Restu.
"Tetap berada di samping Aleesa, ya. Kamu adalah obat penawar dari segala sedih Aleesa."
Acara tetap berjalan dengan semestinya sambil menunggu sebuah kepastian. Wajah Aleesa kembali sendu ketika acara selesai. Sudah tiga jam mereka menunggu kabar terbaru.
Restu menggenggam tangan Aleesa hingga sang istri menoleh ke arahnya. Sebuah kecupan di kening Restu berikan dan itu mampu membuat Aleesa memejamkan mata sejenak.
"Kamu harus kuat karena aku akan selalu menggenggam tangan kamu." Aleesa mengangguk dan dia membenamkan wajahnya di dada bidang Restu.
Breaking news.
Penyelam sudah menemukan bagian dari tubuh pesawat dan dugaan jika pesawat jatuh ke laut memang benar.
Aleesa pun mulai fokus pada layar segiempat besar di depannya. Juga para keluarga Aleesa yang sudah duduk manis di sana.
Para penyelam pun menemukan potongan jari. Juga sebuah kalung berliontinkan salib yang tersangkut di bagian pesawat.
"Tim penyelam sudah menemukan potongan bagian tubuh manusia, juga jaringan kulit yang akan segera diangkut ke atas. Juga, kalung ini." Perwakilan dari Basarnas sudah membuka suara.
"Kalung salib," paparnya. Dia memutar liontin itu dan dia cukup terkejut. "Ada namanya." Bukan hanya warta berita yang tengah mewawancara yang terkejut. Keluarga Aleesa pun yang tengah menonton terkejut.
"Yansen Geremy."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...