
Restu terus mendorong si belalai bongsor ke dalam goa hingga Aleesa terus menjerit keenakan. Hanya setengah dari si belalai bongsor yang masuk karena sudah tak muat.
"Sshh!"
Bukan hanya Aleesa yang berdesis. Restu pun sudah seperti raja ular. Keringat sudah bercucuran di tubuh merek berdua.
"Ahh ....!" Aleesaa mengerang panjang dan terasa ada yang sangat hangat membasahi si belalai bongsor.
"Kamu keluar lagi, Lovely?" Aleesa mengangguk dengan sangat lemah. Perlahan si belalai milik Restu tarik mundur.
"Wow!" Dia terkesima ketika si susu putih kental ikut keluar dari belahan sana.
"Enak 'kan." Restu sudah mengusap keringat di dahi sang istri.
"Lemas, Bie."
Bukannya menyudahi, Restu malah memasukkan belalai kembali hingga sang istri menjerit lagi. Rasa perih yang dia rasakan jika kepala belalai itu masuk. Belum terbiasa dan karena ukurannya yang besar membuat Aleesa harus menahan sakit.
"Shiit! Ini enak banget, Lovely." Ritme yang semakin cepat membuat Aleesa semakin menjerit. Si belalai terus menyodok hingga Aleesa kewalahan dan terus mengeluarkan susu putih kental yang mengandung banyak protein.
Satu setengah jam berlalu, Restu masih kuat dan belum ada tanda-tanda si belalai itu mabuk. Beda halnya dengan sang istri yang sudah tak berdaya. Dia sudah terlalu lemah. Hingga erangan keluar dari mulut Restu. Tubuh kekarnya menindih tubuh Aleesa sambil menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan sang istri.
Tubuh Aleesa yang lemah kini mulai memanas karena serangan bibir Restu di daerah yang membuat darahnya bergejolak.
"Aduh! Aku mau keluar, Lovely." Suara Restu sudah sangat parau.
"Bie, aku mau di atas. Aku pengen rasakan semburan belalai kamu." Istrinya mulai bersemangat karena video tutorial yang Restu cekoki.
Tanpa melepas si belalai Restu merubah posisi dan rasanya semakin nikmat. Terlebih sang istri benar-benar mengikuti tutorial yang dia tonton.
__ADS_1
"Aduh, Bie!"
Aleesa pun merasakan hal yang lebih nikmat. Lebih menusuk dan membuatnya keenakan. Hingga Mereka mengerang bersama.
"Tekan, Lovely. Mau keluar." Aleesa mengikuti perintah Restu dan baru saja ditekan Aleesa pun mulai tak tahan. Belalainya seakan ingin mengajaknya mabuk dan muntah bersama.
"Bie!"
"Ahh!"
Mereka berucap bersamaan, dan tubuh Aleesa pun ambruk di atas tubuh sang suami. Napas mereka sungguh tak beraturan.
"Makasih, Lovely." Aleesa tak menjawab. Tubuhnya sangat-sangat lemas.
Setengah jam berlalu, tubuh yang masih lemas, keringat yang belum kering, dan napas yang belum sepenuhnya teratur sudah ditindih oleh badan kekar kembali. Stamina suaminya sungguh luar biasa. Otot-ototnya semakin terlihat seksi ketika berkeringat.
"Aku gak bisa melawan ya, Bie. Aku masih capek. Badanku rentek semua."
Iya-nya Restu itu berbeda. Dia sangat pandai membuat tubuh Aleesa memanas hingga sang istri mulai melawan dan benar-benar dibawa terbuai oleh belalai bongsor miliknya.
Jeritan cukup kencang keluar dari mulut Aleesa ketika mereka bergaya guguk. Di situlah belalai bongsor milik Restu bisa masuk semua.
"Bie!"
Restu tak meghiraukan. Sprei sudah lengket karena susu putih kental Aleesa yang terus menetes keluar. Aleesa benar-benar dibuat payah. Selemas-lemasnya dia, tetap saja Restu masih bisa membuat istrinya mengeluarkan sesuatu yang lengket dari goa yang sudah terdobrak oleh si belalai imut yang kini berubah menjadi raksasa.
Gencatan belalai mulai cepat dan semakin menusuk hingga ke dinding buntu. Lagi-lagi Aleesa menjerit. Bukan hanya Aleesa yang menjerit. Restu pun ikut menjerit dan terasa gua yang belalai itu dobrak mengahngat dan ada aliran kental yang membuat si goa berkedut manambah rasa nikmat yang tak bisa diutarakan.
Restu tersenyum melihat istrinya sudah terlelap dengan raut kelelahan. Dia mengusap keringat yang masih nampak di kening sang istri. Kemudian, mengecupnya dengan begitu mesra.
__ADS_1
"Aku tak salah memilih kamu, dan aku tak rugi menyerahkan apa yang aku miliki untuk kamu," ucap Restu dengan senyum yang mengembang.
"Kamu benar-benar tak megecewakan aku." Restu mulai merangkak ke bawah. Perlahan, dia membuka kedua kaki Aleesa. Masih ada susu putih kental yang tersisa. Tanpa jijik dia membersihkannya dengan mulutnya. Terlihat sang istri merespon dengan gerakan.
"Bie--"
"Enggak, Lovely. Aku cuma bersihin doang. Sayang "kan kalau kebuang." Tubuh Aleesa sudah tak berdaya. Dia sudah tidak ingat apa-apa.
Hingga pagi datang dia dikejutkan dengan suaminya yang sudah bergerayang di area yang tidak bisa ditahan.
"Bie--"
"Aku ingin menikmati pagi pertama kita, Lovely."
Kejadian semalam terulang lagi dan pagi ini sang suami semakin ganas. Pergulatan mereka berdua menghasilkan suara yang sangat meresahkan. Siyalnya, pemuda yang masih bujangan mendengar suara setan itu lagi.
"Apem kamu enak banget, Lovely. Sempit dan legit."
"Belalai kamu bikin aku ... Ah!"
"Bang sat!" Dia menggerutu kesal. Suara itu membuat otaknya bertraveling di pagi yang masih segar.
"Apes banget sih gua!" Dia terus menggerutu. Tibanya di ruang makan bukannya menyapa mereka yang sudah duduk manis malah kalimat di luar konteks yang dia ucapkan.
"Om, pasang peredam suara dong di kamar pengantin baru." Wajah kesal terlihat jelas.
"Kenapa lu? Dengar suara setan?" Aleeya menimpali.
"Kelasnya bukan setan lagi itu mah. Dedemit!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen atuh ..