
Seseorang sudah berada di ruangan Raditya Addhitama. Sedangkan sang pemilik ruangan belum juga datang. Sudah dua jam dia menunggu Radit. Dihubungi pun tak dijawab. Sudah puluhan kali orang itu menghubunginya.
Radit sengaja untuk mengabaikan panggilan yang masuk ke dalam ponselnya tersebut. Ada rasa marah yang tengah bersarang di hati Radit karena ulah orang itu. Apalagi dia baru mendengar jika putri ketiganya baru saja beradu mulut dengan sang istri. Banyak yang berubah dari Aleeya. Dia bahkan tidak mengenali putrinya sendiri.
"Apa Baba salah ngedidik kamu, Ya?" gumam Radit. Dia menghela napas kasar. Dia terus melajukan mobil dari arah luar kota menuju Jakarta. Ada sebuah tempat yang ingin dia kunjungi setelah pusara sang ayah.
Dia membelokkan mobil ke sebuah pemakaman umum. Wajahnya terlihat muram ketika dia keluar dari mobil. Terlihat betapa dia tengah menyembunyikan sedihnya kepada para manusia di bumi. Langkahnya pun nyaris tak menapak ke bumi.
Radit tersenyum ketika rumah abadi sang ibu sudah terlihat . Senyum yang dipaksakan terukir ketika dia sudah berada di samping pusara sang ibu. Senyum yang menyimpan banyak arti dan menunjukkan betapa beratnya masalah yang tengah dia hadapi. Ini bukan perkara mudah. Dia memiliki dua kakak yang pastinya tidak satu pemikiran dengannya.
"Mih, Radit datang." Kalimat yang begitu lirih dan lemah. Radit mulai berjongkok di samping pusara sang ibu, memandang nama sang ibu yang terukir di sana. Ada rasa rindu yang menggebu. Ada rasa lelah yang tak berarah dan ada rasa ingin menangis keras untuk sejenak.
"Maaf, jika Mamih bosan melihat kehadiran Radit. Maaf, jika Radit sekali berkeluh kesah di sini. Maafkan Radit, Mih."
Radit mulai menundukkan kepalanya dan bibirnya masih mampu untuk tersenyum kecil. Namun, tak terasa bulir bening membasahi pipinya dan tubuhnya sedikit bergetar. Radit tidak bisa berkata banyak. Air matanya yang berbicara.
Dulu ketika dia bertengkar dengan sang ayah, dia bisa menceritakan semuanya disamping pusara sang ibu. Namun, sekarang rasanya sulit. Dia malu, dia sudah tua harusnya dia bisa dewasa. Kali ini, dia tidak bisa seperti itu. Beban di pundaknya sudah teramat berat. Dia ingin istirahat sejenak.
Hanya sebuah senyum tipis dengan penuh kesakitan yang Radit berikan. Mulutnya sudah tidak bisa berucap, mulutnya terasa seperti dikunci dan dia hanya bisa menangis dengan senyum kecil yang bibirnya berikan dengan mata yang menatap nama yang ada di pusara itu.
Radit hanya terdiam di samping pusara sang ibu. Tangannya terus mengusap lembut Nisan yang bernamakan Vivi. Air matanya seakan tengah mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya.
.
"Ke mana nih anak?" Geram sendiri dia. Namun, orang itu tetap menunggu Radit karena ada hal yang ingin dia sampaikan.
Pintu ruangan terbuka sebelum jam makan siang. Wajah kesal seseorang dapat Radit lihat ketika dia masuk ke dalam ruangannya.
"Dari mana aja kamu?" Orang itu membentak Radit. "Kenapa gak profesional?" lanjutnya lagi
__ADS_1
Radit hanya tersenyum tipis. Dia mendekat ke arah pria itu dan berkata dengan santai, "apa sudah buat janji dengan Radit?" Orang itupun berdecih kesal.
"Saya ini Om kamu, orang tua pengganti kamu. Ngapain harus buat janji." Radit hanya menggelengkan kepala. Semenjak ayahnya meninggal sikap sang paman berubah drastis.
"Ada yang mau Om bicarakan.". Ya, dia Satria adik dari almarhum Addhitama.
"Masalah apa?" tanya Radit dengan wajah malas.
"Aleesa." Radit pun menghela napas kasar. Dia tahu arah pembicaraannya akan ke mana.
"Kenapa kamu gak memilih calon menantu yang--"
"Apa ada yang salah jika Radit menerima lamaran dari Restu?" potong Radit sebelum Satria menyelesaikan ucapannya. "Dia anak yang baik dan penuh tanggung jawab."
Satria tersenyum kecut mendengarnya. Dia menatap rendah ke arah Radit. "Cari menantu itu lihat dari bibit, bebet, bobotnya. Jangan asal aja." Satria menjelaskan.
"Bukan brandalan seperti itu," lanjutnya lagi. Kini, Radit menatap ke arah Satria dengan begitu tajam. Dia merasa tidak terima calon menantunya dikatai seperti itu.
"Jangan terus menjatuhkan orang lain, Om. Bercerminlah! Apa diri Om itu lebih baik dari orang yang Om rendahkan." Radit sudah muak dengan semuanya. Satria pun terdiam.
.
Nesha mulai panik karena sang suami menghubunginya jikalau Restu tidak datang ke kantor. Dia terus menghubungi Restu, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Ke mana kamu, Nak?" Menghubungi Aleesa pun sama saja. Hatinya pagi tadi tidak tenang walaupun Restu sudah mengirim pesan bahwa dia akan berangkat ke kantor. Feeling seorang ibu biasanya tak pernah salah.
Rio sudah ditugaskan untuk mencari Restu. Namun, dia juga tidak tahu di mana Restu berada. Perihal apartment milik Restu tidak ada yang tahu. Itu memang diperuntukkan untuk Aleesa dan hanya Aleesa yang tahu akan hal itu. S
"Kalau udah begini kayaknya ada yang tejadi sama tuh anak," ujar Rio sambil melajukan mobilnya. "Gua penasaran ada dendam apa tuh anak sama si Kalfa?" gumam Rio.
__ADS_1
Di jam makan siang, Rio tak sengaja bertemu dengan Rangga dan Aleena di sebuah tempat makan pinggir jalan. Di mana tempat itu juga adalah tempat makan favoritnya.
"Kalian di sini?" Aleena dan Rangga menoleh. Mereka berdua tersenyum ke arah Rio.
"Gercep banget lu," sindir Rio kepada Rangga. Rio menukikkan kedua alisnya dan Aleesa hanya menggelengkan kepala.
"Tadi aku lagi ada perlu sama Aleena." Rio tidak percaya begitu saja. Dia pun tersenyum tipis dan dengan sengaja dia duduk di tengah, memisahkan Aleena dan juga Rangga. Dalam hati Rangga dia berdecak kesal.
"Kak Iyo dari mana?" tanya Aleena.
"Nyari Restu." Rangga dan Aleena saling pandang. Apakah mereka berdua harus berbicara jujur kepada Rio?
"Kata Papih dia gak datang ke kantor. Padahal ini hari pertama Restu kerja."
Aleena ingin memberi tahu, tapi Rangga menggelengkan kepala. Aleena pun akhirnya mengangguk. Sekarang, Aleena masih terngiang akan perkataan Rangga perihal pria yang memakai tongkat.
"Apa jangan-jangan orang itu sama dengan orang yang pernah menghampiriku? Tapi, kenapa memukuli Kak Restu? Ada hubungan apa?"
.
Restu masih membungkam mulutnya. Padahal Aleesa sudah banyak bertanya.
"Bie." Aleesa sudah menatap tajam ke arah Restu. "Aku ini calon istri kamu loh. Apa kamu mau terus menyembunyikan sesuatu dari aku?" Restu yang tengah mengunyah pun segera menelan makanan yang ada di mulutnya. Dia menatap dalam ke arah Aleesa.
"Aku berhak tahu apa yang terjadi, Bie. Walaupun aku tidak bisa membantu, setidaknya aku akan selalu ada di samping kamu." Restu tersenyum mendengarnya.
"Besok kamu akan tahu." Restu menarik tangan Aleesa dan masuk ke dalam pelukannya.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...