
Rasa sakit masih terlihat jelas walaupun Restu mencoba untuk menyembunyikan. Rindra tidak tega melihatnya.
"Yo," panggil Rindra. Putra tunggalnya pun menoleh. "Jaga Restu, ya. Papih percaya sama kamu." Rio pun mengangguk. Tidakmada penolakan dari Rio setelah dia mengetahui peluru apa yang mengenai tubuh sahabatnya itu.
"Gua akan jaga lu, Res. Gua akan tetap jadi sahabat sekaligus adik untuk lu. Sekarang gantian gua yang jaga lu."
Pagi ini Rio yang bertugas mendampingi Restu. Dia melihat bahwa sahabatnya itu tengah kesakitan. Dia mencoba mendekat dan duduk di samping ranjang pesakitan Restu.
"Dokter Rocki siang baru sampe." Tidak ada jawaban dari Restu. Dia hanya bisa memejamkan mata ketika rasa sakit datang kepadanya.
"Ya Tuhan, aku ingin tetap hidup dan bahagia bersama Aleesa."
"Bapak moyang lu punya hati macam apa sih?" Rio mulai geram. Mata Restu yang tadi terpejam seraya berdoa kini terbuka. Dia menatap ke arah sahabatnya itu.
"Dia bukan manusia. Jelas dong gak punya hati." Jawaban Restu membuat Rio tertawa. Dia menatap ke arah kakak angkatnya itu.
"Apa sih yang dia inginkan?" Rio jadi geram sendiri.
"Gua gak tahu dan gak mau tahu juga. Dia emang bapak gua, tapi kalau kejam begitu mah gak pantas gau panggil bapak." Restu berbicara dengan sangat tegas dan penuh kemarahan.
"Jagain Aleesa, Res."
"Tanpa lu minta gua udah melakukan hal itu. Gua gak akan membaurkan dia menyentuh Aleesa." Dia akan menjadi pelindung utama untuk kekasihnya.
Aleesa adalah alasannya untuk tetap masih bertahan hidup sampai saat ini. Dia meraih ponselnya dan menatap layar ponsel yang bergambarkan wajah Aleesa.
"Kuat, Restu. Kuat!"
Kalimat itu yang selalu dia dengar jika melihat foto Aleesa di ponselnya.
Dokter Kaira masuk ke kamar perawatan untuk memeriksa tubuh Restu. Rio melihat gerak-gerik dokter wanita tersebut yang sepertinya sudah terhipnotis akan ketampanan Restu.
"Jangan diliatin aja, Dok. Periksa," omel Rio. Mulutnya sangat tajam dan berbisa. Restu hanya diam. Mengacuhkan dua orang yang satu berada di depannya dan satunya si belakangnya. Di malah menghubungi kekasihnya yang baru saja tiba di kampus.
"Iya, Bie."
Rio melebarkan mata mendengar suara Aleesa. Sedangkan mimik wajah dokter Kaira berubah seketika.
"I want you." Aleesa tertawa.
"Pulang ngampus aku langsung ke rumah sakit. Aku sudah dapat ijin dari Baba dan Bubu. Aku boleh jaga kamu di rumah sakit." Restu tersenyum mendengarnya.
"Segeralah Kembali. I always missing you."
"Pasti, Bie. Aku juga gak mau kamu dilirik oleh dokter-dokter muda yang ada di rumah sakit. Tampan kamu sangat meresahkan sampai aku ingin melakban mulut para perawat yang asyik memuji ketampanan kamu. Aku gak suka." Aleesa berkata dengan menggebu-gebu. Sengaja Restu me-loudspeaker agar dokter yang ada di belakangnya mendengar. Begitu juga dengan perawat yang bersama.dokter tersebut.
Rio berdecak kesal. Betapa bucinnya mereka berdua ini. Dia pun beralih menatap ke arah dokter Kaira yang sedari tadi terdiam bukannya memeriksa Restu.
"Jangan berharap lebih dari pasien Anda, Dok. Sesungguhnya hatinya sudah terpatri pada satu nama." Rio menekankan perkataannya. Dia senang saja melihat reaksi dokter Kaira.
Dokter Kaira hanya terdiam. Rio malah menyodorkan sebuah kertas kepada dokter Kaira ketika dia sudah selesai memeriksa Restu.
"Itu nomor saya. Anda bisa hubungi saya jika Anda butuh teman."
Restu yang sedari tadi terdiam kini melebarkan mata mendengarnya. Apa telinganya tidak salah mendengar? Selepas dokter Kaira pergi Restu terbahak seraya mengejek.
"Momen langka, Mamih Papih harus tahu." Rio pun memelototi Restu dan semakin membuat Restu tertawa.
Tawa mereka terhenti ketika seseorang masuk ke ruang perawatan Restu. Dia menyerahkan beberapa lembar foto kepada Restu. Meskipun sakit, dia memaksa untuk duduk dibantu oleh Rio.
"Hati-hati. Mereka mengincar kekasih Anda."
__ADS_1
Urat-urat kemarahan muncul di wajah Restu. Dadanya sudah turun-naik. Sungguh cari mati ayah laknat itu. Restu tengah berpikir dan mulai menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.
"Kamu tenang saja. Sedikit saja dia menyentuh Aleesa sudah saya pastikan hidupnya akan berakhir."
"Bapak moyang lu itu manusia apa iblis sih?" Rio geram sendiri. "Dulu, nembak anaknya sendiri hanya karena harta." Rio menggelengkan kepala.
"Dia Dajjal." Restu menjawab asal. Saking kesalnya kepada pria yang telah menjadi ayah kandungnya.
"Pengamanan di sini pun akan berlapis. Anda jangan takut." Restu pun mengangguk dan menyuruh anak buahnya berjaga kembali di luar.
"Di kampus ada yang jagain Aleesa gak?" Restu pun mengangguk. "Tapi, gak terlalu dekat." Rio pun mengangguk. Dia tahu Aleesa tidak suka penjagaan ketat.
.
Setelah mendapat telepon dari seseorang, Aksara tersenyum tipis. Dia seperti tengah menyusun rencana.
"Menggulingkan perusahaannya sangat mudah," gumamnya. "Setelah itu ambil semua sahamnya." Seringai jahat pun muncul di wajahnya.
Dia juga memiliki dendam pribadi pada sosok Jordan Genea. Penembakan yang pernah dia alami ternyata biang keroknya Jordan Genea.
"Padahal tuh orang udah cacat. Jalan aja pakai tongkat, tapi masih bernyali besar aja." Aksara menggelengkan kepala. "Di penjara aja masih bertingkah."
Jordan megalami kecelakaan hingga salah satu kakinya tidak bisa digerakkan. Namun, dia juga enggan untuk diamputasi. Dia memilih menggunakan tongkat untuk menutupi kekurangannya.
Aksara sudah menyusun startegi. Dia juga sudah mencari tahu siapa saja musuh-musuh Jordan Genea. Dia akan bekerja sama dengan mereka untuk menghancurkan Jordan Genea. Perihal istri dari Jordan, Aksara belum mendapatkan titik terang.
Suara pintu diketuk terdengar. Kaki tangan Aksara mengatakan perihal pemilik Zen-wtm ada di Jakarta. Dia juga terkejut ketika mendengar bahwa Restu yang menjadi pengawal pribadi wanita hebat itu.
"Tapi, dia tidak bisa ditemui."
Aksa langsung menghubungi Restu. Dia menanyakan perihal Zenith Andre. Tak perlu menunggu lama, sambungan teleponnya pun dijawab oleh Restu.
"Saya hanya ingin berbincang sebentar."
"Ya udah gini aja, Om. Ketemunya di rumah Om aja. Aku percaya kalau Om bisa menjaga Madam. Aku belum bisa menemani karena kondisi aku saja belum pulih."
"Baiklah. Saya tunggu waktunya. Kamu bicarakan dulu dengan Zenith."
"Iya, Om."
Senyum Aksa pun melengkung dengan sempurna ketika apa yang diaim inginkan sebentar lagi akan terwujud. Bekerja sama dengan Zen-wtm adalah salah satu dari mimpinya. Kini, kesempatan itu sudah di depan mata.
"Calon keponakan gua emang bisa diandelin." Tidak mudah menaklukan hati seorang Aksara. Hanya Restu yang dengan mudah bisa membuat Aksa menyebutnya calon keponakan. Restu dari Aksa itu yang akan sulit didapatkan.
Rasa rindu bersarang di hati madam Zenith. Dia ingin bertemu dengan Mr. R, tapi Mr. R melarang madam Zenith menjenguknya. Bukan tanpa alasan, rumah sakit di mana dia dirawat masih belum aman. Mau tidak mau madam Zenith pun menuruti ucapan Mr. R. Dia pun melarang madam Zenith untuk pergi ke manapun. Gemke tidak akan kuat menghadapinya sekarang diri.
"Gemke, apa Mr. R baik-baik saja?" Raut khawatir terlihat di wajah cantik madam Zenith.
Gemke menyerahkan sebuah video yang diberikan oleh orang yang menjaga Mr. R di rumah sakit. Mata madam Zenith nanar ketika Mr. R terus menggenggam tangan kekasihnya dengan wajah yang meringis kecil.
"Apa dokter Rocki sudah datang?"
"Sudah, Madam. Dia pun sudah memeriksa Mr. R. Dia akan berada di Jakarta hingga Mr. R dinyatakan sembuh.
Madam Zenith hanya mengangguk. Dia tidak bisa berkata. Rasa sedihnya masih hinggap sampai saat ini melihat Mr. R tersenyum dan menyebut nama kekasihnya.
"Gemke," panggil madam Zenith. Gemke pun menatap ke arah sang madam.
"Siapa sebenarnya Mr. R? Saya melihat jika keluarga Mr. R bukan dari kalangan biasa. Apalagi ayahnya." Madam seakan meminta penjelasan kepada Gemke.
"Untuk hal itu, saya juga tidak tahu Madam. Mr. R tertutup akan keluarganya. Dia hanya pernah mengatakan bahwa dia menyayangi keluarganya yang sekarang."
__ADS_1
Madam Zenith merasa ada yang janggal dari ucapan Mr. R. Jika, melihat dari kemiripan wajah Mr. R tidak mirip dengan ayah atau ibunya. Beda dengan adiknya yang mirip dengan sang ibu.
"Kenapa aku semakin penasaran dengan kamu, Mr. R?" Madam Zenith membatin.
Madam Zenith terkejut ketika Mr. R menghubunginya. Dia nampak senang, Walaupun hanya untuk membicarakan perihal bisnis. Mendengar suara Mr. R saja dia sudah bahagia.
"Baiklah. Saya akan cari tahu dulu siapa Ghassan Aksara Wiguna."
Tanda tanya besar masih bersarang di kepala Madam Zenith. Apalagi dia baru saja mendengar bahwa paman dari Aleesa ingin bertemu dengannya. Sudah pasti Aleesa juga bukan anak dari orang biasa.
"Siapa kamu Mr. R? Kenapa aku merasa dekat dengan kamu?"
Bab 70.
Dokter Rocki tiba di rumah sakit dan segera memeriksa Restu. Di sana ada kedua orang tua Restu yang menemani sang putra. Juga Rio yang masih setia berada di samping kakak angkatnya. Dokter Rocki memeriksa Restu dengan teliti. Dia juga membenarkan perihal peluru yang digunakan untuk menembak Restu sangat berbahaya. Lukanya pun semakin melebar.
"Sakit?" Restu pun mengangguk. Dokter Rocki hanya menghela napas kasar mendengar jawaban dari Restu.
"Saya akan menangani anak ini hingga dia puloh seratus persen." Dokter Rocki sudah membuat keputusan. "Saya tida mau ada dokter manapun yang memegang Restu."
Jika, Aleesa mendengarnya sudah pasti dia akan sangat bahagia. Tidak ada dokter wanita lagi yang memeriksa kekasihnya.
"Dok, apa peluru itu memiliki dampak buruk?" Dokter Rocki pun mengangguk.
"Tenang saja, dia akan kembali pulih." Restu hanya tersenyum. "Namun, harus waspada. Setiap anak buah Jordan membawa senjata yang sama dengan peluru yang mematikan pastinya. Jaga diri kalian baik-baik."
Dokter Rocki ternyata mantan anak buah Jordan. Bisa dibilang dia adalah tangan kanan Jordan yang berkhianat. Dia bertemu Restu di Swiss ketika Restu hampir putus asa. Dialah yang membuat Restu fight dan mengobati setiap luka yang dideritanya karena dia masih ingat pada wajah Restu, anak yang disiksa oleh Jordan tanpa ampun.
"Semuanya sudah tebal." Rindra berkata. Dokter Rocki mengangguk. "Tetap harus waspada."
Setelah Restu beristirahat, Rindra dan dokter Rocki berbincang berdua di luar. Ternyata mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama. Mereka pun asyik menyesap rokok di sebuah ruangan khusus.
"Jordan tahu bahwa ibu dari Restu masih hidup. Jadi, ada dua yang menjadi incarannya." Rocki menjelaskan. Rindra tidak terkejut akan hal itu.
"Namun, yang menjadi target utama adalah Restu. Jika, Restu tiada dia bisa dengan mudah mengambil semua perusahaan Wiratama. Termasuk yang di Zurich." Jordan menjelaskan lebih detail. "Dia tinggal pura-pura bertemu dengan istrinya yang dulu dinyatakan mati, dan berlakon dengan baik supaya wanita itu luluh lagi. Perihal putra mereka, Jordan akan melanjutkan skenario Wiratama."
Rindra menghela napas kasar dan mematikan punggung rokok yang sudah memendek.
"Saya kira semuanya akan berakhir setelah Restu pergi dan saya rawat karena saya pun tidak memperbolehkan Restu menerima seperak pun uang dari warisan Wiratama," paparnya. Dari setiap kata yang keluar dari mulut Rindra penuh dengan emosi.
"Harusnya sih Restu aman, tapi 'kan Jordan yang tamak dan semakin menjadi. Apalagi surat wasiat asli baru keluar enam bulan ini dan menyebabkan dia dipenjara karena kasus penipuan surat wasiat itu. Dia semakin dendam kepada Restu karena dia mengira bahwa Restu lah yang melaporkannya."
"Untuk apa Restu melakukan hal yang tidak berguna itu? Warisan dari Papih saya pun masih lebih besar dibandingkan aset yang dimiliki Wiratama." Rocki tahu akan hal itu. Wiratama memang pengusaha sukses, tapi masih di bawah Addhitama dan jauh di bawah Wiguna.
"Dia memiliki banyak musuh. Para musuhnya lah yang memanfaatkan keadaan ini untuk membalaskan dendam mereka. Ditambah lagi istrinya ternyata masih hidup. Semakin menjadi dia untuk melanjutkan aksi gilanya," lanjut Rocki.
Rocki sangat tahu jikalau Rindra sangat menyayangi Restu sama seperti dia menyayangi Rio. Ketulusan Rindra dapat Rocki lihat dengan begitu jelas.
"Jaga Restu." Pesan Rocki. "Sehebat-hebatnya Restu, tetap saja orang tua harus melapisi tembok pengamanan." Rindra mengangguk setuju.
"Jangan khawatir," balas Rindra. "Banyak orang yang menyayangi anak itu."
Rocki pun tersenyum mendengarnya. Apa yang dikatakan oleh Rindra benar. Restu memiliki kharisma yang tak terbantahkan. Dia anak baik, hanya dia senagaja membalut wajahnya dengan sebuah kenakalan, dan hanya orang-orang tulus yang dapat melihat kebaikan Restu.
Nesha terus memandangi wajah sang putra. Rio mendekat ke arah sang ibu dan memeluk tubuh ibunya dari samping.
"Gak tega ya Mih liat Restu seperti itu. Iyo seperti kembali ke masa kecil." Nesha tersenyum perih mendengar penuturan dari Rio. Tangannya mulai mengusap lembut wajah putra tunggalnya.
"Restu membawa rejeki tersendiri untuk keluarga kita. Begitu juga dengan kebahagiaan kita. Semenjak dia tinggal bersama kita, rumah kita selalu ramai dan ceria." Rio mengangguk setuju.
"Iyo juga jadi punya teman berantem." Nesha malah tertawa. Inilah salah satu doa dari putranya. Ingin memiliki adik yang bisa diajak bertengkar. Ternyata Tuhan menjawabnya. Bukan adik yang Rio dapat, melainkan kakak laki-laki yang selalu saja beradu mulut dengan Rio. Namun, sangat menyayangi Rio.
__ADS_1