
Iyan mengerutkan dahi ketika Jerome datang ke kantornya. Pria itu sudah menunggu di lobi.
Pandangan Jerome sangat tajam ketika melihat Iyan datang menghampirinya.
"Saya mau menunjukkan sesuatu kepada Anda." Jerome sudah memperlihatkan foto kardus berisi kepala ayam busuk kepada Iyan.
"Lalu?" Begitulah respon Iyan. Dia menyerahkan kembali ponsel milik Jerome.
"Mr. R. Itu pasti Anda 'kan?"
Iyan berdecih sinis. Dia malah duduk di sofa yang ada di lobi.
"Jangan berbohong. Saya akan laporkan ke polisi jikalau Anda tidak mau jujur."
"Laporkan saja. Saya juga akan melaporkan balik Anda atas pencemaran nama baik juga fitnah." Iyan tak mau kalah.
"Nama Anda Rian 'kan. Jangan mengelak lagi," tekan Jerome.
"Inisial R itu banyak, Bambang." Iyan menatap tajam ke arah Jerome. "Bukan cuma nama saya doang," lanjutnya.
Untungnya Iyan bukan orang yang mudah terpancing emosi. Jadi, dia masih bisa mengendalikan diri. Dia memilih kembali untuk pergi.
"Tolong maafkan segala kesalahan Grace, Pak. Grace sudah mulai ketakutan gara-gara teror semalam."
Langkah Iyan pun terhenti. Dia merasakan ketulusan akan perkataan Jerome yang mulai melemah.
__ADS_1
"Kasihanilah Grace, Pak."
Iyan pun menghela napas kasar. Dia membalikkan tubuhnya dan mulai menatap ke arah Jerome.
"Anda egois, Jerome," tukas Iyan. "Anda hanya melihat dan memikirkan Grace saja. Sedangkan ada perempuan lain yang juga merasa terpukul berat karena apa yang sudah kekasih Anda lakukan padanya." Kini, Iyan yang menatap tajam ke arah Jerome.
"Jika, tidak ingin diteror jangan pernah meneror orang lain. Karma berlaku, Bro." Pedas sekali ucapan Iyan kali ini. Jerome hanya terdiam.
"Saya tegaskan dan tekankan sekali lagi, kalau saya tidak meneror kekasih Anda. Saya memang marah, tapi saya tidak akan pernah sekejam itu. Saya masih mematuhi perintah dari Abang ipar saya."
Iyan berkata dengan sangat tegas. Jika, Aksa atau Aska yang difitnah seperti ini sudah pasti Jerome akan masuk ke jeruji besi. Namun, ini adalah Iyan. Pria paling sabar si antara para pria di keluarga Wiguna, Addhitama dan juga Rion Juanda.
"Abang saya sudah sangat baik kepada Grace. Harusnya Grace sadar diri bukan malah semakin menjadi," geram Iyan. "Abang saya diam bukan karena dia tidak tahu. Dia tahu semuanya, tapi dia masih menjaga perasaan Yansen dan juga putrinya. Jadi, jangan dianggap remeh orang yang diam. Marahnya orang diam bisa melenyapkan orang dalam kurum waktu kurang dari dua puluh empat jam."
.
Pintu kamar perawatan terbuka dan Nathalie lah yang tiba. Yansen bersikap datar seperti biasa. Nathalie yang hendak mencium Yansen pun selalu Yansen tolak.
"Kamu kenapa sih?" tanya Nathalie dengan sedikit emosi. "Aku hanya ingin mencium calon suami aku."
"Baru calon, belum sah." Sangat ketus ucapan dari Yansen kali ini. Yansen sudah muak dengan semuanya.
"Setelah kita lulus kita akan menikah, Kak."
"Menikah itu menyatukan dua hati yang saling mencintai. Bukan hanya memaksakan perasaan satu orang dari pasangan tersebut."
__ADS_1
Jleb.
Sangat menusuk hati sekali ucapan dari Yansen untuk Nathalie. Mata Nathalie nanar mendengar perkataan dari Yansen yang tidak seperti biasanya.
"Kamu harusnya mengerti kalau aku gak memiliki perasaan apa-apa kepada kamu. Bukan malah terus mendesakku seperti ini. Aku tidak mencintai kamu, Nathalie. Aku hanya mencintai Aleesa." Perkataan yang penuh dengan penekanan.
Bulir bening menetes begitu saja membasahi wajah Nathalie. Yansen menjelma menjadi manusia kejam hari ini. Dia mencoba untuk acuh pada Nathalie.
"Kamu jahat, Kak! Jahat!" teriak Nathalie.
"Kamu yang lebih jahat, Nath!" balas Yansen. "Kamu sudah menjerumuskan aku ke lubang kesalahan yang aku sendiri tidak perbuat. Kamu malah menenggelamkan aku hingga ke dasar sampai aku sulit untuk timbul lagi ke permukaan karena sebuah ikatan yang tidak pernah aku inginkan."
Grace yang memberanikan diri untuk keluar rumah terdiam mendengar suara Yansen yang meninggi. Tidak biasanya adiknya itu seperti ini.
"Aku lelah, Nath! Lelah! Kenapa harus selalu aku yang dikorbankan? Tidak bisakah aku bahagia untuk sebentar saja. Aku ingin bahagia bersama Aleesa, hanya itu."
"Kamu dan Aleesa tidak akan pernah bisa bersatu, Kak!" balas Nathalie dengan suara yang tak kalah tinggi. "Kalian berbeda!"
"Aku tahu." Suara Yansen sudah melemah. "Justru aku tidak akan pernah bisa bersatu, ijinkan aku untuk mencintainya walau hanya sekejap saja. Hingga--" Mulut Yansen terkatup seketika.
"Hingga apa, Kak?" Nathalie masih menjawab perkataan Yansen.
"Tibanya waktu di mana aku dipeluk oleh Bapak di surga sana."
...***To Be Continue****...
__ADS_1
Komen dong, udah dobel up ini.