
Madam Zenith masih menyimpan rasa penasaran kepada sosok Restu Ranendra. Bodyguard-nya itu selalu ada di dalam pikirannya. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk menghubungi Rindra. Dia ingin bertemu dengan pria yang menjadi ayah dari Restu tanpa sepengetahuan Restu. Jika, Restu tahu sudah pasti dia tidak akan mengijinkan. Madam Zenith tahu seberapa tertutupnya seorang Restu Ranendra.
Rindra pun menyanggupi. Dia akan datang bersama sang istri ke sebuah restoran yang sudah madam Zenith katakan. Rindra juga tidak merasa khawatir Restu akan curiga karena Rio sudah mengatakan jika mereka akan keluar bersama Restu, Aleesa dan Agha.
Rindra sudah bisa menebak apa yang akan madam Zenith pertanyakan. Hanya seulas senyum yang terukir di wajah Rindra.
Jadwal Madam Zenith yang tidak terlalu padat membuat Restu bisa pulang siang. Sebelumnya dia menjemput Aleesa terlebih dahulu. Mereka berdua akan pergi ke pemakaman elite di mana kakek dari Restu dan juga kakek dari Aleesa dimakamkan di sana. Mereka berdua ingin berziarah dan juga melepas rindu kepada kakek mereka.
"Cantik banget sih," puji Restu ketika Aleesa sudah mengenakan pakaian serba putih dengan kerudung yang ada di kepalanya.
"Jangan gombal mulu." Aleesa mengomeli sang kekasih yang hanya memakai kemeja putih panjang dengan celana bahan hitam.
Mobil melaju ke luar kota. Tangan Restu seakan tidak mau terlepas dari tangan Aleesa. Tiba sudah mereka di area pemakaman yang sangat indah dan cantik. Tangan Restu tak membiarkan tangan Aleesa lepas darinya. Pemakaman yang pertama yang mereka kunjungi adalah makan Rion Juanda.
"Assalamualaikum, Engkong." Aleesa sudah berjongkok di samping pusara sang kakek. Dia mengusap lembut Nisan sang kakek.
"Sasa datang gak sendiri," ujarnya. "Juga tidak dengan Yansen." Tubuh Restu menegang mendengarnya.
Aleesa mulai menggenggam tangan Restu membuat dia menatap ke arah kekasihnya yang juga tengah memandanginya. Kini, Aleesa sudah tersenyum ke arah Restu.
"Sasa datang bersama pria yang Sasa sayangi sesungguhnya. Engkong tahu kok orangnya. Engkong juga pasti akan menyukai laki-laki yang sekarang ada di samping Sasa. Dia adalah laki-laki tulus yang menyayangi juga melindungi Sasa." Senyum pun terukir di wajah Restu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Engkong," ucap Restu. "Engkong pasti mengenali suara aku." Aleesa ikut tersenyum mendengarnya.
"Aku akan mewujudkan pesan Engkong untuk menjaga Sasa. Aku akan menjaganya dan juga menyayanginya. Aku juga tidak akan pernah meninggalkannya apapun alasannya." Aleesa menatap haru ke arah Restu. Sang kekasih merangkul pundak Aleesa
"Aku sangat mencintai cucu Engkong, dan ijinkan aku untuk menjadikannya ibu dari anak-anakku kelak." Aleesa tersenyum bahagia mendengarnya.
"Sasa harap Engkong merestui hubungan Sasa dan Kak Restu."
Aleesa dan Restu menaburkan bunga juga air mawar di pusara sang kakek. Hati Aleesa merasa sangat lega. Dia merasa direstui oleh sang kakek. Mereka berdua pun beralih ke makam Addhitama. Restu yang mengucapkan salam ke pusara kakek angkatnya.
"Maaf, Kek. Aku baru datang." Jika, ke pusara sang kakek ini mulut Restu seakan kelu. Aleesa sangat mengerti karena kakeknya pernah bercerita jika Restu sangat takut ditinggal oleh Addhitama. Dia takut ketiga anak Addhitama akan membuangnya kembali. Sama seperti dirinya yang dulu.
Hati Restu terenyuh mendengarnya. Dia pun akhirnya membuka suara kembali.
"Makasih, Kek. Kakek sudah membawa aku ke keluarga yang luar biasa. Sekarang aku merasa tidak kesepian lagi. Aku bisa merasakan. memiliki keluarga yang sesungguhnya. Makasih banyak, Kek." Aleesa mengusap lembut pundak Restu. Sang kekasih menatap ke arah Aleesa.
"Makasih sudah memiliki cucu yang sangat cantik dan baik. Aku mencintai cucu Kakek, cucu perempuan Kakek yang sering bertengkar dengan aku, Aleesa Addhitama. Pasti Kakek terkejut." Aleesa pun tertawa. Setelah menabur bunga dan air mawar. Restu mengajak Aleesa ke makam kakek kandungnya. Tangan Aleesa pun masih bertaut dengan tangan Restu.
Tubuh Restu menegang ketika melihat pusara sang kakek sudah ditaburi bunga yang terlihat masih segar. Juga ada beberapa tangkai bunga di sana.
"Bie, kenapa berhenti?" Restu tidak menjawab. Dia segera merangkul pundak Aleesa dengan begitu erat, membuat Aleesa terkejut.
__ADS_1
"Bie--" Sang kekasih sudah menghubungi seseorang.
"Bawa pengawalan khusus ke pemakaman."
Aleesa terkejut mendengar ucapan Restu. Dia memandang wajah kekasihnya dan terlihat kewaspadaan yang rautnya tunjukkan. Aleesa mulai menoleh ke arah kiri dan kanan.
"Bie, ada apa?" Belum juga Restu menjawab. Enam orang berbadan tegap dengan pakaian serba hitam menghampiri Restu. Mereka menunduk hormat kepada Kekasih Aleesa tersebut.
"Pastikan semuanya aman." Mereka mengangguk kompak. Restu pun membawa Aleesa menjauh dari pusara Wiratama dengan para pria baju hitam di belakang mereka.
"Ada apa ini?"
Ketika sampai di mobil, Restu mengambil sesuatu di jok belakang. Dia memasangkan jaket berwarna hitam di tubuh Aleesa.
"Bie--"
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu. Apapun akan aku lakukan untuk kamu."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1