
Aleena yang mendengar berita jika Yansen masuk ke dalam salah satu korban jatuhnya pesawat di Indonesia, dia segera mengemasi barang-barangnya. Dia akan ke Jakarta karena dia tahu pasti Aleesa sedang tidak baik-baik saja. Dia ke sana tidak memberitahukan kepada siapapun.
"Kamu kuat, Sa." Begitulah batin Aleena. Sudah pasti Aleesa akan hancur. Dia sendiri tidak berani menghubungi Aleesa. Bukan tanpa alasan, dia tidak ingin melihat kesedihan yang mendalam dari wajah sang adik kembar.
"Selebar apapun senyum yang kamu ukirkan, tetap saja senyum hatimu hancur berkeping-keping."
Aleena menatap gambar Aleesa yang tengah tersenyum di antara gelak tawa keluarga besarnya. Aleena tahu isi hati Aleesa sesungguhnya.
.
Pov Aleesa.
Aku mencoba untuk tidak percaya mendengar kabar tentang sahabatku, Sensen. Aku berniat menjadi manusia tuli, tapi aku tidak bisa. aku juga berniat menjadi manusia buta, malah semakin tidak bisa. Aku tetap saja mendengar dan melihat apa yang telah terjadi. Apa ini jawaban atas segala rasa sedih yang tak beralasan? Apakah ini jawaban atas kata perpisahan yang Yansen ucapkan?
Aku menatap ke arah pria yang kini menjadi suamiku. Pria yang benar-benar tulus mencintaiku. Menerimaku dengan segala kekuranganku. Pria yang membuat aku jatuh cinta sedari lama, tapi aku tak menyadarinya. Aku merasa telah mengkhianatinya. Aku sudah jahat kepadanya. Di hari di mana aku dan dia harunya bahagia kini malah sebaliknya. Aku malah bersedih karena sosok sahabat yang sebelum acara akad dia datang dengan senyum yang mengembang. Meminta pelukan terakhir kepadaku. Aku kira, itu hanya pelukan sebelum aku melepas masa lajang. Ternyata aku salah. Pelukan yang dia minta adalah pelukan terakhir di pertemuan terakhir kita berdua.
Mendengar kabar yang tak mengenakkan Iyu membuat aku ingin marah kepada Tuhan karena telah menghadirkan suka dan duka secara berbarengan. Namun, aku juga tahu jika ini sudah menjadi tulisan tanganku yang dinamakan takdir. Takdir yang sangat memberatkan sekaligus menyulitkan untukku. Ingin rasanya aku melawan takdir.
Semalam, aku menawari suamiku atas hak yang harusnya dia dapat. Aku tahu dia sangat kecewa. Aku tahu ada pedih yang tak dia ungkapkan. Jawaban suamiku ketika ditawari akan haknya membuatku tercengang. Dii luar ekspetasiku. Dia rela menahan dan menunda hanya karena aku yang masih dirundung duka. Duka yang belum menemukan kepastian.
"Aku tidak ingin melakukannya ketika kamu masih memikirkan orang lain."
Perkataan suamiku sangat menusuk ulu hati. Aku merasa tertampar. Aku semakin merasa bersalah. Akan tetapi, suamiku masih menyentuhku karena dia tahu aku sedikit terluka dengan ucapannya. Aku juga tak bisa menyalahkan dia, memang aku yang salah.
Dia tetap membuaiku dengan kecupan juga sentuhan hangat yang dia lakukan. Hingga aku menjadi lupa akan semua sedih yang tengah aku rasakan karena diajak terbang ke awang-awang. Walaupun, dia belum melakukan apa yang seharusnya dia lakukan karena aku masih mengingat lelaki lain, yakni Yansen. Dia tidak ingin ketika kami melakukannya, pikiranku masih tertuju pada sahabatku, Yansen.
Aku mencoba untuk terus tersenyum di depan semua orang termasuk suamiku. Aku mencoba menutupi semua kesedihanku. Walaupun berat, aku tidak ingin mereka melihatku rapuh. Aku tidak ingin mereka bersedih karena ku. Rasa sakit semakin menjadi ketika aku merasakan kehadiran Yansen di sisiku. Sayangnya, aku tidak bisa melihatnya. Namun, aku mampu mencium aroma parfum yang sering dia gunakan. Juga, teman-temanku yang tak kasat mata seolah menghilang tanpa jejak. Mereka tidak sedari hari pernikahanku. Pikiran jelek terus berkeliaran di kepalaku.
Baju groomsmen dan juga kalung salib bernamakan Yansen Geremy ditemukan para penyelamat. Hatiku sakit dan perih ketika melihat itu. Hatiku seperti ditindih bebatuan besar lagi. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Aku masih berharap jika itu bukan Yansen, sahabatku.
Kedua temanku pun menangis ketika melihat baju dan kalung yang digunakan Yansen ditemukan. Mereka baru mengenal Yansen belum lama saja sudah sesedih itu. Bagaimana denganku yang mengenal Yansen sangat lama? Bagaimana dengan perasaanku?
Di dalam kesedihan dan keterpurukan aku, aku mencoba untuk kuat karena aku tidak ingin menyakiti hati suamiku. Pria yang selalu ada di sampingku dan menggenggam tanganku. Memberikan kekuatan kepadaku walaupun aku tahu dia juga sakit dan kecewa melihatku seperti ini. Memikirkan pria lain selain dirinya.
Aku akui, Pelukannya selalu membuat hatiku menghangat. Dia juga berkata kepadaku jika aku memikirkan Yansen karena dia sahabat aku. Bukan karena hal lain. Itu memang benar. Aku merasa sedih dan merasa tidak percaya jika Yansen sudah tiada selagi jasad Yansen belum ditemukan. Aku ingin melihat jasadnya jika dia memang meninggal.
#pov end.
Radit memanggil Aleesa ke ruangan kerja. Aleesa tersnyum ke arah sang ayah, tetapi Radit menunjukkan wajah yang berbeda.
"Menangislah! Jangan sembunyikan apapun dari Baba."
Aleesa yang masih berada di ambang pintu mulai menunduk dalam dan bergetarlah tubuhnya. Isakan pilu mampu Radit dengan sangat jelas. Radit menghampiri Aleesa. Dia memeluk tubuh sang putri.
"Kenapa Tuhan jahat kepada Sasa, Ba?"
Sebuah kalimat yang menayat hati seorang ayah. Anaknya benar-benar terluka atas dinyatakannya Yansen menjadi salah satu korban pesawat jatuh.
"Sasa inginnya tidak percaya, tapi kenyataan ini begitu jahat. Kenyataan ini begitu membuat hati Sasa sakit tak terkira."
Radit membiarkan Aleesa mengungkapkan semua isi hatinya. Dia akan menjadi pendengar yang baik juga menjadi tempat bersandar serta bercerita ketika anak-anaknya rapuh seperti ini.
"Baju yang ditemukan juga kalung salib yang memang milik Yansen membuat kenyataan pahit semakin dekat. Sasa belum siap kehilangan Sensen. Sasa baru saja ingin menjalin tali silaturahmi yang hampir putus karena sebuah hubungan yang salah."
Begitu pilu dan lirih ucapan dari sang putri. Radit mulai tidak sanggup lagi mendengarnya.
__ADS_1
"Perpisahan kali ini akan lebih sakit dibandingkan perpisahan kemarin jika memang Tuhan mengambilnya dari Sasa."
Aleesa masih menaruh harap dan asa walaupun semua orang sudah pesimis dengan bukti yang ada. Aleesa belum percaya sebelum jasad Yansen ditemukan. Baju dan kalung bisa saja terlepas dari tubuhnya. Dia juga berharap Yansen ditemukan dalam keadaan selamat. Jika, takdir pahit harus Aleesa dapati Yansen sudah tidak bernyawa, tapi biarkan dia melihat jasad Yansen untuk terakhir kalinya agar tak penasaran.
"Tidak ada yang abadi di dunia ini, Sa." Sang ayah mulai menenangkan. "Semuanya akan kembali pada sang pencipta. Tidak memandang usia dan status juga."
"Sasa tahu, tapi kenapa harus di waktu yang berbarengan dengan hari bahagia Sasa? Kenapa, Ba?" Air mata mengalir lagi dengan sangat deras. "Apa tidak pantas Sasa merasakan kabahagiaan yang sesungguhnya"
Kalimat frustasi yang terlontar dari mulut Aleesa. Radit merasakan putrinya ini memang sangat terluka akan ketiadaan sahabatnya. Walaupun belum ada kejelasan, tapi Radit meyakini bahwa Yansen tidak bisa diselamatkan.
"Jangan bicara seperti itu. Semua ini sudah dituliskan oleh Tuhan. Kita sebagai pelakon hanya bisa memainkan peran." Radit mulai berkata bijak.
"Kamu boleh menangis. Kamu boleh bersedih, tapi ingatlah ada orang yang akan kamu sakiti jika kamu terus-terusan seperti ini."
Aleesa mulai mengendurkan pelukannya. Dia menatap ke arah sang ayah dengan mata yang basah.
"Suamimu sekuat tenaga mencoba mengerti akan kesedihan kamu. Jadi, tolong sudahi kesedihan ini. Cukupkan air matamu. Jaga perasaan suamimu. Hargai perjuangannya yang terus mencoba mengerti kamu. Restu adalah laki-laki baik. Dia tidak pantas kamu lukai seperti ini."
Jleb.
Apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar adanya. Jika, dia terus-terusan seperti ini dia akan semakin menayakiti hati seorang Restu Ranendra.
...
Pov Restu.
Aku sengaja membuat istriku terbuai semalam. Aku sengaja membuatnya terlena. Namun, aku kurang menikmatinya. Masih ada rasa cemburu yang bersarang di dada. Masih ada rasa kecewa yang menempel di hati. Semua orang menyuruhku untuk mengerti, tapi mereka tidak mengerti akan perasaan yang tengah aku hadapi. Ingin rasanya aku egois, tapi aku tidak bisa melihat istriku seperti ini terus.
Ketika istriku sudah terlelap karena lelah dengan buaianku. Ponselku berdering kecil. Menandakan bahwa ada pesan masuk.
Nak, Mamih yakin pasti kamu kecewa dan marah dengan keadaan ini. Keadaan yang tidak pernah siapapun inginkan. Keadaan yang sudah diatur oleh Tuhan.
Jangan utamakan egomu, Nak. Sebisa mungkin kamu harus bisa menahannya. Ini pukulan berat untuk Aleesa dan keluarganya. Kamu sendiri tahu 'kan jika Yansen sudah mereka anggap seperti anak sendiri. Yansen sudah bersama mereka sedari kecil. Juga Yansen sudah menjadi sahabat Aleesa sejak mereka masih balita. Sama halnya dengan kamu yang sudah Mamih rawat sedari kecil.
Mamih tahu perasaan kamu, Nak. Mamih sangat mengerti. Harusnya kamu menikmati momen manis di awal pernikahan. Bukan malah disambut dengan berita kesedihan yang berujung menyakitkan untuk kamu.
Jadilah suami yang bijak dan baik, Nak. Percayalah semuanya akan kembali seperti semula. Redakan kesedihan istrimu dan buatlah hari-harinya bahagia. Banyak orang yang menggantungkan harapan besar kepada kamu. Banyak orang yang mempercayakan kamu untuk membahagiakan Aleesa. Jangan kecewakan mereka, Nak.
Jangan sungkan bercerita kepada Mamih. Jangan sungkan berkeluh kepada Mamih. Mamih akan selalu ada untuk kamu juga untuk menantu Mamih.
Bibirku terangkat sempurna ketika membaca pesan yang begitu panjang dan juga menyentuh yang ibuku kirimkan. Rasa kecewa, rasa marah mulai sedikit menguar. Aku mulai menatap ke arah istriku yang dengan begitu damainya memeluk tubuhku. Tangannya sangat erat mendekap tubuh kekarku ini. Aku juga melihat wajah sendunya mulai menghilang.
"Aku akan mencoba untuk mengerti kamu, Lovely."
Aku mencium kening istriku dengan begitu dalam. Meletakkan ponselku dan mulai mencari sumber asi yang siapa tahu bisa membuatku tidur dengan begitu nyenyak. Ternyata benar, aku langsung terlelap hingga pagi datang.
Ketika aku sedang fokus pada berita yang orang suruhanku berikan, Om kecil menghampiriku. Aku sedikit terkejut terlebih dia duduk di sampingku. Ya, kami sedang duduk di teras halaman samping. Dia menanyakan sesuatu hal yang aku jawab dengan kalimat bijak. Hingga dia menyuruhku untuk memegang pundaknya dan tak ku duga aku bisa melihat Yansen. Mantan kekasih istriku itu berwajah pucat dengan cahaya begitu terang menyinari tubuhnya. Banyak yang dia katakan dan kalimat yang aku ingat dan mampu membuat tubuhku menegang adalah selamat tinggal.
Aku menatap ke arah om Iyan. Wajahnya terlihat sendu dan pilu. Aku tidak mengerti, tapi aku bisa menyimpulkan sesuatu.
"Apa dia sudah pergi untuk selamanya?"
Pertanyaan itu dijawab anggukan kepala oleh Om ku yang memang memiliki kelebihan sama seperti istriku. Satu hal yang ada di kepalaku ketika aku mendengar kalimat itu.
"Bagaimana aku mengatakannya kepada Aleesa?"
__ADS_1
#pov End.
Iyan menepuk pundak Restu. Dia tahu kekhawatiran pria di sampingnya itu. Kemudian, dia meninggalkan Restu begitu saja.
"Nanti akan ada waktu di mana Aleesa menerima kepergian Yansen."
Sebuah clue yang membuat kepala Restu pusing. Istrinya maupun sang paman sama saja. Senang meninggalkan sebuah teka-teki. Restu memilih untuk mengambil puntung rokok yang baru. Dia membakarnya dan menghisapnya. Baru satu hisapan sang adik datang dan duduk di sampingnya.
"Gua tahu lu gagal dalam malam pertama." Restu hanya tersenyum kecut.
"Lu senang 'kan." Rio malah berdecih. Dia mengambil rokok yang ada di meja. Kemudian, membakarnya dan menghisapnya.
"Pasti gak mudah 'kan." Rio melirik ke arah sang kakak.
"Mau gimana lagi?" Begitu lemah ucapan Restu.
"Lu sangat tulus mencintai sepupu gua." Restu menoleh ke arah Rio. Dia pun tersenyum.
"Gua gak akan pernah main-main dengan perasaan gua, Yo." Rio pun mengangguk.
"Gua gak akan memaksa dia karena gua juga tahu dia sedang tidak baik-baik saja." Sungguh pria sejati kakaknya ini.
"Justru itu, enggak semua laki-laki kayak lu."
"Gua menikah bukan hanya karena nafsu. Gua menikah karena gua memang sayang dan cinta sama Aleesa. Kalau cuma buat melampiaskan nafsu doang mah di luaran juga bisa gua beli kalau gua mau mah."
Sebrandal-brandalnya Restu dia tetap menjunjung tinggi budaya timur. Walaupun sudah lama berada di negeri orang dia tetap pada culture-nya. Bisa dengan mudah dia menjalin hubungan dengan wanita luar dan melakukan hubungan suami-istri meskipun tanpa ikatan. Namun, itu tak berlaku untuk Restu
"Itulah kenapa gua percaya sama lu untuk menjadi suami sepupu gua. Gua tahu lu itu bandel, lu itu preman, tapi lu adalah anak baik yang gak akan pernah merusak wanita." Restu tersnyum mendengarnya.
"Lu yang udah memperawani bibir Aleesa, sudah pasti ada mahar yang lu bayar 'kan." Dahi Restu pun mengerut mendengar ucapan dari Rio. Rio menjawabnya dengan tawa.
"Lu bisa bertindak diem-diem di belakang Papih, tapi tidak dengan gua." Restu malah tertawa.
"Itu adalah komitmen hidup gua. Kalau gua merusak, itu tandanya gua harus membeli."
"Kayak barang pecah belah dong." Restu pun tergelak.
Tawa mereka berdua terhenti ketika Aleesa datang. Mereka berdua terkejut karena sedang merokok dengan santai. Jatuhnya mereka seperti terciduk satpol PP. Baru saja hendak mematikan rokok, Aleesa malah duduk di pangkuan Restu dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Kagak usah pamer kemesraan." Rio mulai sewot. Aleesa semakin menjadi. Dia mencium bibir sang suami hingga membuat mulut Rio mengoceh dengan lancarnya. Aleesa pun tertawa.
"Mau kamu sembunyikan sedih kamu dalam tawa yang begitu keras, tetap aja kamu itu sedang tidak baik-baik saja." Rio bergumam di dalam hati.
"Aku habis ngerokok, Lovely." Aleesa tak menjawab. Dia malah membenamkan wajahnya leher sang suami.
Rio dan Restu saling pandang. Mereka melihat jelas mata Aleesa yang sembab. Namun, mereka berdua pura-pura tidak tahu..
"Kenapa?" Restu mengusap lembut punggung Aleesa dengan sangat lembut. Itu membuat Rio merasa bahagia dan tak tega. Saudaranya rela menahan semuanya demi sang istri tercinta.
"Semoga semuanya cepat berlalu, Res. Gua tahu lu pasti sakit ketika melihat Aleesa seperti ini. Gua aja yang melihat kepura-puraan dia nyesek banget."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1