RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 97. Pangeran


__ADS_3

Aleesa sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Bayang wajah Restu yang menangis terus menari-nari di kepala.


"Alasan aku untuk tetap hidup adalah kamu."


Aleesa menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat dengan hati yang bergemuruh. Dia mendekat ke arah sang uncle di mana pria itu masih sibuk dengan laptopnya.


Aksa menoleh ke arah sampingnya di mana Aleesa sudah berdiri. Aksa menggeser duduknya dan menyuruh Aleesa untuk duduk di sana.


"Kenapa?"


"Uncle, boleh Sasa lihat kondisi Kak Restu?" Mata Aleesa sudah berkaca-kaca. Aksa dengan cepat menggeleng.


"Tapi, Uncle--"


"Sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya. Jadi, tidak perlu melihatnya sekarang." Raut kecewa terlihat jelas di wajah Aleesa.


"Ingat, kamu gak boleh drop. Kuatlah demi Restu." Aleesa pun mengangguk.


Lama sudah dia mengudara. Tetap saja mata Aleesa tidak bisa terpejam. tangannya dengan erat menggenggam liontin kalung yang menggantung di lehernya.


"Aku akan peluk kamu, Bie. Aku akan berada di samping kamu."


Aleesa menatap ke arah jendela pesawat dengan air mata yang menetes begitu saja.


"Kapan kita duduk berdampingan di dalam pesawat? Aku ingin kamu ada di samping aku, menggenggam tangan aku dan memberikan pundak mu untuk tempatku bersandar."


Sebuah keinginan yang sangat sederhana. Aleesa ingin merasakan pergi berdua bersama sang kekasih tanpa ada keluarganya. Jalan berdua tanpa diikuti saudaranya.


Mata Aleesa benar-benar tak terpejam sama sekali. Sudah hampir dua puluh empat jam dia terjaga. Aleesa hanya makan roti dan susu karena dia tidak bisa menelan makanan berat. Dia ingin segera bertemu dengan Restu.


"Uncle, apa masih lama?" Mereka sudah mendarat di Bandara Humberg. Namun, Aksa masih berbincang dengan beberapa orang. Sudah lebih dari satu jam.


"Sebentar, ya." Aleesa pun mengangguk.


Iyan mengusap lembut rambut Aleesa. Bukan hanya Aleesa yang ingin segera bertemu dengan Restu. Iyan pun sama. Dia ingin segera bertemu dengan perempuan berbaju putih yang menjaga Restu. Dia sangat yakin itu bukan manusia. Arwah baik yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Restu.


..

__ADS_1


Aska mengerang kesal ketika beberapa orang mencegatnya di Bandara Zurich. Mereka mengatasnamakan pihak keamanan Bandara.


"Jika, kalian adalah petugas. Tunjukkan pada saya identitas kalian." Mereka pun terdiam dan mampu membuat Aska tersenyum kecil.


"Jangan main-main. Saya bisa melaporkan kalian kepada pihak yang berwajib." Tatapan Aska sangat garang dan tajam. Mereka tahu Aska bukanlah orang biasa.


Mereka juga melihat jika Aska datang tidak sendiri. Ada orang di belakangnya yang juga memiliki kekuatan tak biasa. Aksa tidak main-main mengutus dua orang polisi, pengawal sertifikat internasional untuk menjaga Aska. Dia sangat yakin jika Zenith Andrea tidak sebodoh itu juga.


Terbebas di bandara tidak untuk ketika dia hendak menuju hotel di mana dia akan menginap. Dia dihadang oleh beberapa orang. Aska pun menghela napas kasar.


"Anda tidak boleh ke hotel ini."


"Siapa lu?" Gaya songongnya muncul. Apalagi dia melihat tangan orang berkemeja putih itu sudah dipundaknya. Dia pun berdecih.


Gerakan cepat Aska membuat pengawal itu kesakitan karena tangannya Aska pelintir dengan sekuat tenaga. Aska pernah ikut bela diri pencak silat dan taekwondo ketika sekolah dulu. Jadi, masih ingat apa yang harus dia lakukan.


"Kalau si Jin Medit pengen ketemu gua bilang!" Aska benar-benar murka. Dia sudah lelah ingin istirahat, malah disuguhi hal seperti ini.


"Zenith, Pak. Bukan Jin Medit," ralat salah seorang pengawalnya.


"Suka-suka gua lah." Mulut Aska pun mulai mengomel. "Gua capek! Gua pengen molor!"


.


"Bie, aku sedang menuju di mana kamu dirawat. Tunggu aku, Bie."


Gemke terkejut ketika jari manis Restu bergerak. Dia segera menghubungi dokter yang diutus dokter Rocki. Seorang perempuan yang ada di samping Restu tersenyum ke arah pria yang seperti pangeran . Wajahnya sangat tampan.


Dia tidak bisa menyentuh Restu. Tubuh Restu seakan sudah terpagar dan terkunci. Tidak ada perempuan manapun yang bisa menyentuh tubuhnya.


"Kamu adalah pria baik. Aku tak sabar ingin bertemu dengan wanita yang selalu kamu panggil di dalam hati."


Jika, perempuan itu bisa menyentuh Restu sudah pasti dia yang akan membantu Restu. Namun, pada nyatanya dia hanya bisa menjaga Restu tanpa bisa menyentuhnya. Berkomunikasi pun dia tidak bisa. Hanya bisa mendengar suara hati Restu.


"Aku tidak akan membiarkan kamu mati seperti diriku."


Dia terdiam ketika dokter menjelaskan kondisi Restu kepada Gemke. Seulas senyum terukir di wajah perempuan itu.

__ADS_1


"Terus berikan respon yang baik. Sebentar lagi kekasihmu akan datang, dan kamu bisa membuka matamu."


.


Aleesa merasa sangat bahagia sekaligus berdebar ketika dia tiba di rumah sakit di mana Restu dirawat. Baru saja tangannya hendak membuka pintu mobil, Aksa mencekal. Aleesa tercengang.


"Pakai ini!" Aksa menyerahkan satu setel baju kepada Aleesa.


"Itu baju cleaning service. Jam segini waktunya cleaning service masuk ke ruangan Restu."


Tanpa banyak berdebat, Aleesa pun menuruti sang paman. Dia melapisi pakaian yang dia gunakan dengan baju cleaning service tersebut yang sengaja dibawakan size lebih besar dari tubuh Aleesa.


"Iblis wanita tengah berjaga karena Aska udah ketahuan ada di Zurich." Iyan mengangguk.


Aleesa berjalan terlebih dahulu dan membawa alat tempur celasnung service menuju ruang perawatan Restu. Dadanya berdegup kencang ketika dia satu lift dengan dokter Kaira.


"Iya. Suara akan ke ruangannya dan memastikan bahwa dia memang masih koma."


"Jahat sekali kamu dokter Kaira!"


Aleesa berteriak di dalam hati. Iyan mengikuti Aleesa di lift yang berbeda. Dia juga berjalan di belakang Aleesa. Dokter Kaira sudah masuk ke dalam ruang perawatan Restu. Dia menyuruh Gemke untuk keluar Namun, Gemke tidak mau. Dokter Kaira pun geram dan mendorong Gemke dengan sangat keras. Ingin rasanya Gemke membalas, tapi dokter Kaira adalah perempuan.


Setelah dirasa aman dokter Kaira tersenyum.oemuh kemenangan. Dia menghampiri Restu dengan senyum licik.


"Hai, pangeranku." Dokter Kaira menyapanya dengan begitu centil. Dia berada di samping ranjang pesakitan Restu dan tangannya hendak menyentuh wajah Restu, tapi tiba-tiba tangannya menggantung begitu saja.


"Kenapa dengan tanganku?" ucapnya. Dia mencoba untuk menggerakkan, tapi tangannya seperti ada yang menahan.


Tangan yang tertahan itu terlepas begitu saja hingga mengenai besi ranjang pesakitan dengan sangat kencang hingga menimbulkan bunyi. Dia pun menjerit. Gemke segera masuk dan melihat dokter Kaira kesakitan.


"Sepertinya pasien tidak ingin diperiksa oleh Anda." Sindiran keras yang Gemke berikan. Dia pun tak segan menarik tangan dokter Kaira yanga sakit untuk keluar hingga dia menjerit lebih keras lagi.


"Sakit siyalan!" umpatnya.


Aleesa masih bersembunyi ketika dokter Kaira terus meringis kesakitan dan mulai menjauhi ruang perawatan. Setelah mendapat kode dari penjaga di sana Aleesa segera berlari menuju ruangan Restu. Hatinya berdegup tak karuhan ketika tangannya menekan gagang pintu perawatan. Ketika dibuka ....


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2