
Aleesa sudah tak berdaya. Jam tujuh pagi dia digarap oleh sang suami dan jam sembilan lebih seperempat baru selesai dengan kondisi tubuh Aleesa banyak bercak merah semu hitam. Jangan ditanya bagaimana leher Aleesa.
"Bie, mau ke kamar mandi." Begitu lemah ucapan sang istri. Restu yang masih belum mengenakan apapun dengan sigap membopong istrinya menuju kamar mandi.
"Keluar dulu, Bie. Aku malu." Namun, Restu menggeleng.
"Aku akan di sini. Kamu terlalu lemah, Lovely."
Ringisan kesakitan yang terlihat jelas membuat Restu terkejut. Dia segera mendekat ke arah Aleesa.
"Perih banget, Bie." Mata Aleesa terlihat menahan tangis.
"Maaf, ya." Restu mengusap lembut ujung kepala Aleesa.
Keluar dari kamar mandi, dia melihat sprei yang sudah tidak tak karuhan. Restu membawa tubuh istrinya ke sofa dan membuat Aleesa bertanya dalam hatinya.
"Udah kotor banget." Aleesa tersenyum mendengarnya. Sebelum dia menuju sprei, Restu memakaikan baju di tubuh sang istri lengkap dengan dalaman. Begitu juga dengan dirinya yang sudah memakai kaos dan juga celana pendek.
"Aku beresin tempat tidur dulu, ya." Aleesa mengangguk.
"Bie, tolong bawa ponsel aku."
Aleesa mulai membuka layar pipih miliknya dan Restu tersenyum melihat bercak darah yang ada di sprei. Menandakan istrinya masih perawan. Sungguh susah untuk mendobraknya. Ada rasa bahagia yang tak terkira.
Aleesa sibuk dengan ponselnya di mana dia tengah mencari tahu obat untuk mengurangi rasa perih dan lecet di bagian in timnya.
Kecupan di kening membuat kefokusan Aleesa teralihkan. Sang suami sudah selesai dengan tugasnya dan kini dia duduk di samping Aleesa.
"Bie, masih perih." Sang suami memeluknya.
"Ke dokter aja." Aleesa menolak.
__ADS_1
"Malu."
Restu malah tertawa. Semenjak pembobolan gawang semalam, rasa cintanya semakin bertambah untuk Aleesa.
"Nanti aku tanya Papih. Soalnya aku mau ke rumah Papih. Mau cek berkas buat besok ke Zurich." Tiba-tiba mata Aleesa nanar mendengar ucapan sang suami.
"Jadi?" Restu mengangguk.
Tangan yang semakin erat melingkar di pinggang sang suami membuat Restu menghela napas kasar. Dia juga tidak ingin meninggalkan sang istri, tapi apakah daya menjadi pemilik Zenth Corporation membuatnya tak bisa berleha-leha.
"Aku hanya tiga hari. Janji." Suara perut sang istri membuat Restu tergelak.
Restu menuju lantai bawah menbuat makanan sesuai yang diinginkan sang istri. Aleesa ingin dibuatkan roti bakar juga susu cokelat.
"Baru bangun?" Suara sang ibu mertua membuat Restu menoleh. Dia hanya tersenyum sambil mengambil ovaltine.
"Kenapa Sasa gak turun?" Restu nampak bingung mau menjawab apa. Apa dia harus berkata jujur kepada ibu mertuanya.
Seketika Echa mengangkat bibirnya ketika melihat ada tanda merah di leher Restu. Echa berlalu begitu saja dan membuat Restu bingung.
"Kalau lagi nganu-nganu suaranya bisa dikecilin kali," sindir seseorang yang baru membuka lemari pendingin. Restu melirik sekilas ke arah lelaki baru yang ada di rumah ini.
"Suara kalian itu mengotori telingan gua." Tak ada respon dari Restu. Dia malah menghidupkan kompor untuk membakar roti.
Merasa kesal karena tak digubris, Khairan pun mendekat. Dia menatap serius ke arah pria yang disebut sebagai adik iparnya.
"Denger gak apa yang Kakak ipar omongin?"
Rsstu mematikan kompor dan mulai menatap ke arah Khairan dengan tatapan menakutkan. Dia mengangkat teflon yang masih panas bekas bakar roti.
"Lu pernah liat gak bibir ciuman sama pantat teflon panas." Suara Barito yang membuat bulu kuduk Khairan berdiri. Jangan ditanya bagaimana wajah Restu sekarang.
__ADS_1
Khairan pun mundur perlahan karena firasat buruk sudah dia rasakan. Dia pun berlari menjauhi dapur.
"Dasar bocah!" gerutu Restu.
Dia kembali asyik dengan teflon. Sebuah salep disodorkan ke arahnya. Restu menoleh dan tenyata istri dari Aksa
"Tadi istri kamu minta ini ke Aunty." Restu nampak bingung.
"Ini salep buat ****-* yang lecet." Riana berbisik ke arah pria tinggi di sampingnya.
"Ampuh gak?" Restu mulai menimpali dan Riana sudah tertawa.
"Ampuh pake banget. Pake sekarang nanti malam istri kamu bisa kamu pake lagi."
Restu segera menyudahi acara membuat roti bakar untuk sang istri. Dia meninggalkan dapur dengan membawa salep yang diberikan Riana menggunakan langkah lebar.
"Lovely."
Istrinya yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel menoleh. Restu sudah tersenyum dan menurunkan selimut dari tubuh istrinya. Tanpa Aleesa duga suaminya langsung menurunkan celana pendek yang digunakan oleh Aleesa.
"Bie--"
"Aunty Riana nganterin salep ini. Katanya ampuh buat ini kamu yang lecet." Restu masih fokus pada bagian bawah sang istri. Dia pun mulai melebarkan kaki Aleesa dan memang terlihat memerah.
"Sakit, Bie."
Restu malah menelan ludah melihat sesuatu yang membuat darahnya mengalir. Aroma yang begitu memabukkan membuat desiran darahnya mengalir begitu deras.
"Lovely, aku mau lagi."
"Kak Restu!!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen atuh lah ...