RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 98. Bangunlah!


__ADS_3

Madam Zenith marah ketika dokter Kaira mengadukan Gemke kepadanya. Pada saat itu juga dia menuju rumah sakit tanpa bilang kepada siapapun.


.


Ketika pintu dibuka tubuh Aleesa seakan tidak bisa digerakkan ketika melihat Restu terbaring di atas ranjang pesakitan dengan mata yang terpejam dengan begitu rapat. Tidak pernah dia bayangkan pria yang dia rindukan nasibnya akan seperti ini. Pria gagah, pria yang senang tawuran dan keributan kini malah tak berdaya. Rasanya tubuh Aleesa tidak menapak pada lantai. Namun, sekuat tenaga dia harus kuat demi kekasihnya. Restu saja menjadikan dirinya alasan untuk tetap hidup. Dia juga harus menjadikan Restu sebagai kekuatannya.


"Lawan, Sa. Lawan!"


Tes.


Tetap saja air matanya tak bisa dia bendung. Bulir bening menetes membasahi pipinya. Mulutnya kelu dan alat kebersihan yang dia bawa sudah tergeletak di lantai. Dadanya sudah mulai sesak, tapi dia mencoba untuk kuat.


Gemke menatap Aleesa dengan iba. Dia mendekat dan menyapa Aleesa dengan sopan. Kepalanya menunduk sejenak.


"Nona." Gemke mengajak Aleesa untuk mendekat ke arah Restu.


"Bie, aku datang." Suara Aleesa begitu lirih dan sedih ketika dia sudah berada di samping ranjang pesakitan Restu. Dia berhambur memeluk tubuh Restu yang terbaring lemah dengan air mata yang semakin mengalir deras.


"Aku sudah di sini, Bie. Ayo bangun, Bie." Aleesa menjadi manusia egois sekarang. Dia tidak tega. melihat brandal kesayangannya seperti ini. Lebih baik dia menerima keposesifan Restu setiap hari dibandingkan harus melihat Restu tak berdaya ini.


Baju rumah sakit yang Restu gunakan basah karena air mata Aleesa. Dia membaringkan kepalanya di dada Restu.


"Aku rindu pundak kamu, Bie. Aku rindu bermanja dengan kamu, Bie. Aku rindu menggoda kamu hingga membuat kamu marah." Aleesa semakin terisak dan membuat dada Gemke semakin sesak.


"Tuhan, aku merasakan ketulusan cinta Aleesa kepada Mr. R. Tolong sadarkan Mr. R, Tuhan. Dia berhak mendapat kebahagiaan dengan orang yang tepat."


Sebuah doa kecil yang Gemke panjatkan. Melihat Aleesa menangis dadanya pun ikut sakit dan pedih. Gemke menundukkan kepalanya cukup dalam. Hingga terdengar helaan balasan kasar.


Tangan Aleesa sudah menggenggam tangan Restu dengan begitu erat. Berkali-kali dia mencium punggung tangan itu.

__ADS_1


"Bie, kamu tahu tidak. Baba sudah mulai bangga kepadaku karena aku sudah bisa mengendalikan ritme jantungku. Walaupun setiap malam aku menangisi kamu, tapi Aritmia ku tidak pernah hadir." Senyum terukir di wajah Aleesa, tapi air mata tak bisa berdusta.


"Kamu pernah bilang 'kan ke aku, kalau aku adalah alasan untuk kamu tetap hidup sampai sekarang ini. Apa aku boleh meminta sesuatu kepada kamu?" Aleesa menjeda ucapannya. Tangan satunya mengusap lembut rambut Restu.


"Sadarlah, Bie. Buktikan padaku jika memang benar aku yang menjadi alasan kamu untuk tetap hidup." Kepala Aleesa pun menunduk. Punggungnya bergetar cukup hebat dan untuk kesekian kalinya Gemke menaghela napas berat.


Mata Gemke memicing ketika dia melihat ujung mata Restu meneteskan bulir bening.


"He responded."


Aleesa yang tengah menunduk dalam pun segera menegakkan kepalanya dengan wajah yang basah. Dia terkejut ketika melihat ujung mata Restu masih mengeluarkan bulir bening.


"Bie, kamu dengar aku?" Aleesa nampak bahagia. "Jangan nangis, aku di sini akan menemani kami." Menyuruh Restu untuk tidak menangis, tapi Aleesa sendiri menitikan air mata. Tangannya mulai mengusap lembut bulir bening tersebut.


"Bangunlah, Bie. Aku sangat merindukan kamu." Tangan Aleesa membelai lembut wajah Restu, dan dia mengecup kening Restu dengan begitu dalam. Hingga air mata yang masih mengalir di pelupuk mata Aleesa terjatuh membasahi dahi Restu.


"Nona, saya periksa kekasih Anda dulu, ya." Tangan Restu yang Aleesa genggam akan dia lepas karena dia harus menjauh untuk sesaat. Namun, tangan Restu merespon dengan gerakan cukup lama hingga Aleesa menatap ke arah tangannya.


"Dok, tangannya merespon." Itu bukan hanya perasaan Aleesa saja. Dokter dan juga Gemke dapat melihat itu. Gerakan tangan Restu seakan tidak menginginkan Aleesa untuk pergi.


"Sungguh luar biasa. Respon yang bersamaan." Dokter terlihat bahagia. Akhirnya, dia mengijinkan agar Aleesa tetap mendampingi Restu. Dia tahu Aleesa membawa pengaruh besar untuk kesembuhan Restu nantinya.


"Bagaimana, Dok?" Aleesa sudah menatap ke arah dokter tersebut dengan tangan yang masih menggenggam tangan Restu..


"Tinggal menunggu dia membuka mata saja." Dokter menjelaskan.


"Apa masih lama?" Dokter itupun tersenyum.


"Terus ajaklan berkomunikasi supaya dia terus merespon dan membuka mata. Saya yakin, kamu bisa membuat dia tersadar." Aleesa tersenyum perih mendengarnya. Dia pun menatap kembali ke arah Restu. Menggenggam tangannya dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang pesakitan.

__ADS_1


"Apa kamu tidak lelah tidur terus?" Aleesa meletakkan tangan Restu di pipi. Merasakan hangatnya punggung tangan Restu.


"Kamu tahu tidak, setiap malam aku selalu menunggu kamu datang di depan pintu balkon. Aku selalu berharap kamu mengetuk pintu balkon dan tersenyum ke arahku. Memeluk tubuhku sampai pagi datang, tapi kamu malah tak kunjung datang. Kamu selalu membuat hati aku tak tenang." Menahan air mata. Itulah yang sedang Aleesa lakukan. Ingin rasanya dia berteriak dengan keras. Menyuruh Restu untuk bangun.


Dia menatap kembali wajah Restu dengan begitu lekat. Tidak ada yang berubah dari wajah kekasihnya. Masih sangat tampan.


Gemke merasa tidak tahan ketika melihat Aleesa yang terus menatap Restu sedari tadi. Sudah dua jam berlalu, matanya tak pernah teralihkan pada sosok yang tengah terbaring di sana. Dia pun memilih untuk keluar.


Ketika pintu ditutup dengan rapat. Seorang perempuan terus memandang Aleesa dari belakang. Dia tersnyum dengan begitu tulus. Dia pun mencoba mendekat dan ikut menatap Restu dari sampingnya. Pandangan Aleesa yang kosong membuat perempuan itu menegurnya dengan menunjukkan wajah tak bersahabat agar Aleesa tersadar.


"Ck, jangan ganggu gua dulu, Setan. Gua lagi gak pengen main-main sama lu." Perempuan itupun terperanjat. Dia terkejut dengan perkataan Aleesa.


"Kamu bisa lihat aku?" Aroma anyir darah tercium di hidung Aleesa. Suaranya sangat jelas dan sudah pasti hantu itu ada di dekatnya. Ketika dia menoleh dia disambut oleh perempuan berdress putih panjang dengan wajah yang pucat. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aleesa. Dia teringat akan ucapan Iyan tentang perempuan ini.


"Makasih udah jagain calon suami aku." Si perempuan itu tersenyum. Dia merasa terenyuh mendengar ucapan Aleesa.


"Pantas saja si pangeran selalu menyebut nama wanita ini."


"Sekali lagi makasih banyak, ya." Bukannya mejawab, si perempuan itu malah balik bertanya.


"Kamu beneran bisa lihat aku?" Aleesa hanya mengangguk.


Suara gaduh di luar membuat Aleesa terdiam sejenak. Perempuan yang berdiri di samping Aleesa segera menarik tangan Aleesa hingga tangan Aleesa dan Restu yang bertaut terlepas. Perempuan mengajak Aleesa masuk ke kolong ranjang pesakitan.


"Kenapa?" Perempuan itu hanya meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2