RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 114. Ngebet


__ADS_3

Aleesa terkejut ketika dia melihat Restu sudah ada di kamarnya. Untungnya dia memakai bathrobe.


"Ngapain kamu di sini, Bie?" Aleesa nampak geram sedangkan Restu malah tersenyum aneh. Dia mendekat ke arah Aleesa. Namun, Aleesa mencoba untuk mundur.


Bukan Restu namanya jika dia tidak bisa menangkap Aleesa. Kini, Aleesa sudah masuk ke dalam dekapan Restu.


"Bie, lepas!"


Bukannya melepas Restu malah semakin erat memeluk tubuh Aleesa. Aleesa hanya menghela napas kasar. Pelukan Restu seakan membuatnya nyaman dan kini tangannya pun melingkar di pinggang Restu.


Perlahan Restu mengendurkan pelukannya. Dia menatap dalam wajah Aleesa hingga bibirnya mulai mendekat ke wajah Aleesa. Sontak Aleesa pun memundurkan kepalanya dan itu membuat Restu mengerang kesal dan meletakkan wajahnya di pundak Aleesa. Aleesa pun tertawa.


"Nikah yuk, Sa." Aleesa pun memukul pundak Restu.


"Ngajak nikah kayak ngajak main." Restu menghela napas kasar.


"Aku udah gak bisa jauh dari kamu, Lovely."


.


Restu sengaja membawa Aleesa ke rumah kedua orang tuanya. Dia tidak ingin menghadapi pengacara seorang diri. Dia butuh ditemani Aleesa. Mendadak manja sekali Restu kali ini.


"Kamu joging bawa motor buat jemput Aleesa." Restu hanya tersenyum mendengar ocehan dari Nesha.


"Aku mandi dulu, ya." Dia malah ijin kepada sang kekasih. Aleesa pun mengangguk.


Aleesa dan Nesha sibuk di dapur. Aleesa melihat sang calon ibu mertua tengah memasak. Dia memperhatikan dengan seksama.


"Sa, bisa tolong angkat ayam gorengnya?"


"Bisa Aunty Mamih." Baru saja hendak diangkat, cipratan minyak mengenai kulit Aleesa. Dia terkejut dan menjerit.


Restu dan Rio yang memang sudah menuruni anak tangga terkejut dan langsung berlari.


"Kamu kenapa, Lovely?" Restu sudah berada di samping Aleesa. Kekasih Restu hanya menunjukkan tangannya dan itu membuat Restu sedikit panik.


"Ngapain ke dapur sih?" Dia segera membawa Aleesa ke wastafel kamar mandi. Membersihkan tangan Aleesa yang tekena cipratan minyak tadi.


"Pokoknya ketika kita udah nikah kamu gak boleh ke dapur biar aku aja yang masakin atau enggak kita sewa ART."


"Aku gak apa-apa, Bie." Bukannya membalas, Restu malah menatap tajam Aleesa. Itu menandakan bahwa dia tidak suka dengan ucapan Aleesa.


Rio berdecak kesal melihat Restu yang begitu lebai di matanya. Dia pun terkadang berpikir apakah nanti dia akan sama bucinnya dengan Restu jika sudah menemukan pendamping.

__ADS_1


Ketika Restu tengah mengobati luka Aleesa, pria yang kemarin sudah datang, dan membuat Aleesa menatap bingung ke arah Restu. Restu yang tahu akan kedatangan pria itu seakan acuh.


"Bie--"


"Itu Papih yang bikin janji." Restu menjawab dengan begitu santai.


"Tapi, ketemunya sama kamu 'kan?" Restu hanya berdehem. "Apa ini alasan kamu bawa aku ke sini?" Restu menyudahi mengobati luka Aleesa. Dia menatap Aleesa dengan begitu dalam.


"Aku ingin kamu juga tahu akan hal ini. Kamu adalah calon ibu dari anak-anakku kelak." Aleesa hanya tersenyum mendengarnya.


"Tuhan, kenapa aku tidak melihat keraguan di wajahnya ketika mengatakan itu semua? Kenapa dia begitu yakin denganku? Sedangkan aku masih ragu, apakah aku bisa menjadi seorang istri dari Restu Ranendra?"


Anak dari pengacara Wiratama sudah duduk di depan Restu. Rindra pun sudah ada di sana. Restu meminta sang ayah untuk menemaninya.


"Aku ke atas atuh, ya." Restu menggeleng pelan dan dia sudah menggenggam erat tangan Aleesa.


"Ini saya ingin menyerahkan surat wasiat sesungguhnya dari almarhum Pak Wiratama." Restu menghela nafas kasar. Dia sudah tidak ingin disangkut pautkan lagi dengan nama keluarga itu.


"Silahkan dibaca."


Dengan malas Restu pun meraih map yang sudah diserahkan oleh sang pengacara. Dia membaca kalimat demi kalimat dengan seksama.


"Semua harta Pak Wiratama akan diserahkan kepada cucu satu-satunya, yaitu Rajendra Wiratama atau yang sekarang dikenal dengan Restu Ranendra." Bukannya senang, Restu malah kesal.


"Serahkan saja pada ahli waris lain. Saya tidak mau terima." Rindra sudah tahu jawaban Restu apa. Dia tidak kaget. Begitu juga dengan Aleesa.


"Saya tegaskan sekali lagi SAYA TIDAK MAU TERIMA." Pengacara itupun terkejut.


"Kenapa? Nominalnya gak sedikit loh," timpal sang pengacara.


"Bahagia itu bukan dinilai dari nominal, dan nominal itupun tidak akan pernah bisa mengganti setiap kebahagiaan yang orang tua angkat saya berikan kepada saya. Kebahagiaan yang tidak.pernah saya dapatkan selama tujuh tahun menjadi keluarga Wiratama. Harus Anda camkan itu."


Aleesa mengusap lembut lengan Restu. Sedari dulu Restu bukanlah orang yang gila akan harta. Dia memilih untuk jungkir balik mencari serpihan rupiah dari pada memanfaatkan dan mengandalkan keadaan.


"Jadi, ini bagaimana?" tanya pengacara lagi. Kini, dia menatap ke arah Rindra.


"Jika, saya Maruk pasti akan saya kuasai PT. WTM, tapi saya bukan orang seperti itu. Jadi, lebih baik Anda berikan kepada anak-anak dari adik almarhum Pak Wiratama."


Aleesa tersenyum ketika melihat kekompakan ayah dan anak itu. Pengacara itu pulang tanpa membawa apapun. Di dalam hati sang pengacara terus mengumpat kesal.


"Padahal tinggal tanda tangan doang. Apa susahnya sih?"


Rindra tersenyum ke arah Restu. Dia bangga memiliki putra yang penuh dengan pendirian dan ketegasan. Memegang penuh prinsip hidupnya.

__ADS_1


"Maaf ya, Pih. Aku sudah mengecewakan Papih." Rindra menggeleng


"Kamu anak yang hebat."


Selepas Rindra meninggalkan Restu dan Aleesa, Aleesa segera menatap ke arah sang kekasih.


"Kenapa gak kamu ambil, Bie?" Pertanyaan yang menyebalkan yang Restu terima. Dia berbalik menatap Aleesa dengan begitu tajam.


"Kenapa memangnya? Kamu mau udahan sama aku karena aku gak Nerima aset dari Kakek, iya?" Mulut Restu sudah tak ada remnya jika marah.


"Enggak gitu, Bie." Aleesa sudah memegang tangan Restu.


"'Kan lumayan buat mahar nanti." Restu malah berdecak kesal. Dia pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Bibir kamu aja aku beli dengan harga tiga puluh Milyar. Logikanya, berapa uang yang akan keluarkan untuk membeli mahkota kamu sebagai mahar? Pasti lebih tinggi dari itu 'kan." Aleesa pun terdiam. Apartmen yang Restu berikan kepada Aleesa memang apartment mewah. Keluarga Restu pun tidak ada yang tahu akan apartment itu.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu. Dia menggenggam erat tangan Aleesa dan menatapnya dengan begitu dalam.


"Yuk, kita nikah!" Gampang sekali Restu mengajak anak perawan dari Radit menikah tanpa sebuah keromantisan.


"Kenapa sih kamu kayaknya ngebet banget." Aleesa ingin tahu. Restu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Aleesa.


"Aku mimpi bassah terus. Apalagi, tadi pas kamu habis mandi. Wangi kamu menggoda dan membangkitkan bierahiku."


Plak! Plak! Plak!


Aleesa memukul tangan Restu berkali-kali dengan wajah seram. Sedangkan Restu sudah tertawa cukup kencang


"Omes ih kamu mah." Restu semakin tertawa dan mulai meraih tangan Aleesa yang masih memukulnya.


Restu menatap Aleesa dengan begitu dalam. Sorot mata mereka memancarkan rasa cinta yang mendalam.


"Tapi, kamu mau 'kan nikah sama aku. Jadi istri aku." Restu meminta jawaban dari Aleesa sebelum dia melamar Aleesa di depan keluarganya.


"Aku tanya Kakak Na dulu karena aku juga 'kan gak mau ngelangkahin dia."


"Berarti kamu mau?" Restu memastikan lagi. Sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Aleesa. Senyum sangat bahagia pun terukir di wajah Restu. Namun, Restu mencoba berpikir kembali.


"Kalau Aleena tidak mengijinkan berarti--"


"Kita tunda pernikahan kita dan menunggu Kakak Na nikah duluan." Wajah Restu kembali lesu.


"Sayang tahu, Lovely," keluhnya. "Masa iya cairan penghasil calon embrio dibuang-buangin mulu dengan percuma."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen atuh ....


__ADS_2