RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
232. Cewek Atau Cowok?


__ADS_3

Teriakan Aleesa mulai terdengar di telinga Restu. Dia menatap ke arah sang ibu mertua dan mereka segera bergegas menuju kamar. Aleesa terlihat kesakitan dan itu membuat Restu sedikit panik.


“Lovely!”


Aleesa menoleh ke arah Restu. Wajah kesakitannya sangat kentara.


"Perut aku sakit, Bie." Sungguh Restu semakin panik.


Echa segera menghubungi sang suami dan Radit menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. Echa menghubungi sopir rumahnya dan tanpa pikir panjang Restu mulai membopong tubuh istrinya menuju mobil. Tak dia pedulikan apa yang menempel di tubuhnya.


Aleesa terus merintih di sepanjang perjalanan membuat Restu semakin khawatir. Tangannya tak pernah melepaskan tangan Aleesa. Juga dia terus menciumi ujung kepala Aleesa setiap kali Aleesa meringis.


“Bertahan ya, Lovely.”


Restu terus merapalkan doa. Dia benar-benar tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti ini. Apalagi wajah Aleesa sudah mulai pucat. Tangannya semakin erat memeluk tubuh sang istri.


Tibanya di rumah sakit, Aleesa dibawa ke ruang IGD. Restu terus mengikuti istrinya dan tangannya sama sekali tak terlepas. Pihak ruang IGD sebenarnya tidak memberikan ijin masuk kepada Restu. Namun,.dia terus memaksa dan malah menghubungi ayah mertuanya hingga dia bisa masuk ke dalam.


“Bie,” panggil Aleesa.


“Iya, Lovely.”


“Sakit.”


Bulir bening menetes membasahi wajah Aleesa. Sungguh Restu tidak tahan dan mulai mengusap lembut rambut Aleesa. Mengecup kening Aleesa dengan sangat dalam di depan dokter dan para perawat. Hatinya sangat sakit melihat istrinya tersiksa seperti ini.


Aleesa mulai diperiksa. Dokter mengatakan jika sudah terjadi pembukaan pada Aleesa. Wanita yang belum tua itu mulai menatap ke arah Restu.


“Sudah pembukaan lima. Tinggal empat pembukaan lagi.”


Restu tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dokter tersebut, hingga dia meminta penjelasan lebih. Pada akhirnya, dokter pun menjelaskan secara detail. Restu semakin menatap cemas ke arah sang istri. Terlihat rasa sakit itu mulai reda dan wajah Aleesa sudah mulai kembali ke seperti semula.


“Caesar aja, ya.”


Aleesa menggeleng. Dia masih bersikukuh dengan keinginan awalnya. Restu mencoba bernegosiasi, tapi Aleesa masih bersikeras. Akhirnya, Restu yang mengalah. Dia meminta kepada pihak rumah sakit untuk memberikan kamar yang khusus untuk istrinya.


Restu mendorong tubuh sang istri yang tengah berada di atas kursi roda hanya dengan menggunakan celana pendek dan juga kaos oversize berwarna putih. Kepanikannya membuat Restu tak ingat apa-apa. Dia hanya mengambil ponselnya saja dan dompet pun tak dia bawa.


Setiap satu jam sekali Aleesa akan meringis kesakitan. Di saat itulah Restu akan panik. Begitu juga dengan Echa yang sudah ada di sana.


“Usap aja perut aku, Bie.”


Aleesa berkata dengan suara yang sangat pelan dan dalam. Dia mencoba untuk menahan rasa sakit. Dia tidak ingin suaminya memaksa dia untuk. Melakukan Caesar.


"Nak, jangan nakal donh. Kasihan Mami."


Perkataan Restu kali ini membuat hati Echa mencelos. Kalimat yang penuh dengan kelembutan dan juga kasih sayang.


“Udah pembukaan tujuh.”


Setiap dokter memeriksa Aleesa, dia akan tersenyum lebar karena si jabang bayi terus membuka jalan untuk keluar. Tindakan sesar sepertinya tidak akan terjadi.


“Apa kamu masih kuat?”


Restu berharap sang istri mau menerima keinginannya untuk menjalani operasi Caesar. Setidaknya itu tidak menimbulkan kontraksi hebat yang membuat Aleesa kesakitan.


“Insha Allah kuat, Bie.”


Sesakit apapun yang tengah dihadapi oleh Aleesa, tak membuat dia menyerah demi melahirkan sang buah hati dengan normal. Dia menahan rasa sakit yang tak terkira. Benar kata orang jika sakitnya melahirkan seperti tulang dipatahkan.


Tak lama berselang, Aleesa kembali tenang dan itu membuat Restu menghela napas lega. Dia terus menggenggam tangan sang istri dan sesekali mencium punggung tangan Aleesa.


“Masih dua pembukaan lagi, pasti itu akan lebih sakit.”


Kekhawatiran Restu nampak begitu jelas. Dia tidak ingin melihat istrinya kesakitan. Melihat Aleesa meringis saja sudah membuat hatinya sakit. Apalagi nanti jika Aleesa mengeluarkan anak mereka.


Baru Lima belas menit tidak merasakan sakit, kini rasa sakit itu datang lagi dan lebih parah dari yang tadi. Aleesa meringis dan dia mencengkeram tangan sang suami dengan cukup kencang.


“Lovely.”


“Bie, sakit.”


Restu sudah menekan tombol emergency. Sekarang hanya dia sendiri karena Echa tengah mengambil baju bayi di rumah. Sedangkan Radit baru selesai rapat dan masih di jalan menuju rumah sakit.


“Bie,” lirih sekali ucapan dari Aleesa

__ADS_1


“Iya, Lovely.”


Keringat bercucuran di dahi Aleesa. Restu mengusapnya dengan lembut. Setiap kali Aleesa meringis dan mencengkeram tangannya, Restu pasti akan mencium kening Aleesa.


“Kamu pasti bisa, Lovely.


Ingin rasanya Restu menangis kencang melihat kondisi istrinya yang seperti ini. Setiap kali rasa sakit itu menghilang, dia akan tenang. Namun, jika rasa sakit itu datang, dia akan terus ingin dipeluk olehnya.


“Tuhan, sudahi kesakitan istri Hamba. Biarkan dia melahirkan dengan normal dan selamat.”


Restu dengan sabar mendampingi Aleesa. Aleesa yang biasa ceria kini terlihat merasakan sakit tak terkira. Terdengar suara pintu terbuka dan ternyata kedua orang tua Aleesa dan Restu yang tiba.


“Bagaimana?”


“Insha Allah sebentar lagi.” Restu menjawab mewakili Aleesa yang sedari tadi menahan sakit.


“Berjuang ya, Sa. Kamu pasti bisa.” Sang ibu sudah menyemangati


Rindra melihat wajah Restu yang nampak sendu. Dia menepuk pundak Restu dengan sorot mata berbicara. Restu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan


“Bie.”


Aleesa membuka suara lagi, dan kali ini dia sudah tidak tahan. Radit segera menekan tombol emergency hingga para dokter, bidan dan juga perawat kumpul menjadi satu. Aleesa kemudian dibawa ke ruang persalinan. Restu tetap setia berada di sampingnya.


Rasa sakit sudah tak terkira. Restu benar-benar tidak tega melihat istrinya yang terus meringis kesakitan.


“Bertahan ya, Lovely.”


Restu terus berada di samping Aleesa dan sudah menggenggam tangan istrinya sedari tadi.


“Sempurna.”


Dokter yang akan menangani Aleesa sudah membuka suara. Kini, saatnya tiba berjuang antara hidup dan mati sesungguhnya.


“Ketika saya bilang dorong, langsung dorong, ya.” Aleesa mengangguk dengan tangan yang mencengkeram tangan suaminya.


“Tarik Napas, buang sekaligus dorong.”


Aleesa mengikuti perintah dari dokter. Restu sungguh sangat tidak tega. Ditambah keringat yang terus bercucuran membuat hatinya menangis.


“Ya, bagus. Sekali lagi.”


Dokter meletakkan bayi itu di atas dada Aleesa hingga dia meneteskan air mata. Dia menatap ke arah sang suami yang ikut tersenyum, tapi terlihat jelas betapa Restu sangat terharu. Dia mencium kening Aleesa sangat dalam dan bulir bening pun membasahi wajah Restu.


“Terima kasih, Lovely.”


Rasa bahagia tengah menyelimuti hati Aleesa dan juga Restu. Sudah pasti keluarga besarnya pun akan sangat bahagia.


Restu dititah untuk mengadzani sang anak. Disela adzan, dia menangis tak tertahan. Dia tidak menyangka jika Sekarang dia sudah memiliki anak dan sudah menjadi ayah. Bahagia bercampur haru itulah yang tengah Restu rasakan. Setelah selesai, dia mengembalikan anaknya dan kembali menemani sang istri.


“Ada robekan sedikit, makanya kami akan melakukan proses penjahitan.”.


Restu mengangguk dan dia terus menemani istrinya dengan menggenggam tangan Aleesa. .


"Ini sedikit sakit, ya. Tahan sebentar."


.


Suara tangis bayi sudah terdengar, Rindra dan Radit mengucap syukur begitu juga dengan istri-istri mereka. Ada tangis kecil yang keluar dari Nesha dan juga Echa. Sesama wanita mereka bisa merasakan apa yang Aleesa rasakan. Kedua menantu Addimhitama itu saking berpelukan. Melepaskan rasa haru yang tak terkira.


Cukup lama mereka menunggu di luar. Mereka sudah tidak sabar. Namun, Belum ada tanda-tanda dokter keluar. Ketika pintu terbuka mereka kompak langsung berdiri dan terlihat seorang perawat tengah mendorong boks bayi.


“Sus, apa itu cucu saya?”


Echa sangat antusias. Dia ingin melihat cucunya. Begitu juga Nesha yang ingin melihat cucu pertamanya.


"Maaf, Nyonya. Anaknya nama siapa?"


"Aleesa Addhitama."


"Oh," jawab sang perawat. Kemudian dia mengatakan iya jika itu anak Aleesa.


"Cewek apa cowok?"


***

__ADS_1


Di lain tempat, empat orang remaja sudah mengumpulkan uang. Mereka tengah taruhan.


"Kalau menurut Apang sih kembar empat, cowok semua."


Apang sudah menaruh uang seratus ribu di atas meja kelas. Ahlam pun sudah menaruh uang yang sama di meja yang sama, tapi uang yang Ahlam berikan sepuluh lembar uang sepuluh ribuan. Tukang parkit, itulah sebutan dari Agha untuk Ahlam. Adik sepupunya yang sering mengikutinya.


"Kembar dua, cewek cowok." Ahlam mulai menebak. "Soalnya tuh si Sasa seneng banget ngerjain kita sama godain Kak Ghea dan Aqis. Malah bikin muka Kak Ghea sama Aqis kayak ondel-ondel bukan kaya blackpink."


Dalla masih berpikir. Dia bingung mau menebak apa. Selang beberapa menit dia menegeluarkan uang lembaran merah dan menaruhnya di meja yang sama seperti Ahlam dan juga Apang.


"Kembar dua, cowok semua." Jawaban Dalla seperti itu. "Mas lihatnya perut Sasa gak terlalu besar pas hamil. Terus, dia suka banget dandanin kita pakai kostum aneh."


Tinggal Agha yang belum menjawab. Ketiga adik sepupunya sudah menatap ke arahnya. Menunggu jawaban dari remaja yang sangat tampan itu.


"Kayaknya cuma satu," jawab Agha.


"Cewek apa cowok?" tanya Apang. Agha berpikir sejenak.


"Cowok deh." Agha menjawab dengan asal.


"Oke. Apang tanya sama Ahjussi tuh bayi udah brojol apa belum. Teru jenis kelaminnya apa."


Namun, hingga bel istirahat kedua selesai tak ada jawaban dari Restu. Keempat sepupu tampan Aleesa nampak kecewa.


"Ini di grup keluarga udah ngucapin selamat semua. Kenapa Ahjussi gak balas?"


Dalla, Agha, dan juga Ahlam hanya menggedikkan bahu. Mereka kembali ke kelas masing-masing dengan uang taruhan Agha yang pegang.


Bukan hanya anak-anak remaja itu yang penasaran dengan jenis kelamin anak Restu dan Aleesa. Paman dan tantenya pun sama, mereka sangat penasaran karena sedari tadi tidak ada kabar tentang jenis kelamin anak yang baru dilahirkan oleh Aleesa. Mereka hanya mengatakan bahwa anak mereka telah lahir ke dunia. Hanya itu, tidak ada embel-embel yang lain.


"Anaknya cuman satu apa kembar, ya?" Aska sudah mulai penasaran.


Sudah 2 jam setelah kabar melahirkannya Aleesa tidak ada kabar lagi setelahnya. Sampai saat ini keluarga Aleesa maupun keluarga Restu seakan menutup mulut dengan rapat. Padahal Aska sudah mengirimkan pesan kepada Radit maupun Rindra. Akan tetapi, dua orang itu tak membalasnya.


"Apanya yang terjadi dengan anaknya?" Aksa malah berpikiran jelek dan sontak Aska manoyor kepala sang Abang yang terkadang selalu berpikiran buruk.


"Bego pan," omel Aska. "Orang mah doain yang baik. Bukan malah punya pikiran jelek mulu."


"Bukan begitu," elak sama Abang. "Nggak biasanya mereka tertutup seperti ini. Tidak biasanya mereka menutupi hal bahagia."


Aska malah ikut berpikir buruk ketika mendengar penjelasan dari aksara. Dia menatap sama Abang Dengan begitu lamat.


"Apa mereka tipe orang seperti itu?" Aska sudah angkat bicara lagi. "Ketika gua memiliki Ayna pun gua nggak pernah menutupi apapun. Malah Daddy dan Mommy terus mendukung gua. Padahal gua gak.mau nunjukin Ayna karena takut berimbas pada perusahaan Daddy, tapi mereka menyuruh gua untuk memperkenalkan Ayna kepada dunia sekalipun lainnya tidak sempurna. Gua masih ingat perkataan Daddy dan Mommy, anak yang terlahir ke dunia itu tidak bisa memilih ingin dilahirkan dari rahim siapa dan seperti apa. Semuanya sudah menjadi takdir mereka setelah Tuhan meniupkan ruh kepada tubuh mereka."


"Gue yakin Radit dan Bang rindra Tidak seperti itu." Aska meyakini hal itu. Dia sangat tahu Radit bukan orang yang egois. Dia yang selalu memakai logika dalam bertindak.


Aksa menghela nafas kasar. Dia tahu bagaimana Radit dan dia tahu bagaimana Ayah angkat dari Restu. Memang tidak mungkin, tapi semuanya bisa terjadi dengan beberapa faktor yang kuat.


"Yang gua takutin bukan masalah keluarga nerima atau enggaknya, dunia nerima atau enggaknya, tapi bagaimana kondisi psikis Aleesa jika itu terjadi."


Ketika Aksa berpikiran buruk nama Aleesa ang selalu berputar di kepalanya. Dia takut Aleesa drop. . Dia takut penyakit Aleesa kambuh lagi dan Malah semakin parah.


"Jangan atuh bang kita doain yang baik-baik aja." Aska sedang berada di mode yang benar dan lurus. Tidak seperti biasanya yang penuh dengan kelakar tak jelas.


"Lagi pula keluarga mereka tidak memiliki riwayat keturunan yang aneh-aneh kan."


Aska memandang ke arah sama abang dengan penuh tanya. Banyak sedikit Aksa pasti tahu akan hal ini.


"Setahu gua sih nggak, biasanya kan seperti itu faktor turunan kayak Ayna 'kam nurun dari mertua lo itu." Aska pun mengangguk setuju


Dia kembali terdiam menatap langit ruangan dengan tatapan penuh kerinduan. Di dinding ruangan tersebut terpajang foto dirinya Ayna dan juga anak dari Bian. Mereka tertawa bahagia. Mereka tersenyum bahagia. Foto yang menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah bisa diulang. Tuhan hanya menitipkan dua anak sepesial itu sebentar dan kini dia sudah mendapat pengganti Ayna dan kakakny, yakni si kuartet.


Jam tujuh malam Aksa dan Adakah janjian untuk pergi ke rumah sakit bersama. Riana dan Jingga pun ikut jua.


"Ri, malah bingung, Bang. Kenapa gak ada kabar lagi dari mereka perihal si penghuni baru," terang Riana.


"Ada apa, ya?" Aksa pun menggeleng.


Tiba di rumah sakit di mana Aleesa melahirkan, mereka berempat tidak menemukan kamar atas nama Aleesa. Rasa curiga Semakin menjalar. Hingga Aksa menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu perihal Aleesa.


"Pindah rumah sakit."


"Loh,.kenapa?"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


.


__ADS_2