
Aleesa menggelengkan kepala melihat apa yang pernah terjadi di kamar sang kakak. Namun, itu terlihat sangat manis di mata Aleeya. Dia merasa iri terhadap kemesraan Aleesa dan juga Restu.
Tak lama kemudian, dua sejoli itu masuk ke ruang makan. Radit dan Echa terpana akan penampilan Restu sekarang. Begitu gagah dan sangat berkharisma. Senyum pun terukir di wajah calon ibu dan bapak mertuanya.
"Cocok jadi CEO ," kelakar Radit. Restu hanya tertawa dan menatap ke arah Aleesa yang sudah tersenyum dan menatap ke arahnya.
Aleeya masih menatap duo sejoli itu. Ada dus pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Apakah dia bisa mendapatkan pria tulus seperti Restu? Juga pria yang benar-benar sayang kepadanya. Dia berniat untuk menutup lembaran lama dengan Kalfa. Dilanjur pun pasti keluarganya tidak setuju.
Aleesa tercengang ketika sang tunangan ternyata menggunakan motor. Penampilannya yang tampan pasti akan acak-acakan.
"Bie, kenapa bawa motor?"
"Masa karyawan magang bawa mobil..Gak ada dar sonomya atuh." Aleesa pun tergelak. Apa yang dikatakan oleh Restu memang benar. Sang tunangan sedang menyamar menjadi karyawan biasa
"Aku berangkat, ya." Restu pamit kepada Aleesa..Mereka terlihat bagai pasangan suami-istru baru. Begitu mesra. Tak lupa Restu pun mencium kening Aleesa dengan begitu dalam.
"Hati-hati." Restu mengangguk. Dia memeluk tubuh Aleesa sesaat.
Sebagai Restu membawa motor untuk bekerja karena dia tidak ingin semua karyawan di sana tahu akan dirinya, yakni anak dari Rindra Addhitama. Dia ingin merasakan jadi karyawan magang. Dia ingin semua berproses. Dia ingin mencari ilmu baru walaupun sang ayah adalah pemilik perusahaan itu.
.
.
Ponsel Aleeya terus saja berdering. Namun, selalu Aleeya abaikan. Itu panggilan dari Kalfa. Dia tidak ingin bicara kepasa Kalfa untuk sekarang dan mungkin untuk selamanya. Puluhan pesan yang Kalfa kriimkan pun tak Aleeya baca. Dia tengah mengemasi barang untuk bertolak ke Singapura menemui sang kakak.
Aleeya duduk di tepian tempat tidur. Dia teringat akan ucpaan kedua pamannya, yakni Iyan dan juga Aksa. Mereka berdua terang-terangan tidak setuju kepada Kalfa. Bukan tanpa alasan, Kalfa membawa dampak negatif pas perilaku Aleeya. Apalagi sampai membuat sang ibu menangis. Itu sudah salah sekali.
"Carilah laki-laki yang lebih baik dari Kalfa. Laki-laki yang dapat menuntun kamu menjadi manusia yang lebih baik lagi." Pesan dari Iyan. Walaupun Iyan tak banyak bicara, dia adalah pengamat semuanya.
"Jangan korbankan keluarga hanya demi cinta yang belum tentu berakhir indah." Sebuah kalimat yang sanagt menusuk ulu hati.
Belum lagi sang paman yang paling kejam, yakni Aksara. Dia sudah mengancam Aleeya untuk tidak akan pernah datang ke setiap acara lamaran, akad maupun resepsi jika Aleeya menikah dengan Kalfa. Laki-laki itu sudah masuk ke dalam daftar hitam.
__ADS_1
Jika, dia belum sadar dia akan berpikir jikalau semua keluarganya berpihak kepadanya. Namun, kali ini eeya di mode waras. Dia tahu mengerti kenapa mereka semua melarang. Aleeya sudah megesampingkan egonya. Biasanya feeling keluarga itu benar.
Mereka melarang karena mereka stang kepada dirinya. Mereka tidak ingin tali persaudaraan dirinya dengan Aleena dan Aleesa terlutys. Mereka semua sayang kepada si triplets.
Terganggu dengan panggilan yang terus-menerus membuat Aleeya memblokir nomor tersebut. Dia menghela napas kasar dan sudah tidak ingin mencari tahu perihal laki-laki itu. Dia sudah lelah. Dia ingin fokus pada kuliahnya saja.
Pintu kamar terbuka, Aleeya menoleh dan senyuman hangat Aleesa berikan. Dia sudah rapi dengan outfit ngampus.
"Lu beneran mau ke Singapur?" Aleeya pun mengangguk.
"Gak enak Kak minta maaf via telepon mah. Yaya juga pengen peluk Kakak Na." Ucapan yang terdengar lirih.
"Gua juga pengen ikut, tapi gua gak bakal diijinin."
"Baba pasti ijinin kok." Aleeya salah tangkap..
"Bukan Baba, tapi Kak Restu." Aleeya lun berdeck kesal.
"Ribet banget sih yang punya tunangan mah." Aleesa hanya tertawa.
"Enggak!" tolak Aleeya. Kini gantian Aleesa yang berdecak kesal.
"Gua pengen cokelat yang khas Singapur itu loh." Aleesa mulai merengek.
"Bodo amat!"
"Ya ... lu mau keponakan lu ini ngeces gara-gara gak dibeliin cokelat sama ontynya." Mata Aleeya melebar.
"Lu udah di umboxing?" Aleeya tak percaya. Namun, pertanyaan berikutnya membuat Aleesa geram. "Gede kagak barangnya? Katanya orang badan kekar itu kecil titutnya."
.
Setelah terbongkarnya niat busuk Satria semalam, Rindra akhirnya mengeluarkan kata-kata mutiara yang menusuk kalbu. Ditambah lagi dia sangat marah karena Satria berani memukul putranya.
__ADS_1
"Abang aja gak pernah mukul Restu!" pekiknya. "Kenapa Om sangat berani? Siapa Om?" Nada emosi sudah terdengar dengan begitu jelas.
"Harusnya kamu lawan pria itu." Dia berbicara kepada Restu seraya menunjuk ke arah sang paman.
"Aku masih memiliki hati nurani, Pih. Aku masih menghargai beliau karena Beliau adalah adik kandung Kakek," tuturnya. RIndra pun mengehela napas kasar..
"Baiklah." RIndra seperti sedang membuat keputusan. "Abang akan mencabut semua saham Abang yang ada di PT. SKF."
Duar!
Satria terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Restu. Sejatinya 70% dari saham perusahaan miliknya adalah Suntikan Saham dari keponakannya sendiri. Namun, sayangnya dia malah berbuat hal yang membuat Rindra murka. Dia tidak belajar pada kejadian masa lalu. Di mana kekejaman Rindra mampu membuatnya bersujud di ujung kaki Rindra Addhitama.
"Tapi--"
Dalam sekejap saham itu pun sudah dicabut oleh Rindra, dan perusahaan itu tidak akan kuat lagi. Tidak akan bisa dibanggakan lagi oleh Satria."
Satria sudah menatap ke arah Rifal. Sorot matanya meminta bantuan. Namun, Rifal seakan acuh dan hanya bisa menggedikkan bahu. Aksara tersenyum mengejek.
Radit, dia menatap tajam ke arah kalfa laki-laki yang dicintai oleh kedua anaknya. Tatapan mata Radit begitu tajam sehingga membuat Kalfa menundukkan kepalanya begitu dalam.
"didikan salah orang tua akan mempengaruhi kualitas anaknya. Contohnya, kamu. Perkataan. yang teramat menohok dan menusuk.
"Laki-laki itu harus berani ambil resiko. Harus bertanggung jawab bukan selalu cuci tangan dalam segala kejadian yang menimpa. Bukan yang lari dari tanggung jawab. Itu sama saja Kamu hanya seorang pecundang yang tengah berlindung di belakang punggung ayahnya."
Aksa memandang dua manusia jahat itu dengan tatapan mengejek dia tersenyum ke arah dua manusia tak berhati itu.
"Pakailah otak kalian sebelum bertindak. Kalian harusnya sadar dengan siapa kalian berhadapan, tukas Aksa. "Jangan pernah menyentuh calon keponakan saya karena saya tidak akan pernah tinggal diam."
Satria salah memilih lawan. Dua raja hutan dan satu calon raja hutan diusik. Pasti ini akan terjadi.
"Buat lu kelapa," ucap Aksa dengan nada marah. "Nama lu udah masuk ke dalam balcklist calon cucu menantu dari keluarga Rion Juanda dan kiga Addhitama. Jadi, kuburlah cinta lu dalam-dalam dari pada gua yang akan kubur lu hidup-hidup."
...**"To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...