RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 89. Mengulang Memori


__ADS_3

Seorang Restu Ranendra tidak main-main dengan perkataannya. Dia merealisasikan ucapannya dengan Mengemasi barangnya yang memang tidak banyak.


Restu terdiam sejenak ketika dua hari yang lalu dia melihat anak buah dokter Rocki datang ke rumah besar itu. Biasanya, jika mereka datang Restu langsung dipanggil. Namun, pada waktu itu tidak. Restu yang ingin turun pun seperti dihalangi. Masih ada tanda tanya besar di benaknya.


"Ada apa sebenarnya?"


"Terserahlah, gua gak peduli," gumamnya. Dia menghela napas lega dan tersenyum kecil. Dia akan pulang ke negaranya dan akan menanggalkan pekerjaannya. Dia ingin bahagia bersama keluarga dan tunangannya. Bekerja di bawah perintah sang papih itu jauh lebih baik. Itu akan membuat dia dan Aleesa tidak akan terpisah jarak seperti ini. LDR ini sungguh menyiksa.


"Aku pulang, Pih, Mih," gumamnya nampak bahagia. "Aku datang, Lovely."


Sebuah ekspektasi tinggi dari seorang Restu Ranendra. Baru saja membuka pintu, dia dihadang oleh dua pengawal. Gemke dan anak buahnya. Sontak Restu berdecak kesal.


"Minggir!"


"Maaf, tidak bisa Mr. R." Gemke menjawab dengan begitu kejam. Decihan pun keluar dari mulut Restu.


"Jangan sampai tanganku ini menghasilkan tanda di wajah kamu, Gemke!" Restu benar-benar berang. Namun, Gemke malah mendorongnya masuk ke kamarnya lagi yang berada di rumah madam Zenith.


"Siyalan!" Tangan Restu sudah memberikan bogem mentah hingga darah mengucur deras di hidung Gemke. Jika, tengah marah Restu bagai orang kesetanan. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya.


Pengawal yang lainnya ingin membalaskannya, tapi suara madam Zenith menghentikan gerakannya. Madam Zenith datang dengan mata yang berkaca-kaca. Sedangkan Restu sudah jengah melihatnya.


"Raje!"


Tubuh Restu menegang ketika mendengar nama itu.


"Raje, ini Mamih, Sayang." Madam Zenith berhambur memeluk tubuh Restu. Sedangan Restu masih diam membeku.


"Mamih sangat rindu kamu, Sayang. Sangat rindu." Tangan madam Zenith sudah melingkar di punggung Restu. Namun, Restu masih tidak bergerak.


Wanita paruh baya itu menatap lekat wajah Restu yang terlihat masih tak percaya. Dia sudah menangkup wajah Restu.

__ADS_1


"Ini Mamih, Sayang. Mamih kamu."


Restu malah tersnyum tipis. Dia menurunkan tangan madam Zenith dan berkata, "ibu saya ada di Indonesia dan bukan Anda."


"Dia hanya ibu angkat kamu, Raje. Mamih, Mamih lah ini kandung kamu." Madam Zenith sudah menepuk dadanya.


"Kamu boleh bohongi semua orang, tapi Mamih tahu semuanya tentang kamu dan keluarga angkat kamu itu, Nak. Mereka sangat licik."


"Cukup, Madam. Jangan pernah mengatakan mereka keluarga angkat saya. Mereka adaalah keluarga saya. Saya lahir dari tangan mereka. Jadi, jangan pernah hal buruk tentang mereka di depan saya." Jengah dan lelah, itulah yang Restu rasakan


"Saya sudah muak dengan segala drama ini." Restu berbalik badan. Dia sudah tidak ingin bertemu dengan madam Zenith lagi.


"Raje, Kalau kamu tidak percaya, bacalah ini." Madam Zenith menyerahkan amplop putih kepada Restu. Wajah madam Zenith sudah basah karena air mata.


Langkah Restu pun terhenti. Awalnya dia tidak ingin, tapi seperti ada yang memaksa agar dirinya membalikkan tubuhnya lagi. Dia pun meraih amplop putih tersebut. Tubuhnya menegang hebat ketika membaca isinya. Kemudian, dia menatap lekat wajah Madam Zenith.


"Ini Mamih, Raje. Mamih." Restu menggeleng.


"Mamih masih hidup, Nak. Ini Mamih Rea," tunjuk madam Zenith ke arah dirinya.


"Enggak. Anda pasti bohong!" Restu benar-benar ingin pergi.


"Nak, Mamih memang wanita yang melahirkan kamu, Nak. Jika, kamu tidak percaya ... Kamu memiliki tanda lahir di punggung kanan kamu, dan kamu pernah berkata kepada Mamih jika itu bukan tanda lahir, tapi tato seperti orang-orang garang di film." Tas yang sudah disampirkan di salah satu pundak Restu pun merosot seketika.


"Kamu masih ingat gak, Nak. Setiap kali Mamih membelikan kamu cokelat, kamu selalu menyimpannya karena kamu gak suka cokelat. Sampai-sampai lemari kamu dipenuhi cokelat pemberian Mamih. Ketika Mamih tanya kenapa cokelatnya tidak dimakan, kamu menjawab jika kamu tidak suka cokelat dan kamu juga tidak ingin membuat Mamih sedih karena menolak cokelat pemberian dari Mamih." Madam Zenith berkata dengan mata yang basah dan Restu, otaknya tengah memutar memori tentang masa itu.


"Mamih, masih hidup, Nak. Ini Mamih kamu, wanita yang sudah melahirkan kamu." Madam Zenith sudah memeluk tubuh Restu dengan begitu eratnya. Namun, sama sekali Restu tidak membalasnya


"Jangan pergi, Nak. Jangan tinggalkan Mamih."


Setiap perkataan madam Zenith sudah tidak dapat Restu dengar. Semua memori di kepalanya tengah memutar kejadian masa lampau. Tubuhnya semakin membeku, Madam Zenith membawa Restu duduk di tepian tempat tidur. Dia menatap dalam ke arah sang putra.

__ADS_1


"Tetap di sini bersama Mamih. Temani Mamih, Nak. Mamih sangat yakin kita akan bahagia walaupun hanya berdua." Sebuah kecupan hangat madam Zenith berikan kepada Restu yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur. Dia pun pergi, meninggalkan putranya agar bisa berpikir sejenak. Sudan pasti dia sangat syok.


Setelah pintu kamarnya ditutup, air mata Restu luruh begitu saja. Tidak ada kebahagiaan dari raut wajahnya. Dia seakan tengah meluapkan kesedihannya yang sudah lebih dari dua puluh tahun dia pendam sendirian dengan luka fisik dan hati yang dia alami.


Dia menunduk, dia terisak dan dia menutup kedua matanya dengan telapak tangannya karena dia tidak ingin kembali mengingat masa itu. Masa di mana kebahagiaan yang dia terima hanya sepuluh persen, selebihnya hanya luka dan sakit yang sebisa mungkin dia pendam dalam diam.


Jeritan, tangisan, dan air mata yang kini memutari kepalanya. Tidak ada kenangan indah bersama ibunya. Ibunya memang di rumah, tapi tidak sepenuhnya mengurusnya. Dia asyik dengan dunianya. Sedangkan putranya hanya dibelikan mainan juga cemilan agar betah bermain di kamar agar semua orang mengira jika dia merawat Restu dengan baik. Padahal, tidak seperti itu kenyataannya


Namun, Restu tidak pernah protes, yang penting ibunya ada di sampingnya saja itu sudah lebih dari cukup. Jika, ayahnya yang ada di sampingnya sudah pasti dia tidak akan pernah selamat.


"Dua puluh tiga tahun pergi dan sekarang datang lagi." Senyum kecil terukir di wajahnya yang basah dengan air mata.


Air matanya masih mengalir dan kini bayang wajah Nesha dan Rindra yang memutari kepalanya. Sambutan hangat dari orang tua angkatnya tidak akan pernah Restu lupakan.


"Jangan takut ya, Nak. Mamih akan selalu ada di samping kamu. Memeluk kamu untuk menghilangkan trauma kamu."


"Anak laki-laki harus bisa melawan, Nak. Tegakkan kebenaran yang kamu junjung. Ingatlah, Papih akan berada di garda terdepan untuk membela kamu."


"Aku memang tidak lahir dari rahim Mamih. Darah Papih pun tidak mengalir di tubuhku, tapi Restu Ranendra terlahir dari tangan kalian. Kalian yang membentuk aku hingga aku seperti ini, dan aku tidak akan pernah lupa itu." Restu tersenyum dengan air mata yang masih menetes.


"Aku tahu di mana tempatku seharusnya, yaitu bersama kalian." Restu berdiri, dia menghela napas kasar. Dia mencuci wajah terlebih dahulu sebelum pergi.


Langkahnya terhenti ketika dia merasakan ada yang kurang yang dia bawa. Dia mencoba mengecek tasnya dan ternyata paspor serta visa yang dia miliki tidak ada di dompet tempat penyimpanan benda berharga miliknya. Foto keluarga yang sering dia bawa pun sudah menghilang.


"Bang sat!!"


.


.Sebuah foto sudah dibakar dan senyum penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya. Juga, paspor dan visa pun ikut dia bakar


"Kamu tidak akan pernah bisa pergi."

__ADS_1


__ADS_2