
Mimik wajah Aleesa berubah dari semalam. Aura kecantikannya mulai redup.
"Sasa mau pulang?" Sang ayah membuyarkan lamunan Aleesa. Putri kedua dari Radit itupun menggeleng dan terpaksa menyunggingkan senyum.
"Terus kenapa Sasa muram begitu?" Rindra sudah mengulum senyum ketika Echa bertanya hal itu kepada Aleesa. Sudah pasti Aleesa tidak akan mengaku.
"Gak apa-apa, Bu." Rindra pun terkekeh kecil.
Tiba-tiba ponsel Rindra bergetar dan sebuah pesan masuk ke ponsel apel separuh miliknya.
"Ponsel Aleesa gak aktif ya, Om." Sebuah pesan yang dikirim oleh seseorang di luar sana.
"Sa, hp kamu emang gak aktif?" Seketika Aleesa teringat akan ponselnya. Semenjak Grace menyuruhnya untuk mundur, dia seakan enggan untuk membuka ponsel miliknya.
"Hp kamu gak ketinggalan di rumah 'kan?" Sang ibu sudah bertanya.
"Sasa bawa kok. Mungkin mati soalnya semenjak berangkat gak Sasa cek dayanya."
"Coba cek ya, Sa. Kalau Baba dan Bubu mau hubungi kamu gimana?" Aleesa pun mengangguk.
"Hari ini Bubu akan A&R bakery bersama Baba. Kamu di sini sama Aunty Mamih. Di luar ada yang jaga juga kok." Echa menjelaskan kepada sang putri.
"Bukan Kak Restu?" Echa menggeleng dengan pelan.
"Restu lagi ada tugas. Dia sibuk sekarang ini." Aleesa pun mengangguk pelan dengan hati yang semakin tak bersemangat.
Setelah sarapan Aleesa kembali ke kamar. Dia mencari ponselnya dan ternyata daya baterainya habis. Aleesa pun menchargernya. Dia bukanlah orang yang suka bermain ponsel sambil diisi daya. Dia membiarkan ponselnya terisi penuh dulu barulah di hidupkan.
Aleesa menatap Kota Zurich di pagi hari. Hatinya teramat sepi setelah pertemuannya kemarin dengan seseorang yang sedikit demi sedikit mulai mengisi hatinya. Namun, pertemuan itu hanya sebentar. Kini, orang itu menghilang.
"Sesibuk apakah kamu, Kak?"
Hanya Restu yang ada di pikirannya. Nama Yansen sudah memudar begitu saja.
.
Hari keempat si mana Aleesa pergi tanpa sebuah pesan juga kata. Yansen sangat merasa kehilangan dan dia bingung harus mencari ke mana. Ketiga paman Aleesa seakan menutup rapat mulut mereka. Tak ada kejelasan ke mana perginya Aleesa dan kedua orang tuanya. Memohon pun percuma. Mereka adalah keluarga kompak dalam segala hal.
__ADS_1
Namun, Yansen merasa hatinya tenang. Yansen tidak gelisah ketika hari ketiga Aleesa pergi. Di awal-awal Aleesa pergi dia khawatir, tapi kemarin dia merasakan ketenangan yang luar biasa. Beda halnya dengan hari ini. Bayang wajah sendu Aleesa tengah menari-nari di kepala. Rasa gelisah dan cemas hadir lagi. Dia juga sudah menanyakan kepada pihak kampus perihal Aleesa. Pihak kampus membenarkan Aleesa mengambil cuti selama dua Minggu ke depan. Setidaknya Yansen merasa sedikit tenang walaupun dia tidak tahu ke mana Aleesa pergi.
Yansen hanya ingin menikmati detik demi detik yang masih Tuhan berikan kepadanya. Dia ingin bahagia juga ingin bersama Aleesa hingga waktunya tiba dia melepaskan Aleesa.
"Aku hanya ingin terus bahagia bersama kamu, Sa. Inginnya sih sampai akhir hayat, tapi janganlah. Biarkan aku yang mengalah. Aku menjemput kebahagiaanku dan kamu menjemput kebahagiaanmu."
Yansen masih rutin mengecek ponselnya. Apakah pesannya itu sudah dibaca oleh Aleesa. Namun, belum ada perubahan. Jikalau, Yansen tahu penyebab Aleesa seperti ini sudah pasti Yansen akan sangat marah kepada Grace.
.
Ketika sore datang, Aleesa baru menghidupkan ponselnya. Banyak sekali pesan yang masuk. Aleesa hanya menghela napas kasar. Terutama pesan dari Yansen.
"Kamu pasti nyariin aku," gumam Aleesa.
Aleesa belum membuka pesan yang masuk. Dia terus menscroll ke bawah dan ada nama Grace di sana. Sebuah foto yang Grace kirimkan. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Rasa penasaran sudah membuncah dan akhirnya pesan yang pertama Aleesa buka adalah pesan dari Grace.
Foto sepasang cincin emas putih yang Grace kirimkan dengan aksen salib. Aleesa hanya tersenyum kecut.
"Ini bukti bahwa kami serius menjodohkan Yansen dan juga Nathalie."
"Terserahlah," gumam Aleesa. Pikiran perihal Yansen dan kakaknya menghilang seketika jika wajah Restu berputar di kepalanya. Aleesa meletakkan ponselnya. Dia memeluk kakinya yang ditekuk.
"Bisa gak sih gak memaksa? Aku juga ingin menjauh karena sesungguhnya cinta yang kita miliki tak bisa kita gapai." Begitu lirih perkataan Aleesa. Air matanya terjatuh. Dia menangis. Inilah alasan kenapa dia tidak ingin menghidupkan ponsel. Grace terus-terusan menerornya.
Yansen melebarkan mata ketika pesan yang ceklis satu berubah menjadi ceklis dua. Walaupun belum berubah warna, tapi dia terlihat bahagia.
"My Sasa."
Tangan Yansen sudah mengetikkan sesuatu. Langsung ceklis dua, tapi tidak dibalas oleh Aleesa. Yansen mencoba untuk menghubunginya. Tersambung, dan itu membuat Yansen melengkungkan senyum dengan begitu lebar.
Ponsel Aleesa bergetar, Aleesa yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas lutut hanya menoleh ke arah ponsel tanpa mau menjawabnya.
"Maafkan aku, Sen." Tubuh Aleesa bergetar kembali. Petuah dari anggota keluarganya yang lebih tua kini menari-nari di kepala. Itulah yang membuat Aleesa menangis lagi.
"Pergi sulit dan bertanah sakit."
Semua panggilan masuk tak pernah satupun Aleesa jawab. Termasuk nomor baru yang berkali-kali menghubungi Aleesa. Ponsel yang tadinya hanya digetarkan, kini disenyapkan.
__ADS_1
Malam ini, Aleesa tidur dengan sangat tidak nyenyak. Matanya enggan terpejam. Pikirannya berkelana ke sana ke mari. Jam dua belas malam waktu setempat, ponsel Aleesa hidup kembali. Dia sangat yakin itu Yansen karena perbedaan waktu Swiss dan Jakarta terpaut lima jam. Lagi-lagi Aleesa membiarkan. Dia tidak sanggup mendengar kalimat manis yang selalu Yansen ucapkan padanya.
.
"Apa mulai sesak lagi, Sa?" Sang ayah sudah khawatir dengan kondisi Aleesa. Wajahnya nampak pucat. Aleesa menggeleng.
"Sasa gak bisa tidur." Rindra tersenyum mendengar penuturan dari sang keponakan.
"Kenapa?" Aleesa menggelengkan kepala.
Malam ketiga tanpa Restu. Aleesa masih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Lampu temaram sudah dia hidupkan. Ponselnya hidup lagi.
Sensen ❤️ calling ...
Aleesa menghela napas kasar. Jujur, dia merindukan Yansen yang sudah seminggu ini tak berjumpa juga tak mendengar suara. Lama dia memandang ponsel yang menyala. Baru ingin meraihnya, panggilan itu berkahir dan membuat Aleesa tersenyum perih.
Aleesa memejamkan matanya sejenak. Dia menarik napas panjang. Pikirannya yang kacau membuat dadanya sesekali sesak. Ponselnya kembali hidup dan Aleesa segera meraihnya.
"My Sasa!"
"Sensen." Bulir bening menetes lagi membasahi wajah Aleesa. Namun, kali ini dia tidak mengeluarkan suara. Dia menutup mulutnya.
"Kamu lagi di mana, Sa? Kenapa kamu pergi gak bilang sama aku?"
Aleesa tidak bisa menjawab. Dia masih menangis tanpa suara.
"Sa, kamu enggak apa-apa 'kan."
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ada suara kaca yang diketuk. Aleesa melihat ke arah jendela. Sepertinya suara itu berasal dari sana. Suara ketukan kaca itu semakin nyaring.
"Sa," panggil Yansen lagi.
Aleesa mulai turun dari tempat tidur dengan ponsel yang dia genggam. Dia menuju pintu kaca menuju balkon. Dia membuka gorden yang menutup pintu kaca tersebut. Seseorang sudah melambaikan tangan dan tersenyum ke arahnya.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...