
Restu berdiri di depan jendela kamar apartment di sore hari. Dia menatap lurus ke depan. Alasan kenapa dia tidak membalas dan mengorbankan tubuhnya karena pelaku itu adalah adik dari kakek Addhitama. Apa dia harus membalasnya? Dia tahu pria itu tidak menyukainya. Banyak yang sudah pria paruh baya itu lakukan kepadanya selagi kakek Addhitama masih hidup. Namun, ajaran baik dari sang kakek membuatnya harus bersikap baik.
Rasa sakit hati, rasa nyeri akan muncul jika mengingat masa lalu yang masih melekat jelas di hati dan ingatan. Restu tersenyum kecil menahan rasa sedihnya. Ketika dia sudah sembuh, Satria mencoba untuk membuat trauma baru. Namun, masih ada sang kakek yang terus melindunginya. Sang kakek yang selalu mendukung apa yang dia lakukan sekalipun dia bersikap garang. Sang kakek tahu jika kegarangannya beralasan. Jadi, tidak ada yang perlu dimarahi. Cukup dinasihati.
"Di dunia ini pasti akan yang membencimu juga menyukaimu. Itu adalah hal yang biasa. Kamu harus kuat dan terus tersenyum menghadapi itu semua."
Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia terkadang bingung dengan rencana Tuhan. Kenapa orang baik slalu dipanggil lebih dahulu dibandingkan dengan orang jahat?
Sepasang tangan melingkar di perut Restu. Dia tersenyum ketika melihat cincin di jari manis tangan itu yang sama dengannya. Terasa jika Aleesa meletakkan wajahnya di punggung Restu.
Restu mengusap lembut tangan Aleesa. Kemudian membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Aleesa yang nampak sendu. Restu pun memeluknya.
"Bie, aku merasa bersalah karena gak ngasih tahu ke Kak Iyo juga Uncle Papih dan Aunty Mamih." Restu mengusap lembut rambut Aleesa.
"Jangan buat mereka khawatir, Lovely. Aku sudah bilang jika aku sedang pergi ke Bogor dan akan menginap." Aleesa hanya menghembuskan napas kasar.
"Kenapa sih Bie?" Aleesa sudah menatap Restu dengan begitu dalam. "Mereka berhak tahu."
"Aku hanya ingin mereka tahu akan kebahagiaanku, bukan kesedihan ku karena aku sangat tahu jika mereka akan sangat sedih dan terpukul jika mengetahui keadaan ku. Cukup kamu yang tahu keadaan ku yang sesungguhnya." Aleesa semakin erat memeluk tubuh Restu.
"Aku hanya orang baru yang tak mungkin merusak keluarga besar kamu."
.
Rifal menemui Radit dan menceritakan semuanya perihal Satria yang datang ke kantornya. Radit hanya menghembuskan napas kasar.
"Apa sih Dit maunya?" tanya Rifal. "Kok gua punya firasat buruk, ya." Radit pun terdiam. Belum juga Rifal selesai dengan ucapannya, pintu ruangan Radit terbuka dan putri pertamanya datang dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Tumben," ucap Rifal.
Aleena mendekat dan duduk di samping sang ayah. Dia menatap Radit dengan tatapan berbeda. Dahi Radit pun mengkerut.
"Ada apa?" Sang ayah tahu bagaimana watak anak-anaknya.
"Kakak Na akan kembali ke Singapura jam delapan nanti." Radit terkejut begitu juga dengan Rifal.
"Kenapa cepat banget, Na?" Sang paman sudah membuka suara. Aleena hanya tersenyum. Rifal tahu itu bukan senyum bahagia.
"Kakak Na gak mau menjadi biang dari pertengkaran di rumah." Begitu lirih ucapan Aleena. Rifal nampak terkejut. Sedangkan Radit sudah memeluk tubuh Aleena.
"Maafkan Baba." Aleena menggelengkan kepala. Dia membalas pelukan sang ayah.
"Baba gak salah. Baba adalah ayah terhebat untuk Kakak Na." Rifal terharu dengan ucapan ayah dan anak di depannya itu.
"Lebih baik Kakak Na pergi ya, Ba. Maaf, kalau kehadiran Kakak Na mengacaukan semuanya." Aleena masih mencoba untuk tidak menangis. Padahal, dia ingin menjerit sekencang-kencangnya.
"Nanti Baba antar ke Bandara." Aleena pun mengangguk. Dia semakin erat memeluk tubuh sang ayah. Pelukan Aleena bukan sembarangan pelukan. Hanya Aleena dan Radit yang tahu akan arti pelukan itu sesungguhnya.
"Kok body language kalian menandakan hal yang beda, ya." Radit hanya tersenyum membalas ucapan Rifal.
"Kamu itu terlalu misterius, Na." Ucapan sang paman. membuat Aleena menoleh ke arah Rifal.
"Hanya orang yang sabar yang mengerti kamu. Hanya orang yang benar-benar sayang sama kamu yang akan bisa menaklukkan kamu." Aleena malah tertawa.
"Serius, kamu itu beda. Kamu itu susah ditebak, tapi Om yakin kamu akan dapat laki-laki yang baiknya sama kaya Restu."
__ADS_1
"Kenapa patokannya Kak Restu?" Ternyata bukan hanya dia yang mengagumi Restu, pamannya pun sama dengannya.
"Restu adalah laki-laki sejati. Tanpa banyak janji dan bicara, tahu-tahu langsung melamar. Ditambah perjuangannya itu loh luar biasa." Aleena pun setuju dengan ucapan Rifal.
"Doain ya, semoga Kakak Na bisa menemukan pria seperti itu." Rifal pun tertawa. Radit hanya menggelengkan kepala.
Di rumah, Aleeya terus mendesak sang ibu perihal Aleesa yang tidak pulang, tapi tidak dimarahi oleh sang ibu. Sedangkan dia yang baru satu jam keluar dengan Kalfa sudah disuruh pulang oleh sang ibunda.
"Kenapa, Bu?" tanya Aleeya. "Kenapa Bubu dan Baba gak adil?" Echa masih terdiam seraya mengupas buah mangga di dapur.
"Jawab Yaya, Bubu!" Suara Aleeya sedikit meninggi. Sudah tidak tahan akhirnya Echa meletakkan pisau dengan begitu keras ke atas meja. Itu membuat Aleeya terkejut.
"Mau kamu apa sekarang?" Echa tidak bicara dengan nada tinggi, tapi membuat Aleeya menunduk dalam.
"Apa kamu juga mau bertunangan dengan Kalfa?" tanya Echa yang sudah menatap Aleeya. "Benar kata Baba, sekarang Bubu merasakan ada yang hilang dari anak Bubu." Echa berlalu begitu saja. Sedari tadi dia menahan sesak di dada. Ibu mana yang tidak akan sedih jika disebut tidak adil oleh anaknya sendiri dengan nada tinggi.
"Maafkan Echa, Mah. Jika, dulu Echa pernah membentak Mamah. Ternyata begini rasanya, Mah."
Tidak dipungkiri air mata Echa mengalir begitu saja. Dia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan Aleeya pun menangis di dapur.
"Kenapa kamu berubah, Ya?" Aleeya mulai menegakkan kepalanya. Ternyata om kecil sudah ada di sana.
"Itu ibumu yang sudah berjuang melahirkan kamu loh," ucap Iyan lagi. "Berjuang merawat kamu dan kedua kakak kamu seorang diri tanpa bantuan baby sitter demi untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada kalian." Aleeya semakin menunduk dalam.
"Kamu tahu ... Om aja tidak berani membuat ibumu menangis, tapi kenapa kamu malah sangat berani? Kenapa, Ya?" Iyan yang tidak pernah meninggikan suaranya kini malah berkata cukup tinggi kepada keponakannya.
"Jangan pernah terpengaruh akan ucapan orang lain," ujar Iyan. "Tempat kamu kembali adalah keluarga. Bukan orang lain karena ketika orang lain sudah puas mencuci otak kamu, mereka akan pergi dan tertawa dengan sangat puas." Terdiam sudah Aleeya mendengar nasihat dari Iyan.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...