RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 197. Wajar


__ADS_3

Aleesa sedari tadi tak mau melepaskan pelukannya. Kini, mereka berdua sudah ada di dalam kamar. Sungguh hati Aleesa tidak tenang.


"Aku gak akan kenapa-kenapa."


Kalimat yang sama sekali tak mampu membuat hati Aleesa tenang. Dia semakin ketakutan. Dia tahu jika Restu bisa melakukan apa saja, tapi manusia itu memiliki apes masing-masing. Tidak lucu baru menjalani biduk rumah tangga kurang dari seminggu sang suami malah masuk ke dalam jeruji besi.


"Aku takut," ucapnya begitu lemah. Dia terus membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Tindakan Restu memang sudah menyalahi aturan. Wajar jika Aleesa sedikit ketakutan. Dia tidak ingin kejadian itu membuat suaminya berurusan dengan pihak kepolisian.


"Tenang, Lovely. Aku akan baik-baik saja." Restu membalas pelukan Aleesa. Mencoba menenangkan hati istrinya yang memang sedang dilanda ketakutan.


Restu akui istrinya ini tidak takut akan apapun. Dia akan menjadi tameng terdepan untuk membela keluarga. Terbukti dengan kejadian tadi.


"Kamu hebat, Lovely. Aku bangga sama kamu." Aleesa tak menjawab. Tangannya semakin erat melingkar di pinggang Restu.


"Jangan pernah menundukkan kepala kamu di hadapan siapapun. Tetap tegakkan kepala kamu bukan karena kamu sombong, tapi karena kamu tidak takut kepada siapapun. Bukan karena kamu cucu dari keluarga Addhitama, Wiguna atau Juanda, tapi karena semua manusia memiliki derajat yang sama."


Sebuah petuah dari seorang Restu Ranendra untuk Aleesa Addhitama. Apa yang dilakukan oleh Aleesa tadi sudah sangat benar.


"Aku gak takut apapun, aku hanya takut kamu masuk penjara." Lirih terdengar di telinga. Restu tak menjawab, dia hanya tersenyum tipis dan tangannya mengusap lembut punggung Aleesa.


.


Rindra yang mendapat kabar jika sang paman mengalami patah tulang segera menghubungi Rio. Rio menjelaskan semuanya, rasa sedikit cemas kini berubah menjadi tawa kejam.


Radit dan Echa memang manusia baik. Mereka tidak pernah mendahulukan emosi dan selalu membalut setiap permasalahan dengan tenang. Namun, kali ini sang paman sudah keterlaluan. Dua anaknya diserang dan ingin menjatuhkan mental Aleena dan Aleesa. Aleena yang memang berhati lembut dan Aleesa yang memang memiliki penyakit Aritmia. Itu sangat mudah membuat mereka down.

__ADS_1


"Bubu yakin sebentar lagi ada kabar yang menggemparkan."


Radit terdiam, tapi tak lama kemudian dia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri tercinta.


"Terkadang Baba bingung apa yang Om Satria inginkan? Perusahaan yang Papih berikan untuk Restu sudah dia kuasai, dia juga dapat bagian sama seperti anak-anak Papih." Heran dan bingung yang Radit rasakan.


"Kalau Bubu lihat sih, kayaknya Om Satria iri sama Restu. Restu dan Kalfa sama-sama anak angkat, tapi Restu lebih ungguk dari Kalfa." Hanya sebuah kesimpulan dari seorang Elthasya Afani.


"Kenapa harus iri? Harusnya interospeksi diri kenapa Kalfa tidak seperti Restu." Radit memaparkan. "Terlalu membela anak pun itu tidak bagus untuk tumbuh kembang. Mindset yang ada di kepala si anak jika terus di bela akan membuat anak itu besar kepala." Radit mencoba menjelaskan.


"Ketika si anak salah, orang tuanya selalu memasang badan dan membela si anak itu. Tidak peduli kebenarannya seperti apa itu akan membuat si anak senang melakukan kesalahan dan tidak akan pernah merasa takut dengan konsekuensinya karena dia memiliki pembela yang selalu melindunginya. Jadi, tidak akan pernah ada tanggung jawab pada dirinya karena semuanya sudah dihandle oleh ayahnya. Anak itu akan menjadi anak yang selalu bersembunyi di bawah ketiak orang tua. Kapan mandirinya?"


Echa setuju dengan ucapan Radit. Namun, yang dia pikirkan sekarang bagaimana dengan Restu. Sudah pasti ke depannya karirnya akan hancur jika benar berita ini dinaikkan.


Di ruangan yang berbeda, Aleeya sudah mendekati Rio, sepupunya. Rio tak terlalu menggubris keberadaan Aleeya karena dia baru tahu bagaimana Aleeya sebenarnya.


"Apapun yang direncakan oleh Restu, tidak akan membuat Kak Iyo membuka mulut. Kenapa? Karena ada orang bodoh di dalam keluarga kita."


Sindiran sangat keras terlontar dari mulut Rio. Padahal Rio sendiri tidak tahu apa yang telah direncanakan oleh Restu.


"Kenapa sih selau suudzon sama Yaya?" Wajah melas sudah Aleeya tunjukkan. Rio hanya menatapnya dengan tatapan datar.


"Kamu sadar gak sih karena kamu hubungan si triplets yang Kak Iyo tahu sangat dekat sekarang semakin renggang. Hanya karena perasaan yang tidak tahu tempat dan juga keegoisan kamu akan rasa yang kamu miliki."


"Apa kamu belum sadar juga jika perubahan sikap Aleena yang signifikan diakibatkan oleh kamu?"


Jleb sekali ucapan dari Rio.

__ADS_1


"Ibumu yang tidak pernah bersuara, ayahmu yang selalu membebaskan kalian berhubungan dengan siapapun jangan selalu dianggap mereka setuju-setuju saja. Mereka diam bukan tidak memantau. Mereka diam bukan tidak tahu apa yang telah kamu lakukan. Hati-hati Aleeya, Kalfa itu sudah diubah menjadi rubah licik. Jangan sampai kamu masuk ke dalam perangkapnya dan berakhir mengecewakan kedua orang tua kamu. Apalagi sampai membuat orang tua kamu menitikan air mata. Jangan sampai, Aleeya."


Kalimat maut yang sangat menusuk ulu hati Aleeya. Rio memang manusia diam, tapi dia memiliki bisa yang mematikan..


"Jangan pernah jadi duri dalam keluarga." Rio hendak berdiri menjauhi Aleeya. Ponselnya berdering dan dia menukikkan kedua alisnya ketika melihat nama siapa yang menghubunginya.


"Lihatlah berita di media online kompoz."


Perintah yang membuat Rio segera membuka portal media tersebut. Dia menggelengkan kepala ketika melihat konferensi pers tersebut. Dia menunjukkannya kepada Aleeya.


"Wajar karena apa yang dilakukan Kak Restu memang tidak dibenarkan." Rio tersenyum mendengarnya. Kini, dia menatap tajam ke arah Aleeya.


"Kamu bilang wajar. Terus bagaimana dengan ayah kamu yang dihina? Kedua saudara kamu disebut wanita murahan. Apa itu masih dikategorikan wajar?" Kalimat yang penuh penekanan dengan sedikit emosi yang terlontar dari mulut Rio.


"Percuma kamu sekolah kedokteran kalau otak kamu dangkal." Perkataan yang sangat kejam dari seorang Rio Pranathan Addhitama. Dia menggelengkan kepalanya dengan wajah datar dan menandakan dia kecewa.


Rio memilih naik ke lantai atas di mana Restu dan Aleesa berada. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk karena status Restu kini sudah berubah.


Pelukan Restu berakhir dan dia membukakan pintu. Dilihatnya sang adik si sana. Tanpa dipersilahkan masuk Rio menerobos ke dalam. Dia duduk di sofa di mana Aleesa baru saja duduk di sana. Restu mengerang kesal dan dia menarik Rio agar menjauh dari istrinya.


"Ck," decakan terdengar. Apalagi melihat Aleesa yang bagai perangko jika di dekat Restu.


"Lu liat ini deh." Rio memutar konferensi pers yang masih berlangsung. Sontak mata Aleesa melebar.


Saya akan melaporkan pemilik dari Zenth Corporation ke pihak kepolisian karena sudah dengan sengaja mencelakai ayah saya.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2